
Tiga sosok melesat di atas awan, tubuhnya yang di balut kabut tebal yang mereka ciptakan membuat tubuh ketiga sosok itu terlihat samar.
Mereka bisa bergerak kemanapun tanpa ada manusia yang mencurigainya.
"Lihatlah, nampaknya ada sebuah keramaian di sana," seru salah satu dari sosok yang melayang, sambil mengisyaratkan ke sebuah arah tertentu.
"Mana..?."
"Itu sisi sebelah kiri bawah."
Terlihat dua sosok lainnya mengarahkan pandangan ke arah yang di maksud.
"Hi.hi..benar juga, eh apakah kalian tak penasaran? dengan apa yang ada di tanah ini?, maksudku kita melihat secara langsung apa yang ada di daratan?."
"Kita bisa mencicipi makanan mungkin, atau bagaimana dengan wanita di sini?, tidak kah kalian penasaran?." seru salah satu sosok yang terlihat sedikit urakan di wajahnya.
"Heei..Selo..!, hati hati..jaga pikiran dan perkataanmu..!, jangan sampai wibawa kita hancur di sini."
"Alaaah..jangan sok sokan kau Sambi..!, memangnya siapa yang tahu keberadaan kita di sini?, kita di tugaskan khusus oleh Yang Mulia Kaisar, bahkan tak ada yang tahu kita di sini."
Benar juga apa kata salah satu dewa yang bernama Dewa Sambi tersebut, bahwa sang Kaisar Dewa memerintahkan mereka secara sembunyi sembunyi untuk mengawasi dan memastikan apa yang di curigainya.
Flasback on
Di sebuah taman yang sangat indah di Alam Dewa, tepatnya di taman Istana Kekaisaran nampak Kaisar Dewa tengah berbincang dengan tiga bawahannya.
Ketiganya adalah pasukan khusus yang memiliki kemampuan melebihi tiga Dewa prajurit yang pernah di utus nya ke Alam manusia waktu itu.
"Apa Kalian tahu kenapa ingsun memanggil kalian?." terlihat Kaisar Dewa menatap tajam tiga bawahannya yang duduk bersila di bawahnya.
"Ampun Yang Mulia, kami bertiga yang bodoh ini benar benar tidak memiliki gambaran apapun."
"Hmm, ingsun sengaja menutupi niatku dengan Tabir Waskito agar tak ada yang mencuri dan melihat isi hati serta kepalaku."
Banyaknya Dewa yang hebat di sana terkadang ada yang mampu membaca isi hati dan kepala dari seorang Dewa lainnya, dan itu bisa berbahaya.
"Ingsun mempunyai tugas khusus untuk kalian."
__ADS_1
Ketiga Dewa yang bersila di depannya terkejut, "Tugas apa yang akan Kaisar percayakan kepada kami?."
Kaisar Dewa tersenyum dengan penuh arti, "Mendekatlah.."
Ketiganya beringsut mendekat, lalu sang Kaisar terdengar membisikkan sesuatu kepada ketiganya, meski saat itu mereka berada di taman pribadi namun tetap saja sang Kaisar khawatir dengan rencana nya jika bisa di dengar yang lain.
Flashback off.
"Benar, meski tugas kita rahasia kita tetap harus menjaga sikap sebagai seorang Dewa," kata satu Dewa yang bernama Dewa Wonosego.
"Terserah kalianlah, yang jelas ingsun akan menikmati apa yang ada di alam ini, tak setiap saat kita bisa dan di ijinkan melintas ke Alam ini."
Ketiganya terus berbantah bantahan, mengeluarkan pendapatnya tentang ego masing masing, namun akhirnya terlihat ketiga sosok tersebut melesat menuju ke arah kerajaan MulyaBhumi yang tengah bersiap mengadakan pesta Panen Bumi yang biasa di adakan setiap tahun sekali.
**
Meski hari perayaan Pesta Panen Bumi masih akan berlangsung tiga hari lagi, namun kemeriahan sudah terasa di ibukota kerajaan MulyaBhumi tersebut.
Banyak pedagang yang sudah berdatangan dari berbagai wilayah kerajaan itu, bahkan banyak juga yang berasal dari luar wilayah mencoba mencari peruntungan di kemeriahan acara tersebut.
Seperti sebuah iring iringan pedagang dari selatan Kerajaan Agung Pati Sruni yang juga terlihat bergerak ke arah kerajaan MulyaBhumi.
Pak Togog adalah pedagang besar yang menjadi acuan pedagang kecil dan di ikuti oleh para pedagang kecil tersebut kemanapun bergerak.
Mereka memiliki sistem kerjasama sudah sejak lama, dengan kerjasama tersebut semua merasa di untungkan, karena kelompok pedagang itu jadi terlihat lebih mewah dan komplit jadi di buru pembeli di manapun berada.
"Kita beristirahat di pinggir sungai Bulungan setelah menyebrang, agar tak kelamaan," seru pak Togog, memberikan perintah kepada para kusir kereta.
"Injih Juragan." kompak para kusir berseru, sementara pedagang lainnya hanya mengangguk menurut apa kata pak Togog.
Hari sudah sore, saat rombongan itu tiba di sungai Bulungan, sebuah sungai yang di penuhi dengan tanaman semacam pohon aren, sagu atau sejenisnya.
Di sebelah badan sungai tersebut terdapat tanah luas di kanan dan kiri nya, dan biasanya di manfaatkan untuk beristirahat para pelintas karena dekat dengan sumber mata air.
**
"Nakmas di depan ada sungai Bulungan, biasanya para pelintas memanfaatkan tempat tersebut untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan kembali."
__ADS_1
Narimo memberikan informasi kepada Jaya, untuk selanjutnya memberikan perintah.
"Baiklah paman, kita istirahat dulu saja malam ini di sana, besok baru melanjutkan perjalanan pagi pagi sekali."
Rombongan terus bergerak hingga benar benar mendekati sungai Bulungan.
Hari makin menggelap karena matahari sudah tergelincir ke barat, saat rombongan sudah berhasil menyeberangi sungai.
Sungai Bulungan berbentuk landai, alirannya tak terlalu deras namun airnya benar benar jernih.
Karena landai jadi tak memerlukan jembatan bagi para pelintasnya.
"Eeh..Kakang nampaknya sudah ada yang beristirahat di sana," kata Kumala pelan, menunjuk ke arah kerumunan orang yang tengah beristirahat di sana.
"Memang tempat ini biasa buat istirahat pelintas Den ayu, tapi masih banyak ruang untuk kita, di sebelah sana juga masih longgar," kata Narimo sambil tersenyum tapi masih konsentrasi mengendalikan kuda nya.
"Kita di sebelah sana saja paman," seru Jaya sambil menunjuk ke sebuah arah.
"Baik Nakmas."
Narimo mengarahkan keretanya menuju ke arah yang Jaya tunjukkan, saat mereka mendekat terlihat orang orang itu sedikit tegang, mereka mengawasi dengan seksama rombongan Jaya, namun akhirnya nampak kelegaan di wajah orang orang itu saat melihat panji panji bendera Awan Putih yang di bawa beberapa penunggang kuda.
"Kita berhenti di sini." teriak Narimo kepada para penunggang kuda yang lain.
Segera para penunggang Kuda menambatkan kuda kuda mereka di beberapa celah yang ada di kereta yang memang di sediakan untuk itu, lalu beberapa anak buah langsung mendirikan tenda untuk Kumala dan Pelangi, sedangkan para pria seperti biasa tidur di sembarang tempat sekehendak hatinya.
"Buat perapian untuk makan malam," perintah salah satu anak buah kepada temannya, dia memang petugas pemasak di rombongan Jaya tersebut.
Dua orang dengan cekatan membuat perapian setelah menurunkan tungku yang terbuat dari tanah liat dari kereta barang, dua tungku sudah siap untuk memasak, satu untuk menanak nasi satunya untuk memasak lauk.
Dengan tembikar yang berbentuk seperti wajan anak buah Awan Putih mulai membuat tumis daging lombok ijo.
Daging yang sudah di keringkan awalnya di rebus terlebih dahulu untuk melunakkan, lalu di iris tipis bersama cabai dan bumbu lainnya kemudian di tumis dengan lemak binatang yang memang untuk pengganti minyak.
"Hmm, harum baunya," kata Pelangi pelan.
"Ya..olahan paman Trubus memang selalu lezat," sahut Kumala menimpali.
__ADS_1
_____________
Jangan lupa jejaknya....