
"Cepat...!, jangan sampai tertinggal jauh..!.," teriak Tapak Setan, salah satu petinggi kelompok Api Suci yang ada di lingkaran Ring satu.
Mereka di tugaskan oleh Dewa Api untuk mengejar kelompok Jaya, terutama menyadarkan Pitu Geni.
Tapak Setan yang di dampingi tangan kanan nya bernama Gunadarma memimpin para pasukan nya yang berjumlah seratusan orang dengan di tambah sebagian pasukan Darah Api menjadi hampir dua ratusan orang.
Seorang pasukan Mata Angin (mata mata Api Suci) berada di baris paling depan, dia yang memimpin pengejaran di bantu pasukan Darah Api yang sedikit memberikan informasi nya.
"Benar mereka melewati jalur ini..?." tanya pasukan Mata Angin kepada anggota Darah Api.
"Benar...hanya jalur ini yang paling nyaman biasa di lalui jika ingin ke selatan, meskipun ada jalur lainnya namun lebih sulit karena melewati sungai dan rawa rawa." sahut anggota Darah Api yang memang bermarkas lebih dekat daerah sana.
Anggota Mata Angin itu turun dari kudanya, memastikan jalur tersebut, memeriksa tanah, rerumputan dan sekitarnya, kemudian menghampiri Tapak Setan.
"Seperti nya mereka memang melewati tempat ini Tuan Tapak Setan."
"Ayo kita lanjut kan perjalanan ini," perintah Tapak Setan kepada seluruh anggota nya.
Rombongan itu kembali memacu kuda tunggangan, mengejar buruannya agar tak terlalu jauh tertinggal.
**
Tiga Bayangan Setan masih meloncat loncat menuju ke arah sumber cahaya yang selalu berpindah pindah.
Tanpa mereka sadari sesosok baju hitam dengan topeng di wajahnya nampak mengikuti ketiganya dengan jarak yang terjaga.
"Kita lihat pusaka jenis apa itu baru kita fikirkan bagaimana cara mendapatkan nya."
"Aku setuju pendapat mu Jino saudara ku," sahut Lono.
Tino hanya mengangguk saja mendengar perkataan dua saudara nya.
Tiga Bayangan Setan yang bernama asli Jino, Lono dan Tino terdengar berkomunikasi, mencoba mengatur strategi harus bagaimana langkah yang di ambil untuk mendapatkan pusaka tersebut.
Kembali ketiga nya meloncat dengan kecepatan yang luar biasa, melesat membelah hutan pagi itu dengan sangat cepat.
"Hmm...ternyata memburu pusaka ini gampang gampang susah," seru Tino.
"Maksud mu..?!?!," tanya Jino dan Lono hampir bersamaan.
"Coba lihatlah saudara ku.." kata Tino kini sudah berdiri, berkacak pinggang menatap lebatnya hutan di depan mereka.
Sedang dua saudaranya, yaitu Jino dan Lono memandang ke depan.
"Suasana pagi ini, sangat terang benderang, tak ada cahaya sinar pusaka tersebut yang bisa kita ikuti."
"Kita tak ada petunjuk apapun untuk mencarinya, sedangkan jika kita bergerak malam, kita bisa melihat sinar yang di pancarkan pusaka tersebut."
Lono dan Jino akhirnya menyadari kemana arah pembicaraan saudara nya tersebut.
"Ya benar saudara ku..kita kesulitan jika mencari pusaka tersebut siang hari begini, apa sebaiknya kita kembali lagi malam nanti..??." sahut Lono memandang saudara tua Jino dan saudara muda Tino.
"Sebaiknya begitu kupikir." kata Jino lalu memutar.
__ADS_1
Ketiganya langsung berbalik arah untuk kembali ke tempat yang aman guna mengintai benda pusaka pilihannya.
Pencuri bertopeng segera merunduk, berbaring sembunyi di rerumputan yang ada disana sekena nya, begitu orang orang yang di intai berbalik, dia bersembunyi dari ketiga saudara pemburu pusaka.
**
"Nampaknya rombongan itu sudah semakin dekat." kata Jaya mengingatkan kelompok nya.
"Benar Nakmas.., aku bisa melihat kepulan debu di sebelah sana," sahut Baroto, sembari tangannya menunjuk ke sebuah arah.
Semua kini memandang ke arah dari mana mereka berjalan kemarin.
"Paman Narimo, aku merasa akan terjadi sesuatu.. sebaiknya paman membawa kuda kuda ini terlebih dahulu."
"Masuklah ke hutan sana, nanti aku akan menyusul mu, jangan terlalu jauh dan bersembunyi lah." kata Jaya memerintahkan kepada Narimo.
Narimo lalu membawa empat tali kekang kuda untuk di ikatkan nya di belakang pelana kuda nya.
Pelan namun pasti, Narimo meninggalkan tempat tersebut dengan membawa empat ekor kuda milik Jaya, Kumala, Baroto dan Pitu Geni, membawa masuk ke dalam hutan dan bersembunyi sesuai perintah Jaya.
"Jika paman Narimo sudah pergi kita akan bisa bertarung lebih leluasa."
Semua mengangguk tanda setuju.
Karena Bagaimanapun bagi keempat orang tersebut, ilmu Kanuragan nya Narimo paling lemah.
**
Rombongan Tapak Setan sudah mendekati rombongan Jaya yang kini berjumlah empat orang.
"Hmm.. bukankah itu tetua Pitu Geni..?." seru Gunadarma menatap tajam ke arah sesorang yang berdiri bersama tiga orang lainnya.
"Berarti itu benar mereka."
"Benar Tuan Tapak Setan," sahut anggota Darah Api memastikan.
Tapak Setan mendengus memajukan kudanya hingga mendekati Jaya dan ketiga pengikut nya.
Pitu Geni yang mengenal Tapak Setan sedikit mendekat berniat menyapa nya, meskipun terlihat wajahnya sudah memerah.
"Selamat bertemu tuan Tapak Setan, kebetulan kita bisa bersua disini." sapa nya dengan sopan.
"Hmm...masih mengenalku rupanya kau..!." balas Tapak Setan dengan penuh sindiran.
"Tentu saja, saya masih mengenal tuan sebagai tangan kanan Dewa Api."
Tapak Setan tak menanggapi perkataan Pitu Geni, malah menatap ke arah Jaya, Baroto dan Kumala.
"Yang mana ketua kelompok Awan Putih, yang memimpin perjalanan ini..?." Seru Tapak Setan dengan muka sinis.
Jaya maju selangkah, "Akulah orang yang kau maksud?, ada apa ..?."
"Hmm, aku di utus oleh Dewa Api untuk membawa pulang anggota kami yang telah berkhianat..!," katanya tegas sambil menatap tajam Pitu Geni.
__ADS_1
"Hei..jaga ucapan mu..dia pria bebas, dan bebas menentukan jalan hidup nya..!!," teriak Jaya Sanjaya.
"Hua..ha .ha...!, kau tau apa..!," hardik Tapak Setan dengan tertawa lantang.
"Dia anggota Api Suci, mendapatkan kekuatan dari Api, dan membawa pusaka berelement Api.., maka dia harus menyerahkan semua itu kepada Dewa Api..!., jika memang ingin keluar dari kelompok kami.."
"Maksudmu...?," tanya Jaya Sanjaya sambil menautkan kedua alisnya.
"Jika dia mau keluar dari api suci aku harus musnahkan ilmu Kanuragan nya, termasuk merampas senjata golok Wiso Geni miliknya." Teriak Tapak Setan dengan garang.
"Heh..!!, kau pikir semua ilmu yang ber-elemen Api hanya milik Api Suci..?, jangan bicara ngawur kau..!," gertak Jaya tak mau kalah.
"Benar..!!," sahut Pitu Geni menyetujui perkataan Jaya.
Tapak Setan makin meradang dengan tanggapan dari Jaya dan Pitu Geni yang enggan balik ke kelompok Api Suci.
"Baiklah.... aku sudah mencoba bicara baik baik denganmu..!, ternyata memang hidup mu hanya sampai hari ini..!," kata Tapak Setan, sambil tangannya melambai, memberi kode kepada anak buah yang di bawanya untuk mengepung empat orang tersebut.
"Jangan salahkan kelompok kami jika berlaku kejam terhadap kalian.!."
Ratusan orang itu sudah mengurung empat orang yang sudah berdiri tegak.
"Cincaaang mereka...!!."
Teriak Tapak Setan kepada anak buah yang di bawanya.
Ratusan orang tersebut langsung menyerang begitu ada perintah penyerangan dari atasannya.
Baroto Sarkawi yang merupakan tetua di Tinju Baja sudah mengerahkan kekuatan pada kedua lengannya, kini kedua lengannya makin menghitam menandakan jurus Lengan Baja Membelah Jiwa sudah di kerajaannya.
Sriiing ...! sriiing...!
Sambaran pedang para anak buah Api Suci mulai terdengar berdesing untuk menyerang empat orang disana.
Baroto Sarkawi langsung meloncat menyongsong lawannya.
Taaang...!!
Taaaang...!!
Suara dentangan pedang terdengar nyaring, kala pedang lawan di tangkis lengan Baroto.
Begitupun dengan Kumala yang sudah bergerak menebaskan pedangnya memapag serangan lawan.
Traaang...!
Traaaangg...!!
Pedang Kumala menyambar senjata lawan yang terulur berniat melukai nya.
Semetara Tapak Setan sudah melesat memilih lawan Jaya, karena menurut perhitungannya akan mudah menghadapi seorang pemuda.
Sementara Gunadarma sudah melesat merangsek menyerang ke arah Pitu Geni dan berniat merebut golok Wiso Geni, yang merupakan golok pusaka Langit.
__ADS_1
____________
Jangan lupa tinggalkan jejak nya....