
Kedua nya terlihat mulai meningkatkan serangan dan tenaganya.
"Heii...!, apakah kau si penyusup itu?." teriak Selo mulai curiga dengan kemampuan lawan, masih sambil melakukan serangan.
"Maksudnya?."
"Dewa pengecut yang bersembunyi di alam ini, dan membuat kerusakan?."
"Darimana kau bisa tahu dan menyimpulkan seperti itu..!," seru Jaya, menagkis pukulan yang mengarah ke dadanya.
PLAAKK..!!
"Tentu saja dari Yang Mulia Kaisar."
"Hmm, jadi begitu rupanya." seru Jaya dengan segera langsung bergerak cepat ketika ada celah dan menghantam dada Selo.
BLEEGAAARR...!
Selo menjerit, terlempar beberapa tombak dan berguling gilungan.
Sambi langsung menoleh melihat ke arah rekan nya tersebut, memastikan apa yang terjadi dengannya.
Matanya langsung membeliak kaget dengan apa yang di lihatnya, seorang pemuda tampak berdiri di area medan laga mereka, berarti yang sudah menghantam Selo adalah pemuda tersebut.
"Haah..!, jangan jangan itu Dewa Pengecut??."
Bahkan Wonosego yang semula terdiam dan hanya melihat saja langsung bergerak, mendekat.
Selo sudah kembali bangkit, meski Raga Abadinya banyak yang rontok.
"Dia si Pengecut...!," teriak Selo kepada Wonosego yang menghampiri, menuding ke arah Jaya.
Wonosego sedikit kaget mendapati kenyataan tersebut, namun kesadarannya langsung kembali, bagaimana bisa manusia biasa membuat Selo terlempar jika bukan Dewa.
Wonosego langsung mencabut tongkat pendek senjata andalannya, pasti akan sangat berbahaya untuk menghadapinya jika hanya tangan kosong belaka.
"Apakah Benar yang di katakan rekan ku?, jika kau Dewa Pemgecut yang melarikan diri ke alam ini?."
"Terserah kau mau berpendapat apa, bukan urusanku, tapi jika kau mengacau di alam ini, itu baru berurusan dengan ku."
"Cuiih..!, sombong kali kau..!, baru bisa memukul saja sudah belagu..!."
Jaya tak menjawab, malah memgeluarkan senjata yang hampir sama dengan lawannya, sebuah tongkat berwarna keemasan, tongkat Wesi Kuning.
"Baiklah kau sudah mengeluarkan senjatamu, berarti kau sudah siap, dan aku akan menyerang mu..!," teriak Wonosego yang memang berwatak ksatria.
Dia akan menyerang lawan yang seimbang dengannya, maksudnya dia bersenjata lawan pun harus bersenjata.
"Majulah..aku akan menghadapi seranganmu..!," seru Jaya, sambil mengayun ayunkan tongkat Wesi Kuning.
__ADS_1
Wonosego langsung menebaskan tongkat pendeknya menyerang ke arah Jaya.
Dengan sedikit merunduk Jaya menghindar, lalu balas menghantam lawan yang terbuka di sisi kanannya.
JDUAAARRT...
Pinggang sebelah kanan Dewa Wonosego langsung hancur terhantam tongkat Wesi Kuning, badannya terlempar menghantam bumi, membuat tanah lapang itu langsung tersibak akibat benturan dengan badan sang Dewa.
Meski badannya sekuat baja, namun terhantam tongkat Wesi Kuning senjata tingkat dewa, membuat badan Wonosego tak ayal hancur meski dalam sekejap pulih kembali.
"Aaargghh.." Wonosego berteriak kesakitan, namun perlahan tapi pasti raga nya pulih kembali.
**
"Kalian manusia fana..!, sungguh naif sekali berani melawanku..!," bentak Sambi, masih melawan ratusan orang hanya dengan tangan kosong.
Para prajurit sudah tak terhitung banyaknya yang menjadi korban, entah itu mati atau hanya pingsan dan terluka parah.
"Kau menjadi perusuh di tempat kami..!," seru salah satu panglima perang kerajaan MulyaBhumi.
"Sudah sepantasnya mati di sini..!," teriak pangeran Adiguna yang ikut menyerang di sana.
"Ya kau akan kami cincang di sini," sahut Ranuraga, salah satu pangeran dari kerajaan Sonokerto.
"Benar."Simo Lodaka dari Harimau Baja, Mahesa Ruwi dari Jala Setan dan Tohpati dari Naga Hitam berkata hampir berbarengan.
"Hua..ha..ha..!, ayo kalian berkumpul semua biar ingsun musnahkan sekalian." Sambi malah tertawa terbahak sambil menantang semua orang.
Meski semua sudah bergerak sangat cepat namun bagi Sambi itu bukan masalah.
Dengan lebih cepat Dewa itu mengelak, menepis dan menangkis semua serangan yang menghampirinya, seakan mempermainkannya.
"Hanya gerakan seperti ini kalian mau mencincang ku?? tak salah??" seru Sambi lalu memutar lengannya dan menghantam sang panglima perang kerajaan MulyaBhumi.
BLAARRT...!
Dada panglima itu terhantam oleh lengan Dewa Sambi, terdengar ledakan keras lalu tubuhnya terpental dengan jauh bergulingan, matanya melotot dan dari mulutnya keluar darah segar yang menandakan organ dalamnya hancur saat itu juga, lalu mati dengan mata terbeliak.
Semua tercekat mendapati kenyataan tersebut, rasa Jerih mulai menghampiri pikiran semua orang melihat kehebatan sang lawan.
"Ayo jangan hanya diam, serang kembali..!," teriak Tohpati, salah satu pemuda yang berasal dari Naga Hitam.
"Seraaang..!!," teriak yang lainnya seakan tak mau kalah.
Ranuraga meloncat menyabetkan senjatanya, begitu pula dengan Simo Lodaka menyerang dengan Cakar besinya.
Dari sisi yang lain Maheso Ruwi dari Jala Setan yang bersenjata semacam jaring yang bisa di tembakkan dari sebuah tongkat juga melesat menyerang, mencoba menangkap dan menjerat lawan sebelum di tusuk dengan pedangnya.
"Hiaaa..!!." teriak Mahesa Ruwi.
__ADS_1
Sambi hanya menggeser sedikit, tak mencona mengelak dengan benar, bahkan terkesan menangkap Jala lawan.
Sreeet..!!
Jala yang di tebar, di tangkapnya dengan tangan kosong padahal semua tahu jika Jala tersebut beracun, namun Sambi tak menggubris.
Sraaak...!!
BLEGAAART...!
Setelah menangkap Jala itu, Sambi menarik dan membetot nya hingga Maheso Ruwi si pemilik senjata tertarik badannya, lalu menghantamnya.
Suara ledakan keras terdengar, bukan hantaman Sambi ke badan Maheso Ruwi, meski sebenarnya pemuda dari Jala Setan itu terlempar di hantam Sambi hingga pingsan.
Rupanya suara ledakan dari pertarungan sebelah yang melemparkan rekannya Simo.
Begitu Maheso Ruwi terlempar dan pingsan para penyerang langsung berlarian menyelamatkan diri.
"Hua..ha..ha ..dasar pengecut semua...!."
Sambi menatap siapa pelaku yang mampu melemparkan rekannya.
"Hah...!, jangan jangan itu Dewa pengecut..!??"
Penyerang Sambi sudah bubar kocar kacir lari ketakutan, Dewa tersebut lalu bergerak ke arah Selo bertarung, di mana kini rekan lainnya yaitu Wonosego sedang adu serangan dengan sang Pemuda.
**
Kini tiga Dewa sudah mengurung Jaya, alun alun kerajaan MulyaBhumi menjadi saksi kehebatan dari Tetua Agung Awan Putih.
Pertempuran yang mampu merusak apapun terjadi di tanah lapang tersebut.
Para peserta yang tadi sempat meremehkan kehebatan Tetua Awan Putih, kini mengkerut tak ada suaranya, melihat dari kejauhan pertarungan yang dahsyat tak selayaknya manusia.
Gelombang gelombang pecahan hantaman yang menyebar hingga ke pinggiran cukup menyadarkan semua orang betapa hebatnya para petarung yang ada di tengah tanah lapang itu, terutama Jaya yang di keroyok tiga sosok.
"Ha.ha.ha..siapa di sini yang pengecut, sudah terlihat bukan?." ledek Jaya, membuat tiga Dewa utusan itu terbakar wajahnya.
"Tak usah malu karena kalian tak akan bertemu siapapun..!, lihatlah Raga Abadi kalian yang hanya tinggal beberapa lapis saja.!," seru Jaya menyadarkan ketiganya yang sibuk meladeni serangan lawannya.
Terlihat jelas aura ketiganya sudah mulai tak seperti semula, jika semula aura mereka biru tua, kini sudah mulai pudar mendekati biru dengan campuran putih, itu menandakan lapisan Raga Abadi sudah menipis.
Ketiganya langsung pucat menyadari itu, sudah berapa kali raga mereka hancur dan rusak tak terhitung, tau tau lapisan Raga Abadi itu sudah menipis.
"Jangan berharap kalian bisa lolos dariku, karena tak ada yang bisa lepas dari Dewa Cakra Tirta Sanjaya..!," teriak Jaya menyebut nama aslinya membuat tiga Dewa utusan itu langsung lemas seluruh persendiannya.
"Mati, kami benar benar mati hari ini."
____________
__ADS_1
Jejaknya.....