
Ki Ronggeng menatap Gambir Anom dengan tajam, cerita tentang sebuah kelompok yang bernama Awan Putih sungguh membuatnya tak percaya.
"Hmm, aku baru mendengar ada sebuah kelompok bernama Awan Putih, aku sudah keliling di Panca Buana, lima Kerajaan Agung tapi tak pernah ku dengar ada kelompok kuat bernama Awan Putih." kata Ki Ronggeng, pandangannya menerawang jauh mencoba mengingat kembali akan nama tersebut, mungkin saja saat itu ada yang terselip dari pengamatannya.
Kembali Ki Ronggeng menggeleng, menandakan tak ada kelompok kuat bernama itu.
'Aku yakin ini kelompok baru," akhirnya dia berkata demikian.
Gambir Anom pun mengangguk membenarkan perkataan Pemimpin Agung tersebut.
"Kita harus hati hati, jangan sampai ini merusak rencana besar yang sudah tersusun," balas seseorang yang berada di sebelah Ki Ronggeng.
Orang yang berada di sebelah Ki Ronggeng adalah seorang Pria paruh baya dengan memakai penutup wajah untuk menyembunyikan jati dirinya.
Ki Ronggeng mengangguk setelah mendapat tatapan tajam dari orang yang mengenakan penutup wajah, seakan memberikan isyarat.
"Kumpulkan anggota kita, kita akan mengadakan pertemuan luar biasa..!," teriak Ki Ronggeng kepada salah satu penjaga yang ada di sana.
**
Jaya beserta rombongan kini berada di istana Jogonolo.
Sebuah istana lawas yang sebenarnya terlihat cukup asri, hanya saja sedikit lengang jika di bandingkan dengan kerajaan lain di Karang Pandan.
"Selamat datang tuan pendekar beserta rombongan," sambut Senopati yang semalam memberikan surat undangan jamuan dari raja Jogonolo prabu Danurwindo.
Jaya dan rombongan nya mengangguk sopan, karena juga di sambut dengan penuh sopan santun.
"Mari ikuti saya," pelan Senopati tersebut mengarahkan langkah orang orang tersebut setelah menambatkan kuda kuda di tempat yang di sediakan.
Rombongan itu mengikuti sang Senopati memasuki beberapa ruangan sebelum akhirnya tiba di ruangan yang cukup besar.
Di ruangan tersebut tampak sebuah meja panjang dan besar yang berada di tengah tengah ruangan dan sarat akan aneka hidangan di atasnya.
Di pinggiran juga tersedia kursi kursi yang di tata rapi, sebagai tempat duduk sebelum memulai perjamuan agung itu.
Banyaknya hidangan yang tersaji di sana akan membuat siapa saja yang menatap nya akan meneteskan liurnya.
"Hmm," Jaya hanya berdehem, ingatanya melayang saat dirinya masih di alam Dewa, jamuan seperti ini adalah hal yang biasa di istana kediamannya istana Dewa Perang.
"Aku belum pernah melihat makanan sebanyak ini," bisik Kumala di telinga Pelangi.
"Aku juga, kakak."
Kumala menatap Pelangi, "Loh bukankah adik putri Raja?, pasti biasa seperti ini?."
"Apa Kaka lupa jika aku selalu hidup di pengasingan?."
Kumala mengangguk tersenyum kecut, ''Iya ya, lupa aku," sambil nyengir.
Rombongan Jaya di persilahkan duduk di kursi yang ada di sisi pinggir ruangan, menunggu prabu Danurwindo yang belum datang di tempat tersebut.
**
Pyong Karund membopong badan Sumantri, dengan cepat dia bergerak meloncat loncat menuju ke markas Jiwa Abadi.
__ADS_1
"Bertahanlah temanku." gumamnya sambil meloncat dari satu pohon ke pohon yang lain, karena saat itu mereka tengah menerabas lebatnya hutan.
Di sebuah tanah gundukan yang lebih tinggi dari yang lainnya, terlihat Pyong Karund berhenti, meletakkan Sumantri dengan perlahan.
"Kita istirahat di sini dulu, aku akan menolong mu sedikit," sahutnya, lalu mengeluarkan beberapa butir pil dari balik bajunya, memasukkan ke dalam mulut Sumantri dan melakukan transfer tenaga murni setelah mengatur posisi keduanya.
Sumantri yang terlihat lemah hanya mengikuti apa yang di lakukan rekannya tersebut, duduk bersila mengatur pernafasan, mencerna obat yang baru saja di telan nya.
Dengan bantuan dorongan tenaga murni dari Pyong Karund, Sumantri mencoba untuk memulihkan diri.
Di hisapnya udara di sekitar nya, dihirup perlahan sebanyak banyaknya, lalu di tahannya, putaran udara tersebut lalu berputar di pusat perutnya, mulai memperbaiki saluran saluran tenaga dalam yang mengalir ke seluruh tubuh nya.
Efek obat yang di minumnya memberikan tambahan energi membantu mempercepat proses pemulihan itu.
"Aaarch, hoeeek...!."
Sumantri memuntahkan darah kotor sisa sisa dari proses pemulihan tersebut.
Dorongan tenaga murni dari Pyong Karund cukup membantu mempercepat proses tersebut.
Keduanya terengah engah, setelah kegiatan yang menguras tenaga tersebut.
Pyong Karund menyelesaikan transfer tenaga tersebut, lalu memperbaiki duduk bersila nya kemudian mengatur pernafasan, memulihkan diri nya sendiri.
**
"Yang Mulia Prabu Danurwindo tiba...!." teriak penjaga ruang tersebut yang berdiri di depan pintu, memberikan kabar kepada seluruh orang yang berada di dalam ruang tersebut.
Untuk menyambut kedatangan sang raja, semua orang yang ada di ruangan itu berdiri, termasuk rombongan Jaya, mereka berlaku seperti itu untuk menghormati sang tuan rumah.
Tangan nya terangkat mempersilahkan tamu nya untuk duduk kembali.
Prabu Danurwindo melangkah kembali lalu duduk di ujung meja makan, di sebelah kanan para punggawa yang lain juga duduk di sana, lalu menoleh kepada Senopati seakan memberi isyarat kepadanya untuk mempersilahkan tamu maju dan menduduki sisi kiri meja makan itu.
"Silahkan tuan pendekar, sebelah kiri meja adalah untuk tuan tuan duduki."
Jaya mengangguk lalu berdiri dan melangkah maju untuk duduk di dekat meja sebelah kiri.
Langkah jaya di ikuti oleh semua anggota Awan Putih, maju dan duduk di tempat yang di sediakan.
"Mari silahkan di nikmati hidangan yang di sediakan tuan tuan dan nona nona," kata Prabu Danurwindo mempersilahkan.
Sambil menyantap hidangan, mereka berbincang kecil, terutama Jaya yang duduknya memang dekat dengan sang Raja.
Jaya di perlakukan bagai tamu agung, bisa duduk semeja dan dekat dengan seorang raja tak pernah terjadi selama ini.
"Maaf tuan pendekar ini darimana?," prabu Danurwindo membuka percakapan di meja makan tersebut.
"Kami dari negri timur Kerajaan Agung Pati Sruni tepatnya di wilayah kerajaan kecil bernama Karang Doplang, kelompok kami bernama Awan Putih bermarkas di alas Lirboyo."
Prabu Danurwindo mengangguk mendengar keterangan dari Jaya.
"Hmm, aku mendengar itu."
"Maksud Yang Mulia..?."
__ADS_1
"Aku mendengar kalian menumpas penjahat kemarin." kata sang raja sambil tersenyum kecil, menyuapkan potongan daging ke mulut nya.
"Dan aku membutuhkan bantuan tuan muda pendekar."
Jaya terdiam, sedikit menimbang dan berfikir.
"Aku akan membayar semuanya, bahkan jika tuan mau aku bisa memberikan kedudukan disini, aku akan jamin harta, jabatan dan wanita akan anda miliki."
Kumala dan Pelangi mendongak mendengar perkataan sang Prabu, lalu menatap Jaya sekilas dengan bibir cemberut.
"Apa...!! Wanita...!!."
Batin keduanya sambil saling berpandangan setelah menatap Jaya yang masih menikmati makanan nya.
"Bantuan apa yang di butuhkan Yang Mulia?."
Prabu Danurwindo tersenyum, karena Jaya mau menanggapi perkataan nya.
"Melindungi kerajaan ini."
Jaya tertawa sedikit keras, "Kami ini dalam perjalanan ke markas kami tapi juga memiliki beberapa tujuan, tak mungkin kami menetap di sini."
Prabu Danurwindo juga tersenyum, "Aku tak meminta tuan pendekar menetap disini, cukup beberapa hari saja selama perayaan berdirinya kerajaan Jogonolo."
"Setelah suasana kondusif tuan bisa meninggalkan tempat ini bersama imbalan nya, Harta dan wanita tentu saja karena jabatan tuan pendekar tak menginginkannya."
Jaya masih terdiam.
"Aku rasa pendekar hebat seperti tuan ini tak hanya cukup memiliki dua istri saja bukan?." goda sang Prabu sambil menatap Kumala dan Pelangi.
"Aku akan serahkan putri keraton tercantik di sini."
Jaya masih tetap terdiam.
"Tidak hanya satu wanita jika tuan pendekar menghendaki....."
Jaya mengangkat tangan nya, menghentikan perkataan sang Prabu Danurwindo.
"Katakan saja tentang sumber masalah yang di hadapi kerajaan ini Yang Mulia, untuk imbalannya gampang nanti kita bicarakan di belakang."
"Dua istri bagi ku sudah cukup." kata Jaya berikutnya, membuat Pelangi dan Kumala tersenyum tanpa sengaja.
Prabu Danurwindo lalu menceritakan permasalahan permasalahan yang di hadapi kerajaan Jogonolo terutama saat perayaan peringatan berdirinya kerajaan itu.
"Memang nya kapan perayaan itu akan di langsungkan?"
"Dua hari dari sekarang."
Jaya mengangguk, "Kami akan membantu kalian."
Prabu Danurwindo tersenyum lebar mendengar kesanggupan dari pemimpin kelompok di depannya.
____________
Jangan lupa tinggalkan jejak nya....
__ADS_1