
Pertarungan antara partai Es Abadi dengan pasukan lawan masih berlangsung dengan seru.
Mayat mayat sudah bergelimpangan di mana mana, bukan hanya anggota partai Es Abadi, tapi juga anak buah Jiwa Abadi dari jenis manusia dan sebagian Iblis.
Perlu di ketahui jika para iblis ini juga bisa di hancurkan dan mati meski tak mudah, tak seperti sepasang iblis Wora dan Wari yang di tubuhnya ada kandungan cacing darah Sarma Pala.
Para Petinggi pengguna element Air/Es itu terlihat masih kesulitan menaklukan lawan lawannya.
Sukat Jaladri sang Dewa Es yang melawan pemimpin kelompok dari pasukan Iblis masih kesulitan untuk menaklukannya, bahkan di pertarungan itu rasanya Tetua dari partai Es Abadi itu kalah satu tingkatan dari lawannya, setiap gempuran dan serangannya mampu di redam dan di mentahkan oleh pemimpin pasukan Iblis tersebut.
Sedangkan tiga sesepuh yaitu Kaisar Dewa Air, Joko Baron si Dewa Salju serta Landung Siturang alias Pedang Es Abadi masih kesulitan menghadapi tiga Layon yang menjadi lawannya.
Sulitnya melukai kulit para Layon itu menjadi kendala dari para Sesepuh tersebut.
Kulit Layon yang kuat, keras dan ulet itu harus di babat setidaknya sepuluh kali sabetan pedang tingkat Langit, dan jika senjata itu tingkat Dewa membutuhkan lima kali tebasan, hanya senjata tingkat Illahi yang mampu melukai para Layon dalam satu kali tebasan.
Itulah yang menyulitkan para Sesepuh itu menghadapi para Layon yang tak memiliki rasa sakit dan rasa takut, menyerang tanpa ragu dan sangat lugas tak khawatir terluka karena raga Layon itu kuat ulet dan keras, tak ada pikiran
**
"BAKAAAR...!!."
"HANGUSKAAN...!!."
Teriak para Tetua Api Suci memberikan perintah kepada anak buahnya membasmi lawannya.
Begitu mendapat perintah tersebut, anak buah Api Suci langsung menyemburkan api dari setiap jurus yang mereka keluarkan.
WWROOOAAARR...!
Api menyambar lawan lawannya, seketika tempat tersebut membara oleh api yang berkobar kobar, ciptaan orang orang Api Suci.
Gabungan pasukan Iblis dan anggota Jiwa Abadi di mana setiap kelompok penyerangan terdapat para Layon di dalamnya, terbukti sangat merepotkan kelompok kelompok lawan tersebut.
Nambi Tosa si Dewa Api, tengah menghadapi sesosok Layon yang sudah tersingkap belitan pakaian luarnya.
Sosok yang berpakaian asli warna putih dengan corakan gambar tertentu di pakainnya, serta wajah beku seperti mayat itu membuat sang Tetua Agung kelompok Api Suci itu mengeryitkan dahi.
"Melihat tampilan sepertinya dari petinggi partai Es Abadi, baju yang merupakan pakaian kebesaran kelompok itu masih melekat di badannya, tapi melihat raut wajahnya seperti mayat?."
Nambi Tosa terlihat sangat penasaran dengan sosok lawannya.
"Siapa kau? dari mana asalmu?."
Menghilangkan rasa penasarannya sang Tetua Agung tersebut mencoba bertanya, memastikan sosok yang menjadi lawannya.
__ADS_1
Namun jangankan jawaban, perubahan raut wajah saja tak di dapatkan dari sosok tersebut.
"Sialaan...kau kayak mayat hidup saja..tampangmu..!." rutuk Nambi tosa jengkel, lawan tak menggubrisnya.
Kembali sosok layon yang sebenarnya mayat Iblis Salju itu terdiam tak merespon apapun hanya mencabut senjatanya berupa pedang putih tulang yang langsung menyeruakkan hawa dingin mencekam.
"Hmm, aku jadi ingat jika sosok di depan adalah pengguna element Air/Es, tapi melihat tampilannya aku jadi mengingat sosok Legenda partai Es Abadi Iblis Salju, tapi bukankah Iblis Salju sudah wafat ratusan tahun lalu?, apa kini di bangkitkan lagi oleh Iblis itu?."
Nambi Tosa tercekat, mengingat itu.
Gerakan pedang yang membara di tangannya seketika terasa kaku, menyadari itu.
"Mematikan lawan yang sudah mati.???."
Tetua itu begidik ngeri bahkan sebelum pertarungan itu terjadi, melawan mayat.
Di sebelahnya terlihat Moncong Putih tengah menghadapi sosok Layon yang lainnya.
Sosok yang langsung menggempur sang Sesepuh dengan ganasnya, tanpa mengenal kata ragu dan takut.
Begitu pula dengan Raja Api dari Utara, kini tengah menghadapi sosok layon yang tak kalah hebatnya.
Sosok mayat yang berasal dari seorang pendekar zaman dahulu, sosok yang menjadi Legenda pada jamannya itu adalah Layon dari bekas seorang pendekar terkenal bernama Dewa Arak, semua itu terlihat dari senjata yang berupa pedang dan gembor tempat araknya.
Tak ada sahutan dari perkataan Raja Api.
"Tapi aku tahu kau sudah mati puluhan tahun silam..!!." seru Raja Api lagi.
Sosok Dewa Arak hanya menatap tanpa ekspresi, menggerak gerakkan senjaya pedangnya dan gembor araknya yang biasa di gunakan sebagai tameng pelindung.
"Setan Alas, berbincang dengan mayat memang menyebalkan..!," racaunya, menyadari usaha percakapannya adalah sia sia.
"HIAAAA....!!."
Raja Api dari Utara langsung menyambarkan pedang yang sudah berkobar ke arah lawan.
BLAAAANG....!
Sambaran tersebut di tangkis dengan gembor arak yang di pegang tangan kiri Layon tersebut.
Tanpa suara dan tanpa ekspresi Layon Dewa Arak menyabetkan senjatanya menebas Raja Api.
"Setan Alaas...masih juga pintar kau meski sudah jadi mayat..!," teriak Raja Api sambil memutar badannya dan berjumpalitan menghindari serangan lawan.
**
__ADS_1
Pertarungan kian seru terjadi, malam yang kian larut itu kini di penuhi oleh teriakan teriakan orang orang yang meregang nyawa.
Darah sudah menganak sungai membasahi tanah dan rumput di padang yang sangat luas tersebut.
Pasukan gabungan Iblis dan manusia dari kelompok Jiwa Abadi tersebut terbukti menjadi pasukan yang mengerikan malam itu.
Keanehan makin terjadi saat para Iblis yang merupakan makhkuk carnivora dan omnivora mulai memakan mayat mayat para pendekar sembari bertarung, badan mereka mengembang makin besar seiring banyaknya makanan yang di makan.
Dengan badan yang makin besar membuat serangan mereka tentu saja makin ganas, kuat dan sangat berbahaya.
Bahkan sebuah kelompok bernama kelompok Tunggal Diri sudah hampir musnah binasa anggotanya, di serang habis habisan oleh kelompok Jiwa Abadi yang bergabung dengan Iblis tersebut.
Kelompok yang berjumlah hampir seribu orang dan di ketuai oleh sosok lelaki paruh baya bernama Panut Widekso tersebut nampak kocar kacir, anak buahnya sudah banyak yang mati dengan cara mengenaskan di makan dan menjadi mangsa para iblis yang tak pernah ada rasa kenyang nya.
"Duuh leluhur dan sesepuh, maafkan aku tak mampu melindungi anggotaku..!," keluh Panut Widekso dengan wajah sedih, sembari bertarung namun masih sempat melihat anggotanya yang sudah kocar kacir.
"Tetua kita, harus meninggalkan tempat ini...!, bergabung dengan kelompok besar..!," teriak salah satu anak buahnya, mengingatkan.
Panut Widekso memutar pandangannya, benar anak buahnya hanya tinggal beberapa puluh saja dari jumlah ratusan tadi.
Sesaat terdiam dan berfikir.
"Benar katamu..!, ayo ikuti aku ke arah Awan Putih..!," teriak sang ketua, merespon usulan sang anak buah, "Kita berlindung di sana."
"MUNDUR...IKUTI AKU...!!" kembali tetua Panut Widekso mengarahkan anak buahnya untuk berlari mengukutinya.
Saat para iblis sibuk menyantap mayat mayat, sisa anggota Tunggal Diri meloncat melesat menyusul Panut Widekso, berlari menuju ke arah kelompok Awan Putih yang terlihat berada paling dekat dengan mereka.
**
Kelompok Api Suci sudah banyak menumbangkan anggota Jiwa Abadi dari kelompok Kalong Setan dan Semut Rangrang serta anak buah Pyong Karund.
Namun mereka belum banyak mematikan pasukan Iblis dan belum bisa mengalahkan ketiga Layon.
Bahkan kini para Iblis terlihat makin kuat dengan bertambah besarnya ukuran tubuhnya setelah menyantap mayat para korban perang.
Nambi Tosa makin pucat wajahnya menyadari keadaan tersebut.
"Iblis keparat..!, apa yang mesti aku lakukan? menghadapi sosok didepan saja aku masih kesulitan.."
Nambi Tosa bertarung sambil mencemaskan para pasukannya yang masih bertarung di pimpin para Tetua Ring Lingkaran Api Suci.
___________
Mohon dukungannya ....
__ADS_1