Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Layon Pitu masih memburu


__ADS_3

Kegemparan terjadi di Jogonolo, pembunuhan terhadap penduduk yang tengah bersantai menjadi penyebabnya.


Prajurit istana bagian kemasyarakatan yang berwenang di bagian tersebut dan bertugas sebagai penyidik, dibuat kaget karena tak adanya bekas pertarungan disana, yang artinya korban di serang tanpa perlawanan.


"Hmm, aneh...tak biasanya ini terjadi, hanya pengecut yang melakukan seperti ini."


"Menyerang lawan tanpa persiapan."


Para penyidik itu mencoba mencari jejak jejak di tempat tersebut, mencoba menguak kelakuan siapa itu.


"Apakah ada warga yang kehilangan harta benda nya di sekitar sini.?." tanya salah satu prajurit penyidik.


"Tak ada," jawab penyidik yang lain sambil menggeleng.


"Aneh..apa ini perbuatan sisa anak buah Akar Jiwa?."


"Aku rasa bukan, melihat korban nya juga bukan orang orang persilatan, tak mungkin kelompok itu mengusiknya, jikapun masih ada sisa sisa anggota nya."


"Hmm, baiklah kita laporkan saja kejadian ini kepada istana."


"Ya.. sebaiknya begitu."


**


Pagi pagi sekali rombongan Jaya juga Saudagar Suryadi sudah kembali bergerak.


Melingkari gunung Pancawarna atau Pancarupa dengan jumlah yang besar tak semudah bebergian sendirian.


Rute memutar tersebut memang makin menyulitkan, tapi itulah yang lebih memungkinkan karena membawa gerobak pedati yang sarat muatan, meski muatannya juga berubah karena ada yang terjual saat ada pesta sesaat di Jogonolo.


"Bagaimana tidur kalian semalam,hmm?." tanya Jaya kepada dua gadis yang berkuda di sisi nya.


"Nyenyak kakang, sangat nyenyak apalagi tak dapat jatah berjaga membuat badanku sangat segar," sahut Pelangi tersenyum.


"He'em," Kumala juga mengangguk, "Rasanya pagi ini lebih kuat.''


Jaya tertawa kecil, "Karena kalian akan bertemu dengan orang tua, maka kalian makin semangat."


"Iya kali kakang," sahut keduanya hampir berbarengan.


Rombongan tersebut masih bergerak pelan membelah hutan Kebon Ijo yang terkenal luas dan memanjang.


"Waah...luas sekali hutan ini," Jaya berkata sambil menatap kedepan, saat itu posisi mereka berada di perbukitan sehingga bisa melihat jauhnya hutan tanpa terhalang apapun.


"Hingga sampai bukit sana, itu hutan masih sangat lebat Nakmas," sahut Sugara yang ada di dekatnya.


Bekas anggota Cemoro Sewu itu menunjuk sebuah bukit yang masih terlihat di kejauhan.


"Waah....apa mungkin kita sampai di Ngarsopuro malam nanti ya?'' gumam pelan Jaya.


"Kayaknya tak mungkin Nakmas melihat pergerakan kita sangat lambat begini."


"Paman benar, tapi tak apalah kita tak mengejar waktu, mau sampai kapanpun tak masalah."


"Benar Nakmas."


Rombongan tersebut makin bergerak maju, pelan tapi pasti membelah hutan yang luas dan sangat lebat tersebut.


**


Kelompok Layon Pitu masih berada di Kotaraja Jogonolo atau di sebut kota Banditan.

__ADS_1


Mencari berita yang sudah mulai di kantongi identitas buruannya.


"Hmm, jadi kelompok itu bernama Awan Putih..?."


"Rupanya kelompok baru, baru berada ditingkat pemula di Serikat Pendekar." lirih Rakumba sambil tersenyum meremehkan.


"Tapi aneh kelompok baru bisa mengalahkan Karsh, Sumantri dan Pyong Karund," monolognya dengan keheranan, sambil mulai bergerak ke Utara sesuai dengan hasil mengorek keterangan dari rakyat yang di temui nya.


Hasil pencarian terhadap buruannya mengarah ke arah Utara melewati kabupaten Jagalan, tujuh sosok itu langsung bergerak menuju ke sana.


Di sepanjang perjalanan tujuh sosok tersebut nampak menjadi pusat perhatian, selain pakaiannya yang terlihat aneh dan tertutup, juga tatapannya terlihat dingin sangat mengerikan.


Rakumba masih berkuda di depan, diikuti sosok sosok di belakang nya, mereka memacu kuda nya dengan sangat cepat berusaha menyusul kelompok yang di buru nya.


**


Pertengahan siang rombongan pedagang yang bergabung dengan Awan Putih tersebut masih berada di luasnya hutan Kebon Ijo.


Ternyata jalur yang jelek membuat rombongan tersebut makin tersendat.


"Aneh, ini jalur utama di lingkar barat, kenapa begitu buruk kondisi jalanan nya..?, tak seperti jalur lingkar timur?." keluh Saudagar Suryadi.


"Iya ini memang aneh, lihatlah saudagar... jalanan itu seakan malah dirusak permukaan nya," balas Sugara, menunjuk permukaan jalanan yang seakan malah di keruk di aduk aduk.


"Benar perkataan mu pendekar Sugara."


"Kita harus hati hati, mungkin ini ulah seseorang." sahut Jaya mengingatkan yang lain nya.


Dengan sedikit kesulitan rombongan tersebut melalui jalanan yang seakan dirusak tersebut.


Beberapa gerobak pedati susah payah melewati jalur tersebut, bahkan para pengawal harus menaruh beberapa kayu di rute jalan yang akan di lalui roda pedati untuk menghindari kemacetan.


Begitu rombongan tersebut sudah jauh masuk ke dalam jalur yang terlihat sangat buruk tersebut, dan tak mungkin mundur menghindar lagi tiba tiba terdengar suitan sahut menyahut.


Suuiiiiiiutttt.....!


Lalu muncul lah puluhan orang mendekati seratusan orang di ujung depan jalan, begitu juga di belakang jalur juga sama.


Mereka mengepung tempat itu dari dua arah.


"Hua..ha..ha...kita dapat tangkapan besar kali ini.." teriak salah satu orang tersebut, mungkin dia pemimpin pancoleng disana.


"Bukan hanya harta benda tapi kita juga bisa mendapatkan budak budak nantinya." seru orang yang lainnya.


Jaya maju ke depan, menatap sosok yang tadi berteriak kesenangan mendapatkan mangsa.


"Apa kau pimpinan rampok disini..!."


"Hua..ha..ha..tak salah, akulah ki Blirik memimpin disini, apakah kau ingin melakukan tawar menawar kepadaku..?."


"Tak bisa ...!, aku tak menerima penawaran apapun.!, semua harus menjadi milikku..!!." kata Ki Blirik dengan lugas.


"Hmm, apa kau yang merusak jalur ini juga?."


"Benar..anak buah ku yang melakukannya," sahutnya dengan senyuman licik di bibir nya.


"Bukankah ini wilayah Ngarsopuro?," kata Jaya sambil menoleh ke arah Narimo yang berada jauh di belakangnya.


"Benar Nakmas.." sahut Narimo.


"Apa urusannya dengan pihak istana, mereka lemah bahkan tak berani mengejar ku..!," sahut Ki Blirik dengan penuh arogan.

__ADS_1


Mendengar perkataan tetua penjahat, murka lah Jaya seketika, "Hei..dengar kalian para Pencoleng, perampok dan pengacau..!, aku akan mewakili pihak istana menangkap mu, dan menghukum kalian..!," bentak Jaya.


Suara Jaya yang menggelegar sesaat mengagetkan Ki Blirik, sebelum akhirnya dia tertawa kembali, "Ha.ha..ha..menghukum ku..!!." Ki Blirik meledek.


"Jika kalian berani....."


Belum selesai Ki Blirik berucap, Jaya sudah meloncat dari kudanya, terbang melesat dengan kecepatan yang tak di duga.


Plaaaak....!!


Bouuugh....!!


Sebuah tamparan di susul tendangan langsung mengenai Ki Blirik yang langsung terlempar.


"Aaauuuughh...!!."


Semua ternganga, tak hanya para penjahat tapi juga rombongan Jaya dan sang saudagar.


Setelah kembalinya zirah sayap Garuda, Jaya belum sama sekali pun menunjukkan kemampuan terbangnya, dan baru kali ini membaut semuanya tercengang.


Ki Blirik terlempar, badannya bergulingan hingga menabrak pepohonan.


"Aargh, keparat ..! serraaang...!!," teriaknya dari rerimbunan, namun Jaya yang masih melayang di udara membuat anak buah penjahat itu mematung, baik yang ada di depan jalan maupun belakang jalur.


"D..d.dewa..sseorang dewa..!," gumam anak buah penjahat tersebut dengan gemetaran.


Pelan tapi pasti jaya turun ke tanah, "Siapa berani melawan, coba buka mulut..!," ancam Jaya.


Ki Blirik yang sudah keluar dari rerimbunan dengan murka berlari mendekati anak buahnya.


"Guobloook...!, kenapa kalian tak menyerang nya..!!." teriaknya sambil menghunus goloknya, mencoba menghantam Jaya.


CLAAAAPP...!


Jaya melepaskan jurus Mata Dewa yang sangat jarang di gunakan nya.


Ki Blirik yang tak memperkirakan serangan tersebut langsung tertangkap gelombang sinar yang memancar dan membentuk lapisan tipis semacam gelembung dari mata Jaya.


Badannya langsung mematung dengan wajah pucat pasi terlihat jelas.


CPROOOOTT...!!


Sebuah pukulan Jaya langsung menghantam wajah Ki Blirik, membuat nya ambruk langsung pingsan.


Anak buah penjahat itu makin gemetaran, melihat pemandangan tersebut.


Selama ini kemampuan Ki Blirik sangatlah dominan diantara mereka, tak pernah ada yang menandinginya, namun kini hanya dengan dua kali gebrakan langsung tumbang.


Mereka melempar senjata, tanda menyerah, begitu juga dengan para penjahat yang di belakang yang sudah di kepung kelompok Awan Putih lainnya.


**


"Waah..jika seperti ini kita bisa cepat melewati jalanan yang sudah di rusak ini Kakang." kata Kumala.


"Dan kita cepat sampai di Ngarsopuro," sahut Pelangi.


"Ya..benar Dinda, mereka yang merusak jadi mereka pula yang harus mendorong dan memperlancar gerobak gerobak itu."


Tampak bekas para perampok sedang bekerja mengganjal, mendorong dan menarik pedati pedati yang selip dan terjebak di kemacetan.


Karena Jumlah orang yang banyak, membuat gerobak gerobak tersebut terasa sangat enteng saat di dorong, ditarik maupun di congkel dari kemacetan terperosok lumpur.

__ADS_1


__________


Jejaknya jangan lupa Kaka....


__ADS_2