Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Kegundahan Jaya....


__ADS_3

Pemilihan pemimpin pasukan khusus di Pati Sruni masih berlangsung dengan seru.


Sudah ada beberapa nama yang akan menjadi calon pemimpin disana, salah satunya tentu saja Agni Mahesa Suro, lelaki tua yang masih gagah dan menjadi sosok legenda di Api Suci.


Sosok yang mampu menciptakan Petir Api yang terkenal dahsyat tersebut.


Saat ini di arena masih bertarung seorang sosok unggulan lain, yang juga menjadi kandidat sebagai pemimpin pasukan khusus itu.


Dia di juluki Si pedang Kilat karena kecepatan nya bertarung menggunakan pedang sangat menakutkan.


Si Pedang Kilat tengah bertarung melawan tiga orang pria yang berjuluk Tiga Kapak Merah, sebuah kelompok yang menggunakan senjata Kapak sebagai andalannya.


"Hiaaaa...!!."


Sebuah tebasan Kapak mengarah ke badan Si Pedang Kilat.


Serangan yang terlihat lambat di mata pendekat dengan kekuatan kecepatan tersebut, dengan mudah di hindari, cukup dengan menekuk sedikit kakinya dan bergeser kesamping.


Wuuuuss...


Serangan tersebut lewat, hanya menerpa ruang kosong.


Dua orang lainnya langsung melesat menebaskan Kapak nya.


Wuuung...!


Wuuung...!!


Dua sambaran ganas para pendekar Kapak itu, tak mampu mengimbangi kecepatan gerak dari Pedang Kilat.


Hanya dalam satu hentakan si Pedang Kilat sudah meloncat meninggalkan tempat nya berdiri semula, dan dua tebasan Kapak itu menerpa angin saja.


"Keparat...!, licin sekali orang ini..!," seru salah pendekar Kapak tersebut.


**


"Ha.ha..ha.., buat apa aku takut dengan Iblis," seru Jaya sambil tertawa.


Prono condro juga ikut tertawa, "Lah..Nakmas hanya bengong saja, aku kira kaget saat ku ceritakan tentang sosok Iblis tersebut."


Jaya mengangguk dan tersenyum, "Jadi pemimpin Jiwa Abadi adalah dua Iblis yang kakek ceritakan?.''


"Tepat Nakmas."


"Pantas saja.."


"Pantas?, apa maksud Nakmas?.'' tanya Prono condro dengan wajah penuh pertanyaan.


"Mereka bisa menghidupkan mayat."


Prono condro terkesiap mendengar perkataan Jaya.


"Menghidupkan mayat?, apa maksud Nakmas, coba saya di beritahu." seru Prono condro makin penasaran.


Jaya lalu menceritakan pertemuannya dengan kelompok Layon Pitu, sebuah kelompok yang terdiri dari tujuh sosok yang terlihat menyeramkan, dan menurut empu Cipta guna mereka adalah legenda di masa nya.


"Hmm, Layon Pitu ya..? aku baru mendengar nama kelompok tersebut," sahut Prono condro, terdiam sesaat, " Tapi bisa jadi.., karena banyak pengembangan dilakukan oleh dua Iblis tersebut, yang berkaitan dengan kekuatan Cacing darah Sarma Pala.


"Bahkan mungkin juga kelompok ini sudah punya pasukan yang terdiri dari para mayat mayat lainnya."


Jaya termenung sejenak, benar apa kata Prono condro, mungkin Jiwa Abadi sudah menyiapkan pasukan untuk mengacaukan alam manusia ini.

__ADS_1


"Gawat, bisa hancur alam ini jika memang benar apa yang kami pikir kan ini terjadi."


"Kita harus meningkatkan diri, agar kelompok kita menjadi lebih kuat lagi, karena lawan juga sangat kuat, ini masih Jiwa Abadi belum kelompok lainnya yang tak kita duga sebelumnya." kata Jaya lagi.


"Benar Nakmas, apa kata penjenengan," sahut Prono condro.


**


"Kita disini berkumpul karena kedatangan sosok legenda partai Es Abadi, yaitu Kaisar Dewa Air."


"Selain Kaisar Dewa Air, aku juga mendatangkan sosok sosok legenda yang diminta Nakmas Sukat Jaladri," kata Ronggoliwa.


Sukat Jaladri adalah nama asli Dewa Air/Es yang saat ini menjabat sebagai pemimpin Agung partai Es Abadi.


"Langsung paman perkenalkan saja, beliau para sesepuh dan legenda pengguna element air ini paman," sahut Sukat Jaladri alias Dewa Es.


Ronggoliwa berdiri dari kursinya.


"Di awali dari sudut sana," kata Ronggoliwa, menunjuk kearah sosok sepuh namun masih terlihat gagah, segagah Ronggoliwa.


"Beliau bernama Joko Baron, dahulu terkenal dengan julukan Dewa Salju, ?merupakan murid dari Iblis Salju sosok yang telah wafat."


Pria yang di sebut sebagai Dewa Salju berdiri menatap para tetua Ring lingkaran dan juga yang hadir disana.


"Aku Dewa Salju." sahutnya dengan suara cukup berat.


Ronggoliwa tersenyum, lalu kembali berkata, " Di sebelahnya ada sosok yang juga hebat di masa nya bernama Landung Siturang, berjuluk Pedang Es Abadi."


"Berikutnya adalah Dewi Racun Salju..!," seru Ronggoliwa, menunjuk nenek tua dengan baju dan aksesoris serba putih.


Seorang nenek yang terlihat sangat lemah, dengan tubuh bungkuk nya, namun siapa yang menyangka di balik sosok nya yang lemah tersimpan kekuatan maha dahsat, dia mampu membuat racun yang di tebarkan di udara dan di jadikannya menjadi jarum jarum es yang sangat menakutkan.


"Dan Terakhir, mungkin sudah pada mendengar, Kaisar Dewa Air." kata Ronggoliwa, sambil menunjukan ke arah sang tokoh.


Sukat Jaladri berdiri, setelah acara perkenalan tersebut, " Saya mendatangkan para Legenda dan sesepuh semua karena ada masalah krusial yang harus kita bahas bersama disini demi kelangsungan kelompok para pengguna element Air ini."


Para legenda yang kebanyakan sudah turun gunung tersebut sedikit tercekat, menatap Sukat Jaladri atau Dewa Es sejenak.


"Apa maksud Pemimpin Agung?." tanya Joko Baron alias Dewa Salju dengan sopan, meski Dewa Es adalah junior nya namun saat ini dialah Pemimpin di kelompok itu.


"Alam ini makin memanas Paman," sahut Sukat Jaladri.


Sebelum Sukat Jaladri berkata lebih lanjut, Ronggoliwa memotongnya.


"Maaf Nakmas, bolehkan aku yang bercerita?." potong Ronggoliwa sambil menatap Sukat Jaladri.


Dewa Es tersebut mengangguk mempersilahkan sesepuh Ronggoliwa bercerita, karena tokoh tersebut lah yang sudah turun ke lapangan melihat suasana dunia luar.


"Monggo paman, silahkan."


Ronggoliwa menarik nafasnya, mulai menceritakan tentang apa yang dilihatnya, apa yang di alaminya dan apa yang tengah terjadi baru baru ini.


Para tokoh sakti tersebut menyimak semua yang dikatakan Ronggoliwa.


"Sebentar Adi Ronggoliwa, siapa itu Awan Putih? apa hubungannya dengan Jiwa Abadi?."


"Hmm, mereka kelompok baru yang aku sendiri tidak tahu, namun kekuatan pemimpinnya patut di acungi jempol dan kita waspadai."


"Bahkan jurus Inti Es Abadi kebanggaan ku tak mampu menandinginya," sahut Ronggoliwa.


"Maksudmu apa?, jurus legenda mu tak mempan untuk nya?, dia pengguna element Api?."

__ADS_1


Ronggoliwa sejenak ragu, "Memang pukulannya, mengandung hawa panas tapi bukan panas yang biasa."


"Dan untuk hubungan nya dengan Jiwa Abadi, aku kurang tahu karena kelompok ini (Jiwa Abadi) juga makin menampakan dominasi nya."


"Gila ...memang gila, alam mulai menakutkan," seru Landung Siturang atau Pedang Es Abadi, sosok yang mampu membekukan dengan hantaman pedangnya.


"Begitulah perkembangan alam ini," kata pelan Kaisar Dewa Air.


**


Sepeninggal Prono condro setelah berbincang dengan Jaya menyisakan pemikiran tersendiri bagi pemuda itu.


Dirinya tengah duduk di kediamannya, yang berada di lantai tiga bangunan paling megah di Awan Putih.


"Alam makin menghawatirkan, jika dua iblis itu ada disini maka bisa di pastikan akan terjadi kehancuran disini."


"Kekuatan ku belum sepenuhnya pulih sebagaimana dahulu kala."


"Meskipun aku sudah menemukan hampir semua pusaka ku, tapi masih ada satu yang paling penting yang belum ku dapatkan kembali."


"Padahal pusaka itu sebagai penghubung seluruh kekuatanku, sebagai pembuka segel yang melemahkan ku hingga kekuatan ku berkurang dan kini baru sekitar enam hingga tujuh puluh persen saja kurasakan."


Jaya masih merenung, menatap ke arah hutan Lirboyo dari ketinggian bangunan tingkat tiga tersebut.


Kumala dan Pelangi yang juga berdiam di bangunan atas tersebut sudah sejak tadi menatap sang pujaan hati yang terlihat gundah gulana.


"Apa yang kakang Jaya pikiran? aku tak pernah melihatnya segundah itu sebelum nya," kata pelan Pelangi.


"Apa mungkin memikirkan pernikahan kita?," sahut Kumala.


"Ya..bisa saja, Kakang Jaya masih memikirkan pesta pernikahan nanti.''


"Eh, Kaka..tapi kenapa harus dipikirkan? bukankan semua sudah ada yang mengaturnya, paman Narimo."


"Tentang biaya juga Kakang tak khawatir." kata Pelangi.


"Benar juga Adik, terus apa ya? yang membuat nya resah?, semenjak berbincang berdua dengan kakek Prono condro kakang terlihat berubah."


"Pasti masalah dunia persilatan, kakang kan terlalu peduli dengan semua ini."


Kedua gadis cantik tersebut mengangguk sambil berjalan mendekat ke arah Jaya yang masih duduk menatap hutan Lirboyo.


**


Semenjak Dewa Perang, atau Dewa Cakra Tirta Sanjaya yang kini di kenal dengan nama Jaya Sanjaya, nama pemberian kakek Jayeng Rono di buang ke alam manusia memang dirinya dalam keadaan di lemahkan.


Di segel semua kekuatannya dengan cara di pisahkan dari semua pusaka nya kecuali tombak dan perisai, yang masih berkumpul dalam satu tempat.


Dari alam Dewa, Sang Pencipta mengirim Jaya ke alam manusia dengan lima bagian lesatan cahaya.


Yang pertama tentu saja Jaya beserta perisai dan tombak serta pusaka lain dan harta benda segunung.


Cahaya itu melesat lalu pecah menjadi dua, warna kebiruan langsung masuk ke gua yang tersembunyi, sedangkan warna kekuningan melesat mengenai bayi Pelangi.


Empat sinar lainnya yang berupa zirah sayap Garuda, zirah Tameng Jiwo serta Kitab pusaka Pemulih Jiwa dan satu lagi berwujud Mahkota Dewa Perang tersebar terpisah di lima negeri Panca Buana.


Mahkota Dewa Perang inilah yang nantinya akan membuka segel yang menahan kekuatan Jaya sesungguhnya.


Jika pusaka ini berhasil di temukan kembali oleh Jaya maka kekuatannya akan kembali seratus persen.


____________

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak nya...


Terimakasih Kaka....


__ADS_2