
"Setaaan Alaaas..!, dasar para perusuh..!," hardik Tumenggung Yudoyono, menatap tajam ke arah Jaya dan rombongan yang masih berdiri karena lawannya anak buah Srigala Merah sudah habis di bantai.
Tumenggung beserta tiga Senopati nya bersama ratusan pasukan kini sudah berdiri mengepung Jaya dan kelompok nya.
"Katakan dari kelompok mana kalian berani berbuat onar di wilayah ini..?!" bentak salah satu dari Senopati yang bersama Tumenggung Yudoyono.
Belum juga Jaya dan kelompok nya menjawab pertanyaan dan umpatan serta tuduhan orang orang itu, Senopati yang membentak tersebut sudah meloncat maju langsung menyerang Jaya yang masih berdiri tanpa senjata karena dua senjata Illahi nya telah di simpan di dalam ruang dimensi bersama tongkat Wesi Kuning.
"Rasakan pukulan ku anak muda..!."
Teriak sang Senopati sambil menghantamkan pukulannya, mengarah ke kepala Jaya yang belum mengucap apapun untuk membela diri atas tuduhan sebagai pembuat onar.
Pukulan yang mengandung kekuatan dari lawan itu berkelebat ke arah Jaya, dengan sedikit bergerak miring kepalan tangan lawan hanya mengenai angin saja.
Wwwuuuss...
Senopati yang bernama Kraeng Nambi itu sedikit terkesiap, karena pukulannya dengan mudah di hindari lawannya.
"Pantas saja kelompok kalian berani bertingkah di negri orang, kalian mempunyai kemampuan rupanya," seru Kraeng Nambi, meloncat mundur untuk bersiap kembali menyerang.
"Apakah kalian akan percaya jika aku bilang bukan perusuh?." sahut Jaya setelah lawannya mundur sesaat.
"Omong kosong..!, korban sudah begitu banyak masih saja berkilah."
Kali ini seorang senopati lainnya sudah meloncat mendekat.
"Kau tak usah ikut campur dahulu Senopati Ra Lewang," seru Kraeng Nambi sedikit mendengus kesal, dengan sesama Senopati rekannya tersebut.
Ra Lewang membalas tatapan Kraeng Nambi, dan berkata lirih, "Kau ingin terlihat hebat sendiri dimata tuan Tumenggung?." sahutnya pelan namun mampu di dengar Kraeng Nambi.
"Cuuiih..penjilat..!."
"Kau yang penjilat..!!."
Kedua Senopati itu saling berbantah bantahan meskipun tak keras memperdengarkan suaranya.
"Cukup sesama penjilat tak perlu saling tuduh." kata Jaya, karena tak begitu menyukai gaya orang orang di depannya.
Dua senopati itu menoleh kearah Jaya kembali, lalu menggeram penuh amarah.
"Dasar perusuh, akan kami tangkap kau dan aku gantung di alun alun..!" teriak Ra Lewang dengan tatapan tajam.
Setelah berkata demikian Ra Lewang langsung melesat maju menyerang di susul Kraeng Nambi.
Dua tokoh Senopati itu langsung menyerang, berusaha menumbangkan Jaya dan menangkap nya hidup hidup untuk di gantung di alun alun nantinya.
Sementara prajurit yang banyak itu masih mengepung anggota Jaya yang lain, menunggu perintah dari atasan nya yaitu Tumenggung Yudoyono.
**
Ditempat yang lain, terlihat sesosok bayangan hijau nampak melesat terbang dengan cepat sambil membawa tubuh seseorang yang nampak lemah dalam gendongannya.
"Hmm, aku harus istirahat dulu, meskipun aku sudah memakai zirah sayap ini tapi tenagaku juga terkuras jika aku gunakan untuk mengaktifkan nya terus menerus seperti ini."
Nampaknya sosok berbaju hijau tersebut adalah Sumantri si Mata Malaikat.
__ADS_1
Sumantri lah yang telah menolong Karsh, mereka sama sama antek dari sepasang Iblis Wora Wari.
Setelah menolong Karsh Sumantri melesat terbang secepatnya menjauh dari lawannya.
Sebenarnya ingin rasanya bertarung dengan lawan Karsh, namun merasa rekannya perlu pertolongan dirinya lebih memilih menyelamatkan Karsh, yang sudah di anggapnya saudara tersebut.
Aneh memang seseorang yang menempuh jalur gelap masih memiliki solidaritas terhadap sesama nya.
"Huh, denyut mu sangat lemah saudara ku, kau mengalami luka dalam yang hebat." gumam Sumantri, memeriksa kondisi Karsh.
Tubuh Karsh di dudukan nya, lalu perlahan di coba mengalirkan tenaga murni untuk menolong Karsh yang nampak lemah sekali.
"Semoga ini bisa sedikit membantu memulihkan kondisi mu meski sesaat sebelum kita sampai ke markas." kata Sumantri sambil duduk di belakang Karsh, menempelkan dua telapak tangan di punggung pemimpin Srigala Merah itu dan mulai mengalirkan tenaga dalam murni kepada nya.
Hawa murni mulai mengalir ke badan Karsh, keringat sebesar jagung mulai mengalir di badan dua orang tersebut saat proses transfer tenaga tersebut.
Wajah Karsh yang sesaat tadi seperti mayat kini sedikit demi sedikit mulai memerah.
"Hoeeekk...!," suara Karsh ketika memuntahkan darah kehitaman dari mulutnya, darah kotor yang di yakini membawa hawa kotoran dari sisa sisa perdarahan dalam tubuh nya.
Sesaat badan Karsh menegang sebelum akhirnya luruh lagi, namun kini wajahnya sudah sedikit memerah.
Sumantri sedikit tersengal, lalu menghentikan kegiatannya untuk mentransfer tenaga bantuan kepada Karsh, memasukan beberapa butir pil kedalam mulut Karsh dan juga untuk dirinya sendiri untuk membantu memulihkan kekuatan dirinya kembali.
"Aku akan memulihkan tenaga dalam ku sesaat di tempat ini, semoga kau juga lekas tersadar Karsh." gumam Sumantri lagi sambil memperbaiki duduk nya dan mengatur pernafasan nya.
**
Dua senopati itu mulai mempercepat serangannya.
Niatan ingin meringkus hidup hidup lawannya kini mereka singkirkan jauh jauh, setelah beberapa kali serangan tangan kosongnya berhasil di mentahkan, bahkan tak jarang keduanya terkena tendangan dan pukulan pemuda tersebut.
Ra Lewang pun mencabut dua pedang yang ada di punggung nya, mengikuti teriakan rekan sesama Senopati tersebut.
Kini dua orang lawan Jaya sudah menghunus senjata masing masing, keduanya memainkan jurus jurus pedang andalan nya.
Jaya juga mencabut pedang Angin Puyuh yang ada di pinggangnya, pedang dengan tingkat Langit itu mulai bersinar kebiruan saat berada di genggaman Jaya.
Sesaat Jaya mengayunkan pedang Angin Puyuh membuat suara menderu dan gelombang angin mulai terasa oleh dua lawannya itu.
"Saatnya...!," tidak Kraeng Nambi meloncat menebaskan pedangnya.
Sambaran pedang di sertai gelombang angin kekuatan menebas ke arah Jaya.
Srrring....!
Sambaran mendekat dan Jaya menangkis dengan pedang Angin Puyuh.
Traaang.....!!
Tangkisan itu membuat Kraeng Nambi sedikit mundur dengan lengan terasa bergetar.
Ra Lewang juga meloncat menyambarkan dua pedang nya dengan gaya menggunting.
Sriiing.... Sriiing....
__ADS_1
Dua sabetan pedang itu berhasil di hindari Jaya dengan cara meloncat ke belakang.
Dua senopati itu langsung merangsek maju kembali menyerang Jaya Sanjaya.
Dengan sedikit meliukkan badannya Jaya berhasil menghindari tebasan Kraeng Nambi, selanjutnya dengan tangan kiri Jaya menghantam dada Senopati tersebut.
Baaammm...!!!
Ledakan kecil terdengar saat pukulannya mendarat di dada sang Senopati, membuat nya terlempar kebelakang beberapa langkah dengan badan sempoyongan.
Wajah Kraeng Nambi langsung pucat pasi terkena hantaman itu, meski Jaya tak berniat untuk menciderai nya.
Ra Lewang yang masih menyerang Jaya sedikit terpana, serangannya tak mampu melukai nya bahkan menyentuh bajunya pun tidak, dan kini lawan malah mampu menyerang balik rekannya.
Sesaat keraguan menghampirinya, namun harga diri dan rasa malu memaksanya untuk terus bertarung mengubur keraguan dalam hatinya.
"Hiaaaa...!!," kembali Kraeng Nambi meloncat menyerang setelah rasa sesak di dadanya sedikit menghilang.
Traaang.....!!
Sambaran pedang itu ditangkis dengan baik oleh Jaya, dan malah di susul dengan sebuah tendangan, mampir di wajah Senopati yang terlihat ngeyel tersebut.
Cproooott...!!
"Aaarch...!!."
Teriakan Senopati Kraeng Nambi, badannya terlempar dan luruh kemudian pingsan tak bersuara lagi.
Ra Lewang kembali tersurut, wajahnya kini terlihat cemas, namun tak berlangsung lama karena Tumenggung Yudoyono sudah meloncat memasuki arena pertarungan bersama Senopati lainnya yang bernamaTaruna Wardoyo.
"Cukup hebat juga kau anak muda..!," kata Tumenggung Yudoyono, sembari berjalan mendekat.
Jaya hanya terdiam masih berdiri dengan siap siaga.
"Siapa kalian dan darimana?." kata Yudoyono kembali, namun kali ini tak sekasar semula.
"Aku Jaya Sanjaya dari kelompok Awan Putih, kebetulan aku tetua disana."
Sesaat Yudoyono saling tatap dengan Wardoyo dan Ra Lewang bawahannya, mencoba mencari tahu nama Awan Putih yang memang belum di kenal luas tersebut.
Keduanya menggeleng, menandakan ketidaktahuan akan kelompok tersebut.
"Kenapa membuat onar dan mengacau di sini..!, tak takut di penggal di sini..?."
"Maaf tuan kami tak ingin membuat masalah, merekalah yang membuat masalah dengan kami." balas Jaya dengan menunjuk ke arah mayat anak buah Srigala Merah.
Tumenggung Yudoyono menatap tajam Jaya Sanjaya, terlihat keraguan di wajahnya.
"Aku meragukan omongan mu.."
Jaya balas menatap sang Tumenggung dan berkata, " Apa maksud tuan?"
"Aku ingin mencoba kekuatanmu." seru sang Tumenggung sambil melambai kan tangannya, memberi isyarat.
Tiba tiba melesat anak buahnya mengangsurkan sebuah tombak senjata andalan sang Tumenggung.
__ADS_1
____________
Jangan lupa tinggalkan jejak nya...