Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Menuju ke Istana Kekaisaran


__ADS_3

Raksasa sebesar gunung itu terlempar dan terbakar dengan hebat, meski sudah berusaha untuk memadamkan api dengan cara bergulingan, namun api tersebut tak mati juga.


Raksasa itu mencoba terbang tinggi ke awan, berputar di angkasa berharap uap embun dan hawa dingin angkasa mematikan api tersebut namun nyatanya api itu makin berkobar, bahkan kini mulai membakar organ dalam sosok sebesar gunung tersebut.


Moyaka melesat berniat membantu memadamkan bara api tapi langkah nya terhenti, karena sosok Dewa Kebijaksanaan sudah menghadang nya.


"Mau kemana kau iblis..?!, kau pikir bisa se enak jidatmu bertindak sesuka hati..he..he...!" Dewa Kebijaksanaan menggertak sambil tertawa penuh ejekan.


Moyaka tak menjawab, namun langsung melakukan serangan, sebuah pedang cahaya dengan aura kegelapan terbentuk di tangannya, menebas ke arah Dewa Kebijaksanaan.


Gelombang menderu menerjang ke arah Dewa Kebijaksanaan, nampaknya Moyaka benar benar tak lagi membatasi kekuatan nya, dia berniat adu jiwa setelah membakar tenaga sejatinya, membuat kekuatannya kini meningkat pesat.


GRADAAK... GRADAAAAK ...


Gelombang kekuatan yang sangat dahsyat melesat menghantam ke arah Dewa Kebijaksanaan, namun sebuah bayangan Cakra raksasa berputar menahan gelombang kekuatan tersebut.


BLLLLAAAAART.....!


Ledakan keras tercipta, membuat luapan liar kekuatan menyebar ke segala arah.


Dewa Kebijaksanaan sedikit terlempar, sedangkan Iblis Moyaka sang Panglima Iblis Merah terpental lebih jauh.


Sementara Raksasa sebesar gunung yang terbakar kini mengamuk, setelah tahu api yang membakar nya tak bisa padam, dia ingin membawa serta lawan yang telah membakarnya ke alam baka bersama nya.


Raksasa itu mendekat dan menerkam ke arah Dewa Cakra Tirta, ingin meraup nya, agar terbakar bersama, namun hanya dengan sekali kibas Raksasa itu kembali terhantam pukulan Cakra Tirta.


BOOOUUMMMM....!


"Aaaarrhhhhhhhh....!!," jeritan keras terdengar, raungan itu adalah raungan yang terakhir dari sang raksasa sebelum terhempas jatuh bebas ke tanah alam itu


BOOUUUMM..!


Raksasa sebesar gunung jatuh ke tanah dan mati dengan badan terbakar.


Di sisi lain Moyaka juga sudah terbelah oleh Cakra Manggilingan, senjata Dewa Kebijaksanaan.


**

__ADS_1


Kaisar Dewa sudah melarikan diri ke dalam wilayah istana Kekaisaran, tampaknya dia sudah di hajar habis habisan oleh Raja Agung Iblis dengan di bantu Panglima Iblis Hitam Roku.


Hanya istana tersebut yang kini masih bertahan karena adanya pelindung segel formasi pengaturan.


Pasukan Iblis juga makin gencar menggempur dan merusak segel formasi pengaturan, meski juga masih kesulitan.


Raja Agung Iblis memandang segel formasi tersebut, mencoba berfikir bagaimana cara menghancurkan segel formasi pengaturan dan menguasai istana Kekaisaran.


"Bagaimana? apakah ahli pengaturan sudah bisa memecahkan struktur formasi itu?."


Ahli Pengaturan adalah ilmuwan yang memahami dan mempelajari ilmu tentang Pengaturan formasi segel segel, mereka mempelajari dan menguasai jenis jenis struktur pelindung.


Biasanya para ahli pengaturan selalu ada dalam sebuah pasukan, karena tugas mereka lah membuka pelindung gaib yang di miliki lawan.


Sesosok iblis tua terlihat membungkuk dengan hormat, "Ampun Yang Mulia Raja Agung Iblis, segel formasi pengaturan istana Kekaisaran Dewa adalah salah satu segel terkuat yang pernah hamba temui."


"Tim kami masih terus berusaha melemahkan kekuatan segel tersebut, sudah terlihat ada sedikit celah di bagian timur."


Raja Agung Iblis mengangguk, dia menyadari jika tempat tersebut pasti di lindungi oleh struktur pelindung yang paling kuat, karena bagaimana pun juga Alam Dewa adalah tempat terbaik di semesta.


"Baiklah.., kalian terus bekerja secepat mungkin, apapun yang kalian perlukan untuk membongkar segel itu, lakukan." Raja Agung berkata sambil mengibaskan tangannya.


**


"Terimakasih Dewa Perang, jika Pukulun tak segera datang mungkin ingsun sudah tewas."


Cakra Tirta tertawa mendengar perkataan Dewa Kebijaksanaan.


"Aah..Dewa Kebijaksanaan bisa saja, Ingsun tahu masih ada kekuatan Dewa Kebijaksanaan yang belum keluar saat pertempuran tadi."


Dewa Kebijaksanaan tersenyum kecut, pandangan mata Dewa Cakra memang sangat jeli, memang masih ada satu kekuatan yang belum di keluarkan nya, namun jika dia mengeluarkan kekuatan tersebut berarti dia membakar tenaga sejatinya, dan itu berakibat banyak rusak nya Raga Abadi, meski kekuatannya juga meningkat beberapa kali lipat.


"Sekali lagi Ingsun mengucapkan banyak terima kasih dari hati yang terdalam, ingsun berhutang lagi kepada Pukulun Dewa Perang."


Cakra Tirta kembali tertawa, melambai kan tangan nya. "Kita kesampingkan dulu semua ini, masih ada banyak yang harus kita lakukan berdua, Pukulun."


"Benar apa kata Dewa Perang." sahut Dewa Kebijaksanaan tersenyum.

__ADS_1


Keduanya langsung melesat ke udara setelah sempat berbincang sesaat tadi, mereka kembali memimpin ribuan pasukan Prajurit Batu menuju ke arah istana Kekaisaran.


**


"Di mana Moyaka?, apakah dia mengalami kesulitan?."


Raja Agung Iblis yang mulai menyadari ketidakhadiran sang Panglima nya, dan kini bertanya.


Roku juga sedikit keheranan, pasalnya tadi dia melihat pertempuran Moyaka melawan musuh nya terlihat unggul.


"Hamba juga merasa aneh, mengapa begitu lama dia mengatasi musuhnya, padahal Raksasa gunung sudah di datangkan."


Kini kegundahan jelas terlihat dari para Iblis tersebut, "Apa mungkin dia kalah?."


"Tapi tak mungkin kalah, kita tahu kekuatan Panglima Iblis Merah Moyaka apalagi Raksasa gunung juga sudah membantu."


"Benar, jika mereka sudah bersatu sangat jarang ada yang bisa melawan nya."


Saat semua masih keheranan dan bertanya tanya terlihat di kejauhan debu mengepul dengan tinggi.


Terlihat gerakan barisan pasukan yang sangat banyak, meski masih sangat jauh.


"Apa itu..??!!."


"Pasukan dari mana??.''


Bukan hanya para Iblis, para penduduk dan juga Dewa yang berada di dalam wilayah istana Kekaisaran juga bertanya tanya penuh keheranan.


Para Iblis kini terlihat siaga, tentu saja pasukan yang masih dalam perjalanan itu adalah bala bantuan untuk para Dewa, karena jelas iblis tak memanggil kekuatan tambahan.


Roku sudah melayang di angkasa, dari ketinggian makin terlihat jelas seberapa banyak pasukan yang baru datang itu.


"Hah..banyak sekali pasukan itu?, bahkan hampir sama dengan jumlah awal pasukan Iblis sebelum pada mati di medan tempur." Roku terkesiap melihat banyaknya jumlah pasukan yang baru datang.


Dengan sedikit gemetaran Roku melesat, lebih maju untuk melihat lebih jelas lagi.


Pasukan yang bergerak itu masih beberapa kilometer jauhnya, namun keberadaan mereka sudah cukup untuk menggetarkan hati.

__ADS_1


"Gawat, Yang Mulia Raja Agung Iblis harus tahu ini."


Panglima Iblis Hitam Roku, melesat kembali ke pasukannya berada, berniat melaporkan hasil pengamatan nya kepada sang Pemimpin.


__ADS_2