
"Bagaimana Jika aku ikut kakang saja..?."
Jaya terkesiap, mendengar perkataan Kumala yang kini sudah menaiki kuda sendiri, hasil dari Jaya menang bertarung dengan lawan nya kemarin.
"Apa aku tak salah dengar Dinda..?." sahut Jaya.
Kumala menggeleng," Aku juga ingin bertualang setelah selama ini berada di pengasingan."
"Tapi ini jauh ke selatan.., jauh dari Ngarsopuro apakah tetap mau ikut..?."
Kumala mengangguk, mengisyaratkan bahwa dia tetap ingin ikut rombongan tersebut, karena baginya memiliki kelompok yang cocok seperti ini sangat sulit.
"Memangnya Kakang mau ke selatan mau kemana..?, dalam rangka apa..?."
"Kami mau ke Pasir Putih, aku ingin menjemput Dinda Pelangi..," kata Jaya Sanjaya masih berdiri di dekat kudanya karena mereka memang memutuskan istirahat di persimpangan tersebut.
"Apakah Dinda Pelangi kekasih kakang..?, atau istri Kakang..?." kata Kumala dengan penasaran.
Jaya hanya tersenyum menanggapi perkataan Kumala, "Bagaimana apakah tetap mau ikut..?."
"Jika diijinkan..," sahut Kumala pelan, sedih jika di tolak.
"Tentu saja diijinkan," sahut Jaya tersenyum, membuat Kumala langsung berbinar.
Saat semuanya tengah menikmati makanan seadanya yang menjadi bekal, nampak terlihat dari jauh serombongan orang dengan tergesa memacu kuda tunggangan nya.
"Ahaa...! akhirnya ketemu juga kalian disini." teriak salah seorang dari rombongan itu.
Rombongan Jaya menatap ke arah kelompok orang orang yang baru datang, terlihat dari pakaian dan simbolnya mereka dari Kelompok Api Suci khususnya anggota Darah Api.
"Ada apa..? kenapa menyusul kami..?." Sahut Jaya, berdiri mengawasi orang orang tersebut.
Salah satu dari orang orang tersebut langsung meloncat turun dari kudanya. "Siapa yang sudah mengalahkan anak buah ku..!,"teriak orang tersebut sembari berkacak pinggang.
"Itu pertarungan yang adil, memangnya ada apa..?." sahut Jaya dengan cepat.
"Adil dari mana...!, anak buah ku bahkan belum siap sudah di serang..!," hardik orang tersebut dengan galak.
"Belum siap apanya .., dia sudah tau aturannya dan sudah memasang kuda kuda tanda siap bertarung saat itu.." seru Teja tak mau kalah.
"Jadi kau yang sudah mengalahkannya..??." bentak orang tersebut.
"Perkenalan..., orang biasa memanggil ku Pitu Geni..aku tetua dari kelompok Darah Api pasukan khusus partai Api Suci," kata orang tersebut dengan dada membusung.
"Jika aku lihat luka anak buah ku, nampaknya kau juga pengguna Api, apakah kau juga salah satu anak buah Dewa Api yang tak ku ketahui..?," tanya Pitu Geni dengan menyebutkan nama Dewa Api sebagai pucuk pimpinan tertinggi Api Suci.
Jaya menggeleng, "Aku bahkan tak mengenal siapa Dewa yang kau sebut itu."
__ADS_1
Pitu Geni menarik nafasnya, "Baikah jika demikian aku tak akan sungkan menghajar mu..!, karena kita tak sealiran." bentaknya lebih keras dari yang tadi.
"Mengapa kau ingin menghajar ku..?, aku tak punya permasalahan dengan mu," sahut Jaya masih mencoba bersabar.
"Masalahnya kau sudah melewati wilayah ku dan tak memberi Upeti malah mengambil kuda kami...!."
"Hei..itu pertandingan yang adil..!," seru Jaya.
"Kalau begitu aku juga ingin bertanding denganmu.., jika aku menang serahkan seluruh harta kalian..!."
"Jika aku yang menang..?."
"Kau boleh memiliki pusaka ku..ini," kata Pitu Geni sambil memamerkan sebuah golok yang bisa mengeluarkan api.
"Hmmm...aku tak butuh senjata macam itu..," dengus Jaya, bagi dirinya tak ada senjata sehebat senjata milik nya, apalagi senjata yang di miliki lawan hanya senjata tingkat Langit (Lihat chapter awal mula untuk tingkatkan senjata)
"Hei..ini senjata tingkat Langit bernama golok Wiso Geni, pusaka yang hebat di kelompok Api Suci, bahkan Dewa Api pun kepincut senjata ini..!," seru Pitu Geni tersinggung, dengan lawannya yang terlihat meremehkan senjata nya.
"Bagaimana jika kau kalah denganku kau menjadi pengikut ku..!, begitupun juga dengan ku jika kalah dari mu.." Jaya berkata menatap pria paruh baya yang kini sudah memutar mutar senjata nya tersebut.
"Aku terima...!!." teriak Pitu Geni meloncat untuk lebih maju lagi.
Pitu Geni kemudian mulai memainkan jurus jurus api nya, dalam waktu sesaat udara di sana mulai memanas, golok Wiso Geni di tangan kanannya mulai berkobar.
"Hiaaa...!!."
Dengan cepat Pitu Geni melesat maju menyabetkan goloknya yang berkobar, menyerang ke arah Jaya.
Sriiiing...!!
Sambaran golok tersebut di hindari dengan menggeser kan badan sedikit condong ke kanan.
Tebasan tersebut lewat satu jengkal dari badan Jaya, jika orang lain pasti kulitnya akan mengelupas terkena panasnya golok Wiso Geni dan jurus berhawa panas dari Pitu Geni.
Wuuuuss.....!
Kembali serangan Pitu Geni menyasar badan Jaya, sabetan pedang yang di barengi dengan hantaman Jurus berhawa panas mengarah ke dada dan kepala nya.
DUAAAR....!!
Jaya masih menghindari senjata lawan, dan memapag pukulan tersebut dengan jurus Manggar Pecah dengan sedikit hawa Badai Matahari, hingga terdengar ledakan akibat benturan dua gelombang kekuatan.
Sesaat tangan Jaya yang menangkis pukulan lawan memerah terbakar oleh api Pitu Geni, namun dalam hitungan detik kembali seperti semula akibat Raga Abadi yang dimiliki nya.
Sedangkan Pitu Geni menetralkan sedikit panas dari Badai Matahari itu dengan golok Wiso Geni miliknya dan terserap hingga golok tersebut makin berkobar.
Pitu Geni terpukau dengan kehebatan lawannya, baru kali ini dia menemukan lawan dengan jurus tipe panas, namun berbeda dengan panasnya element Api.
__ADS_1
"Heh, Ilmu apa yang kau miliki anak muda ini ..!," dengan penasaran Pitu Geni bergumam pelan ditengah pertempuran.
Golok nya makin berkobar, akibat tenaga dalam yang makin kuat di kerah kan nya.
Sabetan senjata itu juga makin cepat dan kuat, mendesak Jaya hingga berjumpalitan kesana kemari, memang hebat tetua dari pasukan khusus ini, mungkin setingkat dengan tetua lingkaran Ring satu.
Semua kini makin jauh menyingkir, karena hawa panas yang di hasilkan dari pertarungan itu harus memaksa semuanya mengerahkan tenaga dalam untuk perlindungan tubuhnya.
Mereka tak mau sia sia mengerahkan tenaga dalam hanya untuk menonton, jadi lebih baik menyingkir jauh biar aman, sambil mengamati jalannya pertarungan hebat tersebut.
Melihat lawannya makin gencar melakukan serangan, Jaya mengeluarkan tombak kyai Seto Ludiro dan perisai Wojo Digdoyo dengan cara seperti biasanya.
Ziiiing......
Ziiiing.......
Dua senjata melesat seakan di lemparkan dari jarak tertentu, membuat semua kaget dengan pemandangan tersebut.
"Siapa yang mengirim senjata tersebut..?."
"Siapa ikut campur..?!?!."
Kasak kusuk orang orang Darah Api terdengar samar samar.
Dengan senjata andalannya di tangan kini Jaya bergerak makin cepat dan mengagumkan.
Sengaja tak ingin menggunakan Jurus Mata Dewa karena Jaya ingin menaklukan lawan di depan untuk di jadikan pengikutnya.
Jaya memutar tombaknya mengeluarkan deru angin yang kuat menyingkirkan hawa panas yang semula melingkupi area tersebut.
Setelah itu melesat maju mendorong tombaknya menyerang dada lawannya.
Jurus yang menakjubkan di gunakan Jaya untuk menaklukkan lawan nya.
Sriiiing....!!
Mata tombak melesat kuat mengarah dada lawannya, diiringi suara menderu membuat Pitu Geni secepat mungkin menangkis dengan golok nya.
CETAAAAAAANG...!!
Suara dentangan keras terdengar hingga ratusan tombak, Pitu Geni tergetar tangannya dan tombak itu makin menyasar dada nya.
Hantaman goloknya seakan tak berpengaruh sama sekali, padahal dia sudah menepis dengan pukulan terkuat nya ke ujung tombak tersebut.
"Uuggh...kekuatan yang luar biasa.."
Pitu Geni terdorong kebelakang selain akibat dorongan kekuatan lawan, benturan itu juga mengakibatkan pecahnya gelombang tenaga hingga terburai bebas.
__ADS_1
____________
Jejaknya ....