
Hari itu semua terlihat menikmati suasana pesta, tak hanya di dalam istana namun juga di luar istana, sebagai rasa syukur atas terhindar nya Ngarsopuro dari mara bahaya.
Seluruh rakyat di jamu makanan yang enak enak dan di sajikan pihak istana untuk umum, bukan hanya para punggawa dan kelompok Awan Putih, namun seluruh rakyat, khususnya yang bermukim di kotaraja.
Rasa syukur itu di wujudkan dalam jamuan makan untuk seluruh rakyatnya, di alun alun Utara istana Ngarsopuro.
Mungkin setelah ini harapan nya tak ada lagi yang berani mengusik putri Ndaru Kolocokro, karena semua lawan terlihat jerih setelah kegagalan perburuan kali ini.
Rasa lega itu terlihat jelas di wajah sang Prabu Danar Kencono, setelah selama puluhan tahun beliau tak pernah bisa setenang ini.
Rasa khawatir yang selalu menggelayuti pikirannya, jika sudah berhubungan dengan sang putri tercinta yang selalu di buru para pendekar, kini semua sirna.
Perasaan selalu di intai, di awasi dan di buru membuat nya selalu was was, namun kini semua itu tak ada lagi.
Apalagi kini sang Putri sudah mempunyai ilmu Kanuragan tingkat tinggi, juga memiliki seorang calon suami yang sakti mandraguna dan juga kelompok yang tak di ragukan kehebatan nya.
**
Rakumba bersama kelompok nya, masih mengawasi situasi di Kotaraja.
Kelompok yang tengah di buru, menurut informasi yang di dapatnya berada di dalam istana.
Terlalu naif jika memaksa masuk ke istana dan bertarung dengan kelompok tersebut.
Belum lagi tersiar kabar jika pihak kerajaan baru saja mengusir pendekar yang berjumlah ribuan lewat peperangan, bisa di bayangkan hebatnya prajurit istana Ngarsopuro.
Masih setia dengan pengamatannya, Rakumba dan kelompok nya sengaja berdiam di sekitar istana Ngarsopuro.
"Aku harus sabar, menunggu kelompok itu keluar dari istana ini, karena menurut kabar berita kelompok ini akan menuju ke timur setelah ini."
**
Kegagalan misi Tapak Setan dan Juraimo menimbulkan rasa kekecewaan dan kekhawatiran tersendiri bagi kelompok Api suci.
Artinya kegagalan itu menggambarkan jika kelompok tersebut masih lemah.
Dewa Api yang kecewa untuk kesekian kalinya kini mulai berfikir ulang terhadap kelompok baru tersebut, menurutnya kelompok baru ini akan menjadi batu sandungan bagi cita cita Api Suci menguasai dunia persilatan.
Dewa Api kini malah sudah mengambil langkah antisipasi, dengan memerintahkan untuk mengumpulkan dan meminta bantuan para sesepuh yang sudah menepi untuk kembali "turun gunung".
Berharap mau memecahkan keruwetan dan pergolakan dunia persilatan untuk keuntungan Api Suci, dan mau membantu nya kembali menaikan pamor Api Suci.
Sesepuh sesepuh yang pernah menjadi legenda karena kehebatannya mengangkat nama kelompok tersebut di masa lampau, kini coba di cari keberadaan nya dan dimohon kesediannya membantu menaikkan pamor Api Suci Kembali.
"Sekarang lupakan dahulu kelompok ini, kita alihkan kepada usaha pencarian para legenda penguna elemen Api." Dewa Api nampak berkata dengan kesal.
Tak ada yang berani membantah maupun menyela apa yang di katakan pemimpin Agung di Api Suci tersebut.
"Aku merasa malu, kepada para leluhur dan pendahulu ku dengan kelemahan kelompok kita saat ini."
"Untuk itu kita harus mendatangi para sesepuh dan legenda Api Suci...meminta kesediaan nya membantu kita kembali."
Semua Tetua Ring lingkaran hanya mengangguk, menyetujui apa yang di katakan sang Pemimpin Agung.
__ADS_1
Dewa Api melempar gulungan kertas kearah Tapak Setan yang ada di depannya.
"Itu daftar nama sesepuh, para legenda yang harus kalian cari keberadaan nya dan usahakan bersedia kembali ke markas ini untuk membahas kemajuan kelompok kita."
Tapak Setan menangkap gulungan tersebut, membukanya dan membaca isinya.
Moncong Putih
Legenda Api Suci yang pernah menduduki jabatan sebagai pemimpin Agung, dan kini berdiam di wilayah barat.
Raja Api dari Utara
Tokoh Api suci yang pernah menggemparkan dunia persilatan dengan kemampuan nya dalam menciptakan badai api, saat ini mungkin tengah kembali di wilayah Utara.
Agni Mahesa Suro
Legenda pengguna element Api yang sangat di takuti di masanya saat masih malang melintang di dunia persilatan dengan jurus kilat api nya.
Semua terlihat mengangguk angguk kan kepalanya, merasa nama nama tersebut adakah tokoh legenda yang sangat hebat di zamannya, hanya saja kini ketiga tokoh itu tak di ketahui rimbanya.
**
Lain kelompok Api Suci, lain pula kelompok partai Es Abadi.
Kelompok pengguna element air ini tengah membahas kehebatan anak muda yang mampu memukul mundur dua tokoh hebat kelompok tersebut.
Ronggoliwa dan Sugioprano yang merupakan saksi hidup kehebatan pemuda misterius itu nampak menceritakan kehebatan jurus lawan tersebut.
"Apa mungkin pemuda itu juga yang menghancurkan kelompok Marto Mantingan?," tanya Dewa Es.
"Bisa jadi demikian, kekuatannya lebih hebat dari para pengguna element Api, panasnya serta gelombang serangannya berbeda," balas Ronggoliwa.
"Apa yang harus kita lakukan paman?," sahut Dewa Es, menatap Ronggoliwa.
"Kita adakan pertemuan dengan para legenda lainnya, jika perlu kita meminta bantuan kaisar Dewa air.'' Ronggoliwa mengeluarkan usulan nya.
Dewa Es mengangguk, menyetujui rencana sesepuh Ronggoliwa, "Aku serahkan pada paman, semua yang berhubungan dengan para sesepuh lainnya."
**
"Kami tak bisa lama disini Yang Mulia, masih banyak urusan yang mesti kami selesaikan, besok pagi kami meminta ijin kepada Prabu Danar Kencono untuk melanjutkan perjalanan," pamit Jaya kepada Yang Mulia Prabu Danar Kencono.
__ADS_1
Prabu Danar Kencono yang masih bersantai sore itu sedikit kaget, mendengar rencana tersebut.
"Apakah tidak bisa di tunda lagi Nakmas?, kami masih kangen dengan putriku Pelangi."
Jaya mengemukakan alasannya, mengapa harus segera melanjutkan perjalanan, di mulai dari rencana untuk menemui orang tua Kumala, lalu mempersiapkan diri menghadapi Serikat Pendekar serta alasan pribadi Jaya yang tak diungkapkan di depan sang Raja.
"Selain itu kami juga akan mengajak kakek Jayeng Rono untuk menetap di Awan Putih," kata Jaya lagi.
Prabu Danar Kencono hanya mengangguk, semua itu pasti sudah di perhitungkan oleh anak muda di depannya tersebut.
"Bulan keduabelas atau tiga bulan setelah pertemuan Serikat Pendekar, kami akan melangsungkan pernikahan kami, di markas Awan Putih," Jaya berkata kembali, memberitahu kan rencana pernikahan nya dengan Pelangi dan Kumala.
Raja Ngarsopuro itu kembali mengangguk, berusaha mengingat apa yang di katakan Jaya Sanjaya.
"Semoga apa yang menjadi rencana Nakmas bisa terwujud dan di lancarkan Sang Pencipta." akhirnya sang Prabu Danar Kencono berkata sedikit berat, mengijinkan kelompok Jaya untuk melanjutkan perjalanan besok
**
Hari sudah berganti, matahari masih belum menampakan diri namun sinar kemerahannya sudah menghiasi langit di arah timur.
Rombongan kelompok Jaya sudah bersiap untuk melanjutkan perjalanan kembali.
Kuda kuda tunggangan sudah di siapkan sejak dini hari tadi, perbekalan sudah di persiapkan dalam kantong kantong yang nantinya akan di taruh di pelana kuda.
Meskipun berat namun sang Prabu Danar Kencono dan permaisuri melepas putri semata wayangnya dengan ikhlas, karena itulah yang terbaik bagi keselamatan Putri nya.
Rombongan tersebut di lepas oleh pihak istana dengan pengawalan hingga ke perbatasan Kotaraja, sebagaimana tamu tamu kenegaraan penting lainnya.
Di sepanjang perjalanan kelompok Jaya, tak lepas dari tatapan dingin kelompok lain yang diam diam mengikuti rombongan itu dari tempat yang cukup terjaga.
Jaya beserta rombongan belum menyadari itu, mereka tetap melanjutkan perjalanan tanpa rasa curiga apapun.
**
Kelompok Layon Pitu masih mengawasi dengan tajam rombongan Jaya.
Rombongan yang berjumlah sekitar belasan orang itu tengah berkuda dengan kecepatan sedang.
Berjalan didepan ada Jaya yang berkuda bersebelahan dengan Baroto, Narimo dan Pitu Geni.
Di belakangnya Kumala, Pelangi serta Empu Cipta guna dan Sugara.
Menyusul berikut nya ada Jayeng Rono, Anuso Birowo dan Suroloyo.
Mereka berkuda mulai meninggalkan pemukiman warga, memasuki wilayah hutan yang membentang sepanjang perjalanan.
Begitu memasuki wilayah hutan, kelompok Layon Pitu bergerak cepat mendekat, sedikit memutar mencoba mendahului untuk menyergap dan menunggu di sebuah tempat.
Rakumba sudah berdiri menghalangi jalan yang akan di lalui Jaya dan rombongan nya.
Berdiri di depannya anggota kelompok Layon Pitu lainnya, dengan tatapan tajam selayaknya mayat hidup.
______________
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak nya...