
Putri Kencana Wungu berdiri memperkenalkan diri dengan sedikit malu malu, terlihat cantik apalagi saat ini dia di dandani, jadi makin cantik.
Semua yang ada di sana (para pemuda) yang memang hadir karena tahu jika raja cari calon menantu, menatap tak berkedip ke arah sang Putri, terkecuali Jaya.
Raja Jalilan Tunggaraja tersenyum, hampir semua orang terpana melihat kecantikan putri nya, karena memang di sengaja sang putri di rias sedemikian rupa, untuk menarik para pemuda terutama Jaya pemimpin Awan Putih.
"Putriku sudah dewasa, kelak akan menjadi penerus penguasa istana ini karena kebetulan semua anakku perempuan." Sang Prabu mulai mengenalkan lebih terperinci lagi tentang putri Kencana Wungu.
"Aku mencari calon suami untuk putri ku di kesempatan ini."
"Semua orang memiliki kesempatan untuk mencalonkan diri."
Semua terlihat tersenyum mendengar ucapan sang raja tersebut.
"Tapi tentu saja ada kriterianya."
"Apa kriteria itu Yang Mulia?." terdengar sebuah suara dari salah satu tamu undangan yang ada di sana.
"Kuat, baik secara fisik dan kekuasaan." dengan singkat padat dan cepat prabu Jalilan Tunggaraja mengutarakan kriteria calon menantunya.
Kuat secara fisik tentu saja seorang yang mampu bertarung dengan hebat, sakti dan pilih tanding. Sedangkan kuat secara kekuasaan berarti memiliki kuasa atas wilayah, perguruan atau kelompok.
"Bagaimana kami menunjukkan kekuatan kami? apakah harus bertarung?," tanya salah satu pemuda.
"Ya..jika memang itu di perlukan." sahut sang raja.
Di saat suasana tegang bagi para pemuda yang mengincar sang putri, tiba tiba datang seorang prajurit dengan tergopoh gopoh.
"A-ampun Yang Mulia, ada kekacauan di alun alun."
"Kekacauan?, siapa yang berani mengacau?." bentak sang Raja dengan wajah murka.
"Tiga laki laki tak di kenal, mereka menghajar para penjaga keamanan, dan saat ini tengah bertarung dengan dua gadis muda."
Wajah prabu Jalilan memerah marah, selama ini tak pernah ada masalah di negeri tersebut, dan peristiwa ini membuat tercoreng wajahnya.
"Siapa yang mampu menghentikan kekacauan aku terima menjadi menantuku tanpa syarat..!," teriak sang Raja akhirnya memutuskan.
Jaya sedikit was was setelah mendengar tiga perusuh bertarung melawan dua gadis.
"Apakah dua gadis itu Pelangi dan Kumala paman?."
"Bisa jadi Nakmas, saya juga merasa tak enak hati, jangan jangan itu kedua Den Ayu." jawab Baroto pelan.
__ADS_1
Semua yang ada di ruang tersebut membubarkan diri, bergerak menuju ke alun alun, pusat keramain.
**
CLAAAPP...!!
CLAAAAAPP..!!
Pelangi melepas jurus Mata Dewa setelah merangsek maju ke arah Selo, mencoba menagkap dan menjebak lawannya, lalu di susul dengan serangan mata Iblis yang di pancarkan Kumala.
Selo yang tak menyangka mendapat serangan seperti itu kaget, lalu langsung terjebak dalam kekuatan Mata Dewa, sebelum kemudian sebuah hantaman dari Mata Iblis yang di lesatkan Kumala.
BLAAAAAARR..!
Terjadi ledakan di badan Selo, jika orang biasa pasti badannya langsung hancur dan mati, namun karena ini seorang Dewa yang memiliki Raga Abadi, badan Selo langsung pulih setelah terlempar di terjang gelombang hantaman Mata Iblis.
"Keparaat..!, Dasar manusia tak tau di untung..!, aku balas kau..!," teriak Selo yang sempat meremehkan lawannya hingga kecolongan dan harus merelakan beberapa lapis Raga Abadinya musnah.
Selo langsung bangkit, setelah sesaat raganya telah pulih kembali.
Sementara itu prajurit istana bersama para tamu undangan yang sudah mendapat laporan adanya perusuh langsung menuju ke lokasi kerusuhan.
Keadaan sudah benar benar kacau, para prajurit penjaga yang ada di sana sudah bergeletakan dengan kondisi sangat mengenaskan.
Prajurit penjaga perbantuan itu sudah di hajar oleh Sambi yang ingin menolong rekannya, saat semua pasukan penjaga yang ada di alun alun mau menangkap nya.
Salah satu prajurit yang masih tersadar menunjuk ke sebuah arah, dimana kini masih terjadi pertempuran Sambi yang tengah menghajar sisa prajurit keamanan, sementara di kejauhan dari sana ada pertarungan lain, Simo melawan dua gadis yang tak lain Pelangi dan Kumala.
Dengan petunjuk itu para prajurit yang bersama raja dan tamu peserta langsung menuju ke arah Sambi yang masih menyerang prajurit.
Sementara jaya yang memiliki pandangan lebih tajam dan mampu melihat jauh, langsung menatap Selo yang tengah bertarung dengan Pelangi dan Kumala yang ada di kejauhan.
**
"Kalian akan ingsun musnahkan..!," teriak Selo dengan kemarahan yang memuncak, lalu meloncat melesat menerjang ke arah Pelangi dan Kumala yang kini sudah menyatukan kekuatan menghadang hantaman nya.
"HIAAA...!."
Kali ini Selo benar benar mengerahkan tenaganya yang sekira mampu untuk menghancurkan lawannya, manusia bumi. Kekuatan yang semula di sembunyikan karena menganggap lawannya enteng.
DUAAAAARRR...!
Terdengar ledakan sangat keras, membuat tempat itu terguncang, melemparkan apapun yang ada di dekat sana.
__ADS_1
Semua terkesiap dengan ledakan itu, gelombang kekuatan menghempaskan seluruh yang saat itu berada di pusat keramaian itu.
Selo terlempar ke belakang, tak mengira akan berbenturan dengan kekuatan yang sangat dahsyat yang mampu membuatnya terdorong sejauh ini.
"Bedebah..!, siapa lagi ini berani ikut campur..!," bentak Selo, setelah bangkit dari berbaringnya karena terlempar sangat jauh.
Dewa itu melesat terbang, menuju ke titik awal bertempur. Di lihatnya seorang pemuda tengah melindungi dua wanita lawannya tadi.
"Binatang rendahan..!, berani kau ikut campur..!." hardik Selo begitu dekat dengan sang pemuda yang ternyata adalah Jaya.
Entah apa jadinya jika Jaya tak datang tepat waktu, kedua gadisnya pasti akan celaka.
Jaya menatap pria di depannya, alisnya menjadi tertaut begitu menyadari siapa sosok di depannya.
Bagi seorang Dewa Perang pasti memiliki kemampuan untuk melihat sesungguhnya siapa orang tersebut dari aura yang terpancar, meskipun Selo bahkan belum menyadarinya.
"Kenapa banyak sekali makhluk seperti kalian berkeliaran di alam ini?." gumam Jaya, merasa aneh.
"Apa mereka juga ingin mencariku?."
"Kau akan celaka karena sudah merusak kesenanganku..!," kembali Selo membentak Jaya, yang menurutnya malah bergumam tak jelas.
"Coba saja, aku lawan yang pantas untukmu." balas Jaya.
Selo yang masih di liputi amarah, tak menyadari dan memperhatikan lawannya, baginya yang terpenting memusnahkan lawan secepatnya.
"Baik aku akan memusnahkan mu, lalu semua manusia yang berani bertindak kurang ajar kepadaku."
Selo sudah kembali menyiapkan diri, memainkan jurusnya bersiap menyerang Jaya.
"Ayo kerahkan kekuatanmu, kita bertarung di sini..!," tantangnya.
Jaya lalu mengerahkan jurus Selaksa Ombak Menerjang, menghadapi jurus yang sudah disiapkan lawan.
"HIAAAA...!!."
Selo melesat menghantamkan serangan dan Jaya menyambutnya, memapag serangan tersebut dengan jurus yang sudah di siapkan.
DES...!
DES...!
Saling tangkis dan saling pukul, mereka lakukan, kini semua sudah menjauh dari alun alun tersebut. Hanya ada dua pertempuran, yaitu Jaya melawan Selo dan Sambi melawan para prajurit dan tamu undangan, sementara Winosego masih melihat saja.
__ADS_1
___________
Jejaknya....