
Padang Selayang Pandang sudah lengang, sepi tak terdengar gelegar pertempuran dan kini terlihat mencekam.
Pertempuran yang sempat menghebohkan antara Jaya melawan iblis dan kroninya sudah tak terdengar lagi oleh orang orang Awan Putih dan sekutunya.
Suara ledakan dan dentuman, serta luapan gelombang pukulan sudah tak di rasa oleh orang orang yang ada di sana.
"Apa yang terjadi?."
"Kenapa kini sepi tak terdengar suara pertarungan lagi?."
Berbagai pertanyaan hinggap di benak orang orang yang kini tersisa di sana.
Gelapnya malam yang hanya di sinari rembulan makin menyulitkan orang orang itu untuk melihat dengan jarak yang jauh.
Terbatasnya pandangan membuat orang orang makin bertanya tanya.
Bau anyir dan busuk kini makin tajam tercium, lolongan anjing malam dan geraman binatang buas yang tengah berebutan makanan malah mendominasi suara malam itu, suasana terkesan sangat menyeramkan dan menakutkan, terang saja hanya dalam dua malam ribuan nyawa melayang di sana.
Padang yang semula terkenal karena adanya hajatan, kini terlihat sangat angker dengan banyaknya korban yang mati di sana.
"Apa yang terjadi Kakak? bagaimana dengan Kakang Jaya?." Pelangi terlihat sangat cemas, padangannya tak lepas dari tengah padang yang sangat jauh.
Kumala hanya menggeleng, mengangkat bahu dengan raut wajah yang juga tak kalah khawatir.
Dua gadis Jaya itu terlihat sangat sedih dan penuh kecemasan, selama ini hal itu tak pernah terjadi.
"Kita sisir area padang ini, kita cari Nakmas Junjungan..," Prono Condro berkata, sambil menatap yang lainnya seakan minta persetujuan.
"Ya..setuju..!."
"Setuju...kita cari Tetua...!." seru yang lainnya.
Semua mengangguk, para sesepuh dan Tetua yang terlihat terluka itu setuju untuk mencari sosok sang Tetua Jaya Sanjaya, ya mungkin semua kini tangah terluka parah (Jaya dan Iblis), dan berada di sisi lain dari padang tersebut.
**
Di puncak gunung Pancarupa atau Pancawarna itu, saat ini tengah terjadi Pertempuran yang dahsyat.
Jaya berhasil kembali melakukan perlawanan setelah beberapa saat lalu di hajar habis habisan oleh ketiga Iblis tersebut.
Jaya mengibaskan tombak kyai Seto Ludiro yang sempat terlepas dari genggamannya.
"HIAAAA....!."
Pusaka tinggkat Illahi tersebut sempat terlepas namun senjata itu melesat bersama perisai Wojo Digdoyo meluncur mengejar Jaya dan kini sudah berada di dua tangan sang Tetua Awan Putih tersebut.
CRAAAAAKK..!!
Hantaman tombak Jaya di tangkis oleh ketiga iblis yang masih mencoba merangsek, dengan senjata masing masing.
__ADS_1
Kekuatan Jaya yang terlihat luar biasa bagi seorang manusia membuat para Iblis bertanya tanya, manusia jenis apakah ini?.
Aura Dewa yang belum nampak pada diri Jaya membuat ketiga iblis tak bisa menebak dan menyadarinya.
"Heiii..!, siapa kau sebenarnya manusia..??!," bentak Iblis Wora, mencoba mengetahui tentang lawannya itu, sesaat pertarungan berhenti.
"Apa kita pernah bertemu atau punya urusan yang belum selesai..?.'' sambung iblis Wora, "Hingga kau mengacaukan semua ini..??!."
Jaya hanya terdiam menatap tajam ketiga lawannya.
"Bagaimana jika aku memberimu kekuasaan?, menjadikanmu Raja diraja di alam ini dan kita akhiri permusuhan ini..?."
Kedua Iblis tersebut sahut menyahut, mencoba membujuk Jaya dengan menjanjikan sebuah kekuasaan untuknya.
"Hmm, nyawa sudah di tenggorokan masih saja meracau..!." Jaya menjawab dengan sarkas kepada Iblis iblis tersebut.
"KEPA-RAT..!!, manusia rendah..!, sudah di beri kelonggaran masih saja bertingkah...!," Dwarakolo membentak Jaya yang tak mau luluh dengan bujukan para iblis.
"Kau pikir kami tak sanggup mematikanmu...!!." sambungnya lagi sambil menujuk Jaya dengan senjatanya.
"Coba saja...!, daripada banyak bacot, bukankah sejak tadi kalian menggempurku aku baik baik saja??!."
Ketiga Iblis kini kembali geram, niatnya membujuk dan menghentikan pertarungan tak berhasil.
Ternyata lawannya bukan manusia haus kekuasaan dan harta benda seperti manusia manusia yang menjadi gedibalnya.
"HIAAAA....!!."
SRRIIING..
SRIINGGG...
Desingan senjata dengan kekuatan sambaran yang begitu kuat menyasar badan Jaya.
Tak mau kalah Jaya juga melesat maju menyongsong serangan tersebut dengan gelombang serangan yang tak kalah mengerikan.
Lengan kanannya sudah membara bersama tombak kyai Seto Ludiro, sedangkan lengan kiri sudah terselimuti kabut tebal.
Jurus Badai Matahari tingkat delapan dari sepuluh tingkatan dan Gelombang Awan Menerjang sudah di kerahkannya.
BLEEGAAAARRTTT.....!!
Hantaman tersebut bertemu dengan sangat cepat, karena mereka memang ingin mengadu tenaga, tak ada yang berniat menepis atau menghindarinya.
Jaya menghantamkan dua tangannya secara serentak, mengalirkan kekuatan dari dua jurus pukulannya.
Alam seakan berguncang hebat dengan adanya pertemuan dua pukulan tersebut.
Ledakan yang dahsyat mengguncang wilayah itu, bahkan ledakan itu bisa di dengar hingga ratusan ribu tombak jauhnya.
__ADS_1
Semua yang ada di sekitar nya terlempar berhamburan dengan sebagian terbakar karena terbakar luapan Badai Matahari.
Jaya terdorong beberapa langkah ke belakang, sedangkan ketiga iblis terpental beberapa tombak.
Iblis Wora dan Iblis Wari terbakar sebagian lengan, dada dan wajahnya, namun dua iblis yang memiliki cacing darah di badannya itu segera regenerasi, hanya dalam beberapa saat saja lengan, dada dan wajah dua iblis itu kembali seperti sedia kala.
Kecepatan regenerasi dua iblis tersebut bahkan melebihi orang orang Gagak Hitam.
"Huh, lihatlah aku juga tak bisa mati..!," seru dua iblis tersebut, dan Jaya tak bereaksi apapun karena memang seperti itu adanya.
Berbeda dengan dua Iblis, Dwarakolo yang terlempar ke arah lain lagi badannya juga terbakar.
"Aaarrggh...gggrrhh..."
Iblis itu menggeram kesakitan, hampir seluruh badannya terbakar oleh serangan Jaya, sebenarnya iblis itu juga mampu meregenerasi badannya namun tak secepat Dua Iblis Wora Wari.
Jaya yang sudah kembali bersiap hanya dalam beberapa tegukan ludah itu, kini kembali meloncat menyerang, namun sasarannya adalah Iblis Dwarakolo.
"HIAAA....!!, kau akan ku musnahkan lebih dulu...!," teriaknya sambil melesat maju menyerang ke arah Dwarakolo yang mencoba memulihkan diri.
Iblis Dwarakolo sangat terkejut mendapati lawan sudah melesat ke arahnya, dengan sigap dia lemparkan senjatanya mencoba melakukan serangan untuk menghambat lawan.
Wung.wung.wung.wung....
Senjata tingkat Dewa itu melesat berputar dengan ganas menyasar badan Jaya.
Tak menghiraukan senjata itu, Jaya tetap meluncur maju.
BLAAANG...!!
Jaya mengangkat perisai Wojo Digdoyo menangkis pedang panjang dengan bentuk S, senjata lawan dan terjadi benturan.
"Huh..hanya serangan seperti itu tak akan mampu menghentikanku..!."
SRIINGG...
Tombak kyai Seto Ludiro meluncur deras ke arah sang Panglima Iblis tersebut, menusuk deras dan menancap langsung ke dada sang lawan.
JLLEEBB...!!
"AAaaarrggh..!," iblis tersebut terpekik hebat, dadanya langsung terbelah oleh senjata Illahi itu, senjata yang mampu meluruhkan bukit itu kini bersarang di dada sang Iblis.
Dua Iblis yang terlambat menolong rekannya hanya bisa melesat maju namun itu tak merubah apapun.
Dwarakolo meringis kesakitan, meski dadanya sudah bengkah namun tak mudah juga iblis itu mati.
CRAAAKKK..!!
Jaya kembali memutar tombak yang masih bersarang di dada lawan, lalu mencabutnya hingga isi dada dari iblis itu terburai, dan MATI.
__ADS_1
____________
Jejaknya....