Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Tiba di Selayang Pandang


__ADS_3

"Bagaimana paman? apakah ada yang terluka?," tanya Jaya kepada Pati Kerto, setelah orang orang Banteng Merah pergi dengan ketakutan.


Pati Kerto dan anggota Golok Naga lainnya menjura sebelum menjawab, "Syukurlah tak ada yang serius terluka, Pemimpin Agung sudah menolong kami."


Orang orang Awan Putih lainnya sudah mendekat, ikut memeriksa dan memberikan pertolongan kepada anggota yang terluka.


"Hmm, syukurlah."


Rombongan Awan putih memutuskan sekalian beristirahat di tempat tersebut, sekalian memulihkan diri dan mengembalikan stamina para anggota yang berjalan kaki.


Para petinggi Awan Putih kini telihat bergerombol di sana, sedikit berbincang tentang apa yang akan terjadi di Selayang Pandang.


"Berdasar tahun tahun sebelumnya biasanya nanti akan ada pertandingan unjuk kekuatan antar kelompok, sebelum nanti setiap peserta memilih siapa yang layak menjadi pemimpin Serikat Pendekar."


Randu Sembrani berkata, menceritakan kepada beberapa orang yang belum mengetahui susunan acara nanti di Selayang Pandang.


"Benar, apa yang di katakan tuan Randu sembrani, aku sudah pernah mengikuti pertemuan ini dua kali dan ini kali ketiga," sahut Sumanjaya si Mata Malaikat.


"Benar," Respati hanya mengangguk membenarkan, Raja Pengemis itu tampak menyimak pembicaraan tersebut.


Sedangkan Koloireng, Prono Condro dan Jayeng rono hanya mengangguk saja, ketiganya yang selama ini mengasingkan diri kurang mengikuti acara seperti ini semasa muda nya.


"Tapi untuk pertemuan yang lalu harus ada yang di calonkan dulu, baru bisa maju nantinya."


Kali ini Anuso Birowo yang sepuluh tahun lalu ikut pertemuan tersebut berkata.


" Benar, saat itu memang di ajukan dua puluh kelompok yang akhirnya di seleksi, hingga di putuskan satu kelompok sebagai pemimpin Serikat Pendekar dengan Lima Dewan Agung sebagai penyeimbang." Pitu Geni yang saat itu menjadi wakil dari Api Suci juga berkata.


Lodaya Tetua Agung dari Gagak Hitam berkata, " Ya saat itu sudah di lakukan seleksi sebelum tiba di padang Selayang Pandang, jadi sampai di padang itu semua langsung bisa di tentukan (Dua puluh kelompok yang terpilih), tapi kali ini tak ada bahasan tentang itu, jadi entah nanti bagaimana?."


Semua mengangguk mengerti, situasi saat ini memang berbeda. Membuat mereka tak tahu dengan agenda nanti bagaimana.


Biasanya acara akan di tentukan oleh kelompok pemimpin yaitu Jiwa Abadi dan Lima Dewan Agung, yang saat ini di huni oleh Api Suci, partai Es Abadi, Naga Hijau dari negri Barat serta dua kelompok dari utara Bumi Langit dan tentu saja Kuda Terbang.


Kelompok kelompok inilah yang nanti akan mengatur jalannya pertemuan Serikat Pendekar.


"Hmm, baiklah kita akan lihat bagaimana nanti di sana," kata Jaya mengambil pendapat, "Kita ikuti saja apa yang mereka mau, yang penting kita hadir dengan kekuatan kita."


**


Padang Selayang Pandang kini sudah mulai terlihat semarak, padang yang semula lengang itu kini terdengar hiruk pikuknya.


Tiap tiap bagian sudah ada ratusan hingga ribuan orang yang terlihat menempati tanah lapang tersebut.


Mereka terdiri dari puluhan hingga ratusan kelompok yang sudah berdatangan terlebih dahulu.


Partai Es Abadi juga sudah nampak terlihat di sana.


Sebanyak hampir tiga ribu anggota di bawa oleh kelompok tersebut.

__ADS_1


Tetua Agung dan para tetua Ring Lingkaran beserta para sesepuh terlihat duduk dengan penuh rasa percaya diri di tempat yang di sediakan anggota nya.


"Apa agenda acara kali ini?." tanya Kaisar Dewa Air, salah satu sesepuh partai Es Abadi menatap tajam ke arah Sukat Jaladri sang Tetua Agung atau Dewa Es.


Sukat Jaladri menatap para sesepuh, memutar matanya.


"Di pertemuan ini ada sedikit perbedaan dari pertemuan yang lalu."


"Bedanya?," tanya Ronggoliwa dengan dahi berkerut.


"Akan ada pertarungan antar kelompok, itu yang di usulkan oleh Tetua Jiwa Abadi yang di wakilkan kemarin."


"Pertarungan antar kelompok?," Joko Baron atau Dewa Salju bertanya dengan sedikit kaget.


"Benar Sesepuh."


"Waah, pasti akan mudah terjadi kekacauan," Landung Siturang atau biasa di juluki Pedang Es Abadi menyela.


"Benar apa katamu ...!, pasti nanti tak akan mudah," sahut seorang nenek tua yang bergelar Dewi Racun Salju.


Sukat Jaladri kembali mengangguk, "Begitulah sesepuh semua, demikian tadi agenda yang akan di laksanakan, makanya jauh jauh hari saya mengajak para sesepuh turun gunung membantu kelompok ini."


Para sesepuh mengangguk, sedangkan para Tetua Ring Lingkaran hanya bisa terdiam duduk dan memperhatikan seperti Kertasoma, ki Brengos, Marto Mantingan yang pernah di hajar Jaya dan lainnya lagi.


**


Serombongan orang yang terdiri dari hampir tiga ribuan nampak memasuki padang Selayang Pandang dari arah utara.


Mereka adalah kelompok Bumi Langit.


Sebuah kelompok yang di pimpin oleh seorang Tetua Agung bernama Antareja, di bantu oleh tiga tetua yaitu Cukilo, Duradeksi dan Reganda, serta satu sesepuh yang sudah melegenda bernama eyang Wirabhumi.


Eyang Wirabhumi inilah keturunan langsung dari sosok yang mendirikan kelompok Bumi Langit.


Sosok yang terlebih dulu melegenda, dan menjadi pendiri kelompok yang menggunakan element tanah tersebut, bernama Jagat Mandhala Bawono.


Jadi eyang Wirabhumi adalah cucu dari Jagat Mandhala Bawono.


Konon Jagat Mandhala Bawono adalah pengendali tanah yang sangat hebat, dan setelahnya tak ada yang mampu menandinginya termasuk Wirabhumi sendiri, bahkan makin ke sini kekuatan pengendali Bumi itu makin berkurang kekuatannya.


"Cari tempat yang sekira pantas untuk kita..!," seru tetua Cukilo, memerintahkan kepada anggota Bumi Langit yang ada di barisan depan.


"Baik Tetua...!," sahut beberapa orang lalu melesat terlebih dahulu, mencari tempat untuk kelompoknya.


Antareja menatap sekeliling yang sudah mulai banyak orang berdatangan.


"Di mana saja, selagi masih di bumi pasti baik untuk kita," kata Eyang Wirabhumi memberikan pendapatnya.


Tetua Agung Antareja hanya mengangguk mendapat petuah tersebut.

__ADS_1


"Benar apa kata guru Sesepuh." katanya.


Rombongan itu terus maju bergerak begitu tetua Cukilo yang di bantu tetua Duradeksi dan tetua Reganda mengarahkan orang orang Bumi Langit ke sebuah tempat.


**


"Kita sudah tiba di padang Selayang Pandang Nakmas."


Baroto yang tadi sempat berada di depan, memundurkan kudanya untuk melaporkan berita tersebut kepada sang Tetua Agung Jaya sanjaya.


Jaya yang masih berada di bagian belakang dari rombongan yang mengular itu melongokkan kepalanya.


"Benar Kakang, kita sudah sampai."


Kumala yang juga melongkokkan kepalanya berkata.


Pelangi yang duduk di tengah sedikit penasaran dengan apa yang ada di depan.


"Apakah benar benar luas kaka?." tanya Pelangi dengan rasa penasaran, tentang keadaan padang luas tersebut.


Kumala tertawa, "Belum kelihatan adik, mungkin barisan depan yang sudah bisa melihat, kita masih terhalang bukit kapur itu."


Pelangi mengangguk, benar apa kata Kumala, jika mereka masih harus melewati sebuah bukit kapur.


Kelompok itu makin bergerak maju mendekat ke arah padang Selayang Pandang.


Makin lama makin terlihat jelas suasana padang yang kini sudah terdengar riuh oleh sorak sorai.


Entah apa yang teriakkan orang orang itu sehingga padang tersebut terdengar ramai.


Rombongan Jaya yang datang lewat jalur dari arah timur itu bergerak makin ke tengah.


"Ada apa itu..?." tanya Jaya pelan, dari jauh terkihat keramaian di wilayah padang bagian jalur tengah.


"Masak Iya sudah terjadi pertarungan padahal acara belum di mulai...?." sahut Prono Condro yang kini ikut berjalan kaki sebagaimana Jaya melakukan itu.


Koloireng juga mengangguk membenarkan perkataan sesepuh Gagak Hitam tersebut.


"Siapa yang sudah berselisih?, padahal acara belum di mulai.?." Randu Sembrani berkata pelan penuh keheranan.


Jaya yang memiliki pandangan paling tajam sedikit terkesima, "Anggota Jiwa Abadi nampaknya." seru Jaya setelah melihat atribut yang di pakai.


"Jiwa Abadi? dengan siapa berselisih?." tanya Respati sedikit kaget.


Jaya menyebut ciri ciri dari orang orang yang bersitegang dengan Jiwa Abadi tersebut.


"Haah..? Kawah Welirang??." seru Respati tak bisa menutupi kagetnya, setelah Jaya menyebut ciri ciri nya.


Respati hafal betul dengan jenis pakaian dan atribut yang biasa di pakai kelompok tersebut karena sama sama kaum pengembara.

__ADS_1


___________


Jejakanya kaka.....


__ADS_2