Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Membantu di Gerbang Selatan


__ADS_3

"Ke gerbang selatan..!," teriak Jaya kepada seluruh anggota Awan Putih, begitu lawannya dari partai Es Abadi berhasil di tumpas, sedangkan Jaya langsung melesat terbang tinggi melenting ke udara, membuat semua kembali ternganga tak percaya.


Semua segera bergerak menuju ke selatan dengan menaiki kuda kuda yang ada, sedangkan sebagian yang lain berlari menyusul kuda kuda tersebut.


Pertempuran di gerbang selatan masih berlangsung dengan seru, ratusan hingga ribuan orang pendekar itu makin merangsek menyerang prajurit Ngarsopuro.


BOUUUMM..!!


Jaya sengaja menjatuhkan diri dari udara, atau mendarat dengan keras, bahkan kakinya menghentak ke tanah seperti menjejak.


Suara berdebum keras di barengi dengan getaran akibat jejakan Jaya membuat bumi seakan gempa, debu debu berhamburan bahkan beberapa orang pendekar terdorong mundur akibat kuatnya Jaya mendarat dari langit.


Semua tercekat, kaget dan ternganga para pemburu pusaka bahkan beberapa langkah memundurkan tubuhnya.


Para prajurit sesaat juga kaget, ketakutan mengira Jaya adalah pendekar pemburu pusaka, namun begitu menyadari siapa sosok pemuda itu, semua nampak lega.


"Hiduuup...pendekar Jaya...!!."


"Hiduuup...Tuan Jaya..!!."


Teriakan teriakan susul menyusul, menyambut kedatangan Jaya Sanjaya.


BLEGAAAAAART....!!


Belum selesai teriakan teriakan itu berhenti, Jaya sudah menghantamkan pukulannya, memberi sengatan para pendekar yang berjumlah ribuan tersebut.


Akibat hantaman kuat yang tiba tiba tersebut, puluhan orang langsung terlempar, mencelat terhempas begitu keras.


"AAAAaaaa...!!." teriakan orang orang itu saat terhempas.


"Jangan Takuut...!, ayo kita serang balik bersama sama...!!," teriak salah satu orang, entah dari kelompok apa, memprovokasi yang lainnya.


"Hiaaaaa...!.''


"Hiaaaaaa...!!."


Teriakan orang orang tersebut mulai terpancing dan menghantamkan pukulan Jarak jauhnya.


Ibarat lidi, jika hanya satu mungkin mudah di patah kan, namun jika di gabungkan akan mampu menyapu apapun.


Begitu juga dengan pukulan ratusan bahkan ribuan orang Pendekar itu, setelah semua tergabung terbentuklah gelombang pukulan yang sangat Dahsyat.


Wuuuunnng....!!


Merasakan aura gempuran yang sangat kuat, Jaya segera mengeluarkan Tombak kyai Seto Ludiro dan perisai Wojo Digdoyo.


**


SRRIIING....!!.


Tebasan pedang dari guru Benowo, melewati kepala dari Juraimo.


Sedikit merunduk tetua Ring lingkaran di kelompok Api Suci itu menghindar.


Lalu dengan cepat Juraimo mencoba menusukkan kembali tombak apinya.


Wuuusss..!


Taaang... taang...!!


Guru Benowo menangkis dalam dua kali pukulan untuk menghindari kontak senjatanya lebih lama dengan tombak yang menyala nyala tersebut, mengurangi rasa panas akibat hawa panas serangan lawan.


Guru Benowo Kembali maju, mengurangi jarak dengan lawan, menyabetkan pedang nya kembali.


Sriing....!


Traaang....!!

__ADS_1


Juraimo menepis pedang lawannya dengan ujung tombak, memutarnya mencoba membelitkan pedang lawan dengan tombak nya untuk kemudian di betot, namun guru Benowo pintar, tak mau terpancing itu.


Wuuuuusss....


Sriiing...


Guru Benowo menebaskan pedang yang satunya, mencoba menggagalkan usaha lawan.


Juraimo meloncat mundur, menghindari sambaran pedang itu.


Sementara itu Tapak Setan yang memakai senjata dua tongkat trisula untuk mengalirkan hawa panas dari lengannya sudah menari nari di keroyok Kidang Semeleh dan Jayeng Rono.


Pertarungan itu seketika terhenti, sewaktu terdengar sebuah ledakan keras dan terlihat para pendekar pemburu pusaka pada terlempar berjumpalitan dan porak poranda.


"APA YANG TERJADI??."


**


BLEGAAAAAART....!!


Benturan keras terjadi saat pukulan gabungan dari para pemburu pusaka bertemu dengan pukulan Jaya.


Kuatnya hantaman itu bahkan membuat Jaya terseret beberapa langkah kebelakang, Namun puluhan bahkan ratusan pendekar juga terlempar dengan tubuh terbakar apalagi yang ada di barisan depan.


Ratusan orang lainnya terdorong hingga terpental berhamburan terimbas benturan dua kekuatan tersebut.


Rombongan Awan Putih tiba di lokasi tersebut saat Jaya terseret kebelakang, akibat berbenturan dengan pukulan gabungan ribuan orang orang itu.


"Gawat..!, Nakmas Junjungan di keroyok banyak pendekar..!," teriak Pitu Geni.


"Kita harus memecah konsentrasi para pemburu pusaka itu..!." seru Empu Cipta guna.


"Kita hadapi mereka secara berkelompok..!," usul Baroto Sarkawi yang lengannya sudah menghitam di tambah lengan kirinya kini bersarung kan Cakar Rajawali.


"SETUJUUU...!!," seru yang lainnya serentak.


CLAAAAAP.....!!


Pelangi dan Mata Elang langsung melepaskan jurus Mata Dewa, memerangkap beberapa puluh pendekar pemburu pusaka terdekat dengan kelompok Awan Putih berada.


Begitu puluhan orang itu terperangkap Lalu semua bergerak menebas dari beberapa sisi, termasuk Anuso Birowo si Golok Naga.


Golok besar panjang dan lebar itu menebas puluhan orang yang terjebak oleh dua kekuatan Mata Dewa.


Craaaash...!


Craasshh..!


Craaaash...!!


Tebasan tebasan Pitu Geni, empu Cipta guna, Suroloyo dan lainnya kemudian menyusul menebas para pemburu pusaka itu, seperti apa yang dilakukan Anuso Birowo.


BLEGAAAAAART...!!


DI sebelah yang lain Jaya kembali menghantamkan pukulannya, membakar dan melempar kan para pemburu pusaka itu.


Hanya dalam waktu singkat saja Jaya dan kelompok Awan Putih sudah banyak mengurangi jumlah para pemburu pusaka itu.


Jumlah para pemburu yang semula hampir dua ribuan kini tinggal kurang dari seribu, mereka kini di kepung para prajurit istana Ngarsopuro, Jaya Sanjaya dan anggota Awan Putih yang terlihat menakutkan padahal hanya berjumlah beberapa orang saja.


Tapak Setan yang menyadari kemunculan Jaya, langsung tercekat, ngeri Ketakutan.


Bayangan saat dirinya dihajar dan akhirnya berhasil melarikan diri dengan susah payah kembali terlintas.


"Haaah...ke.kelompok ini lagi..."


Kakinya langsung gemetaran, semula dirinya penasaran apa yang membuat para pemburu pusaka terlempar, dan kini semua itu terjawab dengan kemunculan Jaya beserta rombongan nya.

__ADS_1


Tapak Setan meloncat menghindari Kidang Semeleh dan Jayeng Rono, mendekat ke arah Juraimo.


"Anak Setan itu ada disini..! dia menjadi pasukan pembela." seru Tapak Setan, membuat Juraimo terbelalak terkejut.


Keduanya meloncat mundur lalu bersuit keras, memberi isyarat kepada anak buahnya yang masih tersisa dan bisa mundur, untuk menghindar melarikan diri.


**


Tujuh sosok masih terlihat berkelebatan membelah hutan menuju ke arah Ngarsopuro dengan hewan tunggangan yang di naikinya.


Tatapan dinginnya berputar di sepanjang jalan, mencari jejak kelompok yang diburunya.


Kini kelompok itu sudah tiba di perbatasan Ngarsopuro, berkali kali kelompok itu berpapasan dengan beberapa kelompok kecil yang meninggal kan Ngarsopuro.


Rata rata kelompok yang bersimpangan dengan Layon Pitu itu pasti terluka, entah luka ringan atau ada juga yang di bopong terluka.


"Heh, ada apa disini??, mengapa orang orang ini terlihat terluka??."


Rakumba menatap setiap kelompok yang bersimpangan dengan kelompok nya.


"Ada apa Kisanak..?." tanya Rakumba mencoba bertanya kepada sekelompok orang yang melintas berlawanan arah.


"Kami menghindar dari pasukan Ngarsopuro." sahut orang tersebut singkat, sambil meringis menahan kesakitan di tubuhnya, lalu kembali pergi meninggalkan pertanyaan di benak Rakumba.


"Hmm, ada apa memang di kerajaan ini?, apakah ada hubungannya dengan kelompok yang aku kejar?."


Rakumba langsung mengarah ke Ngarsopuro memimpin kelompok nya menuju ke pusat Kerajaan tersebut.


**


"Bersihkan sisa sisa pertempuran..!," teriak Kidang Semeleh, kepada para prajurit disana.


Pertempuran di Gerbang selatan kini telah selesai, meninggalkan sisa sisa pertempuran yang sangat mengenaskan.


Kebanyakan para korban itu adalah para pemburu pusaka.


Sebagian yang masih bisa lari, melarikan diri begitu melihat makin menakutkannya "kelompok pembela".


Mereka sadar tak akan mungkin mendapatkan pusaka gadis Ndaru Kolocokro, dengan kehebatan pasukan Ngarsopuro ditambah "kelompok pembela", bisa lolos dengan nyawa masih di badan saja sudah beruntung.


Prabu Danar Kencono sangat gembira begitu mendengar laporan ribuan para perusuh berhasil di usir dari Ngarsopuro.


Apalagi yang berperan mengusir salah satunya adalah sang Putri sendiri.


Rasa bangga membuncah di dada sang Raja dan juga permaisuri, menyadari anaknya bukan sosok lemah.


Apalagi kini anaknya bersama sosok Jaya Sanjaya yang kehebatan nya banyak di perbincangkan oleh para prajurit disana.


Kehebatan Jaya banyak di ceritakan oleh anak buah lurah Sungkono, juga para prajurit yang bertarung bersamanya di gerbang selatan.


Dalam waktu sekejap saja nama Awan Putih sudah sangat terkenal di Ngarsopuro, tak hanya di kalangan prajurit tapi juga di kalangan rakyat jelata.


Jaya sudah duduk di Pasewakan Agung bersama kelompok nya, Awan Putih, hanya berkurang satu saja, karena kini sang Putri Pelangi duduk di singgasana nya di samping sang prabu dan ibu permaisuri di depan kelompok tersebut.


Raja secara resmi mengundang kelompok itu untuk mengucapkan terima kasih atas bantuan mengusir para perusuh.


Selain ucapan terima kasih juga Sang Prabu Danar Kencono ingin menjamu kelompok yang sudah membela Kerajaan tersebut.


"Terima kasih Nakmas Jaya, atas bantuan nya untuk kerajaan ini, hingga mampu terbebas dari para pemburu pusaka itu." sambut sang Prabu Danar Kencono, kini raja Ngarsopuro itu sudah merubah panggilan nya terhadap Jaya menjadi "Nakmas" begitu mengetahui ada hubungan khusus sang putri dengan pemuda tampan di depan nya tersebut.


Perbincangan resmi antara dua pemimpin kenegaraan dan kelompok tersebut berlangsung dalam suasana kekeluargaan yang cukup akrab, mereka berbincang di lanjutkan dengan jamuan makan sebagaimana layaknya menyambut tamu kenegaraan penting lainnya.


Selain perbincangan politik yang menyangkut kerjasama dua kekuatan tersebut, secara pribadi Jaya meminta ijin kepada Yang Mulia Prabu Danar Kencono untuk melamar Pelangi sebagai pendamping hidup, selain nanti Juga kepada Kumala akan dilakukan hal yang sama setelah bertemu dengan orang tuanya.


Prabu Danar Kencono sangat senang mendengar lamaran tersebut, meskipun untuk pernikahannya nanti akan di lakukan di markas Awan Putih.


_____________

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak nya....


__ADS_2