Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Masih di beri Pengampunan.


__ADS_3

Dua pedang yang sudah berkobar makin besar dari senjata Raja Api dari Utara menebas kearah Jaya Sanjaya.


Suara api yang membelah udara terdengar sangat mengerikan bagi yang mendengar nya.


Ssraaappp...!


Begitupun dengan Moncong Putih yang sudah meloncat mendekat kearah Jaya Sanjaya, dengan menghantamkan tongkat selongsong baja nya.


Wuuuungg...!


Taaang.....!!


BLEGAAAAAART....!!


Dua hantaman tersebut di tangkis dengan pedang Angin Puyuh dan tongkat Wesi kuning, membuat dua legenda itu tersentak ke belakang.


Mereka kembali tercekat, meski sudah meningkatkan kekuatannya namun nyatanya pemuda lawannya masih mampu membuatnya terjajar kebelakang.


"Luar biasa kekuatan anak ini.'' Moncong putih.


"Kuat sekali tenaga nya," Raja Api dari Utara.


Dua legenda itu makin mempercepat gerakannya, berharap akan mampu melibas lawannya.


Pedang api sang Legenda dari Utara itu makin berkobar, apinya bahkan meloncat loncat mulai membakar sekitarnya jika saja tak di redam oleh Jaya dengan jurus Gelombang Awan Menerjang.


Gumpalan kabut yang ada di tangan dan kaki Jaya yang di lempar kan mampu mematikan dan menyerap hawa panas tersebut.


Moncong Putih bergerak cepat mengitari Jaya mencari celah diantara serangan Raja Api.


WOOOOZZZ....


Tiba tiba sambil meloncat moncong Putih mengarahkan Selongsong baja di dekat mulutnya dan menyemburkan Api panas dengan kuat dah cepat, menggunakan selongsong itu sebagai penghubung nya.


Semburan api yang dahsyat itu menyebar membakar seluruh badan Jaya Sanjaya.


"Aaaarch..!." Jaya meloncat dengan badan yang terbakar, namun semua itu langsung terserap Kabut di badan Jaya, dan badan Jaya yang terlindung zirah Tameng Jiwo tak menampakkan adanya luka.


Selain itu jika pun ada luka Raga Abadi nya pasti akan memulihkannya, meskipun membuat jumlah lapisan Raga Abadi berkurang.


"Setan Alaaas...Demit Ibliiis..!!," teriak Moncong Putih terkejut hasil serangannya tak menimbulkan efek apapun pada lawan.


Disaat Moncong Putih masih terperanjat dengan serangannya yang tak menimbulkan lawan celaka, Jaya sudah melesat sangat cepat dan tiba tiba sudah berada di depan sang legenda tersebut.


"Giliran kuuu..!!." teriak Jaya, dan tanpa sempat di tangkis sang Kakek tersebut menghantamkan pukulannya tepat di dadanya.


JEDAAAAARR...!!


Moncong Putih terpekik, merasakan dadanya hancur terhantam pukulan lawan.


"AAAAaaaa....!."


Dengan cepat ditariknya nafas, menghimpun tenaga dalam untuk dialirkan dan dipusatkan ke arah dada melindungi organ dalam nya.


Badan sosok tua itu terlempar berguling gulingan dengan mulut meracau tak karuan.


Raja Api dari Utara, terbelalak matanya, merasa sosok pemuda di depannya benar benar luar biasa, selama ini tak mudah untuk menghadapi nya, apalagi kini dirinya bergabung dengan legenda lainnya namun nyatanya pemuda yang menjadi lawannya mampu meredam bahkan kini menghajar Moncong Putih.

__ADS_1


"Sekarang giliran mu...!," teriak Jaya kepada sang legenda tersebut, menatap tajam kearah Raja Api dari Utara.


Sedikit begidik sang Legenda mendapat tatapan mengerikan dari lawannya.


"Hiaaaa....!!."


Jaya melesat cepat ke arah pria tua tersebut, mengayunkan pedang nya.


Wuuuuusss...


Sriiiing....!!


Sambaran pedang dengan aura kuat menerjang ke arah Raja Api, sosok tua itu mengantisipasi serangan itu dengan menyilangkan kedua pedangnya.


BLAAAAAARR...!!


Hantaman kuat dari Jaya berhasil di tangkis oleh sosok legenda tersebut, namun tak ayal pria tua itu juga terdorong kebelakang.


Belum berhenti nafasnya yang ditahan, saat akan menghirup udara untuk menambah kekuatan lagi sebuah hantaman dari tongkat Wesi Kuning di tangan Jaya melesat menghantam dada nya.


BLEGAAAAAART...!!


"Aaaaaaaaa...," jeritan panjang terdengar saat pria tua itu terlempar bergulingan menabrak badan Moncong Putih yang duduk bersila ingin memulihkan diri nya.


Dua kakek tua itu kembali terlempar, setelah badan Moncong Putih di tabrak Raja Api.


Jaya menarik nafasnya, melihat ke sekitar, memandang bekas bekas pertarungan yang terlihat mengenaskan.


Di mana mana terlihat bekas terbakar, beberapa pohon layu, bahkan banyak yang gosong akibat hawa panas yang menyebar tadi.


Dari jarak jauh terlihat para petinggi Awan Putih masih menatap pertarungan dahsyat tersebut, mereka menyingkir karena hawa panas yang menguar cukup membahayakan.


**


Di sebuah istana yang kemegahannya tak ada yang menandingi tampak Kaisar Dewa sedang berbincang dengan para Dewa bawahannya.


Terlihat seorang dewa duduk di kursi yang indah, namun terlihat kecil, yang berada di depan singgasana megah sang Kaisar Dewa.


"Bagaimana? apakah ada yang ingin kau laporkan kepada ku tentang alam dewa?.., Dewa Prajurit?."


Dewa Prajurit kali ini adalah bagian prajurit penerawangan, dimana tugasnya adalah memindai, mengawasi dan menerawang segala hal yang membahayakan Jagat Raya.


Mengantisipasi segala kemunginan yang terjadi di Jagat Raya, baik ulah Dewa itu sendiri, Iblis, maupun manusia ataupun siluman serta makhluk lainnya.


Dengan menunduk setelah melakukan penghormatan Prajurit Dewa itu berkata, "Ampun pukulan, selama ini di alam Dewa masih aman, semenjak perang besar beberapa waktu yang lalu yang dipimpin Dewa Cakra Tirta Sanjaya menumpas para Iblis alam ini aman sentosa."


Kaisar Dewa terlihat memgeryitkan keningnya, "Jangan kau sebut namanya di depanku..!!."


"Aku tak sudi mendengar namanya lagi di alam ini..!!," bentak Kaisar Dewa menggelegar, membuat prajurit dewa itu menggigil, ketakutan.


Rahasia yang ada di istana dewa memang sangat terjaga rapat, peristiwa perselingkuhan Selir terbaru sang Kaisar Dewa dengan Dewa perang bahkan tak ada yang tahu, hingga keduanya di hukum.


Dan di hukumnya Dewa Cakra Tirta Sanjaya dengan di asing kan di tempat yang jauh juga tak ada yang tahu, semua belum tahu di buang dimana sang mantan Dewa Perang tersebut bahkan Kaisar Dewa sekalipun tidak tahu.


"A.a-ampun Pukulan....," kata prajurit Dewa dengan ketakutan dan tergagap, dirinya benar benar bingung dengan apa yang terjadi, mengapa ada larangan menyebut nama Dewa Cakra Tirta Sanjaya?.


Padahal bagi para pasukan perang, dewa tersebutlah yang di agung agungkan bahkan melebihi Kaisar Dewa.

__ADS_1


Kehebatan Dewa Cakra Tirta Sanjaya sudah melegenda melebihi para pahlawan lainnya di alam Dewa.


"Terus apa yang akan kau laporkan kepada ku? sehingga kau menghadap ?." seru Kaisar Dewa setelah mampu menenangkan dirinya lagi.


"Hamba mau melaporkan bahwa adanya pergolakan di dunia manusia."


Kaisar Dewa menatap sang pemberi laporan, menarik nafasnya sejenak.


"Seberapa gawatnya? kah?." sahut Kaisar Dewa menanggapi laporan tersebut.


"Belum terjadi apapun Pukulun, namun tanda tanda ke arah kekacauan sudah mulai terasa."


"Aura yang kami dapat mengatakan begitu," sahut Dewa prajurit penerawangan tersebut.


Kaisar Dewa menarik nafasnya, baginya ikut campur alam lain adalah pantangan, kecuali memang ada perintah dari sang pencipta atau ada hal gawat yang sudah terjadi barulah Kaisar Dewa akan turun tangan membantu.


"Kita memang patut waspada, karena kehancuran alam itu juga bisa berimbas di alam ini.''


"Namun selagi semua itu belum benar terjadi, kita tak perlu ikut campur." kata Sang Kaisar Dewa, sambil mengusap janggutnya.


Dewa Prajurit penerawangan kembali mengangguk dan membungkuk, menandakan bahwa hanya itu berita yang akan disampaikan nya.


**


Jaya sudah berjalan menghampiri para Legenda Api Suci.


Dilihatnya dua tokoh tersebut masih bersila mencoba memulihkan kekuatannya.


Keduanya yang tengah memulihkan tenaga, terlihat pasrah begitu membuka mata Jaya sudah ada di hadapan nya.


"Bunuh lah kami..!."


"Ya..kami pasrah.., kami sudah kalah." kata pelan Raja Api, menyahut perkataan Moncong Putih.


Dua kekek itu terlihat lemah, wajahnya pucat dengan kekuatan yang sudah habis.


"Mengapa kalian menyambangi markas ku?." tanya Jaya makin mendekat.


"Bukankah kami Awan Putih tak mengusik kalian?."


"Kami tak pernah menggangu orang lain, kami hanya akan membalas jika ada yang mengusik kami."


Kata kata Jaya membuat dua tokoh tua itu makin menunduk, keduanya merasa malu, karena memang mereka menyadari bahwa keduanya yang merasa sok jagoan, niatnya ingin memberi pelajaran tapi nyatanya mereka malah yang di permalukan.


"Aku masih menghargai kalian sebagai tokoh tua dari aliran putih, meski aku juga sangsi jika Api Suci pembela kebenaran," sindir Jaya.


"Aku lepas kalian hari ini, tak ku bunuh tapi, berbuat lah yang baik dan bijak, jangan memperturutkan hawa nafsu." kata Jaya makin menampar wajah keduanya.


Keduanya makin menunduk, malu dengan dirinya sendiri, mereka yang sudah tua merasa bagai seorang bocah nakal yang di berikan wejangan oleh bapaknya.


Jika di rasa semua yang dikatakan Jaya ada benarnya, membuat hati keduanya seakan di remas, mereka makin merasa tak punya muka berhadapan dengan anak muda di depannya.


"Jika sudah kuat, pergilah..aku harap kita bertemu lagi dengan suasana yang berbeda," kata Jaya sebelum meninggalkan tempat tersebut, melepaskan dua sosok tua yang masih terbengong tak percaya, lawannya tak memenggal kepalanya.


__________


Jangan lupa tinggalkan jejak nya...

__ADS_1


mohon maaf karena kesibukan author tak bisa membalas komentar Kaka Kaka readers semua... terimakasih atas semua dukungan nya.


__ADS_2