
"Seraaang..!!." teriak Tetua Dua memerintahkan anak buahnya yang berjumlah puluhan orang itu untuk menyerang dan merangsek masuk ke Markas Awan Putih, begitu dirinya kesulitan menghadapi Singo Dimejo dan rekannya Tetua Empat juga terdesak melawan lawannya.
Segera saja orang orang Tinju Baja itu melesat maju berniat menghancurkan apapun di sana.
Namun belum juga mereka melangkah lebih jauh sebuah bayangan sudah berkelebat maju menghantamkan pukulannya.
JDUUARRT ...!!
Sebuah pukulan Selaksa Ombak Menerjang menghantam dengan gelombang bertubi tubi ke arah anak buah Tinju Baja.
"Aaarh...!."
"Aarrch..!!.''
Orang orang itu terpental dan terlempar seketika, membuat dua Tetua yang tengah menghadapi sepasang Raja Pedang terkejut dengan kekuatan tersebut.
Jaya memukulkan kekuatannya tak lebih dari limapuluh persen, namun akibatnya sudah membuat anak buah Tinju Baja terlempar dan berserakan.
"Huh, kau kira kami kelompok yang lemah, hanya kelompok tingkat pemula..?.'' kata Karpo Dipolo sembari meladeni serangan Tetua Empat yang ternyata masih di bawah nya tingkat kependekaran nya, semua itu terlihat saat keduanya beradu tenaga maka Tetua Empat langsung terdorong ke belakang.
"Kami juga belum menunjukkan kekuatan dari pemimpin tertinggi kami..!," sahut Tetua Empat sedikit tak mau kalah.
JEDUAARRT..!!
Kembali ledakan keras terjadi, bahkan sedikit lebih keras dari yang pertama, menghantam sisa sisa anak buah Tinju Baja yang masih nekat mau merangsek maju, hingga terlempar semua berhamburan bagai daun daun kering terhempas.
Tetua Dua dan Tetua Empat yang masih bertarung dengan lawan lawannya hingga terkejut dan menatap anak buahnya yang berhamburan seperti daun kering tertiup angin.
Keduanya lalu meloncat mundur, menghampiri anak buahnya lalu melarikan diri.
Singo Dimejo dan Karpo dipolo yang ingin mengejar di cegah oleh Jaya.
"Biarkan saja paman, biar mereka bercerita kepada yang lain agar tak lagi menganggu kita."
**
"Kenapa aku mau bergabung dengan Nakmas..?." tanya Sumanjaya suatu ketika.
"Aku juga tidak tau kakek Suman, tak mungkin kan jika tiba tiba saja seorang pengguna jurus Mata Malaikat mau begitu saja menjadi bawahan ku," kata Jaya dengan jujur, seperti apa yang selalu di tanyakan oleh hati nya.
Sumanjaya terkekeh pelan sebelum berkata kembali, "Nakmas memang pintar, jujur saja aku bergabung dengan Nakmas karena beberapa hal."
Jaya mengangkat wajahnya, menatap sang kakek yang matanya selalu di tutupi oleh kain tersebut.
"Pertama adalah karena penerawangan yang aku dapatkan dalam mimpiku."
"Walaupun banyak orang berkata, jika mimpi adalah bunga tidur, tapi aku yakin jika mimpiku tersebut bukan mimpi biasa."
Sumanjaya menarik nafasnya sebelum kembali menceritakan mengapa dia bersedia menjadi bawahan dan pengikut Jaya.
"Di dalam mimpiku di gambarkan jika dunia ini akan mengalami bencana besar, perang besar antara kelompok yang menginginkan menjadi penguasa tunggal di alam ini."
"Tapi semua kekacauan itu bisa di hentikan, atau setidaknya bisa di redam dengan hadirnya seorang penolong yang yang aku lihat di mimpi masih muda."
"Pemuda itu bersenjata tombak."
Jaya tertawa mendengar penjelasan itu, "Pemuda bersenjata tombak bukan hanya aku seorang kan kek..?." kata Jaya.
"Ya tapi tombak yang bisa datang dan pergi sesuka hati hanya Nakmas Bendoro yang memilikinya," sahut Sumanjaya bersikeras jika pilihannya tak salah.
__ADS_1
"Karena aku melihat itu ada di diri Nakmas Bendoro, maka aku yakin pasti Nakmas pemuda yang ada di mimpi ku .''
"Selain itu aku juga ingin bergabung dengan orang yang ingin menegakkan keadilan dan kebenaran, mau memperbaiki kerusakan yang terjadi di alam ini."
Jaya mengangguk angguk kan kepalanya, jika memang itu alasan nya, memang mereka telah sepakat akan membela kebenaran dan menegakkan keadilan.
"Dan satu lagi alasan ku, dan ini tak kalah penting, Nakmas mampu meredam jurus Mata Malaikat, makanya aku langsung mau tunduk dan menjadi pengikut Nakmas, karena aku juga ingin meminta bantuan untuk menaklukkan salah satu pengguna Mata Malaikat yang melenceng dari kelompok kami."
"Salah satu anggota Mata Malaikat..?, melenceng..?." tanya Jaya dengan penuh keheranan.
"Ya."
"Memangnya kakek Suman tak mampu menandingi nya..?." Jaya bertanya dengan serius.
"He.he..he..., jika aku mampu dengan mudah menandingi nya, aku tak perlu repot-repot melanglang buana mencari sosok yang ada di mimpiku."
"Dia termasuk yang terhebat di kelompok kami, meski aku mampu menandinginya akan banyak korban yang akan jatuh nantinya," Kata Sumanjaya dengan wajah murung.
"Memang nya apa yang dia lakukan..?, sehingga di katakan melenceng..?."
Sumanjaya menarik nafasnya, terdiam sesaat, "Awalnya kami juga tak percaya, jika saja tak mengalaminya sendiri."
"Dia terpergok olehku saat berusaha mengambil sebuah pusaka kelompok kami, dan setelah di lakukan penyelidikan ternyata dia mencuri pusaka tersebut untuk kepentingan kelompok baru nya."
"Hmm..dia membangun kelompok baru..?."
"Bukan..., tapi lebih tepatnya menjadi anggota kelompok tertentu yang menurut kami mereka berseberangan dengan golongan kami."
"Tapi bukankah kakek Suman juga menjadi kelompok ku..?, apakah itu juga tidak menyalahi aturan..?."
"Ini kelompok kebaikan, dan aku juga ikut membentuk nya, tak ada yang diragukan di sini." sahut Sumanjaya sambil tertawa kecil.
**
Kumala dan Kolo Ireng tengah duduk duduk di depan gua yang menjadi tempat peristirahatan mereka sehabis berlatih bersama.
"Bagaimana Kakek guru bisa sampai di jurang ini..?."
Tanya Kumala, mengelap butiran kecil keringat di dahinya.
"Panjang ceritanya, semua ini karena ulah dari salah satu murid yang berniat menguasai kelompok Mata Iblis, dan aku yang saat itu menjadi salah satu kandidat kuat calon Pemimpin Agung harus tersingkir karena nya."
Kumala hanya tercengang tak percaya mendengar berita tersebut.
"Bahkan semua calon Pemimpin Agung di singkirkan saat itu dengan cara di racun, termasuk aku, bukan hanya itu saja, tapi juga di hancurkan tempat dimana kami di jamu sebelum akhirnya di bakar.
"Beruntung ada salah satu sosok yang menyelamatkan ku, sehingga aku masih tetap hidup," kenang Kolo Ireng, sambil menerawang jauh ke masa silam.
"Siapakah sosok yang menyelamatkan kakek guru..?." tanya Kumala dengan penasaran.
"Saudara jauh.." sahut Kolo Ireng dengan singkat, tanpa menjelaskan lagi.
"Apakah Kakek tau orang yang melakukan kekejian itu..?."
Kolo Ireng hanya mengangguk dan tak menjawabnya dengan jelas.
"Sudahlah itu sudah lama terjadi, tak perlu di ungkit lagi," kata Betorokolo dengan pelan.
Mereka kini terdiam, tak lagi membahas masalah tersebut.
__ADS_1
**
"Benarkah mereka sekuat itu..?."
"Benar Tetua satu, meski aku tak menghadapi nya namun puluhan orang yang terlempar akibat pukulannya menggambarkan betapa kuat orang tersebut," sahut tetua Dua dengan di angguki oleh tetua Empat yang duduk di sampingnya.
"Apa sebaiknya kita anggap selesai saja tetua..? jangan kita usik mereka jika benar benar mereka hebat..!," usul Tetua Tiga dengan hati hati.
"Omong apa tetua tiga ini..?, aku malah penasaran dengan kemampuan orang ini.!," kata Tetua Satu dengan sedikit murka, membuat tetua Tiga menghentikan niatnya untuk membujuk agar tak memperpanjang masalah ini.
"Aku yang akan menyambangi mereka seorang diri, kalian tak usah khawatir jika takut," kata Tetua Satu, membuat para tetua seperti tersindir.
"Aku ikut tetua Satu..!," seru tetua Lima yang langsung beranjak berdiri.
"Ayoo..cukup kita berdua saja," kata Tetua Satu dengan gaya arogan.
Dua orang itu langsung melesat menuju kearah Alas Lirboyo dimana kelompok Awan Putih berada.
Keduanya tak mengunakan kuda, karena kecepatan lari orang orang setingkat mereka sudah melebihi kecepatan kuda tunggangan.
Laaap...
Laaap....
Keduanya meloncat dari satu pohon ke pohon yang lain, kadang melompati semak dan gerumbulan pepohonan kecil, melompati lubang lubang kecil dan sedikit perdu.
"Itu tempat nya..?," tanya tetua Satu.
"Benar tetua satu," sahut tetua Lima sambil menatap kedepan.
Keduanya kini telah berdiri di depan gerbang Awan Putih yang belum dibangun sempurna.
"Aku ingin bertemu pemimpin Awan Putih...!." Teriak tetua Satu dengan lantang.
Tak berapa lama Jaya keluar dengan diiringi Sepasang Raja Pedang dan Mata Malaikat.
"Ada apa kisanak..?," tanya Mata Malaikat Sumanjaya.
"Aku tetua Satu Tinju Baja, mau ketemu pemimpin di sini..!."
Jaya maju," Ada apa tetua datang kemari," balas Jaya Sanjaya masih dengan sikap sopan.
"Tak perlu basa basi, kita lakukan pertarungan disini jika aku menang kau akan jadi budak ku...!." kata Tetua Satu dengan sinis.
"Jika aku yang menang...?."
"Terserah kepada mu..!!," kata Tetua Satu masih dengan sikap arogannya.
"Baik kau jadi budakku...!!," teriak Jaya ikut menggertak.
"Aku terima tantangan mu.."
Tetua satu sudah melesat maju, menyingsingkan baju nya, memamerkan kedua lengannya yang nampak hitam berkilat terlihat kokoh.
Dia nampak memainkan Jurus nya, membuat lengan itu kini sedikit berpendar, itulah jurus Lengan Baja membelah Jiwa sebuah jurus andalan dari Tinju Baja.
"Ayoo..kita mulai...!!." teriaknya.
___________
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak nya...