Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Dewa Pemusnah


__ADS_3

Alun alun kerajaan MulyaBhumi sudah tak terbentuk, jangankan sisa bekas para pedagang yang berjualan bekas tenda tenda saja sudah tak ada, permukaan tanahnya tak menggambarkan jika itu bekas alun alun.


Parit parit selebar anakan sungai terbentuk tak beraturan, tanah terbalik dan tercabik dengan debu dan sisa mayat yang bergelimpangan di sana.


"Apakah pertarungan sudah selesai?."


"Mungkin sudah ya, soalnya tak lagi terdengar suara pertarungan."


"Apakah semua sudah mati?, kenapa tak tampak kehidupan di tengah lapang itu?."


Mereka saling menduga duga dengan apa yang terjadi di tengah alun alun.


"Tak pernah kulihat pertarungan sedemikian dahsyat."


"Iya seperti bukan manusia saja, tapi beberapa monster yang bertarung."


"Benar, alam benar benar hancur jika saja ada beberapa pertarungan yang seperti ini."


Semua masih memandang ke arah tanah lapang itu, belum ada yang berani mendekatinya, padahal sudah sejak dari tadi tak ada suara apapun terakhir setelah sinar yang di sinyalir sebuah portal pemindah.


**


Jaya dengan santai berjalan ke pinggiran menuju ke arah kelompoknya berada, orang orang dari istana langsung heboh melihat kemunculan sang Tetua Awan Putih.


Prabu Jalilan Tunggaraja dan jajaran petinggi kerajaan MulyaBhumi terkesima, jika sang Tetua Awan Putih kembali ke pinggir lapangan dengan selamat berarti dia lah pemenang pertarungan itu.


"Kakang..!," teriak Kumala dan Pelangi berlari langsung memeluk Jaya.


Dari jauh putri Kencono wungu melihat adegan tersebut, bukan hanya sang putri tapi juga prabu Jalilan Tunggaraja beserta para petinggi nya.


"Apakah kakang baik baik saja?."


"Seperti yang Dinda berdua lihat, Kakang baik baik saja."


Jaya masih memeluk dua calon istrinya tersebut saat raja dari MulyaBhumi mendekat.


"Apakah tuan Tetua bisa menjelaskan kepada kami, apa yang sebenarnya terjadi?." tanya sang raja.


**


"Demikian lah Yang Mulia," Jaya menerangkan tentang tiga sosok yang mengacau di sana, Namun Jaya tak menyatakan jika ketiga nya seorang dewa. Jaya hanya mengatakan mereka berasal dari alam lain yang kekuatannya beberapa kali kekuatan manusia biasa.


Semua terkesiap mendengar cerita Jaya tersebut, para peserta yang berasal dari perguruan, kelompok dan para pangeran kini langsung terdiam tak lagi bertingkah di depan Jaya, semua kini pada takut tak lagi menunjukkan kekuatannya karena ternyata kekuatan yang mereka miliki hanya seujung kuku.


"Bagaimana jika mereka datang lagi kemari??." prabu Jalilan Tunggaraja bertanya kepada Jaya dengan wajah ketakutan.


"Tak akan ada yang datang dan merusak alam ini lagi, saya yakin akan hal itu."

__ADS_1


"Apa tuan Tetua bisa memastikan itu?."


Jaya diam saja, karena jujur dia tak bisa untuk memastikan nya.


"Bagaimana jika tuan Tetua tinggal di istana beberapa saat, atau sesuka tetua, untuk memastikan itu?."


"Maksud Yang Mulia?." tanya Jaya menatap sang raja.


"Tuan Tetua bisa menikah dengan putriku, kalian bisa tinggal disini sesuka hati."


Kumala dan Pelangi langsung menatap sang Prabu, meski ingin protes tapi itu tak mungkin, semua Jaya lah yang menentukan.


"Maaf Yang Mulia prabu, bukan saya menolak niat baik ini, tapi kami kelompok Awan Putih sudah memiliki rencana dalam beberapa purnama ke depan."


"Jadi kami tak bisa meninggalkan markas kami dalam waktu yang lama." Jaya berkata sambil menatap sang prabu dan tersenyum sopan.


" Jadi Tuan menolak putriku yang cantik itu?."


"Bukan Menolak Yang Mulia, tapi mungkin belum berjodoh saja," kata Jaya lagi, membuat Kumala dan Pelangi sedikit tersenyum.


**


Di istana Kekaisaran Dewa, sang Kaisar Dewa terlihat sangat masygul.


Kematian dua dewa utusannya, jelas penyebab utamanya, hal itulah yang menjadikannya makin murka, dan gundah gulana.


"Mengapa setelah sekian tahun baru menampakkan diri?."


"Ada apa?, kenapa dia tidak langsung ke Alam ini?.''


Terlihat Dewa tersebut masih terdiam terpaku di tempatnya, nampak berpikir keras, dengan tindakan apa yang mesti di lakukan.


"Aku harus mencegahnya agar ia tak bisa kembali ke alam ini, karena jika itu terjadi pasti akan terjadi keguncangan. Dia akan kembali merusak tatanan di alam ini."


"Hmm, aku harus mengirimkan kelompok Dewa Pemusnah, meski itu berarti juga memusnahkan seluruh umat manusia."


Rasa marah dan dendam telah membutakan segalanya, bahkan tanpa memikirkan akan akibatnya sang Kaisar Dewa berencana mengirimkan pasukan Dewa Pemusnah, sebuah pasukan khusus dari istana Kaisar Dewa yang bertugas menghadapi lawan lawan berat.


Sebenarnya untuk mendapatkan ijin menugaskan pasukan ini perlu persetujuan dari Dewan Agung Dewa, sebuah perkumpulan yang terdiri dari para Dewa senior yang di ketuai oleh Dewa Kebijaksanaan.


Namun bagi Kaisar Dewa, masalah ijin penugasan Dewa Pemusnah adalah hal mudah, dia bisa menggunakan trik trik khususnya, sehingga memudahkan pasukan yang terkenal hebat itu mampu mengemban misinya


**


Prabu Jalilan Tunggaraja nampak kecewa dengan penolakan Jaya, bukan hanya sang prabu yang kecewa, bahkan sang putri Kencono Wungu yang semula ada di pasewakan agung tersebut langsung pamit undur diri, rasanya sangat kecewa di tolak pria yang langsung bisa membuatnya jatuh hati di pertemuan pertama.


Gadis itu meninggalkan pasewakan agung dengan perasaan hancur berkeping keping, merasa tak di inginkan.

__ADS_1


Tapi sang Prabu tak bisa apa apa, mau mengancam dengan kekuatan prajuritnya seperti yang biasa mereka lakukan, tak mungkin, bisa bisa kerajaan MulyaBhumi tak terbentuk lagi di hancurkan sang Tetua Awan Putih.


"Apa yang mesti kami lakukan jika ada serangan lagi tuan Tetua?."


Jaya menatap raja MulyaBhumi, berpikir sejenak, bukankah para dewa itu hanya mencarinya sebenarnya?, jadi tak akan terjadi apapun dengan orang lain bukan?


"Saya yakin mereka tak akan kesini, kecuali mau mencariku."


Entah mengapa mendengar jawaban Jaya, raja itu sedikit lega.


**


Karena pesta Panen Bumi tak jadi dilangsungkan sebab sarana dan prasarana telah hancur, maka Jaya dan rombongan memutuskan meninggalkan istana MulyaBhumi tersebut.


Tak enak rasanya lama lama di sana, apalagi semenjak dia menolak permintaan sang raja, membuat Jaya harus membawa rombongan segera pergi dari istana itu.


Dua kereta tersebut kini sudah berjalan beriringan dengan di ikuti puluhan kuda kuda, mereka meninggalkan kerajaan MulyaBhumi dengan aneka kisah yang kini sudah tersebar, kisah tentang kelompok Awan Putih yang tak tertandingi.


"Kakang menyesal menolak pinangan Raja itu?." tanya Kumala yang duduk berhadapan dengan Jaya.


"Kenapa Dinda bertanya seperti itu?." balas Jaya.


"Kami lihat dari tadi Kakang diam saja," kali ini Pelangi yang berkata, menatap ke arah Jaya.


Jaya tertawa melihat dua gadis di depannya, memang di dalam kereta itu posisi kursinya saling berhadap hadapan.


"Kalian salah, jika mengira Kakang memikirkan raja dan putrinya itu."


"Lantas apa yang Kakang pikirkan?." tanya Kumala, menelisik mencari kesungguhan dari wajah calon suaminya tersebut.


Jaya menarik nafasnya, menghembuskannya dengan cepat, "Kalian tahu siapa sesungguhnya yang membuat kekacauan di MulyaBhumi?." tanya Jaya.


Dua gadis itu menggeleng.


"Mereka adalah Dewa yang di utus pemimpinnya untuk mengawasi Kakang, bahkan mungkin ingin mencelakai Kakang."


"Dewa..?."


Jaya mengangguk dengan tegas, membuat dua gadis itu langsung lemas.


"Kakang masih penasaran apakah akan ada utusan lebih kuat lagi yang akan memburu Kakang?."


Mendengar itu dua gadis itu makin lemas sekujur badannya.


____________


Jejaknya.....

__ADS_1


__ADS_2