
Pagi hari menjelang malam purnama, semua kelompok terlihat sudah berada di padang Selayang Pandang, termasuk juga para Pasukan khusus dari lima Kerajaan Agung seperti Jrabang Geni dari negeri timur, Kelabang Merah dari Barat, pasukan CAKRA dari Utara serta pasukan Ombak Banyu dari selatan.
Sedangkan dari negri Tengah Karang Kadempel mengirimkan pasukan Garda Rajanya yang bernama Kolo Bendono.
Terlihat juga hampir semua pendekar itu mempersiapkan diri bersama kelompoknya masing masing.
Mereka tengah bersiap menyambut acara puncak malam nanti, di mana nanti malam akan di adakan pemilihan pemimpin Serikat Pendekar bagi jagat persilatan itu.
Sebelum acara puncak itu berlangsung, siang ini akan di lakukan pertemuan terlebih dahulu, yang diikuti para Tetua Agung dan beberapa orang kepercayaannya.
Orang kepercayaan itu bisa sesepuh atau para tetua yang menjadi tangan kanan tetua Agung tersebut.
Dan dalam satu kelompok di batasi maksimal hanya sepuluh orang yang mendampingi sang Tetua Agung kelompoknya untuk menghadiri acara siang itu.
**
Meski matahari sudah naik sepenggalah, dan panasnya mulai sedikit menyengat, namun di tengah tengah padang Selayang Pandang terlihat ratusan orang dari berbagai kelompok membentuk lingkaran tengah merundingkan sesuatu.
Mereka adalah para Tetua dan beberapa orang kepercayaannya, yang tengah mengikuti pertemuan sebelum malam purnama.
Tampak di depan sudah duduk di kursi yang tersedia, Pemimpin dari Serikat Pendekar yaitu dua Iblis dari Jiwa Abadi, sosok yang memakai jubah dan penutup kepala, hingga semua orang tak bisa melihat wujut aslinya, di belakangnya ada orang orang kepercayaannya.
Sedikit terpisah di samping kursi sang Pemimpin Serikat Pendekar, duduk Lima anggota Dewan Agung dari Serikat Pendekar tersebut, yang di wakili oleh para Tetua Agung dan beberapa orang kepercayaannya juga.
Kelima Dewan Agung itu adalah kelompok Api Suci, Partai Es Abadi, Naga Hijau dari wilayah Barat, serta dua kelompok dari Negeri utara yaitu Kuda Terbang dan kelompok Bumi Langit.
Dari Api Suci, duduk di kursi itu ada sang Dewa Api Nambi Tosa, di belakangnya ada Moncong Putih dan Raja Api dari Utara, serta para tetua Ring Lingkaran dari kelompok Api Suci tersebut.
Sang Dewa Api tampak gagah dengan pakaian kebesarannya yang berwarna merah menyala dengan sedikit warna kuning membentuk corakan Api yang membakar.
Di belakangnya para anggota kelompok tersebut juga mayoritas memakai pakaian warna merah dan kuning, membuat yang melihat makin merinding saja, karena pakaian mereka seperti api yang berkobar.
Sedikit bergeser ke samping dari kelompok Api Suci ada kelompok Naga Hijau dari negeri Barat.
Pemandangan yang sangat kontras dengan Api Suci yang berwarna merah dan kuning menyala, kelompok dari negeri barat ini rata rata menggunakan baju warna hijau dengan corakan sisik ular pada pakaiannya.
__ADS_1
Konon baju baju tersebut berasal dari kulit naga yang mampu meredam hawa kekuatan pukulan lawan, atau semacam zirah khusus.
Duduk di depan seorang pria yang bernama Joko Lodro dan bergelar Dewa Naga.
Di belakangnya ada si Cakar Naga dan Pendekar Pedang Naga serta para tetua Ring Lingkaran kelompok tersebut seperti tetua Kamarunto, tetua Kebo Maheso, Jero Pamungkas serta Bogananta dan Argo Jenar.
Di samping kelompok Naga Hijau ada kelompok Kuda Terbang
Kelompok yang terlihat berbeda dengan yang lainnya karena model pakaiannya tersebut duduk di tengah dari dua kelompok Dewan Agung lainnya.
Bayu Sastra duduk di kursi terdepan, sedikit di belakangnya ada dua sesepuh yang pernah menjadi legenda yang menggemparkan jagat persilatan kala itu.
Mereka adalah Bayu Geni dan Bayu Banyu, dua tokoh hebat dari kelompok tersebut karena mampu menguasai dua element kekuatan.
Di belakang dua tokoh hebat itu juga ada para tetua dari Kuda Terbang serta Tiga Bayangan Setan Tino, Lono dan Jino.
Kelompok dari Utara tersebut tengah memperhatikan para peserta pertemuan, yang kali ini di rasa jumlahnya meningkat berkali lipat.
Di sebelah Kuda Terbang ada kelompok Partai Es Abadi.
Kelompok yang di pimpin oleh Sukat Jaladri alias Dewa Es itu duduk dengan tenang di mimbar tersebut.
Setelah itu baru para tetua dari partai Es Abadi yang duduk sedikit di belakang.
Dan di ujung ada kelompok Bumi Langit sebagai kelompok terakhir dari Anggota Dewan Agung.
Kelompok yang memiliki kuasa mengendalikan element tanah itu terlihat duduk dengan gagahnya di sana.
Tetua Agung Antareja duduk dengan di dampingi eyang Wirabhumi, lalu di belakangnya para tetua dan orang kepercayaan yang lain.
Berdiri di depan seorang pria nampak menjadi pemandu acara pertemuan tersebut.
"Bagaimana? apakah tahun ini acuan pemilihannya masih sama dengan tahun tahun sebelumnya?." tanya pria tersebut sambil menatap kelompok Jiwa Abadi dan lima Dewan Agung.
Iblis Wora berdiri dari duduknya, sosoknya yang menjulang tinggi hingga satu setengah kali tinggi manusia normal itu menjadi perhatian bagi semuanya.
__ADS_1
"Untuk kali ini aku mengusulkan pemilihan Pemimpin Serikat Pendekar di wakili oleh Tetua agungnya dan orang orang pilihannya." kata Iblis Wora, jika tahun sebelumnya pertarungan hanya di wakilkan oleh Jagoannya saja kini akan di rubah jika usul sang Iblis di setujui.
"Jadi satu Kelompok di wakili sepuluh orang dan bertarung di tempat yang telah di sediakan," kata Iblis tersebut.
"Apakah itu tidak berbahaya?, sama saja seperti berperang dalam kelompok?,"sahut Joko Lodro sang Dewa Naga, Dewan Agung dari Naga Hijau.
"Benar, jika demikian akan susah kita mengontrol pertarungan ini, karena banyaknya pertarungan," Antareja sang Tetua Agung Bumi Langit menimpali.
Memang benar, situasi ini akan menyulitkan saat sudah terjadi pertarungan dan semua pihak sudah di kuasai emosi dan amarah akan susah menghentikannya
Masih terbayang pada pertemuan sepuluh tahun yang lalu, saat itu saja pemilihan yang di wakili satu jagoan kelompoknya terjadi pertarungan yang hampir memakan banyak korban karena dua kubu partai Es Abadi dab Api Suci ngeyel tak mau kalah hingga terjadi pertarungan dua kubu yang sangat mengerikan.
Pertarungan yang semula hanya di wakilkan satu Jagoannya, merembet kemana mana dan bukan dua kubu itu saja, hampir saja terjadi pertumpahan darah, untung saja bisa di hentikan kala itu.
"Kalian takut...?, huuh..!." kini Iblis Wari juga berdiri di samping saudaranya, mengeluarkan ejekan kepada kelompok Kuda Terbang dan kelompok Bumi Langit.
Dua pemimpin anggota Dewan Agung itu meradang, mendapatkan cibiran dari Tetua Agung Jiwa Abadi.
"Kami tak takut, hanya saja kasihan para korban nanti nya."
Sukat Jaladri berdiri, Tetua Agung dari partai Es Abadi itu berkata, "Apa batasannya?, maksudnya kapan pertarungan tersebut harus di hentikan?."
"Jika ada salah satu kelompok yang menyerah.." sahut Iblis Wora.
"Ini gilaa...!," teriak seorang pria dari arah peserta, dia adalah tetua dari kelompok kecil.
"Tak ada pendekar yang mau menyerah jika tak sekarat, dan jika pertarungan masal siapa yang akan melerai..?," serunya lagi.
Jaya menatap perdebatan itu, "Sepertinya ada yang akan mengadu domba disini Nakmas," kata pelan Koloireng.
"Benar apa kata sesepuh Koloireng," sahut Respati yang juga di samping Jaya.
Siang makin panas, sepanas perbincangan di tempat tersebut.
Ada banyak pro dan kontra dalam pengambilan keputusan usulan dari Jiwa Abadi, hingga harus di runding kan oleh para Dewan Agung dengan pengambilan suara terbanyak.
__ADS_1
____________
Jangan Lupa jejaknya....