
Semua orang di sebar dalam jarak tertentu, menyisir luasnya padang Selayang Pandang untuk mencari keberadaan Jaya apakah selamat atau terluka.
Malam kian larut, dengan hanya di terangi cahaya bulan yang kini malah lebih sering tertutup awan, membuat orang orang itu makin kesulitan untuk mencari keberadaan sang Tetua.
Obor telah di nyalakan untuk membantu penerangan, sebagian orang orang yang masih tersisa dari Api Suci atau pengguna element api membantu penerangan dengan membuat api dari senjata atau kayu yang di bakar.
"Terus kita sisir semua wilayah...!," teriak Randu Sembrani, "Sebelah sana jangan terlewat." sambil menunjuk ke suatu arah.
Semua kembali menyisir area padang tersebut hingga tengah malam sudah lewat.
"Bagaimana..?."
"Di sini tak ada tanda tanda apapun.."
"Bagaimana dengan di sana?."
"Sama ...di sini juga tak ada tanda tanda Tetua Agung."
Beberapa orang menggeleng dengan lesu, karena sejauh ini tak ada tanda tanda keberadaan Jaya Sanjaya.
Pelangi dan Kumala sudah seperti orang gila, berlari kesana kemari dengan wajah makin pias mencari keberadaan sang Kekasih, dengan berteriak teriak.
"Kakang Jaya...!!." Pelangi memecah suara suara malam yang di dominasi hewan pemakan daging dengan teriakannya.
"Kakang Jaya...!!," seru Kumala tak kalah keras karena di lambari tenaga dalam yang tinggi.
Semua kini terlihat lesu, tanda tanda keberadaan sang Tetua tak terlihat sedikit pun, padahal semua sudah di sisir dari tiap sudut tempat tersebut.
**
"Ingsun tak percaya ada manusia sekuat itu."
"Benar..!, sungguh tak kusangka di alam ini ada sosok yang sekuat itu, mesti jika di banding kita tak ada apa apanya."
"Heeh, jangan meremehkan..!, kita belum mencoba bertarung dengan mereka, bisa jadi mereka imbang jika kita bertarung dengannya."
Terlihat ketiga pengintai yang masih bersembunyi dan menatap di balik awan saling berbantah bantahan.
"Apa perlu kita lapor kepada Kaisar sekarang?."
"Jangan...!, kita lihat saja akhir dari pertarungan ini, kira kira siapa yang bakal memenangkannya, baru kita ambil tindakan."
Dua sosok pengintai mengangguk, mendengar perkataan salah satu rekannya tersebut, mereka kembali mengawasi pertarungan yang tengah terjadi di puncak gungung itu.
Gelapnya malam tak mengurangi ketajaman indra penglihatan ketiga sosok pengintai tersebut, dengan jarak pandang yang sangat jauh namun mereka mampu melihatnya dengan jelas.
**
"KEPA-RAAAT...!!."
"Kau memang tak bisa di biarkan hidup..!." sentak Iblis Wora, begitu melihat Jaya menghabisi Dwarakolo di depan mata dua iblis tersebut.
"Aku bantai kau....!," teriak Iblis Wari, yang berdiri di samping kembarannya.
__ADS_1
Dua iblis itu kembali memutar pedang panjangnya, senjata lengkung itu bergerak dan menimbulkan suara deru yang cukup kuat.
Kini dua iblis itu berpencar, mereka akan menyerang dari dua arah yang berbeda.
"HIAAA.....!."
"YEAAA...!!.''
Dua iblis melesat bersamaan, menebaskan senjata nya dengan arah yang berbeda, iblis Wora menyasar bagian kepala dan Iblis Wari menyerang bagian bawah.
Deru serangan yang terasa kuat menerjang ke arah Jaya.
Dengan sedikit meloncat, lalu memutar badanya di udara Jaya menghindari dua tebasan.
SRIIING...!
SRIIING....!!
Tebasan kuat itu lewat, hanya menebas angin saja, namun hawa serangan yang mampu merobek kulit masih menguar mengejar Jaya yang berniat menghindar.
BLAAARRR...!
Jaya menepis serangan itu dan terdengar ledakan.
Dua Iblis masih mengejar Jaya dengan serangan serangannya, sedangkan Jaya menghindar sesekali menyerang balik sang lawan.
Tak adanya mahkota Dewa kyai Rojo molo membuat kekuatan Jaya cukup jauh jika di bandingkan dengan kekuatan sesungguhnya.
Sambaran serangan yang di lakukan berturut turut tersebut cukup merepotkan Jaya, bagaimanapun Iblis Wora dan Iblis Wari adalah pasukan khusus Iblis yang bahkan tak takut dengan Dewa, terbukti saat itu mereka berani menggempur alam Dewa.
TRAAANG...!!
Jaya menangkis sabetan pedang Wora, dengan sedikit menekuk kakinya menghindari tebasan iblis Wari.
Wwuuuss...!
Sambaran pedang lawan lewat tanpa sebuah hasil.
Jaya memutar badanya, menepis tebasan pedang Wora kembali, lalu berjumpalitan mendekati Iblis Wari yang tengah bergerak mengejarnya.
"Terima ini...!!." seru Jaya meloncat ke arah iblis Wari, menusukkan tombaknya tepat di badan lawannya.
SRIIING...
JLEEEBBB...!
"Heeehhkk.." Iblis tersebut mengeluarkan suara tertahan, saat ujung tombak Jaya menembus perutnya hingga tembus sampai di punggung.
Sreeett....!!
Jaya lalu mencabut senjata tersebut, membuat sang Iblis melototkan matanya kesakitan, lalu terhuyung dan tumbang.
Tapi itu hanya sesaat saja, setelah tumbang hanya dalam hitungan beberapa tegukan air, iblis Wari kembali pulih dan bangkit lalu menyerang.
__ADS_1
"Kau pikir mudah mengalahkanku..??.'' kata sang Iblis Jumawa.
Ya, meskipun kyai Seto Ludiro sudah menembusnya namun iblis tersebut mampu me-regenerasi tubuhnya kembali, seharusnya iblis tersebut hanya mampu di matikan jika tusukan Jaya tepat di jantungnya, namun dua Iblis tersebut sudah mengantisipasi serangan semacam itu ( serangan ke Jantung) dengan melapisi dada mereka dengan sebuah zirah yang sangat kuat dan tak mudah di tembus bahkan oleh pusaka sekelas kyai Seto Ludiro.
Zirah itu hanya menutup dada terutama jantung, sedangkan perut masih terbuka.
"Jangan jumawa dulu, ada banyak cara agar aku bisa membunuhmu.!," balas Jaya kembali, lalu mempercepat gerakannya.
Tombaknya berputar putar, membuat sebuah jurus yang tak mudah di pahami dan diduga arahnya oleh lawan.
"HIAAAA...!!."
Jaya melesat maju, menggebrak lawan dengan serangannya, sebuah serangan yang dahsyat dan membuat dua iblis kewalahan.
**
"Hu..hu..hu...Kakang Jaya...!," Pelangi tak mampu menahan tangisnya lagi, air matanya berderai di pipinya dan itu tak bisa di tahan lagi.
Kumala juga luruh di samping Pelangi, meski tak mengeluarkan suara tapi gadis itu juga meneteskan air mata.
"Kenapa Kakang meninggalkan kami?, padahal kita akan mengucap janji (menikah) setelah dari sini." ratap Pelangi sambil tersedu sedu, sambil memeluk Kumala yang juga meneteskan air mata.
Rencana memang mereka akan menikah tiga purnama setelah pertemuan Serikat Pendekar, tapi tak menyangka akan terjadi kekacauan besar ini.
Semua yang menatap menjadi iba kepada dua gadis tersebut.
Nyai Nilam sari mengelus dua gadis tersebut dengan lembut, " Jangan bersedih dahulu, aku yakin Jaya pasti selamat, kita belum menemukan raganya bukan?."
"Benar, tak akan mudah Nakmas Junjungan begitu saja kalah," sahut Sumanjaya penuh keyakinan.
"Apakah kau merasakan sesuatu saudaraku?." Koloireng bertanya kepada tokoh yang mempu menerawang tersebut (Sumanjaya: red).
"Aku tak bisa menerawang Nakmas Jaya tapi aku memiliki keyakinan jika dirinya masih ada."
Hanya sedikit perkataan Sumanjaya namun mampu menetramkan semua yang di sana.
**
Di atas puncak gunung Pancarupa atau Pancawarna masih berlangsung pertarungan yang seru.
Sabaran sambaran senjata mereka menimbukan suara gemuruh layaknya guruh halilintar, dan benturan pukulan tersebut seperti geledek dan petir yang menggelegar jika di dengar.
Tak di pungkiri jika dengan kekuatan Jaya saat ini, baru kali inilah Jaya bertarung dengan lawan terhebat yang di hadapinya.
Dua iblis yang tak mudah di matikan, serta memiliki kedigdayaan yang tinggi, berbeda dengan anggota Gagak Hitam, tak mudah mati tapi ilmu kanuragannya masih bisa di bilang lemah.
"Aku harus mencari kelemahan lawan, agar bisa menusuk jantung iblis itu, karena jika tak langsung menuju ke jantung, racun Dasalaksa tak akan berfungsi maksumal, tak akan mempan."
Berkali kali tombak Jaya menghujam di badan lawan namun hanya membuat iblis tersebut rubuh sesaat sebelum akhirnya bangkit kembali.
_________
Jejaknya.....
__ADS_1