
"Tinggallah dan menetaplah di kota ini tuan Jaya," kata Pemimpin kota yang bernama Rebo Suparno keesokan harinya, saat Jaya dan rombongan ingin berpamitan meninggalkan kota tersebut.
"Benar tuan, kami akan sangat senang sekali jika tuan dan rombongan bisa menetap di kota Lembah Emas, dan ikut menjaga tempat ini," sang Senopati pun turut membujuk Jaya beserta rombongan nya menetap di sana, karena bagaimana pun memiliki tokoh hebat seperti itu pasti akan membuat kota makin aman dan tentram.
Jaya tersenyum, "Mohon maaf tuan tuan, b adaukan kami menolak ajakan mulia ini, namun masih banyak urusan yang perlu kami selesai kan di luar sana."
"Mungkin jika ada jodoh, dan semesta mendukung kita bisa bertemu kembali di lain waktu."
Senopati dan pemimpin kota mengangguk dan mengerti akan hal itu, bukan kah mereka hanya melintas di tempat itu.
Pemimpin kota maju kedepan memberikan semacam plakat yang bersimbol kota Lembah Emas, "Terimalah hadiah ini dariku tuan pendekar, jika memasuki tempat ini tunjukkan lah, maka kalian serombongan akan bebas dari pajak dan bisa memasuki tempat ini dengan bebas, bahkan nanti ada fasilitas khusus." kata Pemimpin kota.
Jaya tersenyum, kemudian menerima plakat tersebut, " Terima kasih atas hadiahnya, semoga kami bisa memanfaatkannya suatu saat nanti."
Setelah berpamitan akhirnya rombongan Jaya meninggalkan kota Lembah Emas, menuju kota Bukit Emas yang hanya berjarak beberapa ribu tombak atau hanya setengah hari perjalanan.
**
Berita kematian Bonaga yang di tugasi tetua tertinggi kelompok Kelelawar Hitam untuk menguras kekayaan kota Lembah Emas dengan cepat menyebar dan di terima oleh para pemimpin Kelelawar Hitam.
Tampak kemarahan di wajah wajah pemimpin tokoh hitam tersebut.
"Keparaat...!."
"Kuraang ajaar...!!."
"Sontoloyo...!, kelompok mana yang berani sok jagoan membantu penguasa kota Lembah Emas," Racau para pemimpin Kelelawar Hitam.
"Cari tau kelompok itu..!, kita harus balas kan kematian tetua Bonaga,'' kata tetua Kurdino mengusulkan.
Pemimpin tertinggi Kelelawar Hitam yang bernama Trosemi sejenak terdiam, menatap para tetua yang menjadi pembantunya mengelola Kelelawar Hitam.
"Baik aku ijinkan salah satu dari kalian memburu kelompok ini, bawa pasukan terbaik dari kita."
"Ijinkan aku yang berangkat, pemimpin tertinggi," kata salah satu tetua Kelelawar Hitam yang bernama Sora Tinampi mengajukan diri nya untuk memburu kelompok yang membunuh Bonaga.
Sora Tinampi berdiri dari kursinya, sosok yang tinggi besar dengan berbadan penuh dengan bulu di sekujur tubuhnya itu menjura kepada pemimpin tertinggi dari kelompok Kelelawar Hitam.
"Aku ijinkan tetua Sora Tinampi memburu kelompok itu dengan membawa pasukan kesepuluh, tangkap hidup atau mati..!," seru Trosemi dengan wajah mengelam.
Sora Tinampi menjura penuh hormat, merasa senang di percaya memburu kelompok yang dianggap mengganggu, apalagi kini di dampingi pesukan kesepuluh, sebuah pasukan khusus dari kelompok Kelelawar Hitam.
**
__ADS_1
Tiga Bayangan Setan menatap suasana hutan dari arah mulut gua tempatnya bermalam, mempelajari keadaan dan mengawasi situasi yang ada.
"Hmm...rupanya begini penampakan hutan ini jika siang hari."
"Hutan dengan aneka tumbuhan yang terdiri dari beberapa pepohonan yang berbeda jenisnya."
"Namun anehnya kenapa pusaka itu hanya berputar putar di area ini..? padahal pusaka tersebut bisa berpindah ke tempat lain, tapi tak di lakukannya."
"Aku juga bertanya tanya tentang itu kakang," sahut Lono dan di angguki oleh Tino.
"Coba kalian lihat saudara ku, di tempat itu ada tiga bukit dengan tiga pohon yang menjulang tinggi, dan aku yakin pusaka itu ada di salah satu dari tiga pepohonan itu."
"Benar kakang, aku setuju dengan pemikiran mu," sahut Lono
"Apa kita coba memburu nya di siang hari, berdasarkan perhitungan kita benda tersebut pasti ada di salah satu dari tiga pohon tertinggi dari tiga bukit itu," usul Tino kepada saudara saudara nya.
"Ya, aku setuju dengan pendapat mu saudara ku."
Ketiganya sepakat akan mencoba mengejar benda pusaka tersebut siang hari ini, tak perlu menunggu malam melihat pendar pusaka tersebut.
Setelah menata semua perlengkapan, ketiga nya melesat meloncat meninggalkan gua tempat mereka bermalam.
**
"Eeh, kenapa mereka siang siang melesat secepat itu? mau kemana?"
Dengan segera pencuri bertopeng menguntit ketiga nya dari jarak yang terjaga.
"Aku harus hati hati, ini siang hari pasti pandangan mereka lebih tajam," gumam nya sambil tetap berlari dan mengatur jarak.
Dilihatnya ketiga orang Bayangan Setan itu melesat menuju ke arah perbukitan yang terdekat.
"Hmm, aneh.., ada apa mereka menuju bukit itu? apa yang akan di lakukan oleh mereka?"
Pencuri bertopeng masih mencoba mengikuti kemanapun larinya Tiga Bayangan Setan.
Berkat Zirah Tameng Jiwo yang di kenakan oleh pencuri bertopeng kini gerakannya makin gesit dan kuat, pusaka tingkat Illahi yang kini masih dalam mode pusaka tingkat Dewa karena roh pusaka tersebut sudah tertaut kepada Jaya, membuat sang pemakai yaitu pencuri bertopeng tetap mendapatkan fungsi dan manfaat dari zirah tersebut yaitu badan makin kuat dan enteng gerakan nya.
Tiga Bayangan Setan adalah kelompok yang memiliki kecepatan dalam gerak, makanya mereka di juluki Bayangan Setan.
Kecepatan nya sulit di tandingi oleh pendekar biasa, dan mereka tak mengira jika ada seseorang yang dengan cepat dan gesit selalu mengekori-nya.
"Eeh, aneh, kenapa ketiganya langsung memanjat pohon yang paling tinggi?" pencuri bertopeng mengawasi dari jarak tertentu dengan garuk garuk kepala bingung dengan apa yang di lakukan ketiga orang yang di awasinya.
__ADS_1
**
"Kita istirahat di sini saja, sebelum memasuki kota Bukit Emas" Kata Jaya kepada kelompok nya.
"Ya Kakang, kita makan apa yang tadi di bekal kan oleh orang orang pemimpin kota," Kumala menatap Jaya yang berkuda di samping nya dengan tersenyum kepada nya.
"Eh..benarkah?" sahut Jaya yang semenjak tadi tak memperhatikan hal-hal seperti itu.
"Ya..kan aku yang perempuan kakang, jadi pasti mereka menitipkan perbekalan itu kepada ku."
Jaya mengangguk mendengar perkataan gadis tersebut, dirinya bahkan tak menyangka jika ada bekal makanan dari penguasa kota Lembah Emas.
"Paman, cari tempat yang nyaman untuk istirahat kita makan siang dulu."
Seru Kumala kepada tiga orang yang berjalan di depan keduanya.
Narimo menoleh kebelakang, "Den ayu pingin makan apa?, bakaran jagung apa ketela? soalnya tinggal itu yanga masih kita punya," sahut Narimo.
"Sudah cari tempat yang nyaman aja nanti ada kejutan," kata Kumala sambil tersenyum.
Narimo tak menjawab tapi memacu kuda sedikit di depan kemudian berbalik dan memberikan isyarat dan menunjuk sebuah pohon rindang.
"Kita istirahat disana bagaimana Nakmas?" teriak Narimo yang sedikit jauh.
Jaya mengangguk, sebagai tanda setuju.
Narimo berjalan lebih dulu, membersihkan tempat tersebut sekedarnya lalu menggelar tikar yang di ambil dari punggung kudanya.
Mencoba mengumpulkan ranting ingin membuat api untuk membakar ketela atau Jagung kering.
"Paman tak usah repot-repot, aku membawa sesuatu" kata Kumala sambil menurunkan beberapa kantong dari anyaman daun.
"Bantu aku paman," kata Kumala kepada orang terdekatnya.
Pitu Geni langsung menyambut kantong anyaman tersebut lalu dibuka nya.
"Waah...enak sekali," seru Narimo setelah melihat nasi bungkus dengan lauk ayam goreng, sambal goreng kentang yang sedikit kering dan aneka lauk lainnya.
"Den ayu dapat darimana makanan enak enak ini?," tanya Baroto keheranan.
"Dari pemimpin kota saat tadi pagi kita berpamitan." sahut Kumala dengan tersenyum.
____________
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak nya...