
Begitu mendengar berita tersebut Respati segera menggerakkan rombongannya makin cepat ke markas Awan Putih.
"Percepat langkah kalian..!, kita harus segera sampai di Awan Putih." teriak Samijo menggerakkan anggota partai Pengemis Tongkat Hijau tersebut, sesuai instruksi Respati.
Begitu mendengar perintah dari pimpinannya tersebut, anehnya para pengemis yang semula terlihat lesu tersebut langsung sigap.
Terlihat betapa tertibnya kelompok tersebut, begitu ada perintah langsung mulai bergerak berlari, awalnya masih lambat namun lama lama makin cepat.
Wwwuuuuss...
Laaapp.... laaappp....
Anggota pengemis Tongkat Hijau itu berloncatan, saling berkejaran bergerak menuju markas Awan Putih.
"Sedikit lagi kita sampai..!," teriak Doso Kromo yang berada di barisan terdepan sambil menunjuk ke suatu arah.
Kelompok ratusan orang itu lalu makin menggenjot langkahnya, mendekat ke arah markas Awan Putih yang sudah mulai terlihat.
**
"Kami dari partai Pengemis Tongkat Hijau, mau masuk ke markas Awan Putih," Respati yang mendekati penjaga berkata.
Penjaga yang mengenali Respati langsung menjura, apalagi memang sudah ada instruksi dari pimpinan.
"Mari tuan.., Tetua Agung sudah menyiapkan tempat untuk kalian."
Salah satu penjaga itu lalu memandu ratusan orang tersebut menuju ke tempat yang sudah di sediakan.
Sedangkan Respati langsung mencari keberadaan Jaya meskipun saat itu hari sudah larut.
"Tunggu di sini tuan, saya panggilkan Tetua Agung terlebih dahulu."
"Ya..aku menunggu di kursi itu.." Respati menunjuk sebuah kursi yang dahulu dia duduki saat berkunjung di sana.
Anak buah Awan Putih lalu naik ke lantai tiga dimana kamar Jaya berada.
Jaya yang mendengar kedatangan Respati segera bergegas menemuinya.
"Tak ku kira kakek Respati secepat ini datangnya," sambut Jaya, " Bahkan Lebih cepat dari kelompok Gagak Hitam.
Respati tersenyum, mengangguk mendapat sambutan ramah dari Jaya Sanjaya.
"Ada sebuah berita yang sangat penting yang aku bawa, makanya aku dan kelompok ku bergegas kemari."
"Berita apakah itu..?." Jaya menautkan alisnya, Respati tak akan berbicara seperti itu jika memang tak benar benar penting.
Respati lalu menceritakan tentang pasukan dari wilayah Barat daya Karang Doplang tersebut.
Jaya sedikit kaget meski prabu Wiramerta pernah bercerita kepada nya tentang masalah tersebut.
"Secepat itukah mereka bertindak..?." Jaya masih kaget dengan kenekatan tersebut.
"Mungkin mereka memanfaatkan situasi yang saat ini sedang kacau," sahut Respati.
"Benar apa kata kakek, mereka memang memanfaatkan situasi saat ini, dimana perhatian seluruh orang ke Padang Selayang Pandang, mereka bertindak gila," kata Jaya, "Kurang ajaar...!!, kalau begitu orang orang ini..," Jaya mengepalkan tangannya dengan kesal.
__ADS_1
"Menurut kakek Respati kapan mereka akan sampai di Kotaraja..?."
"Mungkin fajar nanti mereka sudah tiba di sana..!."
Jaya mengangguk mendengar perkataan Raja Pengemis tentang perkiraan kedatangan pasukan itu di istana Karang Doplang.
Saat Jaya masih berbincang dengan Respati, salah satu anak buah Awan Putih melaporkan kedatangan kelompok Gagak Hitam.
"Baik, aku akan menyambutnya," sahut Jaya, seraya bangkit di ikuti oleh Respati.
Jaya berjalan keluar diiringi Raja Pengemis menyambut Prono Condro dan Lodaya serta anggota Gagak Hitam lainnya.
**
"Aku ikut...!," seru Prono Condro, begitu Jaya sudah duduk bertiga dengan sesepuh Gagak Hitam, serta Respati dan mengungkapkan niatnya menuju istana Karang Doplang.
"Aku Juga ikut..!," teriak Respati.
Sebenarnya Jaya bisa saja membawa dua orang sekaligus namun Jaya tak mau melakukan itu.
"Aku hanya butuh satu orang dan pilihanku jatuh kepada kakek Prono Condro..!," sahut Jaya menanggapi permintaan dua tokoh tersebut.
"Alasannya tentu kakek Respati tahu, karena kakek Prono Condro tak bisa di lukai..!." kembali Jaya berkata.
"Ha..ha...ha...kami akan menggila nanti..!," teriak Prono Condro kegirangan, setelah di pilih oleh Jaya.
Jaya memanggil para petinggi Awan Putih, mengungkapkan niatnya.
"Apa hanya Nakmas dan sesepuh Prono, berdua..?." tanya Koloireng dengan kurang senang.
Setelah sedikit bersitegang karena banyak yang ingin ikut, akhirnya Jaya tetap berangkat bersama Prono Condro.
**
Jaya melesat sangat cepat, hingga seperti mengeluarkan asap di bekas jalurnya.
Jika orang biasa akan terkelupas kulitnya mungkin, terbang dengan kecepatan sebegitu cepat karena membelah udara yang memadat.
Namun ini Prono Condro, tokoh Gagak Hitam yang di badannya ada Cacing darah Sarma Pala, sehingga badannya bisa pulih dan meregenerasi tubuhnya saat terluka maupun terpotong.
"Ha..ha...ha...lebih cepat lagi..!," teriaknya, seakan menantang Jaya untuk bergerak makin cepat.
Jaya kemudian makin melesat, lebih cepat hingga bisa melihat serombongan pasukan tengah bergerak, jauh di bawahnya.
"Hmm, beruntung mereka belum tiba di istana Karang Doplang," gumam Jaya.
Jaya langsung melesat dan mendarat di dalam halaman istana Karang Doplang, mengagetkan para pasukan penjaga tersebut.
"Aaah, s..ssiapa kalian...!?!?." teriak penjaga itu tergagap.
"Aku Jaya Sanjaya tetua Awan Putih..!," seru Jaya sambil mendekat, agar para penjaga mengenali nya.
"Aah..benar anda tuan Jaya," seru kepala penjaga tersebut, mengenali Jaya.
Jaya lalu menyampaikan perihal apa yang perlu di samapaikan, membuat para penjaga Pias wajahnya.
__ADS_1
Kepanikan langsung terjadi saat itu.
"Jangan panik, cepat sampaikan berita ini kepada pemimpin kalian..!," kata Jaya.
"Jangan takut ada kami berdua," seru Prono Condro, dengan tenang bahkan sambil senyum senyum.
**
"Sebentar lagi kita sampai gerbang istana Karang Doplang siapkan diri kalian...!!." teriak Saripan, mulai menyiapkan penyerangan.
Ki Branjangan juga sudah memerintahkan pasukan pemanah untuk bersiap membidik sasaran.
"Bersiap....!!," teriak para pemimpin para pemberontak tersebut.
Tanpa mereka sadari jika pasukan Karang Doplang juga tengah bersiap mengintai mereka, menjebak dalam jarak tembak pasukan panah dari para prajurit kerajaan tersebut.
Pasukan dari Adipati Sentono makin mendekat, di pimpin oleh Saripan dan Ki Branjangan, sedangkan sang Adipati berada di belakang pasukannya.
"Tembaaaakkan....!!," teriak ki Branjangan memerintahkan pasukannya menghujani lawan dengan anak panah.
Sriiing....
Zrriiiiing......
Ratusan anak panah terlepas ke udara, suaranya berdesingan bagai ratusan lebah raksasa.
Bukan dari anak buah saripan dan ki Branjangan, tapi ternyata anak panah itu dari pasukan istana Karang Doplang yang melepas serangan terlebih dahulu atas petunjuk Jaya Sanjaya.
Ratusan anak panah itu menghujani pasukan dari wilayah Barat daya tersebut.
"Aaah...kita ketahuan....!!," teriak ki Branjangan, " Pasang perisai..!!," teriaknya lagi memberikan aba aba agar perisai pelindung di pasangkan.
Sriiing...
ziiiiing...
Jleeeb....!
Jleeeebb...!!
Ratusan anak panah itu sebagian mendarat mengenai perisai yang di bentangkan, namun banyak juga yang mengenai sasaran yaitu badan para prajurit adipati Sentono tersebut.
"Aaacch..!.''
"Aaarrgh...!!."
Jerit kesakitan terdengar di malam menjelang pagi tersebut, suasana langsung terdengar heboh begitu serangan itu terjadi.
"Balaaas...!!," teriak Saripan begitu ada jeda sesaat.
Baginya sudah kepalang tanggung jika pertempuran itu di hentikan karena mundur.
___________
Jejaknya....
__ADS_1