Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Takluknya Koloireng


__ADS_3

Koloireng menatap Jaya lekat, memandang dari atas hingga bawah.


"Kau calon suami murid ku?."


Jaya mengangguk kecil, jujur hatinya masih mangkel, dengan sikap kakek di depannya ini, yang seenaknya saja bersikap.


"Hua..ha..ha..!." Koloireng tertawa terbahak, masih menatap ke arah Jaya, " Jangan senang dulu, apakah kau pantas mendampingi murid ku?, aku perlu menguji mu..!.'' seru pria tua itu lagi.


"Guru..!, Kakang Jaya sangat pantas jadi suamiku...!," sela Kumala, mencoba menghentikan pertarungan tersebut.


"Minggir lah Kumala.., biar gurumu ini bermain sebentar dengannya." Keras kepala nya Koloireng memang tak mudah di lunakkan, sebelum dia benar benar di taklukkan atau sesuai dengan yang dia mau.


"Benar Dinda.. kami masih ada beberapa jurus, untuk merampungkan semua ini.''


Kumala menjadi pucat, Jika kedua orang di depannya kembali ngeyel bertarung dirinya takut terjadi sesuatu dengan Keduanya.


"Minggir lah Dinda..," kata Jaya pelan, aku akan melayani apa yang gurumu inginkan.


Dengan berat hati Kumala menyingkir, menjauh dari lokasi pertarungan itu.


**


"Heeh...ada apa itu?."


Para petinggi Awan Putih sedikit kaget dengan penampakan di arena pertandingan.


Di lihat dari jauh, Kumala yang menyusul berniat mempercepat pertarungan tiba tiba menghampiri lawan Jaya, lalu kembali menjauh membuat orang orang itu bertanya tanya, apa yang terjadi?.


Pelangi sudah tak sabar, melesat mendekat lalu menghampiri Kumala, ada rasa penasaran yang begitu kuat di benaknya.


"Kaka.."


"Adik..," seru Kumala lalu menghambur memeluk Pelangi.


Dua gadis itu saling berpelukan, "Ada Kaka..??, apa yang terjadi..??."


"Aku takut terjadi sesuatu dengan Keduanya, adik.''


Pelangi menatap kearah lawan Jaya, kenapa Kumala juga mencemaskan nya?.


"Memangnya siapa kakek itu?.''


"Dia guru ku.."


"Haah..??!!," Pelangi terkejut, bagaimana bisa Jaya berurusan dengan guru dari Kumala?.


"Tenang Kaka, pasti kakang Jaya mampu menghadapi guru mu."


"Aku tak mencemaskan kakang Jaya, karena setelah sekian lama kita bersama aku tahu Kakang sangat hebat, aku mencemaskan guruku kakek Betorokolo Koloireng."


Pelangi mengusap punggung Kumala, " Yakinlah tak ada yang perlu di khawatir kan, Kakang Jaya bukan orang yang bodoh."


Kumala mengangguk, keduanya kini kembali mundur saat terdengar suara menderu karena dua sosok tersebut mulai memainkan jurus jurus nya.


**


Jaya sudah kembali merapalkan Gelombang Awan Menerjang begitu dua gadis nya sudah mundur menjauh, di tangan kirinya kini terbentuk kabut asap yang sudah menyelimuti lengannya, sedangkan tangan kanannya sudah bersinar menandakan jurus Badai Matahari sudah pula di kerahkan nya.


Koloireng takjub sesaat, baru kali ini dirinya melihat dua jurus tersebut.

__ADS_1


"Jagat Dewa Batara....ilmu apa yang di miliki bocah ini??."


Tak mau terlalu lama terpana, Koloireng mengeluarkan Badai Mamba Hitam yang nantinya bakal di padu padan kan dengan jurus Mata Iblis kembali, namun kali ini dengan kekuatan tenaga dalam yang di tingkatkan nya.


"HIAAAA....!!," suara Jaya menggelegar memecah keheningan pagi itu.


Tubuhnya melesat menerjang Koloireng dengan dua pukulan andalannya tersebut.


Jaya ingin segera menyelesaikan pertarungan kali ini, sekalian menaklukkan Koloireng yang merupakan Legenda dari Mata Iblis.


Gelombang serangan yang kuat terasa menerjang ke arah Koloireng.


Legenda Mata Iblis tersebut, langsung mengerahkan hampir seluruh kekuatannya begitu menyadari hawa serangan lawan yang terlihat luar biasa.


"Hiaaaaa....!!."


CLAAAAPP.....!!


Koloireng berteriak menyongsong serangan tersebut, sambil melepaskan jurus Mata Iblis terkuatnya.


JLEEGAAAAAAAR....!


Terdengar ledakan keras terjadi.


Tubuh keduanya bertemu, dengan Koloireng hampir mengerahkan seluruh tenaga nya.


Alam sekitar seakan terguncang karena begitu kuatnya ledakan tersebut.


Badan Koloireng terlempar cukup jauh, bergulingan dengan dua tangan dan dada terbakar akibat hantaman Badai Matahari.


Segera Koloireng mengerahkan sisa tenaganya mendorong hawa panas dari serangan lawan.


"Aaaaarrcchh.." jerit kakek itu, ditengah tubuhnya yang terlempar.


Jaya terpaku di tempat setelah terseret beberapa langkah ke belakang.


Bekas cemarut dari tanah yang tersibak akibat kaki Jaya yang terseret, terlihat menggores cukup dalam di bumi hutan tersebut.


Koloireng terengah engah, nafasnya hampir putus setelah mengerahkan seluruh tenaga nya.


Kakek itu duduk bersila, mengatur pernafasan nya kembali, mencoba mengembalikan kekuatan nya yang terkuras, sesaat dilirik nya anak muda yang menjadi lawannya, masih tegak berdiri di kejauhan.


"Hebat sekali anak itu, aku mengaku kalah darinya."


Pertarungan yang semula cuma tiga puluh jurus itu langsung di mainkan dalam jurus tingkat tinggi, membuat kakek tua itu kehabisan tenaga dengan badan penuh luka bakar.


Kumala melesat mendekat ke arah Koloireng, sedangkan Pelangi mendekati Jaya tak kalah khawatir nya, "Kakang tak apa apa?.''


Jaya menggeleng, tersenyum lalu menyambar badan Pelangi kemudian melesat ke arah Koloireng.


"Aaaa...!," jerit Pelangi kaget di sambar Jaya.


Sebuah kecepatan luar biasa yang di tampakkan oleh Jaya sungguh di luar nalar, bahkan Jaya sanggup menyusul Kumala yang sudah melesat terlebih dahulu ke arah Koloireng.


Menyambar gadis itu untuk mendekat ke arah Koloireng yang hanya bisa pasrah mengatur pernafasan nya.


"Aaaaa ..!!," Kumala pun kaget dan menjerit seperti tadi Pelangi, saat di sambar Jaya.


Ketiganya sudah berdiri di dekat Koloireng, Kumala langsung menghampiri gurunya menatapnya dengan prihatin melihat tampilan sang guru yang mengenaskan.

__ADS_1


"Bagaimana kakek?.'' kata Jaya sedikit menampakan sisi arogan nya.


Koloireng mendongak, tersenyum dipaksa kan, "Aku kalah, kau layak jadi suami muridku.." sahutnya dengan nafas tersengal dan sedikit meringis menahan rasa panas yang menjalar di lengan dan dada nya.


Jaya merangkul dua gadisnya, di kanan Pelangi dan di kiri Kumala.


"Berarti aku menang?" kata nya.


"Ya, kau menang.., kau sangat hebat..." sahut Koloireng dengan sportif mengakui kehebatan lawan, sambil masih meringis menahan perih.


Jaya mengangguk lalu berjalan mendekat, tangan kanan nya kembali berpendar namun tak terlalu terang, membuat Koloireng kaget, sedikit pucat wajah nya.


"Mau apa anak ini??."


Setelah dekat Jaya menyentuhkan tangan kanan nya bagian dada Kakek Koloireng.


Koloireng terkesiap kaget, rasa panas yang membakar lengan dan dadanya perlahan menghilang seiring dengan pemulihan anggota tubuh nya tersebut.


"Jagat Dewa Batara...!."


Koloireng langsung bersujud merunduk, menyadari kekuatan seperti ini bukan milik manusia biasa.


"Aku mengaku takluk dan tunduk kepada semua perintah mu, Junjungan." kata Koloireng di dalam penghormatan nya.


Jaya tersenyum, menoleh kepada Pelangi dan Kumala yang berdiri mematung tak bisa menyembunyikan rasa takjub kepada Jaya, meskipun itu bukan pertama kalinya Jaya menyembuhkan lawannya.


"Kakang benar benar hebat," sahut kedua gadis itu, mendekat dan memeluk lengan Jaya, kanan dan kiri, membuat Jaya tertawa lebar.


**


"Ada penyusup yang mengacau disini..!," seru seorang kepala penjaga.


Kepala penjaga tersebut mendapati lima anak buahnya terkapar pingsan di dekat wilayah area penjagaan nya.


Lima orang yang pingsan itu kini masih dalam pengawasan, pasalnya satu orang tangannya terlihat patah tulang nya.


"Aaauuuughh..!."


Orang orang yang pingsan itu mulai merintih dan membuka matanya.


Kelimanya kaget, karena saat ini mereka sudah berada di dalam markas Jiwa Abadi tepat nya di bagian pemulihan dan pengobatan kelompok tersebut.


"Kau sudah bangun??.'' sebuah teguran dari salah satu petinggi kelompok itu makin menyadarkan orang orang tersebut.


"T..t.tuan Pyong Karund?."


"Katakan siapa yang melakukan semua ini?."


Kelima orang itu hanya menggeleng pelan, "Seseorang yang belum pernah kami lihat tuan."


Salah satu orang tersebut lalu menceritakan apa yang terjadi hingga mereka pingsan.


"Hanya satu orang?."


"Benar Tuan, yang kami lihat hanya satu, tapi tak tahu juga jika ada kawan kawan nya di tempat persembunyian nya."


Pyong Karund mengangguk mendengar penjelasan dari para penjaga, "Aku harus melaporkan semua ini kepada Tetua Agung."


Semua yang ada disana mengangguk, setuju untuk melaporkan kejadian tersebut kepada Tetua Agung, pasalnya kejadian itu bisa membahayakan kelompok.

__ADS_1


___________


Jangan lupa tinggalkan jejak nya....


__ADS_2