Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Jiwa Abadi mulai Mengancam


__ADS_3

Rombongan Jaya kini beriringan dengan biro Elang Putih menuju ke arah wilayah kerajaan kecil Sirih Putih.


"Di depan sudah memasuki gerbang perbatasan kerajaan Sirih Putih, kami akan menuju selatan, dan kita berpisah setelah memasuki gerbang itu." kata Jaya kepada Basuki yang berkuda di dekatnya.


"Benar Pendekar, anda akan mengambil jalan ke selatan, sedangkan kami akan lurus ke tengah Kotaraja," balas Basuki.


Setelah memasuki gerbang kini mereka sudah tiba di percabangan.


"Kita berpisah disini paman, jika ada jodoh kita mungkin bertemu kembali."


"Apa yang dikatakan pendekar Jaya ada benarnya." balas Basuki lagi.


"Jika suatu saat paman melintas di markas Awan Putih, silahkan mampir di tempat kami, semoga saja aku pas ada disana," Jaya berkata sebelum benar benar berpisah dengan Basuki.


"Terimakasih atas undangan pendekar Jaya, akan saya usahakan mampir jika memang melintas di sana," sahut Basuki sambil melambai lambaikan tangan tanda perpisahan.


Kedua rombongan tersebut pun akhirnya berpisah setelah memasuki wilayah kerajaan Sirih Putih.


**


Hari sudah mendekati sore sewaktu rombongan Jaya dan Basuki memasuki di wilayah kerajaan Sirih Putih, hingga akhirnya berpisah.


"Masih berapa lama perjalanan kita paman?," tanya Jaya kepada Sukarjo yang menjadi kusir kereta.


Kali ini perjalanan tak secepat saat berangkat kemarin, karena kini kereta sarat dengan muatan dan tak dapat melaju dengan cepat.


"Jika kita terus bergerak maka tengah malam kita sudah sampai di kediaman ndoro Randu Sembrani." jawab Sukarjo sambil mengendalikan kereta karena jalanan dalam kondisi tak rata.


"Ooh masih lumayan jauh juga rupanya."


"Benar Nakmas, apalagi kita tak bisa melaju dengan cepat karena kereta ini sarat muatan." Margono yang berada di samping Sukarjo berkata sambil menunjuk ke arah belakang kerena yang penuh dengan bahan pokok dan keperluan sehari hari.


"Untuk lebih cepatnya kita lewat jalur pendek saja meskipun melewati hutan, tak perlu memutar lewat jalur pemukiman," Sukarjo menerangkan kepada Jaya.


"Jika kami sendirian tentu saja tak berani karena bisa jadi ada banyak penyamun di hutan tersebut," sahut Margono menatap Jaya Sanjaya.


Jaya cukup tau akan hal tersebut, memang resiko jika melakukan perjalanan melewati hutan ya seperti itu, adanya gangguan penyamun.


"Tapi paman yakin jaraknya lebih pendek dan bisa cepat sampai?"


"Pasti yakin Nakmas."


Jaya Sanjaya hanya mengangguk saja, tersenyum menatap dua orang yang sudah di kenalnya sejak tinggal di kediaman Randu Sembrani.


**


"Kakang kenapa Pelangi belum juga kembali?," terdengar Nyai Nilam Sari sudah gelisah sejak siang tadi, mulai merajuk kepada sang suami Randu Sembrani.


"Ini sudah tiga hari dua malam, harusnya sore tadi sudah sampai, bahkan jika tak menginap kemarin malam sudah sampai," kata Nyai Nilam Sari kembali dengan raut wajah penuh kecemasan.


"Sabar nyai..aku juga sebenarnya gelisah juga, kenapa lama sekali mereka pergi nya..," Randu Sembrani juga mengeluarkan isi hati nya.

__ADS_1


Sepasang kakek nenek yang sangat menyayangi pelangi tersebut, nampak mondar mandir di depan pendopo, bahkan terkadang mereka menaiki menara penjagaan yang ada di depan gerbang memasuki hunian mereka, hanya untuk melihat lebih jelas jika ada tamu yang datang dan sudah terlihat dari kejauhan.


"Jika malam ini mereka tak kembali besok kita susul Pelangi, ya.. kakang"


"Ya." Randu Sembrani hanya menjawab pendek karena hatinya juga masih gelisah, berjalan mondar mandir di depan bangunan hunian mereka di saksikan para anak murid dan pekerja rumah besar tersebut.


"Sebaiknya guru berdua istirahat saja dahulu, nanti jika ndoro ayu pulang akan kami beritahukan," kata salah satu murid senior di perguruan tersebut.


Randu Sembrani dan Nyai Nilam Sari memang mendirikan perguruan Mata Dewa, namun tak nampak sebagai perguruan ilmu bela diri pada umumnya yang didirikan secara terbuka, dan muridnya pun hanya beberapa orang pilihan saja, tak lebih dari sepuluh orang sisanya hanya para pekerja di rumah besar itu.


"Baik Arjo, kami akan istirahat menenangkan pikiran jika ada berita panggil kami di ruang meditasi," kata Randu Sembrani sebelum meninggalkan pelataran pendopo rumah besar itu.


**


Jaya dan rombongan mulai memasuki hutan untuk mengambil rute yang lebih pendek, tak melingkar dan melewati pemukiman.


Cahaya rembulan yang menerangi malam itu, cukup membuat malam menjadi lebih terbang, sehingga mereka bisa menatap dengan lebih jelas.


"Tetap waspada, jangan sampai kita lengah," kata Jaya mengingatkan yang lain, meski tanpa di ingatkan pun mereka sudah sangat waspada.


Sepeminuman teh mereka melakukan perjalanan memasuki hutan, sayup sayup terdengar sebuah pertarungan di kejauhan.


Dentangan senjata yang beradu terdengar cukup kuat dan jelas.


"Nampaknya ada yang sedang bertarung di kedalaman hutan," kata Jaya yang memang telinganya paling sensitif.


Semua memasang pendengaran lebih tajam, "Benar apa kata Nakmas," sahut Pitu Geni yang juga di angguki oleh Baroto Sarkawi.


"Cck..apes ***, dalan nggo lewat malah di nggo padu (jalanan buat lewat malahan di pakai berkelahi)," gumam Sukarjo pelan, namun terkandung rasa jengkel.


"Bener Kang, padu kok yo nang tengah dalan ( benar kakang, berkelahi kok ya di tengah jalanan)," sahut Margono yang di samping nya.


Rombongan Jaya terpaksa berhenti sesaat melihat pertarungan yang berlangsung di tengah cahaya rembulan tersebut.


Nampak terlihat dua orang tengah bertarung dengan seru, sementara korban yang sudah berjatuhan sudah terkapar dan berserakan di jalanan.


Traaang....!!


Traaang.....!!


Benturan dua senjata terdengar keras berdentangan mengusik ketenangan hutan malam itu.


"Lihatlah anak buahmu sudah banyak yang kalah dan berserakan..," teriak sosok botak dengan badan tinggi besar tanpa baju.


"Apakah kau masih belum ingin menyerah juga..?" katanya lagi menatap tajam, lawan di depannya yang kini masih nekat melawan.


"Mungkin kelompok kami memang kalah dengan kelompok kalian, tapi aku tak sudi jika harus menyerah dan mengabdi kepada kelompok Jiwa Abadi piminan sang Iblis..!," teriak sosok lawan pria tanpa baju, dengan nafas tersengal sengal.


Jaya yang mendengar percakapan itu, sesaat tersentak kaget, ingatannya langsung kembali teringat percakapan nya dengan Basuki yang menceritakan jika kelompok Jiwa Abadi mulai menebar ancaman kepada kelompok lain.


"Hmm, siapa sosok yang melawan pria botak tak berbaju anak buah Jiwa Abadi ini?"

__ADS_1


"Mengapa dia bersikeras tak mau tunduk kepada kelompok Jiwa Abadi?''


"Mati kau...!!," teriak pria botak tak berbaju itu sambil meloncat dan mengayunkan kapak senjatanya.


Wuuuung....


Traaang....!!,


BLEGAAAART....!


Tebasan kuat kapak itu di tangkis dengan pedang nya.


''Aaaarrch...!!," jerit pria yang menjadi lawan pria botak tanpa baju, badan terhempas dan terlempar setelah menangkis hantaman kapak tersebut.


Pria naas itu terlempar bergulingan akibat ledakan hantaman Kapak dari lawannya.


"Hua..ha..ha...karena kau keras kepala maka sekarang tamatlah riwayat mu...!," kata si botak dengan tertawa terbahak-bahak.


"Sekarang siapa yang akan berani menolongmu..!!," dengan berkacak pinggang si botak berkata dengan sombongnya.


"Bunuhlah aku..!," teriak pria lawan dari si botak, dengan nafas tersengal dan terputus putus.


Pria botak menatap tajam kearah lawannya, kemudian mulai memainkan Kapak nya berniat menghabisi lawannya tersebut.


"Tahaan kisanak..!! teriak Jaya menahan pria botak itu untuk menghabisi lawannya.


Pria botak itu menoleh, menatap Jaya tajam di keremangan malam.


"Ada apa? kau ingin ikut campur urusan kami?"


"Dari perguruan atau kelompok mana kau berasal?" tanya si botak berturut-turut.


"Aku tak ingin ikut campur dan aku hanya berasal dari kelompok kecil yang bahkan tak pernah kau dengar namanya, mungkin."


"Aku hanya ingin bertanya, apa yang membuat kau ingin membunuh lawan mu?, punya dosa apa pria itu.?"


"Hua.ha..ha..., dia tak punya dosa terhadap ku, dosanya adalah menjadi pemimpin kelompok yang tak mau tunduk kepada Jiwa Abadi." jawab pria botak tersebut, dengan entengnya.


"Memang nya kenapa harus tunduk kepada kelompok Jiwa Abadi?"


"Karena itu sebagai bentuk penghormatan kepada kelompok kami yang terhormat."


"Maka jika tak mau di hancurkan, kau harus tunduk kepada Jiwa Abadi, dan menurut dengan semua yang di perintahkan nya." sahut pria tersebut.


"Kenapa bisa begitu..?"


"Karena Jiwa Abadi adalah pemimpin di dunia persilatan ini, maka sudah sewajarnya semua harus tunduk dan patuh terhadap nya."


Jawaban tersebut membuat Jaya menaikkan alisnya, tak percaya tapi memang seperti itu keadaanya.


____________

__ADS_1


Jagan lupa tinggalkan jejak nya...


__ADS_2