Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Bersitegang dengan Jrabang Geni


__ADS_3

"Cuiih, pasukan khusus apanya?, mengayomi? ," Kumala tersenyum sinis, mengejek pria yang makin meradang tersebut.


Anggota yang berada di barisan depan dan bertugas membuka jalan untuk kelompoknya itu sudah menghambur melabrak Kumala.


Amarahnya sudah tak terbendung lagi, saat merasa di rendahkan oleh rakyat biasa.


"Bangsat..!, aku sumpal mulutmu..!." teriak pria tersebut, melepaskan pukulannya tangan kiri, padahal dia sudah mencabut senjata di tangan kanannya.


Wuuuusss...


Pukulan tersebut lewat begitu saja, ketika dengan mudah Kumala memiringkan kepalanya.


Wuuuuusss....


Kembali sebuah serangan datang dari pria lainnya, melihat serangan kawannya tak berhasil.


Plaaakkk..!!


Pelangi yang melihat itu langsung menepis hantaman itu, sedikit menyentakkan tangannya saat berbenturan dengan tangan lawan.


"Ughh..!," terdengar keluhan dari lawan, tak menyangka tangan gadis muda di depannya sangat kuat.


Dalam sesaat saja sudah terjadi kericuhan di sana.


Pasukan Jrabang Geni yang ada di barisan depan langsung mengepung dua gadis yang di anggap mengganggu tersebut.


"Tangkap pengganggu ini..!." salah satu pengepung tersebut.


**


"Ada apa itu..??."


Agni Mahesa Suro bertanya, sedikit keheranan di depan terlihat ada kericuhan.


"Ada pembangkang, melawan petugas," Jawab anak buah Jrabang Geni berkata.


"Kurang Ajaar...!, siapa mereka ..!berani berlaku begitu..?." kali ini yang berkata salah satu dari Lima Kipas Dewa, yang bernama Samingun.


"Belum tahu dari kelompok apa Tetua, masih akan kita tangkap."


"Bagus, segera tangkap untuk memberi pelajaran bagi para pembangkang..!," sahut Kuliman.


Lima Kipas Dewa masing bernama Samingun, Kuliman, Manuli, Meniran Sudi dan Darso Saba.


Kelima orang tersebut di kenal dengan senjata kipas dan jurus jurus hebatnya.


Agni Mahesa Suro menatap lurus kedepan, memyaksikan puluhan anak buahnya yang terlihat mengepung dua orang wanita.


**


Sekitar dua puluhan orang masih mengerubuti Kumala dan Pelangi.


Mencoba menangkap dua gadis tersebut.


Wuuuuutt..!


Sriing...!


Sriiing....!!


Sambaran sambaran senjata terlihat berkelebatan kearah dua gadis itu, setelah sebelumnya mencoba bertarung dengan tangan kosong namun tak membuahkan hasil.


Taaang...!


Pelangi menangkis sebuah tebasan pedang yang mendekati tubuhnya.


Dengan sangat apik dua gadis itu berhasil meredam serangan dua puluhan orang yang mengerubuti keduanya.


"Percepat serangan, gunakan formasi Jerat Naga Sakti...!," teriak Darso Saba sudah mendekat lebih maju.

__ADS_1


Kini pertarungan makin seru, saat para tetua sudah mendekat ke arah medan laga.


Anak buah Jrabang Geni langsung melakukan gerakan formasi yang di teriakkan oleh Darso Saba.


Dua puluh orang itu membuat gerakan saling zig zag dengan kecepatan yang berubah ubah sambil melakukan serangan dan menutup pergerakan lawan.


Pasukan khusus yang terdiri dari orang orang pilihan itu memang patut di acungi Jempol.


Kali ini Kumala dan Pelangi sedikit kesulitan hanya mengandalkan jurus jurus biasa.


CLAAAAP....!!


Pelangi langsung mengeluarkan jurus Mata Dewa, begitu keadaan makin mendesak.


Lesatan cahaya tipis membentuk gelembung meluncur memerangkap orang orang itu.


Sekitar tiga belas orang yang terperangkap mengalami Slow motion .


Sesaat semua terbelalak, tak menyangka akan jurus tersebut.


Sebelum Kumala dan Pelangi bergerak melakukan serangan berikutnya, Darso Saba yang berada di dekat arena pertarungan sudah melesat meloncat maju sambil mengibaskan Kipas nya.


BLEGAAART...!


Benturan dua kekuatan itu menimbulkan ledakan keras, memecah gelembung ciptaan Pelangi.


Darso Saba sedikit terdorong kebelakang, matanya sedikit melotot tak menyangka dengan kekuatan hasil benturan itu.


"Ahhh...sebuah jurus yang hebat dari seorang gadis muda."


Darso Saba yang terpental kembali menghimpun tenaga nya, menarik nafas memperkuat otot otot tubuhnya.


Anak buah Jrabang Geni yang terbebas kini sedikit jerih.


"Jangan takut..!, hati hati dengan serangan balik lawan," dengan cepat Darso Saba memberikan perintah kembali.


Kali ini kelompok Jrabang Geni seperti tersengat, sepuluh orang lagi meloncat maju membantu untuk menangkap dua gadis tersebut.


Sebuah lesatan kembali terpancar, kali ini Kumala yang melepaskan Jurus Mata Iblis.


Jurus yang lebih memiliki daya rusak hebat itu menerjang ke arah lawannya.


Kali ini mereka seakan sudah siap dengan serangan semacam itu.


DUUAAARR...!


Sekitar sepuluh orang dengan serentak maju menghantamkan pukulannya, menghadang lesatan sinar yang memancar tersebut.


Ledakan terjadi, membuat Kumala sedikit terdorong ke belakang, sementara sekitar sepuluh orang yang menghadang pukulan itu terburai terlempar mundur.


Agni Maheso Suro yang sengaja melihat sejauh mana kekuatan pasukannya sedikit kaget dengan kemampuan dua gadis lawan anak buahnya.


"Hmm, jurus jurus legenda yang mulai terlihat kembali, siapa mereka? dari kelompok apa? kenapa dua kekuatan mata yang berbeda bisa bersama?."


"Hati hati Adik..!, mereka mau mengeroyok kita nampaknya..!," teriak Kumala saat beberapa orang bergerak maju.


Pelangi mengangguk, kembali memainkan jurus jurusnya, saling beradu punggung saat serangan lawan kembali menggila.


**


"Nakmas, kita sudahi belanja kita..!, ada kericuhan di sana..!," teriak Koloireng yang mendampingi para lelaki berbelanja kebutuhan pokok.


Kakek tua itu menunjuk ke arah kereta dan kuda kuda di tambatkan.


"Kembali ke kuda tunggangan..!." teriak Jaya memberi perintah.


Beberapa orang anggota Awan Putih yang tengah memanggul barang belanjaan mengangguk.


Jaya dan Koloireng langsung melesat terlebih dahulu, kembali ke arah kereta di tambatkan.

__ADS_1


"Apa yang terjadi..?, ada apa ini..?," tanya Jaya, sambil menoleh ke arah Koloireng, melihat kericuhan dari kejauhan tersebut.


Koloireng hanya menggeleng saja, bergegas mengikuti Jaya.


Jaya makin terkejut saat di lihatnya Kumala dan Pelangi terlihat di keroyok beberapa orang.


"Hiiaaa...!."


DUAAAARRT....!


Jaya meloncat menghantam orang orang yang tengah mengeroyok dua gadisnya.


Puluhan orang tersebut berhamburan, terpental terkena hantaman Jaya.


Agni Mahesa Suro dan Lima Kipas Dewa terkejut, saat tiba tiba ada sosok ikut campur di pertarungan itu.


"Kurang ajar ..!, siapa dia..?."


Para tetua maju kedepan, begitu anak buahnya berhamburan.


"Siapa kau ...!, mengapa ikut campur urusan ini..!!," teriak Samingun dengan muka marah.


Jaya balas menatap orang orang yang kini mendekat ke arah mereka.


"Mereka Jrabang Geni kakang, yang katanya pasukan khusus," dengan sinis Kumala berkata, seakan meledek pasukan itu.


Jaya kembali memutar matanya, menatap orang orang tersebut yang memakai seragam yang sama.


"Kenapa kalian memgeroyok anggota ku..!," Jaya membalas perkataan tetua Samingun, salah satu anggota dari Lima Kipas Dewa.


Samingun terdiam sesaat, sebenarnya masih bingung dengan akar permasalahan kenapa mereka bisa bersitegang.


"Mereka pembangkang tuan.." bisik salah satu anak buah Jrabang Geni.


"Mereka melakukan pembangkangan terhadap aparat..!." salak Samingun.


"Cuiih..kalian saja yang bertindak arogan, adigang adigung..!, tak pantas di sebut pengayom rakyat." balas Kumala.


Jaya menatap orang orang Jrabang Geni.


"Harusnya kalian sebagai aparat bisa bertindak yang elegan, menegur dengan baik jika ada yang melanggar aturan." kata Koloireng yang sudah berdiri di samping Jaya.


Agni Mahesa Suro melangkah maju, menatap tokoh tua yang seusia dengannya tersebut.


"Apakah aku yang salah lihat atau memang dunia ini terlalu sempit buat kita?." Tetua Agung Jrabang Geni itu berkata sambil menatap tajam Koloireng yang sebelumnya tak menyadari keberadaan Legenda Api Suci tersebut.


Koloireng menatap sosok tua berpakaian serba merah dengan pedang yang juga berwarna merah di punggungnya.


"Agni Maheso Suro...!." sahut koloireng, sedikit kaget.


"Betorokolo Koloireng...!."


Dua tokoh tua itu saling menyebutkan nama dari masing masing.


"Hari ini kita bertemu lagi, kembali di kubu yang berbeda..!," seru Koloireng.


"Hmm, kau masih terlalu percaya diri rupanya, sifatmu masih sama saja," balas tetua Jrabang Geni tersebut, tersenyum miring, "Kau akan membela mereka yang menjadi pembangkang..?."


Koloireng tertawa kecil, "Bukan aku yang membela, tentu saja pemimpinku yang akan melakukan itu."


"Pemimpin?, jadi bukan kau yang menjadi kepala rombonganmu..?."


Koloireng menggeleng, pandangannya mengarah kepada Jaya, seakan mengatakan siapa pemimpin di sana.


"Ooh..rupanya kau pemimpinnya anak muda..!, aku jadi penasaran dengan kemampuanmu, hingga tua bangka itu mau tunduk denganmu..!." Agni Maheso Suro menunjuk Koloireng, lalu melangkah makin maju.


Jaya hanya tersenyum, seakan menantang ke arah sosok tua tersebut.


__________

__ADS_1


Jangan lupa jejaknya....


__ADS_2