Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Menegakkan Keadilan Kembali


__ADS_3

Sekelompok orang terlihat berbondong bondong mendatangi Kawedanan yang Bunaran pimpin.


Mereka adalah kelompok Jubah Perak dari bendera Kuning yang di pimpin Pario Jatri.


Berniat meminta upeti kepada sang pemimpin wilayah tersebut, yaitu Wedono Bunaran.


Rombongan itu sudah sampai di depan gerbang bangunan Kawedanan Bojang wilayah kekuasaan dari Wedono Bunaran.


"Sampaikan kepada pimpinanmu..!, kami dari Jubah Perak sudah tiba..'' seru Pario Jatri kepada penjaga gerbang Kawedanan Bojang.


"B.baik..t.tuan akan kami sampaikan.." terlihat para penjaga tergagap dan gemetaran.


Wedono Bunaran yang tengah berbincang dengan Jaya sedikit kaget dengan kedatangan prajuritnya, "Ada apa? apakah kau tidak tahu aku sedang menerima tamu?."


"Ampun tuan Wedono, di luar gerbang ada utusan Jubah Perak dari bendera kuning."


Wedono Bunaran terkesiap sesaat wajahnya langsung pucat pasi.


"Ada apa?." Jaya bertanya, melihat perubahan raut wajah sang Wedono.


"Ada utusan Jubah Perak tuan." Wedono Bunaran berkata kepada Jaya, memberitahukan apa yang di takutkannya.


**


"Jika pemimpin kalian tak segera keluar akan aku obrak abrik bangunan Kawedanan ini..!." Pario Jatri berkata dengan penuh ancaman, pasalnya Wedono Bunaran tak segera keluar.


"A...a.ampun tuan, mohon bersabar, siapa tahu tuan Wedono sedang menyiapkan sesuatu untuk panjenengan." prajurit penjaga mencoba menahan dan meredam kemarahan Pario Jatri.


"Semoga apa yang kalian katakan ada benarnya, Wedono itu tengah menyiapkan upetinya untuk di persembahkan kepada Jubah Perak melalui ku.''


Sementara itu di dalam ruangan Wedono Bunaran tengah kebingungan, dirinya meminta ijin kepada Jaya untuk berunding dengan Lurah prajurit di ruang lain dan meninggalkan Jaya di ruang tamu seperti semula.


"Bagaimana ki Lurah?, apakah kita harus menyerahkan harta benda kita kepada mereka?"


"Ampun tuan Wedono, jika kita serahkan upeti kepada Jubah Perak berarti tiap saat mereka akan meminta lagi..dan lagi.."


"Benar apa katamu, tapi saat ini mereka sangat kuat, kita tak mungkin melawan dan menghadapi nya kecuali ada bantuan dari istana Bhumi Cempaka," kata Wedono Bunaran sambil memijat pelipisnya.


Mereka berunding cukup lama tanpa mereka sadari, meninggalkan Jaya sebagai tamu di ruangan tamu sendirian, juga melupakan anggota Jubah Perak yang mulai tak sabaran di gerbang depan.


"Bagaimana jika meminta bantuan tuan pendekar?." kata Lurah prajurit sambil memberikan isyarat keberadaan Jaya.


"Bantuan bagaimana? dia hanya seorang diri, sedangkan Jubah Perak sangat banyak anggotanya."


"Ampun tuan Wedono, meski hanya seorang diri, tuan pendekar itu sangatlah hebat." kembali Lurah prajurit berkata memberikan pendapatnya.


Wedono Bunaran menarik nafasnya dalam dalam, sesak dirasakannya dengan beban berat yang menghimpit seiring dia bernafas.


"Yang penting kita utarakan dulu, bahwa kita bermaksud meminta pertolongan kepada pendekar tersebut." lurah prajurit itu masih saja mengutarakan pendapatnya.


"Baiklah, bantu aku meminta pertolongan kepada pendekar muda itu."


**


Markas Awan Putih, masih terus merasa ''berkabung'' dengan belum kembalinya sang Tetua Agung.

__ADS_1


Meski demikian, kelompok tersebut tetap menjalankan perannya di pemerintahan dan dunia persilatan, yakni sebagai pembasmi kejahatan dan penegak keadilan.


"Beberapa hari yang lalu ada utusan dari kelompok kecil yang ada wilayah tenggara, mereka meminta kita agar membantunya." Sumanjaya berkata memberitahukan apa yang kemarin mereka hadapi.


"Apakah mereka dari perguruan Tiga Batu Jajar?." sahut Pelangi, menatap sang Penasehat, kakek Sumanjaya.


"Benar Nimas Pelangi, mereka meminta agar kita membantu mereka menghadapi tekanan dari Bayangan Kegelapan."


"Memangnya apa yang terjadi kakek?." Kumala mencoba mencari tahu duduk permasalahannya.


"Bayangan Kegelapan selalu mencari perkara terhadap kelompok kecil, untuk di paksa menjadi bawahannya yang selanjutnya akan di peras sumber daya nya."


"Mereka akan di acam jika saja tak menuruti apa yang di mauinya."


"Jika kita tak menolong mereka maka aku yakin perguruan tersebut akan di hancurkan." Sumanjaya berkata menerangkan duduk persoalannya seperti yang di ceritakan oleh orang orang Tiga Batu Jajar.


"Hmm, aku dengar Bayangan Kegelapan memang selalu melakukan pekerjaan tersebut." Jayeng Rono berkata, setelah tadi berbincang dengan si Raja Pengemis Tongkat Hijau Respati.


"Bagaimana menurut Nimas berdua?." Empu Cipta Guna bertanya kepada dua gadis yang menjadi perwakilan Tetua Agung Jaya Sanjaya.


"Aku minta pendapat para Sesepuh, karena saat ini kalianlah pelindung Awan Putih, selain kami dan paman paman( Baroto, Pitu Geni, Sugara)."


"Kita akan bantu, jika memang duduk persoalannya seperti itu." Koloireng berkata, "Bagaimana dengan mu Respati?.''


"Ya kita bantu, karena dengan membantu artinya juga mengurangi kekuatan kelompok Bayangan Kegelapan berarti juga mengurangi kekuatan kejahatan."


"Baik, besok kita kirim pasukan kesana." Kumala memutuskan setelah menatap Pelangi dan mendapat anggukan.


**


"Satu...!."


"Dua...!!."


Sang Tetua pemimpin bendera Kuning tersebut mulai menghitung, sedangkan pasukan Jubah Perak dalam naungan bendera Kuning yang di bawanya mulai memegang gagang senjatanya, siap menyerang jika di perintahkan.


"Delapaaan...!!." teriak Pario Jatri makin kencang suaranya.


"Semb..."


"Tahaaan..!!.'' Jaya meloncat keluar dari bangunan pendopo Kawedanan tersebut, menahan hitungan dari Pario Jatri.


"Mana Wedono Bunaran?, kenapa dia tak keluar? dan malah menyuruh bocah ingusan mendatangiku..?.''


"Aku bukan bocah ingusan, tapi aku sekarang bekerja sebagai kepala keamanan di sini..!." seru Jaya, berdiri gagah sambil bersidekap di depan orang orang Jubah Perak bendera Kuning.


Mendengar Jaya mengaku sebagai kepala keamanan, membuat Pario Jatri tertawa terbahak bahak.


"Jangan mengigau kau bocah..!, kau pikir pemuda bau kencur sepertimu membuatku takut?."


"Cepat serahkan upeti yang kami minta beberapa saat lalu...!.'' Tokoh dari Jubah Perak tersebut membentak Jaya dengan keras.


Jaya tak menjawab, hanya diam sambil bersidekap dan menatap seratusan orang tersebut dengan tajam.


ParioJatri makin meradang melihat reaksi yang Jaya berikan.

__ADS_1


"Hajaaar....!." teriaknya.


"Ciaaat...!.''


"Hiaaaa...!!.''


Puluhan orang langsung menghambur menyerang Jaya dengan senjata masing masing.


Sabetan pedang dan tebasan senjata berseliweran di badan Jaya, namun dengan mudah pemuda tersebut menghindarinya, bahkan ujung bajunya pun tak tersentuh oleh serangan yang bertubi tubi tersebut.


Pario Jatri yang bersenjata sebuah pedang langsung meloncat begitu anak buahnya tak mampu mengenai badan lawannya.


"Mati kau...!," teriaknya menebaskan senjata pedangnya.


TRAAANG...!


Jaya menepis serangan tersebut dengan pedang Angin Puyuh, membuat tokoh Jubah Perak itu terdorong dan terlempar.


"Setan alas..!," maki Pario Jatri begitu merasakan lengannya bergetar kesemutan.


Plaak...!


Baouugh...!!


Jaya menghajar anak buah Jubah Perak yang menyerangnya, menghantam dan menendang para anak buah.


Bruukk...!


Bruuuukkk...!!


Para penyerang itu langsung bertumbangan setelah sekali hantam oleh Jaya.


Semua prajurit Kawedanan terbelalak, tak percaya apa yang di lihatnya, puluhan orang langsung tumbang begitu terhantam serangan Jaya.


Pario Jatri kembali melesat melakukan serangan, sabetan pedangnya menyambar ke arah badan Jaya dengan sekuat tenaga.


Wuusss...


Jaya hanya menggeser badannya sedikit, lalu dengan sangat cepat menampar wajah pria paruh baya tersebut.


Plaaakkk...!!


"Aaauuww...!." jeritan terdengar saat Jaya menggampar wajah tersebut.


Pario Jatri terhuyung badannya, pandangannya nanar seketika terkena tamparan lawan, kesadarannya seperti tersengat dan langsung pulih seketika bahwa lawannya bukan tandingannya


"Ayo tinggalkan tempat ini...!," teriaknya kepada anak buahnya, sambil terseok Pario Jatri melangkah pergi.


Di atas awan tiga sosok, langsung terjengit kaget merasakan aura yang selama ini di cari kini terasa kembali kehadiranya.


"Aura ini...!." seru ketiganya saling pandang.


___________


Jejaknya....

__ADS_1


__ADS_2