
Tetua Satu langsung maju menyerang Jaya dengan pukulan nya, suara gelombang seperti angin terdengar menderu, yang keluar dari gerakan tangan nya saat terayun memukul.
Karena kedua tangannya sudah sekuat baja, sang tetua tidak memakai senjata apapun untuk bertarung.
Wuuusss..!
Wuuussss...!
Pukulan yang sangat cepat dan kuat sudah menyasar badan Jaya.
Jaya sudah mengaktifkan Jurus Raga Abadi, melindungi tubuhnya untuk melayani tetua Tinju Baja bertarung, berkelit menghindari hantaman sang tetua itu.
"Hiaaaaa...!!!." Tetua Satu berteriak kembali menyerang.
Jaya memainkan jurus Manggar Pecah untuk meladeni serangan lawan nya.
Jarinya yang terbuka saat menghantam kan pukulan, mengeluarkan selarik sinar yang mampu meredam ganasnya jurus lawan.
Daaaarr...!! selarik sinar bertemu dengan hawa pukulan lawan terjadi ledakan.
Tetua satu mundur selangkah sebelum kembali meloncat menyerang menghantam dengan kekuatan yang lebih lagi.
Wuuussss...!!
BRAAAAKK..!!
Pukulan Tetua Satu menghantam Sebuah pohon besar yang ada di halaman tersebut saat Jaya berhasil menghindari pukulan itu, membuat pohon itu langsung hancur batangnya dan roboh seketika.
Memang hebat jurus Lengan Baja Membelah Jiwa yang di mainkan Tetua Satu tersebut.
Melihat lawannya nampak terus menghindar, Tetua Satu merasa jika Jaya takut beradu lengan dengannya.
"Pengecut ..!!," ledek Tertua Satu dengan pandangan merendahkan, "Coba saja kau berani beradu tenaga dengan ku..!!."
Jaya tersenyum miring balas mengejek lawannya, meloncat mundur memasang kuda kuda.
BADAI MATAHARI..!!
Teriak Jaya menghantamkan pukulannya, menyambut pukulan Tetua Satu yang sudah meloncat maju.
BLEGAAAART...!!
Ledakan keras terjadi saat dua kekuatan bertemu, meskipun Jaya hanya menggunakan setengah kekuatan nya "saat ini" untuk mengeluarkan Jurus Badai Matahari, namun itu sudah cukup membuat Tetua Satu melotot, dengan dada serasa terbakar, dan terlempar berguling gulingan cukup jauh.
Jaya hanya terpendam kakinya sebatas mata kaki.
"Aaarcchhh..!!."
Jeritan panjang terdengar kala Tetua Satu terlempar bergulingan...sebelum akhirnya pingsan.
Tetua Lima yang menyaksikan hal itu gemetaran, karena Tetua Satu yang terhebat di kelompok nya saja bisa di taklukan dengan demikian mudah.
Bukan hanya dari Tinju Baja yang terkejut, Sepasang Raja Pedang dan Mata Malaikat juga kagum dengan kekuatan Jaya Sanjaya yang sesungguhnya dan masih misterius...bagi semuanya.
**
Sebulan telah berlalu.
Sebuah kabar mengejutkan kembali terjadi di dunia persilatan.
Di temukan sebuah pusaka di salah wilayah Kerajaan Agung Jongka Lengkong yang ada di bagian Utara.
Di sinyalir pusaka tersebut juga termasuk rentetan pecahan Ndaru Kolocokro.
__ADS_1
"Berujut apakah pusaka itu paman..?." tanya Jaya kepada Narimo yang memberikan informasi nya.
"Belum ada yang tau Nakmas, hanya saja orang orang melihat sebuah cahaya yang selalu berpindah pindah di lokasi tersebut."
Jaya terdiam dan termenung sesaat, memikirkan pecahan kekuatannya yang lain yang pernah dimilikinya, tapi kini entah dimana.
"Apakah mungkin itu...?." batin Jaya dilema.
"Butuh berapa hari kita kesana paman..?."
Narimo terdiam sesaat, mungkin sedang berfikir dan menghitung.
"Sekitar satu bulan perjalanan Nakmas, belum termasuk saat pulangnya, itupun jika tak ada kendala dan gangguan selama di perjalanan," sahut Narimo Akhirnya.
Jaya gantian terdiam dan berfikir.
"Tapi jika aku mengejar kesana maka Janjiku menjemput Dinda Pelangi sudah terlampaui."
"Aku harus menjemput Dinda Pelangi sebelum mengejar pusaka itu," gumam gumam Jaya akhirnya memutuskan untuk menjemput Pelangi saja dulu sebelum memikirkan urusan yang lain, karena saat ini sudah memasuki bulan kelima dari enam bulan yang di janjikan nya.
Memikirkan gadis itu entah mengapa hatinya sedikit gelisah, ada rasa rindu yang kuat dan sulit di jabarkan.
Sudah lama semenjak ingatannya pulih dan menyadari siapa dirinya, tak pernah sedikitpun Jaya memikirkan wanita lain selain gadis tersebut tentu saja.
Padahal semasa di Alam Dewa keberadaan wanita ibarat makanan sehari hari, dengan kedudukannya saat itu selirnya ada dimana mana.
Belum lagi kekasih yang memiliki hubungan di belakang layar dengannya, yang membuat dirinya terlempar di alam antah berantah ini.
Semenjak kebangkitan nya kembali memang dirinya merasa berbeda, meskipun kini ingatannya sudah pulih kembali tapi tidak dengan kekuatannya, masih perlu perjuangan keras.
Dan kini dirinya lebih bisa menahan diri dengan masalah wanita, itu terbukti saat bertemu dengan wanita cantik( Ratu Dewi Mata Iblis) beberapa waktu lalu, dirinya tak tergoda sedikitpun.
"Kita kembali saja ke kerajaan Sirih Putih, aku ada keperluan di sana," sahut Jaya akhirnya, membuat Narimo sedikit kaget namun akhirnya mengangguk saja.
**
Baroto adalah Tetua Satu dari Tinju Baja yang kini menjadi anggota Awan Putih.
Semenjak kekalahannya saat bertarung dengan Jaya kini kelompok tersebut mengikrarkan diri menjadi bagian dari kelompok Awan Putih.
"Mungkin dua hari lagi paman, masih banyak hal yang akan aku persiapkan dulu," sahut Jaya kepada pria paruh baya itu.
Baroto kembali mengangguk seakan memikirkan sesuatu, "Bagaimana Jika aku ikut Nakmas, karena aku kira saudara Narimo pasti sibuk disini sebagai kelapa rumah tangga Awan Putih."
Jaya terdiam sesaat, memang benar perkataan Baroto, mungkin Narimo sibuk saat ini.
"Coba nanti aku tanyakan ke paman Narimo bagaimana baiknya, tapi jika paman Baroto berkenan ikut aku senang senang saja."
"Terimakasih Nakmas.." sahut Baroto merasa sangat senang mendapat kepercayaan mendampingi Pemimpin Awan Putih tersebut.
**
Pagi hari nampak tiga ekor kuda sudah di siapkan oleh orang orang Awan Putih.
Rencana hari itu Jaya dengan di dampingi oleh Baroto dan Narimo akan kembali ke Kerajaan Sirih Putih yang berada di bawah Naungan Kerajaan Agung Karang Pandan, tepatnya di sisi selatan Kerajaan Agung tersebut.
Narimo yang beberapa waktu lalu di perkirakan sibuk mengatur segala keperluan kelompok Awan Putih memaksa ingin tetap mendampingi Jaya Sanjaya.
"Tak ada pekerjaan yang lebih penting bagiku selain mendampingi Nakmas Bendoro di manapun berada," begitu jawaban Narimo yang di sampaikan kepada Jaya Sanjaya, sehingga Jaya tak bisa menghalangi niatnya.
Setelah berpamitan ketiganya memacu kuda meninggalkan markas Awan Putih yang mulai terlihat beberapa bangunannya kini.
Menembus lebatnya belantara ke-tiga nya nampak berkuda dengan kecepatan biasa menuju arah selatan.
__ADS_1
Sepanjang jalan mereka kadang berpasangan dengan beberapa pendekar lain yang bergerak ke Utara.
"Kenapa mereka pada bergerak ke arah Utara paman..?."
"Nakmas lupa berita tentang pusaka di Jongka Lengkong..?, mungkin saja mereka ini mau ke sana, ke kerajaan Agung yang ada di Utara itu." sahut Baroto membuat Jaya teringat akan berita itu.
"Nampaknya benar demikian paman."
Ketiga orang itu kembali meneruskan perjalanan, sembari berkuda mereka bercakap hingga bertemu dengan pasukan yang terlihat dari sebuah kerajaan tertentu di lihat atribut dan seragam nya.
Rombongan yang terdiri dari Lima ratusan orang itu tengah beristirahat di bawah rindangnya pepohonan.
Nampak seorang Senopati tengah di layani oleh para anggota pasukannya dengan duduk di sebuah kereta kuda.
Jaya yang juga beristirahat di sana masih duduk sedikit jauh di seberang yang lain, menikmati makanan bersama Narimo dan Baroto.
Tampak Senopati tersebut menatap ke arah ketiga orang yang duduk jauh di seberang dengan tatapan tajam, entah apa yang ada di pikiran nya.
Seorang prajurit lalu menghampiri ketiga orang tersebut.
"Kisanak bertiga...aku minta jangan ada disini..!.," hardik sang prajurit itu.
"Apa maksud mu..!," sahut Baroto dengan nada tinggi, tak senang dengan cara prajurit itu berkata.
"Kamu tak lihat Senopati agung masih istirahat di sana," sahut prajurit itu sambil menunjuk ke arah peristirahatan sang Senopati.
"Terus apa hubungannya dengan kami..?." kali ini Jaya yang menjawab.
"Senopati tak berkenan, beliau menjadi tak nafsu makan."
Memang jaman edan, saat itu seorang yang merasa memiliki derajat tinggi akan bertindak sewenang wenang, bertindak semaunya, apa yang di suka di ambil dan apa yang tak suka di singkirkan.
"Memangnya dia Senopati darimana..?," tanya Jaya Sanjaya menjadi tertarik dengan sosok sombong di seberang.
"Gila kamu masak tak mengenali Senopati Jagal Birowo, Senopati perang dari Kerajaan Agung Pati Sruni yang terkenal gagah berani.." sahut sang prajurit.
Baroto yang menyadari itu sedikit terkejut, dia yang tau nama besar sang Senopati menjadi mencelos hatinya.
"Kita pergi dari sini saja Nakmas, jangan berurusan dengan mereka," sahutnya.
Namun Jaya yang malah penasaran makin tertarik menatap sang Senopati apalagi ketika melihat sebuah lempengan besi yang ada di kedua lengan sang Senopati.
Lempengan berupa pelindung lengan yang melingkupi kedua lengan Senopati itu terlihat berpendar, itu menandakan sebuah senjata pusaka yang mungkin setingkat Senjata Langit atau bahkan di tingkat senjata Dewa (Tingkatan senjata di chapter Awal Mula)
"Paman berdua pergilah dulu, aku masih penasaran dengan mereka, tunggu aku di ujung bukit," kata Jaya Sanjaya kepada kedua orang tersebut.
"Tapi Nakmas..?," Narimo nampak sedikit ragu.
"Percayalah padaku..," sahut Jaya karena tak ingin keduanya terkena imbas nya, "Pergilah dulu tunggu aku di ujung bukit."
Meskipun berat keduanya meninggalkan Jaya yang masih di sana, membuat prajurit yang menghardik tadi terlihat heran.
"Kau tak ingin pergi juga..??," seru sang prajurit sambil menatap dua bawahan Jaya yang kini sudah menjauh.
"Memangnya apa yang ingin kau lakukan..?, jika aku tak pergi dari sini..?."
"AKU AKAN MENCINCANG MU..!," teriak sang Senopati dari jarak jauh menjawab perkataan Jaya.
Teriakan itu menggambarkan betapa tajam pendengaran sang Senopati.
__________
Jangan lupa tinggalkan jejak nya....
__ADS_1