Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Ingatan Yang Terhapus


__ADS_3

Kian mendekati bulan pertemuan Serikat Pendekar, kian terasa ketegangan di jagat persilatan.


Jaya terlihat melesat ke angkasa masih berusaha mencari satu lagi pusaka yang belum di temukannya, yaitu pusaka Mahkota Dewa Perang.


Mahkota yang akan membuat seluruh kekuatannya bisa bersatu padu, membuka segel yang menghalangi dan mengekang kekuatannya selama ini untuk pulih seperti semula.


"Dimana kyai Rojo molo berada? kenapa tak juga kurasakan keberadaannya?."


Kyai Rojo molo adalah nama pusaka Mahkota Dewa Perang, yang saat ini tengah di cari oleh Jaya.


Wuuusss...


Laaaappp...


Jaya melesat sangat cepat di kegelapan malam, menembus awan melihat sekitarnya, tatapan matanya yang setajam naga mampu melihat segala sesuatu dengan jelas dalam jarak ratusan tombak itu berputar keseluruh arah, mengawasi semuanya.


Jaya terbang hingga sangat jauh memutari alam ini, dalam keadaan seperti ini (terbang) Jaya mampu menempuh jarak ribuan tombak dengan sangat cepat hanya dalam beberapa waktu saja.


Dari arah selatan sudah bisa di lihat beberapa rombongan terlihat mengular bergerak ke arah utara, mereka adalah beberapa kelompok yang akan menuju ke padang Selayang Pandang.


Jika di lihat dari udara, rombongan orang yang berjalan beriring iringan itu laksana seekor Naga Api tengah berjalan di kegelapan malam.


Jaya berhenti sesaat, terdiam lalu duduk di atas awan, dengan bobot tubuh yang sedemikian membuatnya mampu untuk berdiri bahkan berbaring di tebal nya awan tersebut.


"Ya..mungkin Sang Pencipta tengah menghukumku, membuangku ke alam ini."


"Sekuat apapun aku mencari pusaka pusaka itu, jika belum takdirku untuk bertemu semua itu tak akan terjadi (bertemu)."


Jaya merenung, mengingat semua yang telah di perbuatnya sewaktu di alam dewa, ingatannya melayang mencari sebab dan penyebab kenapa bisa sampai terjadi seperti ini.


Tak terasa ingatannya kembali singgah saat terakhir di alam dewa, saat dirinya tengah "bertemu" dengan kekasih hatinya yang di paksa menjadi seorang selir dari Kaisar Dewa.


Sesaat kemarahan mengisi rongga dada nya, nafasnya memburu dan dirinya meradang.


"Dia milikku, kekasihku..kenapa di paksa menjadi selir sang Kaisar."


Kini ingatan Jaya makin pulih, hingga bisa mengingat sejauh itu, mengingat kekasihnya yang di paksa menajdi selir Kaisar Dewa, kekasihnya Dewi Krystal Nurmala.


**


Seorang wanita yang sangat cantik, tengah merenung di sebuah taman yang sangat indah.


Kulitnya yang seputih susu, dengan rambut coklat madu dan mata bening putih bersih tampak duduk di sebuah taman yang sangat indah.


Hatinya tiba tiba bergetar mengingat kejadian yang telah lalu, kejadian bersama kekasih hatinya Dewa Cakra Tirta Sanjaya.


Mungkin itu di anggap "Aib" oleh yang lainnya, namun baginya itu yang menyelamatkannya dari paksaan pernikahan dengan Kaisar Dewa.


Semenjak "Kejadian" itu dirinya kini di asingkan di istana Ungu, sebuah istana yang di tempati para janda dari Dewa yang telah gugur.


Dewi Krystal Nurmala di anggap seorang janda di sana, tak lagi di anggap selir Kaisar Dewa, tapi itu sesungguhnya yang di inginkannya, karena sesungguhnya hati dan raga nya hanya ingin di serahkan kepada sang kekasih hati, Dewa Cakra Tirta Sanjaya.

__ADS_1


"Kakang...di mana dirimu??.''


Seperti ada ikatan batin dari keduanya saat ini di alam dewa, Dewi Krystal Nurmala juga tengah memikirkan Dewa Cakra Tirta Sanjaya alias Jaya Sanjaya.


**


Jaya kembali melesat dengan cepat di kegelapan malam itu, kembali ke markas Awan Putih.


Niatnya mencari jejak keberadaan pusaka mahkota dewa perang Rojo molo, namun tidak berhasil malah ingatannya yang terbuka, mengingatkan kembali siapa sesungguhnya dirinya, dan bagaimana bisa terbuang di alam ini dengan meninggalkan kekasih hatinya yang kini entah bagaimana nasibnya.


Wuuuss...


Taaaappp...


Jaya meloncat mendarat di beranda lantai tiga di mana kamarnya berada.


Sosok dengan wujud pemuda tampan nan gagah itu dengan lesu duduk di kursi yang tersedia di sana.


Hatinya di rundung kegundahan mengingat kekasih hatinya yang kini ada di alam lain.


"Kakang..."


Sebuah suara mengagetkan Jaya yang tengah melamun memikirkan banyak hal.


Jaya menoleh, dilihatnya dua gadisnya tengah memperhatikannya.


"Kakang kenapa..?." tanya Pelangi menghampiri Jaya, bersama Kumala mendekat.


Ingin sekali rasanya berbagi cerita dengan dua gadisnya, namun mengakui jika dirinya seorang Dewa nampaknya waktu ini belum saatnya.


"Apa yang Kakang pikirkan..?"


Jaya menggeleng, "Hanya memikirkan alam ini, ku harap besok kalian berdua hati hati, saling menjaga satu sama lain saat berada jauh dari kakang." kata Jaya memeluk dua gadis yang terasa mungil dalam badan kekar dan menjulangnya.


"Kami janji...saling menjaga jika memang terjadi peperangan di pertemuan nanti nya." balas Kumala.


Pelangi mengangguk meng"iya"kan perkataan Kumala.


"Kalian tidurlah..ini sudah sangat larut," kata Jaya setelah mencium pucuk kepala kedua gadis tersebut.


Di lantai tiga tersebut selain banyak ruang juga ada beberapa kamar yang di tempati ketiganya.


Kamar Jaya berada di paling pinggir dekat berada, di sebelahnya baru kamar yang di tempati dua gadis itu.


"Iya...., kakang lekas tidur juga, pasrahkan semua kepada Yang Maha Kuasa, pasti niat baik kita akan di bantu-Nya." Kumala melepaskan pelukannya sambil sedikit berpesan, diikuti Pelangi melepas pelukannya.


"Benar kata Kaka Kumala, Kakang harus tidur, jangan begadang.''


Jaya mengangguk melepas dua gadisnya kembali ke tempat istirahat nya.


**

__ADS_1


Randu Sembrani memacu kudanya diikuti sang istri Nyai Nilam Sari, keduanya melesat mulai meninggalakan wilayah selatan Kerajaan Agung Karang Pandan.


Mulai memasuki wilayah Ngarsopuro bagian selatan.


"Nampak semua yang dari selatan sudah bergerak ke utara Kakang," nyai Nilam Sari berkata sambil mensejajarkan kuda, berada di samping sang suami.


"Benar Dinda, beberapa kali kita beriringan dan berpapasan dengan mereka yang tengah bergerak ke sana ."


"Kelompok Macan Brangasan malah sudah beberapa pekan lalu berangkat ke Utara," kata Randu Sembrani.


Macan Brangasan adalah kelompok yang berada dekat dengan perguruan Randu Sembrani.


"Selain mereka, aku dengar juga Alap Alap Kidul sudah berangkat sejak pekan Kemarin." sahut nyai Nilam Sari.


Alap Alap Kidul juga merupakan kelompok dari wilayah paling selatan seperti mereka.


"Apa hanya aku saja, atau memang seperti ini keadaannya, aku merasa di pertemuan kali ini semua terlibat untuk datang ke sana (Padang Selayang Pandang)."


"Benar apa katamu kakang, tahun ini seakan ada yang memacu untuk hadir di sana, bahkan pihak kerajaan juga mengirimkan wakil nya ke sana, rata rata mereka mengirim pasukan khususnya."


"Benar Dinda, ada apa ini? apa yang akan terjadi dengan dunia ini?, apa benar berita yang beredar akan terjadi pertumpahan darah di sana?."


Kedua suami istri itu masih terus berbincang di pagi yang cerah tersebut.


"Semoga Sang Pencipta melindungi kita semua Kakang.''


"Iya, semoga kita masih dalam naungan Sang Pemilik Kehidupan."


**


Jaya sudah nampak segar, begitu juga dengan dua gadis cantik di sampingnya.


Ketiganya kini duduk di depan aula besar yang ada di markas Awan Putih.


Meskipun Janji Suci pernikahan belum di resmikan, tapi bagi Awan Putih dua gadis muda tersebut sudah di anggap sebagai Ratu di kelompok itu.


Bersama petinggi dan Sesepuh kelompok itu mereka kini tengah membahas bagaiamana proses perjalanan ke padang Selayang Pandang, karena membawa pasukan besar bukan perkara mudah, harus di periapkan dan di atur dengan cermat agar tak menimbulkan masalah nantinya.


"Masih berapa kelompok lagi yang harus kita tunggu Nakmas Tetua.?."


Jaya terdiam sesaat, " kelompok Gagak Hitam, partai Pengemis tongkat Hijau serta Kakek Randu Sembrani."


"Sedangkan saudara kita dari kelompok Golok Naga akan bertemu dan menunggu kita di perjalanan tepatnya di simpang bukit kapur Arjosono."


Semua mengangguk mendengar kepastian rencana tersebut.


____________


Tetap dukung kaka...., sebenarnya mood booster sudah menurun ****untuk menulis cerita ini**** ..dengan tak adanya peningkatan level yang NT **berikan, jadi karya ku belum dapat reward kontrak.


Pingin berhenti hanya tak tega sama kaka kaka yang sudah terlanjur baca dan dukung karya aku....

__ADS_1


Makasih untuk kaka kaka yang sudah suport karya ku**..


__ADS_2