
Rombongan Jaya menikmati makan malam di pinggir sungai Bulungan dengan nyaman, rasa masakan salah satu juru masak yang bernama Trubus memang sangat lezat, hanya olahan daging yang diiris tipis dan di bumbu pedas cukup menggugah selera seluruh anggota untuk menikmatinya.
"Masakan paman Trubus memang selalu enak," Kumala memuji masakan yang tengah di nikmatinya.
"Hu'um, " sahut Pelangi, "Kakak sudah pernah mencicipi masakkan pepes ikan pepes jamur buatan paman Trubus?."
"Yang di bumbui sambal kemiri?."
"Hmm," Pelangi mengangguk sambil kembali mengambil lauk yang ada fi depannya dengan sendok kayu.
"Pernah sekali."
"Enak kan?."
"Banget.., tapi sekarang tak pernah masak itu lagi." kata Kumala sedikit cemberut.
"Itu soalnya jamurnya langka, sama jenis ikan nya susah di cari," Pelangi mencoba menerangkan.
"Ooh, pantesan tak pernah masak itu lagi."
Semua menikmati makanan yang tersedia sambil berbincang, sembari beristirahat di tempat masing masing.
"Nampaknya kemeriahan Pesta Panen Bumi sudah terkenal ya paman?." tanya Jaya sambil menunjuk ke arah rombongan lain yang juga sedang beristirahat.
"Benar Nakmas, kegiatan ini sudah berlangsung semenjak ratusan tahun kabarnya."
"Jadi pasti semua sudah hafal acara yang pasti di laksanakan ini."
Jaya menatap ke arah rombongan para pedagang sekilas, nampak pak Togog juga tengah menatap ke arah Jaya yang tengah berkumpul dengan Pitu Geni, Baroto dan Narimo, lalu pria paruh baya itu tersenyum dan mengangguk dan Jaya membalasnya.
**
H-2, pelaksanaan pesta Panen Bumi di kerajaan MulyaBhumi nampaknya sudah di rencanakan dengan matang.
Semua itu dapat di lihat dari lancarnya kegiatan di semua lini.
Bagian sarana prasarana nampaknya bekerja dengan baik, jalan jalan yang nantinya akan di lalui para tamu undangan sudah terlihat bersih, rapi dan di hias dengan indah.
Umbul umbul dan aneka hiasan baik dari tanaman maupun hasil karya buatan menambah apik suasana.
Sementara di alun alun yang ada di halaman depan istana MulyaBhumi juga di hias tak kalah indahnya, tenda tenda yang terlihat mewah sudah di dirikan, kursi kursi untuk para tamu undangan sudah tersedia dan di tata dengan rapi, berhadapan dengan kursi dari pihak istana yang tentunya akan di duduki oleh sang Raja, permaisuri serta keluarga nya.
Di sini terlihat sekali jika semua acara di susun dengan cermat dan penuh perhitungan, terang saja karena mereka benar benar sudah pengalaman menggelar acara ini.
Tampak semua kegiatan tersebut di awasi langsung oleh sang patih Sabdo Taruno demi kelancaran semua acara.
"Apakah masih ada kendala?."
__ADS_1
"Tak ada Patih, semua sesuai rencana."
"Bagus, kita sudah puluhan kali melaksanakan kegiatan ini, jangan sampai acara ini kacau, karena akan mencoreng muka kita semua."
"Sendiko dawuh patih."
Terlihat patih Sabdo Truno mengelilingi semuanya, untuk memastikan apakah semua sudah sesuai dengan yang di rencanakan.
**
Tiga sosok laki laki tengah berjalan di keramaian yang ada di MulyaBhumi.
Dari gaya nya terlihat sekali jika ketiganya nampak sangat arogan, berjalan seenaknya hingga memenuhi jalanan, sengaja mengeluarkan aura kuat yang menekan untuk menunjukkan kekuatannya membuat bagi siapapun yang ada di dekatnya menjadi ketakutan.
Mereka adalah para Dewa yang menjadi utusan Kaisar Dewa, yaitu Dewa Selo, Dewa Sambi dan Dewa Wonosego.
"Lumayan ramai juga tempat ini, nampaknya memang baru ada gawe." Selo berkata sambil memutar pandangannya, ke sekeliling nya.
"Ya.., dimana mana ada banyak penjual aneka kebutuhan." sahut Wonosego.
"Bagaimana jika kita mencoba makanan di sini?."
"Ingsun setuju." sahut Sambi, menatap ke arah Selo yang mengusulkan rencana tersebut.
"Di sana nampaknya cukup ramai, pasti makanannya enak sekali." Wobosego menunjuk ke arah warung makan dua lantai yang sangat ramai oleh pengunjung.
"Ayo kita coba," Selo lalu mengeluarkan beberapa koin emas dari ruang penyimpanannya.
**
"Masih berapa lama lagi kita akan sampai Paman?."
"Sebenarnya jika kita terus berjalan, tengah malam nanti kita akan sampai di pusat kota itu, Nakmas."
"Namun apakah begitu Nakamas?."
Mendapat jawaban Narimo demikian, Jaya mesti berfikir sejenak, jika sampai kota tengah malam itu lebih baik, sekalian mencari tempat menginap di sana, dari pada di tunda menginap di tengah perjalanan malahan bisa terlambat menghadiri acara nanti.
"Kita teruskan saja paman, daripada kita terlambat menghadiri undangan pesta Panen Bumi."
Narimo tertawa mendengar jawaban Jaya, " Nakmas tak perlu khawatir, biasanya pesta di langsungkan selama tiga hari, jadi tak ada kata terlambat."
"Haah..?, benarkah paman?," sahut Pelangi, lalu tertawa dan mengalihkan pandangan kepada Kumala yang juga tersenyum.
Jaya tersenyum saja, dia tahu apa yang di pikirkan dua gadisnya, pasti tentang keramaian dan belanja bukan?.
"Berarti pestanya bisa lama paman?."
__ADS_1
"Benar Den ayu."
Dua gadis itu makin lebar tertawa.
**
"Aku mau makanan paling enak, untuk kami bertiga..!," sedikit keras Selo berkata, lalu melemparkan beberapa koin emas ke arah pelayan.
"Apakah itu cukup?."
Pelayan yang menangkap koin koin emas sedikit terbelalak kaget, selain karena koin emas juga sikap dari ketiga orang tersebut yang sangat tidak sopan.
Tapi karena melihat tiga koin emas yang tentu saja sangatlah banyak hanya untuk ukuran makanan terenak bahkan beberapa porsi, maka pelayan itu tetap tersenyum.
"S..sangat cukup tuan."
"Cepat sediakan untuk kami..!," seru Sambi dengan cepat.
Entah mengapa jika semula hanya Selo yang terlihat sangat arogan, namun kini Sambi pun mulai seperti itu. Hanya Wonosego yang masih diam melihat dua rekan nya berlaku tak selayaknya seorang Dewa yang harus di hormati.
"Mari tuan tuan, ikuti kami. Akan kami sediakan meja terbaik kami.."
Kepala pelayan mengarahkan ketiga orang Dewa tersebut ke tempat yang paling baik, yang biasanya di tempati oleh para pejabat jika berkunjung ke warung makan mewah tersebut.
Sekedar informasi jika satu koin emas setara seratus koin perak dan setara seribu koin perunggu, biasanya untuk makan disana hanya perlu beberapa koin perunggu dan untuk makan daging tak lebih dari seratus koin perunggu, dan tiga Dewa itu melempar tiga koin emas, bisa di bayangkan makanan yang akan di sajikan nantinya pasti sangat mewah.
Meski sikapnya sangat tidak sopan namun kembali uang yang berbicara.
"Mari tuan silahkan duduk."
Pelayan mengarahkan ketiganya duduk di kursi yang mewah layaknya milik istana, meja bundar yang sangat besar yang terbuat dari batu granit utuh.
Dengan tersenyum makin lebar Sambi dan Selo duduk lalu di susul oleh Wonosego.
"Hmm, bagaimana menurut mu Dewa Wonosego?."
"Maksudnya?."
"Orang orang disini?." Selo bertanya sedikit menyeringai.
"Yah, mereka manusia biasa..., memang tak memiliki kelebihan seperti kita dengan anugerah raga dewa yang memiliki Raga Abadi, juga kemampuan belajar terbang tanpa kesulitan."
"Tapi juga bukan hak kita untuk menilai apalagi merendahkan mereka, pantangan ..!, dan itu ada di peraturan adab para Dewa."
"Bahkan jika kita ketahuan ada di sini kita bisa kena hukuman, karena kita ada di sini tanpa melalui Dewan Agung Dewa yang di ketuai Dewa Kebijaksanaan." kata Wonosego sedikit panjang.
"Cck, ingsun tak memikirkan itu, disini kita bebas melakukan apapun." Selo nampak sedikit tak senang dengan jawaban rekannya tersebut, demikian pula dengan Sambi.
__ADS_1
___________
Jejaknya.....