
Kelompok Wereng Ireng sudah makin menjauh dari gua di bukit Ular.
Jumlah pasukan yang kini tinggal separuh, menjadikan kelompok itu riskan di serang kelompok lainnya.
"Ayo...cepat kita segera pergi dari sini," teriak Wereng Ireng, menyadari banyaknya pasang mata yang mengawasi mereka.
Segera saja para anak buah mereka menaiki kuda tunggangan mereka yang selama ini di tambahkan di suatu tempat.
Belum juga mereka meninggalkan tempat tersebut sudah di hadang oleh pasukan Wukir Asri pimpinan Anjar Gumelar.
"Mau kemana kalian..?." sebuah teriakan mengagetkan Wereng Ireng.
"Jika mau pergi tinggalkan barang yang kalian ambil dari wilayah negeri kami..!." kata Anjar Gumelar kembali.
"Huuh.. rupanya pasukan kerajaan Wukir Asri, jangan mimpi kalian bisa mendapatkan benda pusaka yang susah payah berhasil kami ambil."
Balas Wereng Ireng dengan tanpa takut, meskipun di kepung ratusan orang prajurit.
Anjar Gumelar hanya tersenyum miring, dia sudah melihat kehebatan dari zirah tersebut namun dia juga sudah memiliki rencana bagaimana menaklukkan lawannya setelah melihat nya bertarung tadi.
"Jangan karena kau memakai Zirah itu, membuat kami pasukan khusus Wukir Asri akan takut padamu..!," kata Anjar Gumelar dengan lantang membalas gertakan Wereng Ireng.
"Apa kau tak sadar berapa pasukan mu..? jika di banding kan dengan pasukan yang ku bawa..?."
Wereng Ireng sebenarnya juga sudah mencelos hatinya, karena pasukan dari Wukir Asri tersebut berjumlah lima ratus prajurit lebih, sedangkan pasukan Api suci tinggal separuh dari awal di bawa.
"Sekali lagi aku perintahkan ..!, tinggalkan baju perang itu di sini..!, maka kalian akan selamat..!," terdengar Senopati kerajaan Wukir Asri itu mengeluarkan ancaman lagi.
Pasukan Wukir Asri sudah mengepung kelompok Api Suci, membuat Wereng Ireng sedikit tergagap, namun rasa sayang dan ingin memiliki Zirah pusaka tersebut membuatnya gelap hati dan tak memikirkan apapun.
"Seraaang....!!," teriak Wereng Ireng memberikan perintah kepada anak buahnya, agar segera bisa bebas dari kepungan pasukan lawan.
Perang kembali pecah, bahkan kali ini lebih sengit daripada pertempuran dengan pasukan Naga Hijau.
Prajurit kerajaan Wukir Asri langsung menggempur kelompok Api Suci, sedangkan para petinggi pasukan bersama Senopati Anjar Gumelar langsung menggempur Wereng Ireng yang kini lebih hebat dari biasanya karena memakai Zirah pusaka.
Pedang api di tangan Wereng Ireng sudah berkobar, sementara itu Senopati Anjar Gumelar bersama wakil Senopati dan para Bekel prajurit yang berjumlah tujuh orang sudah menyerang ke arah badan lawannya.
Sriing....! sriiing....!!
Sambaran sambaran senjata dari petinggi Wukir Asri berkelebat, lalu menghantam badan Wereng Ireng.
Craaaak...!! craaaakk..!!
Hantaman tebasan senjata itu tak melukai badan dari Wereng Ireng namun membuat badan dari salah satu tetua lingkaran Ring Api suci itu terpental ke sana sini.
Badan Wereng Ireng yang di keroyok sembilan orang itu terombang ambing bagai sebuah kain yang di jemur di terpa angin.
Caraaak...!! craaak....!!
Hantaman Senopati, wakil Senopati dan tujuh Bekel prajurit, tak mampu di tangkis dengan baik oleh Wereng Ireng, karena mereka sangat terlatih dengan formasi bertempur yang di peragakan.
Dari sembilan tebasan senjata lawan hanya satu dua yang berhasil di tangkis Wereng Ireng.
Traang....! traang..!!
Selebihnya sukses menghantam badan dari Wereng Ireng.
Craaak...! craaaakk...!!
__ADS_1
Meski tak melukai, namun kuatnya hantaman itu membuat organ dalam dari Wereng Ireng cukup terguncang.
"Aarrch... keparaat...kalian..!!."
"Dasar pengecut....!!, beraninya main keroyok..!!," racau Wereng Ireng mencoba memprovokasi lawan agar malu dan mau bertarung dengan ksatria satu lawan satu.
Anjar Gumelar hanya tersenyum miring menanggapi ocehan Wereng Ireng, tanpa mengendurkan serangan.
Bahkan serangan mereka makin beringas, menghantam apapun bagian tubuh Wereng Ireng.
Kepala, leher, punggung, perut bahkan ******** juga di hantam oleh petinggi pasukan dari Wukir Asri tersebut.
Kali ini badan Wereng Ireng tidak hanya terombang ambing saja, namun jatuh bergulingan, di hantam di sana sini.
Craaak...! craaaaakkk...!!
Hingga akhirnya baju zirah itu terlepas kaitannya akibat terhantam di sana sini.
Sllraaap...
Baju Zirah itu terlepas seiring terlempar nya Wereng Ireng yang cukup jauh.
"Aaarcchhh...!."
Bruukkk...!!
Badan Wereng Ireng ambruk setelah terlempar bergulingan cukup jauh, lalu pingsan karena dahsyatnya gempuran serangan lawan.
Senopati Anjar Gumelar tersenyum puas, berhasil merebut Zirah pusaka yang menjadi tugasnya.
Sementara itu pasukan Wukir Asri sudah membantai pasukan Api suci yang hanya segelintir orang di bandingkan jumlah pasukan Kerajaan Agung Wukir Asri.
Senopati Anjar Gumelar mengambil Zirah pusaka tersebut melipat nya dengan hati hati dan menyimpan di salah satu kereta yang di bawa.
"Ayo kita kembali ke istana, kita pasti akan mendapatkan hadiah dengan keberhasilan ini..!," teriak senopati Anjar Gumelar dengan rasa bangga yang membuncah.
**
Rombongan keempat orang tersebut sudah sampai di wilayah kerajaan Jogonolo, sebuah kerajaan yang paling kotor ( jahat) di wilayah Kerajaan Agung Karang Pandan.
"Di depan kita akan memasuki wilayah Jogonolo, lebih tepatnya wilayah bagian kabupaten Jagalan yang di pimpin oleh Adipati Suro Jelantik," kata Randu Sembrani.
Wilayah barat kabupaten Jagalan ini berbatasan dengan kerajaan kecil bernama kerajaan Kertomojo, yang juga berbatasan dengan kerajaan Werdha Tama yang ada di bawah naungan dan kuasa Kerajaan Agung Wukir Asri.
Jadi sebenarnya tempat tersebut sudah dekat dengan gunung Wilujengan yang ada di wilayah kerajaan Werdha Tama, tempat di mana terjadi perebutan Ziarah pusaka.
Jaya Sanjaya hanya mengangguk mendengar penjelasan dari Kakek Legenda tersebut.
"Kakek hebat bisa mengenali semua wilayah dan nama penguasa nya..," sahut Jaya Sanjaya dengan terkagum kagum.
"He.he..he.., tak semua wilayah aku tau, juga tak semua pemimpin nya aku kenal, pasti kamu akan tau alasannya jika nanti kita sempat bertemu sang Adipati," kata Randu Sembrani.
"Kita cari tempat menginap dan makan saja karena hari mulai malam," usul Nyai Nilam Sari mengingatkan.
"Kamu benar istri ku, Ayo kita cari penginapan yang nyaman dan aman," ajak Randu Sembrani.
Mereka berempat mulai mencari tempat makan yang nyaman dengan sedikit kesusahan karena wilayah tersebut rata rata di penuhi oleh para pencoleng dan perampok.
"Di depan ada penginapan dan warung makan milik perguruan Angsa Emas, mereka adalah satu satunya tempat paling nyaman disini, dan tentu saja paling aman."
__ADS_1
"Jangan kamu bandingkan nyaman dan aman disini seperti apa..he..he..," kata Randu Sembrani sedikit terkekeh.
Jaya dan Pelangi hanya mengangguk saja, mengikuti sepasang suami istri yang berkuda di depannya.
Mereka sudah memasuki tempat yang di tuju.
Sebuah bangunan yang berdiri kokoh dengan dua lantai, sebagian bawahnya di gunakan untuk warung makan sebagian penginapan dan bagian atasnya untuk penginapan keseluruhan.
Angsa Emas adalah perguruan bela diri yang di pimpin oleh Tetua Agung bernama Tohpati seorang pendekar yang awal mulanya adalah pemimpin rampok dan katanya sudah insyaf, benar tidaknya tak ada yang tau.
Randu dan Jaya Sanjaya langsung mencari tempat duduk, sedangkan Nyai Nilam Sari dan Pelangi memesan makanan di tempat pemesanan.
"Mari pendekar silahkan di pilih makanan yang di kehendaki," kata pelayan itu setelah menelisik penampilan Nyai Nilam Sari dan Pelangi.
"Kami ingin makan itu, itu dan ini," kata Nyai Nilam Sari sambil menunjuk aneka lauk dan tumis sayuran, serta sayur lodeh serta jumlahnya."
"Minumnya air tebu saja.." kata nya lagi.
"Baik pendekar, silahkan di tunggu di meja."
Nyai Nilam Sari dan Pelangi berbalik dan melangkah menuju ke meja dimana suami dan Jaya Sanjaya berada.
Braaakk..!!
Sebuah gebrakan terdengar di samping mereka sedikit jauh.
"Kurang ajar...!, harta ku di curi lagi oleh pencuri bertopeng," seru orang yang menggebrak meja.
"Sudah makin meresahkan saja Pencuri bertopeng ini, karena berani mengambil di beberapa tempat milik tokoh sakti juga..!," teriak orang di samping nya.
"Bagaimana dia berani masuk ke markas mu..?, bukankah markas mu terkenal sulit di tembus..?."
"Entah ilmu apa yang di gunakan hingga dia bisa bebas masuk mengobrak abrik seluruh gudang harta..!," teriak salah satu orang tadi yang menggebrak meja.
Nampaknya orang yang mengebrak meja adalah pemimpin salah satu perguruan beladiri bernama Pisau Terbang.
Pisau Terbang termasuk salah satu dari sepuluh aliansi Pencoleng di sana dengan nama Kelompok Akar Jiwa.
Randu Sembrani saling pandang dengan Nyai Nilam Sari, seakan seperti ada sesuatu yang ingin di bicarakan.
**
Pasukan Wukir Asri yang berhasil membawa baju Zirah sudah bergerak menuju pusat kerajaan itu.
Pasukan yang berjumlah banyak tersebut sangat yakin bisa mempertahankan benda pusaka itu.
"Ayo..maju..terus, jangan khawatir, kita harus segera tiba di Kotaraja Wukir Asri..!," teriak Senopati Anjar Gumelar memberikan perintah nya.
Pasukan itu dengan gagah kembali melanjutkan perjalanan.
Memasuki sebuah tikungan dengan jalanan sedikit sempit untuk pasukan besar, tiba tiba mereka di hadang oleh seseorang dengan pakaian hitam dan wajah tertutup topeng berwarna merah.
Anjar Gumelar menatap penghadang yang hanya seorang diri dengan senyuman miring.
"Kau ingin mati..berdiri di sana..!!." Bentak Anjar Gumelar dengan galak.
"Serahkan Zirah pusaka itu..!," kata orang tersebut dengan tegas tanpa rasa takut melihat jumlah pasukan besar itu.
___________
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak nya...