
"Apa maksud mu Kumala anakku?," tanya Jambumangli lagi, menatap anaknya yang sama sama duduk lesehan di tikar yang ada di pendopo rumah besar tersebut.
"Aku akan menceritakan semua yang terjadi kepadaku ayah," sahut Kumala, sedikit bergeser menegakkan duduknya.
Lalu Kumala menceritakan semua kejadian yang dialaminya, dimulai saat dirinya di markas utama Mata Iblis, yang akan di musnahkan oleh Sang Ratu Dewi Mata Iblis.
Dianggap akan merebut posisi sang permaisuri dari Pemimpin Agung itu, hingga dirinya di racun dan di buang di jurang hutan Larangan.
Kemudian menceritakan bagaimana dirinya bisa selamat bahkan menjadi murid dari legenda Mata Iblis, Betorokolo Koloireng.
Jambumangli kaget, terkejut anaknya menjadi murid dari seorang tokoh legenda dari Mata Iblis tersebut.
Lalu menceritakan bagaimana dirinya bertemu dengan kelompok Jaya, dan merasa di lindungi serta di ayomi di kelompok Awan Putih.
Jambumangli yang mendengar semua penuturan anaknya tanpa terasa air matanya meleleh, merasa betapa penderitaan anaknya akibat ulah dari pemimpin Mata Iblis yang selama ini di belanya.
Bukan hanya Jambumangli, tapi semua anak buah Jambumangli pun merasa geram dengan sikap pemimpin Mata Iblis dengan peristiwa itu.
Mereka mengingat saat kelompok Jambumangli berusaha mencari Kumala, malah mereka menganggap sepele masalah itu dengan berbagai alibi nya, saat itu.
"Maafkan ayah anakku, aku tak melindungi mu saat itu dengan baik."
"Kami benar benar kehilangan jejak mu saat itu, dan kami tak mengira jika ini semua ulah sang Ratu."
Jambumangli merah padam wajahnya, menahan amarahnya jika mengingat penderitaan anaknya, merasa di hianati oleh pemimpin yang selama ini di agung agungkannya.
"Terimakasih sekali lagi Nakmas Jaya, atas kebaikanmu mau menampung dan melindungi Kumala anakku."
Jaya tersenyum mengangguk.
"Bukan apa apa paman, sudah sepantasnya kita tolong menolong terhadap sesama, apalagi ini menimpa Dinda Kumala, wajib bagiku untuk melindungi nya."
Kumala yang ada di sisi kiri Jaya tersenyum, melingkarkan tangannya memeluk lengan Jaya, lalu menyandarkan kepalanya, mendengar jawaban pemuda tersebut.
Jambumangli hanya tersenyum mengangguk, dirinya mulai paham tentang hubungan anaknya dengan pemuda gagah dan tampan di depannya.
Pelangi yang ada di sisi kanan Jaya juga tersenyum mengangguk.
"Kami kesini selain ingin berkunjung dan bertemu paman, juga ingin memberitahukan bahwa Dinda Kumala dalam keadaan baik baik saja, selain itu saya juga mau meminta ijin kepada paman untuk membawa Dinda Kumala ke markas utama Awan Putih."
"Maksud Nakmas?."
"Saya melamar Dinda Kumala untuk menjadi pendamping hidup ku, menjadi istri ku bersama Dinda Pelangi nanti nya," sahut Jaya menegaskan.
Jambumangli mengangguk kembali, tersenyum sambil menatap Kumala sekali lagi untuk menegaskan, dilihatnya anaknya terlihat bahagia memeluk lengan pemuda pemimpin Awan Putih tersebut.
"Saya selaku orang tua hanya bisa merestui, mendoakan yang terbaik, semua terserah Kumala yang akan menjalaninya nanti."
"Kalian telah dewasa, mampu berfikir dan mengambil keputusan, lagi pula kalian selama ini telah bersama, aku kira kalian lebih tahu tentang masing masing dari sifat kalian," sahut Jambumangli kembali.
"Terimakasih paman atas restu mu."
Jambumangli kembali tersenyum, "Kapan kira kira pernikahan kalian akan di resmikan, dan di saksikan langit?."
"Rencana nya bulan ke dua belas, tiga bulan setelah pertemuan Serikat Pendekar, paman." jawab Jaya dengan cepat.
Semua mengangguk, mendengar rencana pernikahan itu, terutama anggota Awan Putih, semua terlihat senang.
__ADS_1
"Kami bertiga akan mengucap Janji di hadapan langit sang Pencipta saat nanti tiba." kata Jaya lagi, tersenyum menatap ke arah Kumala dan Pelangi.
Kedua gadis cantik itu juga tersenyum, memeluk lengan Jaya kemudian membalas menatap Jaya dan mengangguk.
Semua yang hadir disana kembali tersenyum mengangguk senang, termasuk istri istri Jambumangli, karena ibu kandung Kumala telah tiada.
"Semoga kalian selalu berbahagia, menjadi keluarga yang selalu rukun, damai dan sejahtera," sahut istri istri Jambumangli.
"Terimakasih ibu," sahut Kumala.
**
Sesosok pria tua tengah duduk bersila di sebuah batu yang berada di ujung gua yang ada di lereng sebuah bukit.
Tatapannya tajam mengitari hutan yang ada didepan nya.
"Hmm, aku sudah lama berdiam diri disini, menghindar dari dunia persilatan."
"Gara gara ulah orang orang itu aku harus melepas jabatan ku sebagai pemimpin Agung Api Suci."
"Kini aku merasa makin kuat setelah beberapa waktu dalam pengasingan, sudah waktunya aku keluar dari sini, kekuatan ku sudah makin meningkatkan selama aku mengembangkan diri selama ini.''
Lelaki tua itu adakah Moncong Putih, sosok legenda Api Suci yang mampu mengeluarkan jurus Api dari semburan mulutnya.
Dahulu dirinya dikalahkan oleh kelompok Jiwa Abadi saat pertemuan Serikat Pendekar puluhan tahun silam, hingga memaksanya melepas jabatan sebagai pemimpin Agung Api Suci.
Saat tatapannya mengitari hutan yang terbentang di hadapannya terlihat sekelompok orang nampak mendaki bukit dimana gua tempatnya bertapa berada.
"Huh, siapa mereka?, apa orang orang yang ingin mencari masalah denganku?." gumamnya pelan dengan geram.
Makin lama rombongan orang orang tersebut makin mendekati gua dimana sosok lelaki tua tersebut berada.
Dalam jarak yang masih jauh tersebut, terlihat orang orang itu berjalan dengan sedikit membungkuk, sedikit takut dan ragu terlihat dalam gerakan badannya.
Nampaknya mereka sudah menyadari keberadaan Moncong Putih yang selalu mengawasi pergerakan mereka.
"Salam sesepuh..," kata salah satu orang dari kelompok yang datang tersebut mengucapkan salam sambil menjura dengan penuh rasa hormat.
Moncong Putih menatap rombongan tersebut, melihat simbol Api Suci di bajunya, tahulah dirinya siapa orang orang yang mendatanginya itu.
"Ada apa kalian kemari? apakah kalian di utus Nambi Tosa?."
Nambi Tosa adalah nama asli dari Dewa Api yang menjadi pemimpin Agung Api Suci saat ini.
Para utusan itu mengangguk dan menunduk dengan hormat.
**
"Kami akan sering sering mampir kemari Ayah, aku janji," pamit Kumala memeluk Ayahnya.
Jambumangli mengangguk membalas pelukan anak gadisnya, yang kini akan mengikuti kelompok barunya.
Masih tak percaya baginya jika kelompok yang menjadi perbincangan dunia persilatan adalah tempat anaknya bernaung sekarang.
Awan Putih, sebuah kelompok baru yang mengguncang dunia persilatan dengan aksi aksinya.
"Jika ada waktu aku akan mampir kesana Nakmas, sebelum pertemuan Serikat Pendekar nanti," kata Jambumangli, menatap Jaya.
__ADS_1
"Aku nantikan saat itu paman, aku berharap paman bisa menjadi kelompok ku, berdiri di belakang ku saat pertemuan Serikat Pendekar nanti nya.'' balas Jaya Sanjaya.
Jambumangli mengangguk tersenyum, lalu melepas rombangan Jaya meninggalkan tempat kediaman nya.
"Hati hati kalian semua..!." pesan Jambumangli.
Setelah saling menjura sebagai sesama pendekar, rombongan Jaya benar benar meninggalkan tempat hunian Jambumangli, menuju ke arah timur untuk selanjutnya sedikit berbelok ke timur laut.
Rombongan tersebut kembali membelah lebatnya hutan menuju ke arah hutan Lirboyo yang ada di wilayah kerajaan kecil Karang Doplang yang ada bawah naungan Kerajaan Agung Pati Sruni.
"Kakang kami tak sabar menuju ke markas Awan Putih," kata Kumala yang di angguki Pelangi, "Benar Kakang, aku juga tak sabar."
Jaya tersenyum, "Kalian akan suka, meskipun tempat nya mungkin tak seindah istana Kerajaan Agung," sahut Jaya kembali.
Rombongan Jaya sangat bersemangat, apalagi kebanyakan mereka belum pernah ke markas utama tersebut.
**
Seorang kakek dengan pakaian compang camping tengah duduk di pinggir jalan, di bawah pohon rindang yang cukup besar hingga mampu menutupi panasnya matahari siang itu.
Seakan menanti sesuatu, kakek itu kadang duduk, kadang berbaring dan bersandar seenaknya.
Sebuah tongkat kehijauan yang menjadi temannya terlihat tergeletak di samping nya.
Matanya sebentar terpejam, sebentar membuka dengan mulutnya komat kamit, menggumamkan sesuatu.
"Cck, harusnya sudah sampai disini, menurut kabar sudah sejak kemarin mereka meninggalkan kerajaan Ngarsopuro."
Ya kakek itu adalah Respati Benowo atau orang biasa menyebutnya Raja Pengemis.
Sudah hampir sepekan ini, sang kakek menunggu rombongan Jaya yang di perkirakan akan tiba di markas utama Awan Putih.
Dirinya hanya menerima informasi jika rombongan Jaya telah meninggalkan istana Ngarsopuro, beberapa waktu yang lalu.
Lalu Raja Pengemis itu menunggu di ujung hutan Lirboyo, menanti rombongan Jaya melintas disana.
"Aah, mungkin itu mereka," sahut Respati dengan wajah sumringah, kakek itu melihat serombongan orang tengah bergerak menuju tempat dimana dirinya bermalas malasan.
Rombongan sekelompok orang tersebut makin mendekat ke arah Respati.
Raja Pengemis menelisik dan menatap sekilas rombongan tersebut.
"Emm, nampaknya orang orang Api Suci," gumam sang Kakek, lalu dengan cepat bergerak menghindar sebelum orang orang itu melihat keberadaan nya.
Orang orang anggota Api Suci itu kini malah terlihat mulai duduk duduk di tempat bekas Respati beristirahat tadi.
"Cck, merepotkan..," keluh seseorang dari anggota Api Suci, sembari meletakkan pantat nya duduk di bekas Raja Pengemis tadi berada.
"Hati hati bicaramu..! jika terdengar pemimpin Agung bisa digantung kau..!," bentak temannya.
"Habis bagaimana? kita di tugasi mencari sosok legenda sesepuh Agni Mahesa Suro tapi tak menyebutkan dimana tempat nya."
"Kita harus muter muter tak tentu arah." sungut orang yang mengeluh tadi.
"Yaah..memang begitu, sesepuh Agni Mahesa Suro memang tidak diam di sebuah tempat jadi kita harus sabar..," sahut temannya tersebut.
Respati yang mencuri dengar sedikit kaget, " Hmm, mengapa Api Suci mencari sosok Legenda itu? adakah hal gawat lainnya?."
__ADS_1
___________
Jangan lupa tinggalkan jejak nya.....