Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Bayangan Setan Vs Pencuri bertopeng


__ADS_3

Sesosok pria yang terlihat dari perawakannya sudah tua, dengan pakaian berwarna kehijauan nampak tengah memperhatikan sesuatu, dengan pakaian yang sewarna dengan alam sekitarnya membuat dirinya tak mudah di sadari keberadaannya.


Pria yang aneh dengan topeng yang aneh pula tersebut, terlihat selalu mengawasi Tiga Bayangan Setan maupun pengintai nya yaitu si pencuri bertopeng.


Topeng yang sangat aneh, karena biasanya setiap topeng pasti ada cetakan untuk lubang mata agar penggunanya bisa melihat melalui celah tersebut, tapi tidak untuk dirinya.


Topeng tersebut tanpa ada cetakan celah untuk mata yang biasa di gunakan untuk melihat bagi penggunanya, hanya ada cetakan hidung untuk bernafas dan cetakan mulut untuk berbicara, aneh.


Dengan tongkat warna kehijauan yang selalu ada di tangan kanannya serta penutup kepala semacam caping rombeng sosok tersebut selalu mengendap mengawasi segala tingkah laku keempat orang tersebut.


"Hmm, nampak nya pusaka itu sudah berhasil di taklukkan nya," gumam pelan pria tua tersebut, begitu Tiga Bayangan Setan berhasil menangkap zirah sayap Garuda.


**


"Waah..luar biasa indah kakang," seru Tino begitu melihat wujud dari zirah sayap Garuda.


Sebuah baju zirah yang di khususkan penggunaanya untuk perlindungan bagian belakang tubuh.


Berbeda dengan zirah Tameng Jiwo yang corakannya ada sisik dan gambar bintang dengan delapan pancaran di tengah dada nya, namun zirah sayap Garuda terlihat corak gambar bulu seperti milik burung yang tercetak dengan sangat indah.


"Iya..pusaka yang sangat luar biasa, dan aku yakin ini pasti pusaka tingkat Dewa atau bahkan tingkat Illahi," seru Jino menatap takjub dan mengagumi benda yang saat itu masih berada di genggamannya. (tingkatan pusaka ada di chapter Awal Mula)


"Ck..ck..ck...maha karya yang sangat sempurna," Lono bergumam pelan ikut mengusap usap benda tersebut.


Saat itu ketiganya masih duduk santai di dahan tertinggi dari pohon tertinggi tersebut.


"Ayo kita bawa pulang, kita pelajari benda ini di markas kita dengan leluasa, agar tak menyulitkan kita saat para pendekar lainnya menyadari keberadaan benda ini ada pada kita."


"Aku setuju kakang, kita harus segera meninggalkan tempat ini, jangan sampai para pendekar lainnya menyadari kita telah berhasil menguasai pusaka ini." Lono mulai bergerak berdiri bersiap pergi dari tempat tersebut.


**


"Ayo kita tinggalkan tempat ini," perintah Jaya kepada seluruh anggota nya.


"Bagaimana dengan mereka Nakmas?" tanya Baroto sambil menunjuk ke arah para mayat yang kini masih berserakan di sana.


"Biarkan saja, tak ada waktu kita mengurusi mayat musuh kita," sahut Pitu Geni kini tengah menyiapkan kudanya, menata beberapa barang bawaan di pelana sang kuda.


"Ya..biarkan saja," sahut Jaya sudah menuntun kuda nya membawanya ke jalan jalur menuju kota Bukit Emas.


Semua akhirnya setuju meninggalkan tempat tersebut tanpa melakukan apapun terhadap mayat dan tempat yang kini berserakan.


"Biarkan orang orang mereka yang nanti mungkin mengurusnya," Jaya sudah menaiki kudanya diikuti Kumala dan yang lainnya.


Rombongan Jaya akhirnya terus memacu kudanya menuju ke arah kota Bukit Emas.


**


Tiga Bayangan Setan sudah melesat meninggalkan pohon tertinggi tersebut.


Kecepatan yang di atas rata-rata dari tiga orang itu dalam melesat patut di acungi jempol.


"Cepatlah...!," seru Jino kepada Tino yang sedikit berada di belakang.


"Iya kakang"


Mereka meloncat dari satu dahan ke dahan yang lain membelah lebatnya pepohonan yang menjulang di tengah hutan tersebut.


"BERHENTI...!!"

__ADS_1


Sebuah teriakan dari seseorang menghentikan ketiga orang yang masih berlari dengan kecepatan tinggi.


Seseorang dengan pakaian berwarna hitam dan bertopeng menghentikan laju Tiga Bayangan Setan.


"Hmm, ada apa kau menghentikan kami?" Jino menatap tajam orang yang kini berdiri di depannya.


"Serahkan benda itu," tunjuk Pencuri bertopeng kepada Jino yang masih membawa zirah sayap Garuda yang di lipat dan diikatkan di badannya.


"Ciss, kau ingin benda yang jadi barang buruan ini?" Jino menunjuk ke arah benda yang kini menempel di badannya karena sudah di ikat kuat tersebut.


"Memangnya siapa kamu?" sahut Lono yang sudah berdiri mendekat kearah Jino.


"He.he..he..., tak perlu tau siapa aku, yang penting aku akan merebutnya dari kalian," kata pencuri bertopeng dengan tangan bersidekap di depan dadanya.


"Huh, kau pikir mudah mengambil benda ini dari kami?"


"Kita lihat saja apa yang bisa aku lakukan untuk mengambilnya," sahut pencuri bertopeng dengan gaya pongahnya.


"Baik, ayo mulai...ambillah jika kau ingin mati..!" seru Jino sudah mencabut senjatanya, sepasang tongkat pendek berwarna putih keperakan.


TAAANG...!


Jino memukulkan kedua Tongkat nya hingga saling berbenturan dan menimbulkan percikan semacam aliran listrik.


DUAAAR...!!


Percikan listrik tersebut menghantam pencuri bertopeng dan menimbulkan ledakan, untung saja dia di lindungi oleh Zirah pusaka Tameng Jiwo yang mementalkan hawa panas dari serangan tersebut.


Rupanya selain suara memekakkan yang bisa di hasilkan dari sepasang senjata tersebut, ada sebuah kekuatan dari senjata ketiga orang tersebut, yaitu petir yang bisa memercik dari hantaman sepasang Tongkat tersebut.


Ddrrtttt....


Pancaran lompatan kilatan cahaya langsung mengejar kembali kearah pencuri bertopeng yang langsung meloncat menghindar begitu menyadari hebatnya percikan tersebut.


SEGITIGA PEMUSNAH...! teriak Jino memberikan aba aba.


Melihat lawan kini mengurung dengan membentuk sebuah formasi pencuri bertopeng segera menyiapkan kuda kuda.


"Hiaaaa....!"


Pencuri bertopeng meloncat menyerang kearah ketiga Bayangan Setan yang sudah bergerak berputar mengelilingi lawannya.


TAANG...!


TAAANG..!


Suara dua senjata yang di hantamkan terdengar keras dan nyaring hingga memekakkan telinga, di sertai loncatan pijar listrik melesat kearah pencuri bertopeng


Dahsyat nya serangan ke-tiga orang tersebut, membuat pencuri bertopeng terpaksa melepaskan Jurus Mata Dewa yang menjadi senjata andalannya.


CLAAAAPP...


Lesatan sinar dari jurus Mata Dewa mengagetkan ketiganya yang langsung meloncat mundur dengan cepat.


"Haaah?" Ketiganya terkejut menyadari jurus lawan di depannya.


Jurus yang hampir menyerupai kelompok yang baru saja mereka hadapi jurus Mata Iblis, namun tak memiliki daya hancur seperti kemarin.


"Aneh...jurus ini tak menimbulkan ledakan seperti lawan kemari.?"

__ADS_1


Ketiga Bayangan Setan kembali bergerak mengurung Pencuri bertopeng namun dalam jarak yang tertentu.


Wuuuss...


Jino melesat mencoba menghantamkan pukulannya kearah badan pencuri bertopeng.


BLAAAANG...!!


Pukulan tongkat itu menghantam dada pencuri bertopeng, kecepatan dari Bayangan Setan memang sangat luar biasa, bahkan pencuri bertopeng pun kecolongan hingga terhantam dada nya.


Namun berkat Zirah Tameng Jiwo pukulan tersebut seakan tak berarti apapun bagi pencuri bertopeng hanya terdorong mundur kebelakang, padahal biasanya lawan yang terhantam senjata Wesi Perak senjata andalan ketiga Bayangan Setan pasti akan remuk dan jebol.


"Mati kau..!!," teriak Jino mengejek lawannya yang tersurut ke belakang.


Pencuri bertopeng hanya tersenyum miring, "Cuiih, pukulan anak kecil kau banggakan..!," balas pencuri bertopeng kepada ketiga lawannya.


Jino terbelalak melihat kenyataan yang ada di depan matanya.


Jarang bahkan tak pernah ada lawan yang terhantam secara telak seperti itu bisa bangkit kembali.


"Kekuatan apa yang kau miliki kisanak hingga tak mempan senjata Wesi Perak ku..," seru Jino sedikit terpana.


"Kekuatan Dewa..," sahut pencuri bertopeng langsung meloncat maju menyerang lawannya.


Wuuusss.. sriiing....!


Pencuri bertopeng melesat menebaskan pedangnya menyasar kearah Jino yang membawa pusaka itu, namun sebuah sambaran yang lebih cepat gerakannya lebih dulu menghajar perut pencuri bertopeng.


BLAAAMM...


"Aarch."


Sedikit terdengar keluhan saat perut dari pencuri bertopeng terhantam senjata Lono yang sudah menyerangnya.


"Jangan coba coba mendekati saudara ku, jika tak ingin celaka..!," seru Lono ketiga berhasil menghempaskan tubuh lawannya.


Namun lagi lagi ketiga orang Bayangan Setan tersebut harus terbelalak, melihat pencuri bertopeng bangkit dan tak terluka sedikitpun.


"Edan tenan..kekuatan apa yang melindungi raga mu..?" Lono ternganga melihat daya tahan dari lawannya, tak terpengaruh oleh pukulan yang di lakukan nya.


Mereka kembali bertarung, Pencuri bertopeng melawan tiga orang di depannya, pikirannya masih mencari siasat bagaimana caranya bisa menaklukan ketiganya.


"Sudah menyerah saja, kau tak bakalan berhasil mengambil benda ini dari kami..!" kata Jino dengan muka sinis.


Pencuri Bertopeng hanya membalas dengan senyuman meskipun itu tak di ketahui lawan karena semua itu tertutup oleh topeng yang di kenalannya.


"Kalian tau kenapa aku bisa menahan hantaman pukulan kalian?" pancing pencuri bertopeng.


Ketiganya terhenti sesaat menatap lawan di depannya.


"Karena aku punya ini," seru pencuri bertopeng dengan memperlihatkan zirah pusaka di badannya.


Ketiga Bayangan Setan terbelalak melihat zirah mewah yang tertutup baju pencuri bertopeng.


Pencuri bertopeng berniat memancing lawannya mendekat, karena kecepatan ketiga Bayangan Setan memang patut di acungi jempol, tak mudah di sentuh bahkan jurus Mata Dewa masih kesulitan saat Bayangan Setan lebih dulu menghindar dari sorotan itu.


Tiga Bayangan Setan yang melihat pusaka lainnya langsung saling pandang, mereka tersenyum miring dan keinginan untuk merebut pusaka dari lawan kini menjadi salah satu prioritas.


"He.he..he..kami akan memiliki pusaka mu..bodoh..!," Teriak Jino, kepada sang lawan yang ternyata sangat bodoh dengan sok pamer dengan pusaka nya tersebut.

__ADS_1


___________


Jangan lupa tinggalkan jejak nya...


__ADS_2