
Rakumba berdiri gagah dengan enam sosok juga berdiri di depannya.
Dua dua berjajar dari depan ke belakang diakhiri oleh Rakumba yang berdiri paling ujung seakan membentuk formasi mengerucut.
"Berhenti...!!," pelan Jaya mengangkat tangan nya, menahan anggotanya yang akan bergerak maju, melihat di depannya ada serombongan orang menghadang nya.
Jaya menatap tajam beberapa orang yang berdiri berjajar membentuk sebuah formasi, menghadang di tengah Jalan.
Setelah semua berhenti Jaya turun dari kuda nya, berjalan maju beberapa langkah dari kelompok nya, sambil menatap beberapa sosok yang berdiri tegak di jalanan tersebut.
"Mengapa Kisanak menghadang ku?''
Rakumba hanya membisu, menatap tajam kearah Jaya yang masih cukup jauh meskipun sudah berjalan maju beberapa langkah dari kelompok nya.
"Siapa kalian?." tanya Jaya lagi, begitu tak mendapat kan jawaban dari orang orang di depannya tersebut.
Semua terdiam tak menjawab, hanya tatapan kosong dari enam sosok terdepan yang terasa sangat dingin, "Kau kah yang merampas senjata tongkat Wesi Kuning? dari teman kami?." kata Rakumba tiba tiba memecah keheningan.
Jaya menatap sosok yang berkata, berada paling belakang dari formasi para penghadang nya tersebut, dirinya kini sadar siapa orang orang di depannya ini.
"Kalian anggota Jiwa Abadi?.'' gantian Jaya membalas pertanyaan dengan pertanyaan.
Rakumba mengangguk kecil, memastikan kepada lawan.
"Aku memang merebut senjata itu, dari orang yang mencampuri dan akan mencelakai kami."
"Cuiih..!, kalianlah yang mencampuri urusan kami..!." sentak Rakumba membalas ucapan Jaya.
"Jika kau tak ikut campur kami tak akan memburu mu..!." kata Rakumba kembali.
"Kami pendekar aliran putih, sudah sewajarnya mengulurkan tangan kepada orang yang teraniaya, kami hanya membela kebenaran."
Rakumba tak membalas perkataan Jaya lagi, bibirnya komat kamit, sekilas tangannya bergerak seakan melakukan sebuah gerakan dengan simbol tertentu.
Dua sosok paling depan dari formasi yang Rakumba lakukan melesat maju, langsung menyerang Jaya dengan tangan Kosong.
Kecepatan serangan yang sangat luar biasa, di tunjukkan oleh dua sosok tersebut.
Wuuusss....
Dua buah pukulan dilakukan oleh dua sosok itu, gelombang kekuatan yang mengiringi menandakan jika pukulan tersebut bukan kaleng kaleng.
Wuuuung...!
Wuuuung...!!
Jaya sedikit bergeser, menghindari sosok pertama, namun serangan sosok kedua juga tak kalah cepat menerjang Jaya yang langsung menangkisnya.
Deeess..!!
Jaya sedikit terkesiap saat beradu pukulan, kekuatan sosok itu sangat hebat.
Yang lebih mengagetkan lagi sosok itu tanpa ekspresi saat bertemu pukulan, seakan tak merasakan apapun.
Jaya meningkatkan kekuatannya, melayani pertarungan tangan kosong dengan dua sosok tersebut.
__ADS_1
"Hiaaaa...!!."
Sebuah serangan di lancarkan oleh Jaya, bergerak sangat cepat melesat menghantam dada lawan.
Bouuugh....!!
Suara seperti menghantam benda kenyal terdengar sangat kuat, saat pukulan Jaya mendarat di dada salah satu Layon Pitu tersebut.
Pukulan yang mengandung kekuatan Selaksa Ombak Menerjang dengan hawa Badai Matahari itu, tepat menghantam lawannya.
Sosok tersebut terlempar kebelakang beberapa tombak, jika orang biasa pasti sudah jebol dada nya.
"Modaar koe..!!," terdengar Baroto berseru di belakang saat salah satu sosok itu terhantam.
Sosok Layon Pitu satunya langsung bergerak makin cepat menyerang Jaya begitu rekannya terpukul hingga terlempar jauh.
"Hiaaaa...!!." Kembali Jaya berteriak mempercepat gerakannya, menghantamkan pukulannya.
"BADAI MATAHARI...!!."
BLEGAAAAAART....!!
Pukulan Jaya yang sudah di lambari oleh hawa panas Badai Matahari, bertemu dengan pukulan lawan yang entah kenapa berhawa sangat dingin.
Ledakan keras terdengar sangat kuat, membuat yang lain terdorong kebelakang.
Sosok Layon Pitu lawanya terpental kebelakang dengan lengan dan dada terbakar, meskipun sosok itu sudah menangkal dengan kekuatan elemen Es yang sangat dingin.
"Edaan...sosok aneh ini kuat sekali."
Jaya yang juga bergeser beberapa langkah akibat benturan itu sedikit kaget, merasa sosok didepannya sangat kuat, bertarung tanpa ekspresi dan tak merasakan apapun.
"Haaah...!!," sedikit ternganga semua anggota Awan Putih.
"Badannya masih utuh? bahkan tak terlihat ada bekas luka, hanya bajunya saja yang hitam yang terkoyak si sana sini." pelan Pitu Geni bergumam, di belakang melihat lawan Jaya datang kembali.
Rakumba tersenyum, melihat lawan lawannya terbelalak melihat kehebatan Layon Pitu.
"Itu belum seberapa, semua ini belum maju menyerang kalian..!," gumamnya pelan.
Dua lawan Jaya kini sudah berdiri dengan gagah di depan Jaya.
"Hmm, pasukan yang aneh, badannya liat, melebihi baja tak mudah di lukai, dan jika terluka segera pulih seperti pasukan Gagak Hitam, bahkan lebih kuat lagi." batin Jaya dengan meningkat kan kewaspadaan.
Dua lawan Jaya yang kini sudah terkoyak baju hitam dan penutup kepalanya itu, sedikit menampilkan wujud aslinya, "baju kebesaran" nya mulai terlihat samar samar.
Empu Cipta guna yang berusia paling tua disana sedikit menelisik dari Jarak yang cukup jauh, menatap dua sosok lawan Jaya tersebut.
"Apakah ada yang pernah mendengar seorang legenda bernama Iblis Salju dan Raja Neraka ?." pelan sang empu yang sudah berusia ratusan tahun itu bertanya.
Baroto, Sugara dan beberapa orang lain menggeleng, namun Pitu Geni yang menggunakan jurus element Api menyahut, "Aku pernah sedikit mendengar cerita itu empu..."
Empu Cipta guna yang banyak mempelajari tentang kekuatan para pengguna senjata itu kembali berkata, "Dahulu kala menurut cerita yang sambung menyambung kudapat, dari guruku dan guruku di dapat dari kakek guru ku, ada sosok legenda yang memiliki kekuatan Api sangat hebat dan kekuatan Air yang luar biasa, keduanya sangat di takuti karena kehebatannya di jaman nya."
"Sosok itu bernama Raja Neraka memiliki kekuatan Api yang nggegirisi dan Iblis Salju yang memiliki kekuatan Air atau Es yang menakjubkan."
__ADS_1
"Mereka tak hidup dalam waktu yang sama, selisih beberapa dekade, kekuatannya yang sangat menakutkan, kedua ciri ciri sosok itu kini aku lihat ada di dua lawan Nakmas Bendoro." kata empu tua tersebut.
Pitu Geni mendekat ke arah empu Cipta guna, begitupun yang lain mulai merapat, penasaran dengan apa yang di ceritakan sosok tua tersebut.
"Kedua tokoh itu (Raja Neraka dan Iblis Salju) hidup di rentang ratusan tahun yang lalu, mereka memiliki ciri ciri seperti dua sosok itu, Raja Neraka dengan Baju merah dan ada gambar Api pijar di dada, sedangkan Iblis Salju dengan baju putih dengan pola begini," kata Empu Cipta guna sambil menggambarkan dengan tangannya pola yang di maksud.
Semua menoleh kearah dua lawan Jaya yang masih berdiri, dengan baju luar hitam dan penutup kepala yang sudah terkoyak memperlihatkan pakaian asli dua sosok tersebut.
"Hmm, pantas...aku juga melihat ada yang aneh dari dua sosok lawan Nakmas Bendoro, keduanya sepeti mayat hidup, tak memiliki ekspresi," sela Anuso Birowo menatap ke depan lagi memastikan pandangan nya.
"Benar," sahut yang lainnya.
Dahulu kala memang Iblis Wora dan Iblis Wari mencuri mayat mayat para tokoh hebat yang sudah mati, menyimpan mayat itu dan menanamkan cacing darah Sarma Pala yang sudah di kembangkan ke dalam raga mereka.
Tokoh tokoh legenda itu masih menyimpan Cakra aslinya, kekuatan dari ilmu Kanuragan nya bahkan di bangkitkan lagi, dan dengan ilmu yang dimilikinya dua Iblis itu mampu mengendalikan sosok sosok tersebut.
Sosok yang tak pernah mati lagi, bertarung tanpa mengenal rasa takut, sakit atau terkalahkan itu di jadikan pasukan oleh dua Iblis tersebut.
Jaya kini sudah mencabut tongkat Wesi Kuning, merasa lawannya memiliki kekuatan luar biasa.
Begitu Jaya mengeluarkan senjata, dua sosok tersebut juga mengeluarkan senjata masing masing.
Sosok Raja Neraka mengeluarkan tongkat merah yang langsung membara begitu berada di tangannya, begitu juga Iblis Salju mengeluarkan pedang berwarna putih tulang yang langsung menguar kan hawa amat dingin.
Tanpa membuang waktu lagi, Jaya melesat maju menghantamkan pukulannya.
Tongkat Wesi Kuning yang ada di tangan Jaya sudah berpendar, menandakan Jaya juga sudah mengeluarkan kekuatan nya.
Wuuuung...
Hantaman penuh kekuatan itu menebas kearah kepala Raja Neraka.
Mendapat serangan cepat, dua sosok itu juga bergerak cepat mengimbangi serangan Jaya.
Raja Neraka langsung menyilangkan tongkat merah yang sudah membara seperti bara.
BLAAAAAARR.....!!
Benturan keras terjadi, memercikan api ke sekitar yang langsung membakar semak dan pepohonan di sana.
Wwuuussss...
Sriiiiiing....!!
Giliran tebasan pedang Iblis Salju menyusul mengarah ke arah badan Jaya.
Dengan membelokan tongkat Wesi Kuning setelah berbenturan dengan senjata lawan, Jaya menangkis sambaran pedang putih tulang lawan.
JDUAAAAAARRT.....!!
Ledakan kembali terjadi dengan sama kerasnya.
Kali ini bunga es yang berhamburan, menyebar ke sekitar nya saat dua senjata itu beradu, mematikan nyala api yang membakar semak dan pepohonan tadi.
Pertarungan dua lawan satu tersebut masih berlangsung seru, berganti ganti terdengar benturan dengan hawa pukulan yang berubah ubah.
__ADS_1
__________
Jangan lupa tinggalkan jejak nya...