Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Wilayah kerajaan Jogonolo..


__ADS_3

"Lapor tetua ada sekelompok orang memasuki wilayah kita dari selatan," kata seseorang mewakili rombongan yang di bawanya.


"Apakah kalian tahu dari kelompok mana mereka?."


Rombongan orang tersebut terlihat menggeleng, "Kami belum memeriksa dengan teliti Tetua karena kami hanya mengawasi dari kejauhan."


"Apakah kalian tak melakukan sesuai prosedur?, maksudku kalian mintai upeti karena berani memasuki wilayah kita?"


"Kami mau meminta ijin dahulu kepada Tetua karena nampaknya mereka sekelompok pendekar." sahut pelapor dengan sedikit takut takut.


"Dasar bodoh..!, tak perlu lapor, langsung palak saja mereka..!," seru orang yang di panggil tetua tersebut, dengan wajah penuh kesombongan.


"Maaf Tetua bagaimana jika mereka dari kelompok yang kuat dan kita bisa mendapat masalah dengan mereka, apakah Tetua bisa dan mau mempertanggungjawabkan di depan Tetua Agung Pisau Terbang, Gambir Anom? atau bahkan Pemimpin Besar Akar Jiwa, Ki Ronggeng..?."


Mendapat sanggahan anak buahnya itu, orang yang di panggil tetua itu terdiam sesaat.


"Hmm, benar juga apa katamu, Baikah aku akan melapor kepada Tetua Gambir Anom."


Gambir Anom adalah Tetua Agung dari kelompok Pisau Terbang, sedangkan orang yang di lapori pasukan pengintai hanya tetua biasa di bawah tetua utama, apalagi tetua Agung.


Dengan tergesa gesa tetua yang bernama Kliwon itu bergegas menuju ke kediaman tetua agung Pisau Terbang, Gambir Anom.


**


"Kakang mau ketela bakar apa ubi rebus?," pelan Kumala berkata, menawari Jaya yang sudah kembali dari pengamatan terhadap lingkungan sekitar nya.


Selain membakar ketela dan merebus ubi juga ada daging kijang kering yang di bakar dengan sedikit garam.


"Ubi rebus saja Dinda," balas Jaya, menepuk batang kayu yang akan di duduki nya.


Kumala lalu menyiapkan makanan tersebut sebelum Pelangi membawanya ke hadapan Jaya, bersama air putih.


Rombongan tersebut nampak menikmatinya makanan sederhana tersebut dengan lahap.


"Aku melihat jalur ini melewati sungai yang lumayan lebar paman," Jaya berkata sambil menyuapkan makanannya dan menunjuk ke arah jalur perjalanan mereka.


"Ada dua jalur nanti Nakmas," sahut Sugara, pria paruh baya itu mulai menerangkan.


"Jalur pertama kita menyewa perahu rakit untuk menyeberang kan kita, dan jalur kedua kita memutar melewati jembatan bambu sebelah sana," kembali Sugara berkata sambil menunjukan sebuah arah tertentu.


"Benar Nakmas, apa yang di katakan saudara Sugara itu." sahut Narimo menimpali.


"Cuma jika kita memutar terlalu jauh, dan setahu saya sewa rakitnya juga tak mahal," kata Narimo lagi.


Jaya mengangguk mendengar penjelasan itu.


Pelangi menghampiri Jaya, "Kakang mau tambah dagingnya?," kata Pelangi sambil membawa sepiring kayu daging bakar.


"Boleh Dinda, sedikit saja," sahut Jaya mengangsurkan piringnya untuk di isi daging kijang bakar tersebut.


Setelah Jaya mengambil, Pelangi mengangsurkan piring tersebut kepada yang lainnya sebelum mengambil sedikit untuk diri sendiri.


**

__ADS_1


Tampak lelaki sedikit tua dengan badan gempal duduk di sebuah kursi yang lebar dan kokoh.


Pria tersebut adalah Gambir Anom, tetua Agung dari Pisau Terbang.


Di dekatnya ada dua pria kembar dan seorang pria dengan badan kecil namun membawa banyak pisau di sekujur badannya.


Pria kembar tersebut juga membawa banyak pisau yang di renteng dan di ikatkan di sekujur tubuh nya.


Keempat orang tersebut masih berbincang dengan serius.


"Bagaimana pendapatan kelompok kita akhir akhir ini?." tanya Gambir Anom sang tetua agung.


"Di wilayah selatan masih tetap sama seperti bulan bulan yang lalu, Tetua Agung." jawab pria sedikit cebol itu melaporkan.


Pria cebol itu bernama Gono Margo, adalah tetua utama, kedudukan nya di bawah Tetua Agung dan di atas tetua biasa.


Selain Margono ada si kembar yang juga tetua utama, bergelar Sepasang Pisau Neraka.


Gambir Anom mengangguk mendengar laporan Gono Margo, lalu menoleh kepada si kembar, "Bagaimana dengan wilayah kalian?."


Si kembar tersenyum, "Wilayah Utara ada sedikit peningkatan di banding bulan lalu."


"Itu tak lepas dari banyaknya pelintas yang berhasil kita mintai upeti."


Gambir Anom tersenyum, mengangguk," Aku bisa tenang melaporkan ini kepada pemimpin Besar Akar Jiwa Ki Ronggeng."


"Dan semoga kelompok Pisau Terbang bisa menjadi unggulan dari sepuluh aliansi pendiri Akar Jiwa."


"Ya semoga kita menjadi kelompok teratas di Akar Jiwa Tetua."


Dengan sedikit membungkuk Kliwon memasuki ruangan yang terdiri dari Tetua Agung, dan Tetua Utama tersebut.


"Ada apakah tetua Kliwon?," tanya Gambir Anom, setelah Kliwon terlihat duduk dengan nyaman.


"Maaf tetua ..mau melaporkan jika dari arah selatan terlihat serombongan orang yang nampak seperti pendekar memasuki wilayah kita."


"Hmm, lantas?."


Gambir Anom menjawab laporan Kliwon sambil menatap tajam ke arahnya.


"Apakah kita tetap melaksanakan penarikan upeti seperti biasanya atau ada sedikit keringanan?."


"Maksud nya?."


"Kami takut terjadi suatu masalah dengan kelompok pendekar kuat lainnya, namun jika Tetua sudah mengijinkan kita untuk bertindak, maka akan kami laksanakan dan tak ragu lagi.''


Gambir Anom mengangguk, memang saat ini ada perintah dari Pemimpin Besar untuk berhati-hati dalam menjalankan operasional mereka sehubungan dengan kemunculan kelompok kelompok baru yang kuat.


Bagaimana pun juga Ki Ronggeng sudah malang melintang di jagat persilatan dan tau bagaimana harus bersikap dan menjilat, apalagi saudara nya adalah pemimpin kota yaitu Adipati Suro Jelantik di kabupaten Jagalan.


"kalian minta pajak seperti biasa, jika mereka menolak dan mengajak ribut lihat kemampuan mereka, kira kira kalian mampu apa tidak untuk mengatasinya."


"Jika kalian mampu tekan lagi kelompok itu, namun jika mereka kuat minta seperlunya saja," kata Gambir Anom menerapkan strategi tarik ulur.

__ADS_1


Kliwon mengangguk mendapat perintah seperti itu.


"Baiklah Tetua Agung, saya pamit mau melaksanakan tugas kembali," sahut Kliwon sambil beranjak pergi.


Gono Margo yang membawahi wilayah selatan ikut bangkit dari duduknya, " Maaf tetua Gambir Anom, saya mau mendampingi tetua Kliwon menjalankan tugasnya."


Gambir Anom hanya mengangguk menyetujui rencana Gono Margo tersebut.


Sebenarnya tujuan Gono Margo bukan hanya mendampingi namun juga ingin melihat rombongan tersebut berasal dari kelompok mana?, karena Akar Jiwa sudah menandai beberapa kelompok yang tak perlu membayar upeti memasuki wilayah itu, termasuk kelompok Api Suci, partai Es Abadi dan tentu saja Jiwa Abadi.


**


Selesai beristirahat dan menikmati makanan sekedar nya, rombongan itu kembali bergerak menuju ke wilayah Jogonolo makin dalam.


Di depan kini nampak sebuah sungai yang luas yang membelah wilayah tersebut.


Tampak di seberang sebuah rakit tengah bergerak menuju ke arah sebaliknya.


Ternyata selain rombongan Jaya, ada juga beberapa pelintas yang sudah menunggu rakit tersebut.


Nampaknya rombongan para pedagang karena iring iringan tersebut cukup banyak, sekitar sepuluhan gerobak pedati.


Melihat rombongan Jaya mendekat ke tepi sungai, kepala keamanan dari rombongan pedagang langsung mendekati, "Maaf kisanak rombongan kami yang lebih dahulu antri di sini untuk menyeberang," katanya.


Jaya hanya mengangguk saja, karena memang begitu adanya.


"Aah...terlalu lama antri kita Nakmas," seru Pitu Geni sedikit tak sabaran.


Jaya hanya mengulas senyum, namun mau bagaimana lagi mereka memang datang belakangan.


"Sabar saja paman, mau bagaimana lagi memang seperti ini."


"Huh..lah memang seperti itu adanya, mau apa lagi..!," kali ini salah satu anak buah dari pengawal pedagang itu nyeletuk seenaknya sedikit kasar, membuat Pitu Geni hampir saja menyambarnya jika tak segera di cegah Jaya.


Jaya memegang lengan Pitu Geni dan menenangkannya.


"Sabar paman," bisik Jaya kembali.


Tak berapa lama rakit yang lumayan besar itu sudah merapat, dan ternyata muat menampung dua kereta pedati sekaligus dalam sekali angkut.


Hari mendekati sore, ketika rombongan Jaya mulai menaiki rakit, bersama kereta terakhir rombongan pedagang tersebut.


Dari sepuluh pedati hanya ada satu kereta kuda ini, mungkin milik dari saudagar nya.


Semua orang dari rombongan Jaya sudah turun dari kudanya, memegang tali kekang kuda dan berdiri di samping kudanya.


"Eeh...ada apa itu ribut ribut di sana?." kata Pelangi sedikit keras sambil menunjuk seberang dimana tengah terjadi percekcokan para penjaga pedagang dengan sebuah kelompok di sana.


Jaya beserta yang lain menoleh ke arah yang di tunjuk oleh Pelangi.


"Cck, paling paling minta upeti," gumam Sugara sedikit kesal.


____________

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak nya...


__ADS_2