
Ledakan hebat tersebut mengguncang wilayah itu dengan keras, tubrukan kekuatan dahsyat itu membuat daya lempar balik yang lebih kuat di bandingkan sebelumnya, membuat Anuso Birowo terlempar terhempas kembali.
Untung saja hawa panas dari Badai Matahari yang sedikit di keluarkan Jaya berhasil di tepis dan diserap oleh Golok raksasa senjata andalannya.
Golok yang sangat unik, karena selain mampu mengeluarkan kekuatan hebat ternyata juga ada sedikit kekuatan daya redamnya.
Mampu menyerap kekuatan hantaman dan daya pukulan lawan.
"Pusaka Dewa rupanya," batin Jaya memperhatikan senjata lawan.
Suroloyo yang hanya bersenjata sepasang golok tingkat senjata Langit, terlempar cukup jauh, hawa panas yang di hasilkan dari Badai Matahari bahkan membakar lengannya, meskipun sudah di bentengi dengan tenaga dalam namun tak cukup mengusir kekuatan Badai Matahari meskipun hanya di tingkat lll dari sepuluh tingkatan.
**
Sementara itu Pati Kerto yang memimpin pasukan kuda dan ratusan pejalan kaki tengah menghadapi amukan anak buah Awan Putih yang sangat menakutkan.
Pelangi yang tak pernah bertempur dengan sadis kali ini terlihat begitu ganas, menampakkan sisi gelapnya sebagai seorang predator bagi lawan.
Semua itu di dorong karena ingin melindungi pasukan lurah Sungkono, prajurit yang di rasa nya sangat setia hingga bersedia mengorbankan nyawa untuk nya.
CLAAAAPP...!!
Kembali lesatan sinar dari jurus Mata Dewa melesat melingkupi lawan lawan yang tingkatan kependekarannya di bawah Raja Perak tersebut.
Craaass...!! craaaash....!!
Sambaran pedang merah ditangannya bagaikan malaikat kematian, menebas puluhan orang yang terjebak dalam gerakan "slow motion" tersebut.
"Aaaaarrcchh...!."
"Aaaaarrcchh...!!."
Jeritan kematian terdengar menyayat, begitu badan lawan lawan tersebut, bertumbangan dengan anggota badan yang tak lengkap lagi.
Kumala yang ada di sebelah Pelangi juga tak kalah menakutkan nya, mengamuk merangsek lawan dengan jurus pedangnya dan terkadang di barengi dengan jurus Mata Iblis nya.
CLAAAAPP....!
Kembali lesatan sinar menerjang lawannya, meresap lewat tatapan mata kemudian memecahkan pembuluh darah yang ada di sekujur tubuhnya.
Lesatan sinar yang tak mampu di hindari ataupun di tepis tersebut langsung meluruhkan jumlah pasukan lawan.
Pati Kerto yang mulai pucat wajahnya melihat hasil pertempuran itu, makin begidik ketika Pitu Geni sudah menebas leher kuda tunggangan nya.
Craaaash....!
Gooorrhh...! kuda tersebut sontak menyentak, tersluruk tumbang ke tanah.
Pati Kerto tersentak karena terlempar dari kudanya.
"Bedebaaah...!!, kau mencari mati...!!," umpat nya sambil menarik golok di pinggangnya.
Golok yang beraura hitam legam itu, nampak mengeluarkan uap racun yang terlihat ganas.
"Ayo kita adu jiwa..!!," tantang nya, sembari melihat sekeliling yang dirasa olehnya jika kelompok Golok Naga tertekan.
"Aku kabulkan permohonan mu..!," sahut Pitu Geni sambil mengeluarkan jurus bernuansa Api.
Pati Kerto terkesiap, melihat lawannya mengeluarkan api dari golok senjata nya.
"Kalian dari Api Suci..??."
Pitu Geni menggeleng, "Lihatlah Tetua ku.., hawa panas ciptaan nya melebihi panas api..," teriaknya.
__ADS_1
"Bendoro ku lebih hebat dari Dewa Api Suci..," tanpa sengaja Pitu Geni malah menyanjung Jaya dan menjelekkan Dewa Api petinggi Api Suci.
Pati Kerto terkejut, kaget melihat sekilas pertarungan Anuso Birowo yang sedang pontang panting menghadapi anak muda lawannya.
"Aku tak perduli, setidaknya aku bisa membunuhmu disini..!," teriak Pati Kerto mulai memainkan jurus Golok pencabut Sukma.
Jurus yang terkenal hebat tersebut, sangat mahir di peragakan oleh Pati Kerto.
Sriing...!!
Golok Pati Kerto yang berhawa racun ganas itu menebas kearah Pitu Geni, membabat melintang mencoba melukai daerah perut lawan nya.
"Hiaaaa...mati kau...!!."
Pitu Geni langsung mengerahkan seluruh kekuatan nya, mengusir hawa racun dari golok lawan.
Traaang...!!
Golok Wiso Geni langsung berkobar, menangkis senjata lawan, menetralkan racun yang mulai tersebar saat golok lawan di tarik dari sarungnya.
Rupanya racun yang di tebar oleh Pati Kerto adalah sejenis racun asap, yang di torehkan atau di balurkan di senjatanya, dan akan berreaksi saat golok tersebut bergesekan dengan sarungnya untuk di keluarkan, semacam pemantik nya.
Namun lawannya kali ini Pitu Geni, lelaki paruh baya yang mampu mengeluarkan api dari tenaga dalam kekuatannya, lalu menyalurkan kekuatan nya tersebut ke golok Wiso Geni yang memang beraura panas, dan akibat nya racun tersebut seakan terbakar sempurna menjadi asap biasa.
Akan tetapi jika tergores golok hitam lawan juga akan berakibat fatal.
"Dasaar...orang orang licik..!!," gerutu Pitu Geni, menyikapi senjata beracun lawan.
**
"Serangan mu hebat anak muda, aku akui itu..!," kata Anuso Birowo dengan nafas tersengal, mencoba bangkit.
"Tapi kekuatanmu masih bisa aku redam dengan senjata golok Kyai Sapi Jagat," katanya lagi.
Jaya berkacak pinggang, "Memang aku akui senjata mu sangat hebat, dan aku tahu itu senjata tingkat Dewa."
Cakra Tirta Sanjaya adalah nama asli dari Jaya Sanjaya, atau nama dari dewa perang.
Tiba tiba tongkat Wesi Kuning di tangan kanannya lenyap karena masuk ke ruang dimensi, dan pedang Angin Puyuh disarungkan di pinggangnya.
Mulut Jaya komat kamit.
Ziiing... ziiing...
Dua sinar terbentuk dan muncullah tombak kyai Seto Ludiro dan perisai Wojo Digdoyo, menghampiri Jaya Sanjaya yang berdiri kokoh di depan Anuso Birowo.
Sedikit terbelalak tetua agung dari Golok Naga menyaksikan pemandangan tersebut.
"Kau ingin bertaruh dengan ku..??." seru Jaya.
"Jika aku kalah aku jadi budak mu..!, namun jika aku menang kau akan jadi bawahan ku..!, bagaimana..?," Jaya tersenyum menyeringai memanas manasi lawannya.
Anuso Birowo terdiam sejenak, lalu mengangguk, "Aku terima tantangan mu...!." balas nya.
Jaya tertawa menggelegar, membuat yang lain terdiam sesaat dari pertarungannya.
Semua menatap dua tokoh utama dari dua kelompok tersebut, yang sudah saling berhadapan.
Jaya mulai menghirup udara sebanyak banyaknya, badannya berpendar begitu juga dua senjata tingkat Illahi tersebut.
Lengannya sudah bercahaya terlihat menyilaukan, bahkan kekuatan yang masih tersegel belum utuh itu terlihat mengagumkan.
Anuso Birowo juga mulai bersiap, Golok Sapu Jagat sudah di putar putar nya, membentuk gelombang yang makin lama makin kuat membungkus Anuso Birowo.
__ADS_1
"HIAAAAA...!!"
Jaya melesat, berinisiatif menyerang terlebih dahulu.
Lesatan tombak kyai Seto Ludiro yang di aliri kekuatan Badai Matahari tingkat V, serta kekuatan Selaksa Ombak Menerjang menghujam kearah Anuso Birowo.
BLEGAAAAAART....!!
Hantaman tusukan itu, menembus lapisan kekuatan perisai ciptaan Anuso Birowo.
Terdengar ledakan saat bertubrukan, meski sebagian terserap oleh golok Sapu Jagat, namun kuatnya tusukan itu membuat Anuso Birowo terlempar lagi.
Sembari terlempar Anuso Birowo sempat menyabetkan golok yang panjang dan besar itu mengarak ke badan Jaya.
BLAAAANG...!!
Sabetan golok pusaka yang mampu meluruhkan Bukit itu tertangkis oleh kyai Wojo Digdoyo, menyerap kuatnya hantaman dahsyat itu, hingga tak menimbulkan masalah bagi Jaya Sanjaya.
Anuso Birowo terlempar untuk kesekian kali, bergulingan hingga menubruk pepohonan yang ada disana.
Dua lengannya kini sedikit terbakar, nafasnya tinggal satu satu dan dengan baju compang camping tak karuan.
Jaya sudah melesat Kembali Terbang kearah lawan nya yang masih kembang kempis.
"Aku beri kesempatan kau bangkit dan melawanku..!."
Anuso Birowo terbelalak, mendengar lawannya sudah begitu dekat dengan nya, bahkan membiarkannya untuk bersiap menyerang balik, menandakan lawan tak mengalami sesuatu yang parah seperti dirinya.
"Siapa anak muda ini??." kembali Anuso Birowo bertanya di benaknya dengan penuh penasaran.
Anuso Birowo mencoba bangkit, menggapai golok Sapu Jagat yang terlempar dan tergeletak sedikit jauh dari nya.
"Giliran mu menyerang ku..!!." teriak Jaya Sanjaya sambil memasang kuda kuda.
Anuso Birowo berdiri dengan gemetaran, tenaganya serasa terkuras habis karena pertempuran barusan.
"Bersiaplah anak muda..!," ancamnya, mencoba menggertak Jaya, namun hanya di balas dengan senyuman miring dari Jaya Sanjaya.
Anuso Birowo meloncat, sedikit menyeret golok yang ukurannya raksasa tersebut sambil berteriak.
"HIAAAAAA...!!."
Golok tersebut melayang terangkat dengan terpaksa tak seperti tadi penuh kecepatan dan kekuatan.
Wuuuss....
Golok tersebut melayang membawa aura kuat meski yang melakukan tebasan sudah sedikit limbung.
BLAAAANG...!!
Tebasan golok itu tertangkis kembali oleh perisai Wojo Digdoyo yang di pegang di tangan kiri Jaya.
Tebasan golok yang sudah lebih lemah dari awal bertarung tadi dengan mudah di redam oleh Jaya.
"Cuiih...!, hanya segini? kekuatan Tetua Agung Golok Naga...!," ledek Jaya Sanjaya memutar tombak nya menepis golok yang masih teracung namun sudah tak bertenaga.
"Sekarang giliran ku...!." teriak Jaya, langsung melenting ke udara dan meluncur cepat ke bawah.
Anuso Birowo langsung pucat, merasa nyawanya sudah di ujung tanduk...Mati aku..
BLAAAARR...!!
Jaya tak menghujamkan tombak kyai Seto Ludiro, tapi langsung menendang dada Anuso Birowo yang langsung terlempar dan pingsan.
__ADS_1
___________
Jangan lupa tinggalkan jejak nya....