Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Melumpuhkan Marto Mantingan


__ADS_3

"Eeh, tak salah?? kau Pemimpin Awan Putih? anak muda?," tanya Marto Mantingan dengan terkejut.


"Benar apa katamu paman, aku memang pemimpin Awan Putih."


"Memangnya tak ada yang lebih tua?, lebih hebat darimu?."


"Menjadi pemimpin bukan masalah tua atau hebat, tapi bagaimana caranya bisa mengatur kelompok dan membawa anak buah menjadi seperti apa yang di cita citakan kelompok tersebut."


"Bisa memberi contoh dan suri tauladan, melindungi dan menjadikan seluruh anggota kelompok lebih baik lagi."


"Hua..ha..ha... melindungi katamu?" kata Marto Mantingan sambil tergelak, "kau bahkan yang berlindung di ketiak bangkotan bangkotan, seperti itu dan itu," kata Marto Mantingan lagi sambil menunjuk ke arah Pitu Geni, Baroto dan tentu saja Empu Cipta guna.


"Weladalah...wong ra waras...edan edan, belum tahu kehebatan Nakmas Bendoro, sudah ngoceh seenaknya," kata pelan Narimo yang mendengarkan perdebatan itu.


Jaya hanya tersenyum miring, menanggapi perkataan orang di depannya tersebut.


"Sekarang aku mau tanya, paman ini siapa dan ada keperluan apa menghentikan rombongan kami."


Marto Mantingan maju beberapa langkah, "Perkenalan aku Marto Mantingan, salah satu tetua di Ring Lingkaran partai Es Abadi." katanya sambil menepuk dadanya.


"Ooh, tetua ..memangnya tak ada yang lebih hebat lagi, hingga orang seperti paman bisa menjadi tetua..?!," ledek Jaya Sanjaya membalas perkataan nya tadi.


"Bajiguur...sialan....!, kau memutar omongan ku tadi anak muda??." hardik Marto Mantingan sedikit gusar.


"Aku tak memutar perkataan mu paman, tapi kenyataanya seperti itu, memang nya di tempat kalian tak ada orang hebat toh?."


Marto Mantingan makin terbakar hatinya, merasa di remehkan pemuda bau kencur.


"Kurang ajar..!, bocah tak tau tata Krama..., perlu di taboki mulut mu kayaknya."


Kini Marto Mantingan sudah tak mampu meredam emosi nya, sambil meracau dia sedikit maju kedepan.


"Aku tantang kau...jangan mentang mentang bisa menyingkirkan Akar Jiwa, lalu kau mau sombong pamer kekuatan..!."


"Kelompok kami adalah yang terhebat, jika kau membandingkan dengan Akar Jiwa...jauh kelees.."


"Majulah...," balas Jaya yang juga maju dua langkah, membuka kedua tangannya seakan memprovokasi lawan.


Marto Mantingan langsung melesat maju, menghantam ke arah kepala Jaya.


Wuuuss....


Sebuah pukulan lurus, datang dengan cepat, mencoba menghantam wajah Jaya.


Dengan badan tak bergerak jaya menggeser kepala nya memiringkan nya sedikit, hingga pukulan tersebut hanya menyambar angin.


Merasa pukulannya menerpa angin kosong, Marto Mantingan melayangkan tangan kirinya, mencoba menghantam dada lawannya.


Plaaak...!!


Jaya menepis hantaman tangan kiri lawan, hingga pukulan itu melenceng dari badan Jaya.


Marto Mantingan meloncat mundur, kembali membuat kuda-kuda untuk menyerang lagi.


"Jangan senang dulu, aku belum bersunguh sungguh..!," teriaknya, sambil meloncat lebih cepat lagi.


Plaaak...! plaaaak....!!


Deeesss...!!


Serangan dan pukulan Marto Mantingan makin cepat dan lebih bertenaga.


Gerakan gerakan nya juga makin berbahaya, namun semua itu mampu di tepis dan di tangkis oleh Jaya.

__ADS_1


"Setaaan Alaaas...!, tak bisa dibiarkan ..kau bocah..!!." teriak Marto Mantingan mengumpat dan meracau.


Juraimo tetua Api Suci yang menyaksikan pertarungan tersebut juga terbelalak, melihat kehebatan pemuda yang sedang bertarung dengan tetua partai Es Abadi.


Marto Mantingan kembali mundur, pria kekar dengan kumis melintang itu nampak mengeluarkan senjatanya, sebuah pedang putih dengan aura dingin yang langsung menusuk tulang.


"Aku tak main main lagi, keluarkan senjata mu anak muda, jangan nanti orang mengira aku melawan pemuda lemah tanpa senjata."


Jaya tersenyum tipis, mencabut pedang Angin Puyuh yang ada di pinggangnya.


"Aku layani apa mau mu pak tua..!," ledek Jaya mempermainkan perasaan lawan nya.


Marto Mantingan memutar pedangnya, seketika hawa sekitar menjadi dingin menusuk tulang.


"Majulah...!." kembali Jaya memanas manasi lawan.


"Hiaaaaaa...!!."


Sriiing...!!


Marto Mantingan melesat menebaskan pedangnya membelah udara.


Pedang berhawa dingin itu melesat mengeluarkan gelombang dingin menghantam ke arah badan Jaya sebelah kiri.


Traaaang.. !!


Dengan cepat Jaya memutar pedang Angin Puyuh, menangkis datangnya serangan.


Marto Mantingan tercekat saat dua pedang beradu tangannya terasa kesemutan.


"Eeh, kuat sekali tenaga bocah ini, apa karena aku belum menggunakan seluruh tenaga ku?."


Marto Mantingan menghirup udara lebih banyak, suhu makin dingin dengan kekuatan Marto Mantingan makin meningkat.


Kembali melesat tetua partai Es Abadi tersebut menggempur pertahanan Jaya dengan tenaga yang di tingkatkan lebih kuat, pedangnya kini sudah di selimuti oleh semacam serbuk es karena kekuatannya meningkat.


Wuuuss....!!


Jaya memainkan jurus Manggar Pecah, dengan sedikit kekuatan Selaksa Ombak Menerjang serta hawa panas Badai Matahari, dirinya meliuk menangkis serangan tersebut.


Taaaang..!! BLEGAAAART...!!


Dua kekuatan itu berbenturan dan terjadi ledakan, sedikit menyibakkan semua yang ada di sekitarnya.


Marto Mantingan terpental kebelakang, sedangkan jaya mundur dua langkah.


Juraimo dan anak buahnya kembali terbelalak, kaget dengan kekuatan yang dimiliki pemuda tampan tersebut.


"Gila ...ini benar benar gila, mungkin pemuda ini tandingan Dewa Api."


Anggota Awan Putih dan rombongan saudagar Suryadi hanya tersenyum saja melihat pemandangan tersebut.


"Untung koe Coek....Nakmas Bendoro hanya mengeluarkan sedikit kekuatan nya..!," seru Baroto ngedumel.


Marto Mantingan berjumpalitan, sebelum akhirnya bisa berdiri tegak.


Dirinya makin terkejut saat menyadari lawannya masih berdiri tegak, tak mengalami kebekuan sama sekali.


"Jagat Dewa Batara....ini bocah turunan iblis kali, kekuatan nya sangat di luar nalar."


"Luar biasa kau anak muda, baru kali ini aku menemukan musuh masih muda sekuat dirimu..!."


Jaya terdiam menatap lawannya, sengaja ingin memberikan pelajaran sebenarnya, tanpa berniat menciderai apalagi sampai mematikannya.

__ADS_1


"Tapi ini belum usai, aku belum kalah..!," kata Marto Mantingan mulai melakukan gerakan gerakan tertentu.


Nafasnya di tarik dalam dalam hingga beberapa kali, secara berlahan kedua lengannya mulai memutih dan terlihat butiran es yang menempel di dua lengannya, hawa dingin makin menguar membuat hari yang mulai beranjak siang sedikit terselimuti kabut.


"Ha..ha..ha...lihatlah anak muda ini jurus Inti Es dari partai Es Abadi, rasakan kehebatannya.!," teriaknya lantang.


Jaya menggeleng, menatap lawannya, "Dasar orang ngeyel..!," gumamnya.


Bersama itu Jaya menyimpan senjata pedang Angin Puyuh, menggantinya dengan tongkat Wesi Kuning.


Melakukan gerakan pembuka jurus Badai Matahari, mengeluarkan kekuatan tingkat ketiga dari sepuluh tingkatan nya.


Lengan Jaya mulai berpendar, seiring dengan itu tongkat Wesi Kuning makin berkilauan akibat lonjakan tenaga dalam kuat dengan aura panas.


"MATI... KAUUUU....!!!." Teriak Marto Mantingan, melesat menghantamkan pedangnya yang kini sudah semakin putih dengan lengan nya juga memutih.


SRRIIING...!!


Desingan pedang terasa semakin kuat, membelah udara dengan butir air yang menggumpal selayaknya salju.


Jaya juga meloncat memapag serangan tersebut dengan kekuatan dari jurus Selaksa Ombak Menerjang di sertai panas Badai Matahari tingkat ketiga.


BLEGAAAAART....!!


Ledakan lebih hebat terdengar dari yang tadi terjadi.


Uap dingin dan butiran kristal es langsung tersibak lenyap terberangus hawa panas pukulan Jaya Sanjaya.


Semua yang menonton terdorong kebelakang padahal sudah berdiri menjauh, dari titik lokasi benturan tersebut.


"Aaaaarrcchh...!!," terdengar jeritan saat tubuh sang tetua partai Es Abadi itu terlempar, lengan yang semula memutih dan terlindungi oleh gumpalan es, kini terbakar dan menghitam.


Jika saja dia bukan pengguna element air, yang bisa menciptakan Es dan hawa dingin, pasti badannya sudah gosong terbakar, tak hanya lengannya.


Tetua itu berguling gulingan cukup lama, hingga badannya menatap sebatang pohon dan berhenti bergerak.


Matanya melotot, nafasnya memburu untung saja nyawanya masih melekat di badannya.


Jaya terpental dua tiga langkah ke belakang dan tetap tegak berdiri.


Sesaat keheningan terjadi, Jaya hanya menatap lawannya karena tak berniat menghabisi nya.


Anak buah partai Es Abadi dengan takut takut mendekati sang Tetua, mencoba menolongnya namun sebelum itu menoleh ke arah Jaya seakan meminta ijin.


"Bawalah pergi tetua mu, sebelum aku berubah pikiran dan menjadikan nya daging bakar untuk ku berikan kepada binatang liar." kata Jaya, membuat anggota dari Partai Es Abadi, bergegas membopong tubuh sang tetua.


Juraimo yang melihat pertarungan itu begidik ngeri, melihat kehebatan pemuda tersebut yang di yakini nya belum mengeluarkan seluruh kekuatan nya.


Dengan lambaian tangan Juraimo memberikan isyarat kepada anggota nya meninggalkan tempat tersebut tanpa bertegur sapa lagi.


Kumala dan Pelangi langsung melesat maju begitu dua kelompok itu menyingkir pergi dari hadapan mereka.


"Kakang tak apa apa?." kata Kumala merangkul Jaya dari sisi kiri, sedangkan Pelangi sudah berada di sisi kanan mengawasi sang pujaan hati dengan tatapan menyeluruh mencari adakah jejas luka.


"Aku tak apa.. Dinda.. ," sahut Jaya setelah menyimpan tongkat Wesi Kuning di ruang Dimensi.


Dua gadis itu langsung memeluk Jaya dengan tersenyum senang, di balas Jaya mendekap keduanya.


Kelompok Awan Putih tersenyum lebar, sedikit menggeleng kan kepalanya melihat kehebatan tetuanya yang masih misterius bagi semuanya.


_____________


Jangan lupa tinggalkan jejak nya...dukung juga karya baruku bergenre romantis SESUNGGUHNYA CINTA..ya Kaka Kaka...

__ADS_1


__ADS_2