Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Pertemuan dua sosok bertopeng


__ADS_3

Tiga Bayangan Setan menatap pria bodoh di depannya.


"Bodoh..tolol..," ledek ke-tiga Bayangan Setan itu pelan, merasa mereka pintar sendiri.


Mereka menganggap apa yang di lakukan oleh sang pria bertopeng adalah sebuah kekonyolan, berani memamerkan pusaka yang ada di badannya dan kemungkinan di rebut oleh lawan sangatlah mungkin.


Ketiganya lalu melesat maju memburu ke arah Pencuri bertopeng, n4fsu memiliki benda pusaka sudah membutakan pikiran ketiga orang tersebut.


"Hiaaa...!"


Tiga Bayangan Setan langsung meloncat mendekat menghantamkan pukulannya masing masing, mencoba ingin menghajar sosok bertopeng itu agar bisa segera menguasai baju Zirah yang di pakai nya.


DUAAAR...!!


JDUAARRT...!!


BLEGAAAART..!!


Tiga kali hantaman sangat dahsyat bersarang di badan pencuri bertopeng membuat tubuh nya terlempar dan berguling gulingan.


"Aarch...!!."


Meskipun dirinya dilindungi oleh zirah yang hebat namun kuatnya hantaman tersebut membuatnya tetap saja sedikit kesakitan meski sebenarnya pukulan itu sudah terredam oleh zirah Tameng Jiwo.


Pencuri bertopeng masih terkapar, terbaring di rerumputan dengan matanya yang terpejam.


"Hua..ha..ha... akhirnya mati juga orang ini," seru Jino tertawa kesenangan, lalu bergerak mendekati sang lawan yang terkapar, di susul oleh Lono dan Tino.


"Ya kita akhirnya bisa memiliki pusaka tersebut," sahut Lono yang ikut mendekat dengan tak kalah girangnya.


"Benar," Tino pun berucap sambil berjalan makin merapat.


Kini ketiganya sudah mengerubungi sosok baju hitam dengan topeng tersebut, mereka berniat melepas zirah yang masih melekat dan terlihat sedikit dari balik baju yang di kenakan nya.


CLAAAAPP....


Begitu ketiganya mendekat dan menyentuh tubuh sosok bertopeng, Tiba-tiba mata sang lawan terbuka langsung memancarkan cahaya yang membentuk lapisan bulatan tipis mengurung ketiga Bayangan Setan.


Seketika badan ketiganya kaku, gerakannya melambat seperti slow motion, kesempatan tersebut tak di sia siakan oleh pencuri bertopeng untuk langsung menyambar zirah sayap Garuda, benda yang diikat kuat di badan Jino.


"Haaap kena kau...!!," teriaknya, dan secepat kilat pula pencuri bertopeng melesat lari membawa benda hasil curiannya tersebut, secepat nya meninggalkan tempat itu sebelum efek Mata Dewa hilang pengaruhnya.


**


Rombongan Jaya sudah sampai di gerbang kota Bukit Emas, kota yang sedikit lebih besar dari Lembah Emas.


Setelah melewati pemeriksaan yang panjang di gerbang kota dan mendapatkan ijin rombongan berkuda memasuki kota tersebut, pemeriksaan tadi terlihat lebih cermat dan teliti, alasan para penjaga mereka melakukan antisipasi jangan sampai kejadian kota Lembah Emas terulang di sana.


"Hari sudah sore sebaiknya kita mencari tempat istirahat," Jaya berkata kepada Narimo yang menjadi penunjuk jalan.


"Beres Nakmas," sahut Narimo dengan senyum di wajahnya, memacu kudanya melewati yang lain untuk berada di urutan paling depan.


"Paman..pakailah ini ," seru Kumala berniat mengangsurkan kepingan emas yang ada di kantong yang di bawanya, memberi kontribusi untuk perjalanan tersebut.

__ADS_1


Narimo menggeleng," Tidak den ayu, ini saja masih ada uang dari Nakmas Bendoro, masih cukup melimpah hingga kita balik nanti," serunya, menolak sambil menunjuk kantong yang ada di badannya. Jaya memang menyerahkan biaya perjalanan kepada Narimo sebagai kepala rumah tangga kelompok Awan Putih.


"Tapi ini ada uang banyak," sungut Kumala sedikit cemberut, niatnya ingin membantu di tolak Narimo.


"Simpan lah.., nanti Dinda gunakan jika ingin berbelanja untuk kebutuhan mu saja..," potong Jaya menenangkan Kumala.


Rombongan itu makin masuk ke kota Bukit Emas, yang kini mulai berganti pencahayaan dengan cahaya lampu lampu karena malam mulai menjelang.


Kota yang terlihat indah di malam hari tersebut, makin menawan dengan banyaknya lampu yang berpijar dan menghiasi nya.


"Di depan ada penginapan Nakmas, cuma belum tau ada warung makannya sekalian apa tidak," Narimo berseru dan menunjuk arah yang di maksud.


Sebuah bangunan dua lantai yang terlihat lebih besar dari bangunan lainnya.


"Hmm, Ayo kita kesana."


Rombongan itu memasuki penginapan di mana Narimo menunjuk tadi, namun sayang setelah masuk kesana ternyata hanya sebuah penginapan saja tanpa adanya warung makan.


"Maaf tuan tuan, memang peraturan dari penguasa tempat ini begini, di tempat ini sekarang seperti ini hukum nya, satu orang hanya di perbolehkan membuka satu usaha saja di bidang yang saling terkait, agar kita semua mendapatkan kesempatan berusaha di kota ini, istilahnya bagi bagi ruang usaha," sahut pemilik penginapan yang langsung menyambut tamu nya tersebut.


"Heh, benarkah ada peraturan begitu?"


"Benar tuan, biar semua ada lapangan pekerjaan," sahut pemilik penginapan sambil tersenyum mengangguk sopan.


"Terus dimana kami bisa mendapatkan makanan yang murah dan enak?"


"Bagaimana jika di tempat saudara jauh saya, Warung nya dekat dari sini tuan, hanya tinggal sedikit berbelok di ujung jalan sudah sampai." Pemilik penginapan itu berkata sambil menunjuk ke arah jalanan yang di maksudkan.


"Baiklah kami nanti akan kesana, sekarang kami pesan tiga kamar untuk menginap disini."


Pemilik penginapan tersenyum, mengangguk lalu memanggil para pekerja nya untuk menyiapkan kamar yang di pesan.


"Apakah tuan tuan mau menunggu di sini, atau mau mencari makanan sambil menunggu kamarnya siap di gunakan?" tanya pemilik penginapan memberikan penawaran.


''Kami akan mencari makan saja dulu."


"Baik ..silahkan tuan, nanti pas balik kesini semoga semua sudah siap di gunakan," sahut pemilik penginapan kembali.


**


"Bodoh..,!, dasar tolol aku..!, kenapa langsung main kabur aja, bukankah lebih tenang pikiran ku jika tiga orang itu aku babat terlebih dahulu tadi," racau pencuri bertopeng di sepanjang jalan pelarian nya, menyesali tindakan nya yang tak menghajar lawannya terlebih dahulu agar tak mengejarnya.


Pencuri bertopeng masih melesat dengan kecepatan tinggi meninggalkan tempat tersebut, meloncat dari satu pohon ke pohon yang lain.


Sepanjang perjalanan pencuri bertopeng yang berjuluk Mata Elang itu masih merutuki tindakan ceroboh nya, bukankah jika tadi langsung membabat mati lawan lawannya itu, kini dirinya tak perlu tergesa gesa kabur seperti ini?


"Dasar..! bodoh...!" teriaknya keras sambil meloncat kearah perbukitan yang lebih tinggi lagi.


Saat itu Mata Elang sudah tiba di sebuah bukit yang sedikit jarang pepohonan nya, sudah sangat jauh dari tempat nya tadi bertarung dengan Tiga Bayangan Setan.


Mata Elang menuju sebuah reruntuhan bebatuan yang sedikit menjulang, berniat untuk beristirahat di sana.


"Aah... akhirnya aku bisa bebas dari ketiga orang itu..," gumam Mata Elang dengan nafas sedikit tersengal.

__ADS_1


"Siapa bilang kau bebas..!."


Sebuah suara tiba tiba mengagetkan Mata Elang alias pencuri bertopeng yang masih duduk istirahat di sebuah batu.


**


Sementara itu Tiga Bayangan Setan yang berangsur angsur terbebas dari jurus Mata Dewa, masih ternganga tak percaya dengan apa yang barusan terjadi.


"Apa yang terjadi..?." kata Jino dengan mata terbelalak melihat buntalan pusaka di badannya kini telah ilang.


"Hah..iblis apa lawan kita tadi..??" sahut Lono masih menggigil dan pucat wajahnya jika mengingat tadi.


"Untung hanya pusaka itu yang di ambilnya, dan kita tak di lukainya," Tino berkata dengan wajah pucat menatap kedua saudara nya.


"Iya..kita sudah meremeh kan lawan kita tadi, tapi bersyukur saja kita masih hidup," Jino berkata memberi penghiburan untuk dirinya sendiri dan kedua saudara nya.


"Apa yang kalian rasakan tadi.?"


"Aku lihat dia bergerak sangat cepat, bahkan aku melihatnya di luar nalar gerakan manusia normal," sahu Lono mengemukakan pendapat nya, padahal bukan Mata Elang yang cepat gerakannya tapi Tiga Bayangan Setan yang terjebak Mata Dewa hingga gerakannya melambat.


"Ya sudah, kita lupakan saja masalah ini, sebaiknya kita tinggalkan tempat ini kembali ke markas kita," akhirnya Jino mengambil keputusan.


**


Mata Elang kaget dengan kemunculan sosok berbaju hijau dengan topeng yang terlihat aneh di depannya.


"S.siapa... k.kau..!," teriak pencuri bertopeng alias Mata Elang dengan suara bergetar menatap tajam lawannya.


"He.he..he.., tak perlu kau tau siapa aku, tapi aku ingin memiliki pusaka yang ada di tanganmu..!" seru sosok berbaju hijau dengan topeng aneh tanpa lubang mata tersebut.


Mata Elang sontak berdiri, menatap tajam lawannya.


"Jadi kau menguntit ku ingin merebut pusaka ini?," kata Pencuri bertopeng sambil mengangkat buntalan kain yang belum sempat di ikatkan di badannya.


"Benar, pusaka yang kau rebut dari tiga orang itu dengan jurus murahan mu, Mata Dewa," sahut orang berbaju hijau itu dengan meremehkan.


"Hah...jadi kau sudah lama mengikuti semua sepak terjangku..?"


"Begitulah .he..he.."


"Baiklah aku akan memusnahkan mu jika begitu, kau terlalu banyak tau semua rahasia hidupku..!," teriak Mata Elang, langsung mencabut pedangnya dan bergerak cepat menyerang lawan di depannya.


"Hiaaaa...!"


Mata Elang melesat menyabetkan pedang kearah lawannya.


Sriiing....!!


Mata Elang meloncat menebas kepala sosok bertopeng aneh.


Traaang....!!


____________

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak nya...


__ADS_2