Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Kekalahan Para Dewa Utusan


__ADS_3

Ketiga Dewa utusan itu langsung pucat wajahnya. Mereka tahu siapa itu Dewa Cakra Tirta Sanjaya, sang Dewa perang legenda yang keberadaannya kini tak ada yang tahu, seakan moksa.


Mungkin hanya sosok tertentu yang mengetahui keberadaannya.


Kehebatan sang Dewa yang tak di ragukan lagi hingga tembus ke langit ke tujuh, membuat ketiganya menggigil gemetaran.


"A-ampuni ..kami." kata Wonosego terbata bata, langsung mengakui kesalahan yang di buatnya, sedangkan dua dewa lainnya hanya..terdiam.


"Aku tetap akan menghukum mu..!."


Jaya mengerahkan kekuatan Badai Matahari yang lebih kuat dari biasanya, lengannya bukan hanya berpendar seperti biasa tapi sudah membara kuning kemerahan.


Senjata terbaik di alam ini juga sudah ada di kedua tangannya, senjata dengan derajat tertinggi di tingkatannya senjata Illahi, yaitu kyai Seto Ludiro dan kyai Wojo Digdoyo.


Hawa yang berbeda saat senjata itu keluar dari ruang dimensi nya langsung menyeruak, menyebar seantero alun alun yang tak seluas padang Selayang Pandang.


**


"Minggir.. Semua....!," teriak Kumala menyuruh para warga dan semua yang menonton untuk mundur, padahal saat itu jaraknya sudah sangat jauh.


"Kenapa kami harus mundur?, kita sudah cukup jauh dari pusat pertarungan, tak asyik lah..tak melihatnya.." bantah salah satu penonton di sana.


"Dasar..bodoh..!," bentak Pitu Geni, kearah orang yang menyangkal tadi.


"Memang seberbahaya itu?." kali ini Pengeran Adiguna yang ada di sekitar itu bertanya.


"Jika kau sayang nyawamu ..turuti perkataan kami, kami tau lebih dari pada kalian..!," Pelangi menegaskan.


"Tapi itu terserah kalian..!," Baroto juga berkata lalu bersama Kumala, Pelangi dan Pitu Geni meloncat jauh meninggalkan tepian alun alun tersebut.


"Mundur semua...!!," teriak sang Prabu Jalilan Tunggaraja yang mendengar semua percakapan disana.


Meski berat hati seluruh yang ada di sana memundurkan diri, meski masih ada yang nekat hanya mundur beberapa langkah saja.


"Apa kira kira kita sudah cukup, mundur sejauh ini Den Ayu?," tanya Pitu Geni yang merasa sudah mundur sangat jauh.


"Semoga saja Paman, coba lihatlah cahaya yang di pancarkan lengan Kakang Jaya lebih kuat dengan warna kuning kemerahan tak sekedar berpendar, padahal selama ini lengannya berpendar saja sudah menimbulkan daya hancur sedemikian kuat." Kata Pelangi pelan.


"Percayalah kepada kami berdua Paman, lawan kali ini bukan seperti biasa, mungkin lebih kuat dari dua Iblis."


"Percayalah kami lebih tahu tentang sesuatu yang masih Kakang Jaya sembunyikan," kata Kumala.


"Benar, Den Ayu berdua pasti lebih tahu dari pada kami." sahut Baroto.


**


Selo dan Sambi langsung bersiap, mencabut senjata yang lain yang lebih kuat dari ruang dimensi nya.


Selo kini memegang dua tombak Trisula yang sudah mengeluarkan aura cukup kuat, sedangkan Sambi sudah memegang dua tongkat yang terhubung dengan rantai.


Namun Wonosego malah mundur selangkah, baginya sudah tak ada kesempatan untuk menyelamatkan diri, dia yang paling tua usianya beberapa ribu tahun daripada dua rekannya, cukup tahu kemampuan sang Dewa Perang.


"Kalian yang mulai atau aku yang maju terlebih dahulu..!," seru Jaya sudah bersiap dengan senjata terhunusnya.

__ADS_1


Selo dan Sambi langsung meloncat maju, melesat melakukan serangan.


"HIAAAA...!"


"HIAAAAA...!!"


Gelombang serangan langsung menyebar saat dua sosok melesat laksana kilat jika di lihat oleh para penonton.


BLEEGAAAAAAARRTTT....!!


Suara ledakan keras mengguncang alam raya, tsunami gelombang angin yang bercampur dengan panas Badai Matahari menyebar menerpa menghantam apapun yang ada di pinggiran.


Panas yang sangat kuat langsung membakar apapun padahal jaraknya sangat jauh.


Orang orang yang semula ngeyel masih berada di pinggiran sebagian terbakar saat telat menghindar atau bersembunyi.


"Aaaaaaa..."


"Edaan tenan..kekuatan apa ini.!?!?."


"Masa sudah sejauh ini masih saja terkena hawa yang mengerikan ini."


Sambi terlempar begitu juga Selo, mereka langsung bergulingan, dengan aura biru makin yang kian memudar.


"Aaarggh...!."


"Aauugh...!!."


Dua Dewa itu langsung bangkit, begitu raganya sudah pulih dan kembali bersiap meski Raga Abadi nya kian habis.


"Hmm, benar..!, setidaknya kita bisa merontokan dan mengurangi lapisan Raga Abadinya..!." balas Selo.


Keduanya lalu mengeluarkan seluruh kekuatan yang di milikinya memusatkan ke tangan dan senjatanya untuk di adu kembali.


"HIAAAA....!!."


Kali ini Jaya yang melesat terlebih dahulu, menusukkan tombak kyai Seto Ludiro kearah Selo yang ada di sisi kanan.


Sriing ...!


JLEEEEB....!


"AAAARGGH..!." Jerit Selo, saat dadanya tertembus senjata Illahi, mencoba menghantam tombak Jaya tersebut agar bisa terlepas dan dia memulihkan diri, namun Jaya tak membiarkan itu.


DUAAAARR...!


"Itu untuk keombonganmu."


DUAAAAARRR...!!


"itu untuk kebodohanmu berani melawan dua calon istriku..!."


DUAAAAARRRR....!!

__ADS_1


"Itu untuk semua manusia yang kau rugi kan..!."


Tetua Awan Putih itu malah maju menghantam kepala Selo bertubi tubi sambil merutuki nya, hingga kepala itu pecah - utuh dan pecah lagi, sampai Raga Abadinya habis dan kepala Selo benar benar pecah tak pulih lagi, lalu mati.


Sementara Sambi yang mencoba menyerang Jaya dengan dua tongkat berrantai selalu bisa di tangkis perisai Wojo Digdoyo.


BLAAANK...!


BLAAAANG...!!


Gempuran Sambi tak di gubris karena Jaya masih menghabisi Selo, tanpa melihat Jaya menangkis semua hantaman hantaman tersebut.


Begitu Selo sudah binasa Jaya melesat menyerang Sambi yang masih mencoba menghantamnya.


DUUUUAAAARRR...


Dua hantaman beradu kembali, Sambi terlempar cukup jauh, jatuh ke tanah menyeluruk membentuk parit kecil, membuat permukaan lapangan tersebut tercabik cabik tak berbentuk rata lagi.


"Kau akan menyesal membunuh kami...!!," teriak Sambi menakut nakuti Jaya.


"Pasti akan ada ribuan Dewa yang akan datang dan menghancurkan alam ini...!."


Jaya menyeringai, "Kau pikir aku takut..?, aku akan tunggu saat itu tiba..!." kata Jaya menghantam dada dari Sambi dengan pukulan Badai Matahari.


DUAAARRR...!


DUAAAARRR...!!


Hantaman yang bertubi tubi tersebut, menghancurakan dada dari Sambi, lapisan Raga Abadi tersebut kini langsung rontok karena untuk memulihkan diri secara terus menerus.


"Ini balasan untuk kesombongan kalian..!."


DUAAAAARRRTT....!


Ledakan terakhir nampaknya menjadi pukulan terakhir dari Jaya karena Sambi sudah tak mampu meregenerasi tubuhnya sebab Raga Abadinya telah habis.


Jaya menatap Wonosa yang terpaku, berdiri sedikit menjauh dari arena pertarungan.


"Hamba akan terima apapun hukuman dari Dewa Cakra Tirta, hanya hamba mohon ampuni nyawaku atas kebodohanku menerima misi ini." Wonosego sudah berlutut di depan Jaya, menanti hukuman yang akan di jatuhkan sang Dewa Perang.


"Meskipun hukumannya berat..?."


Wonosego mengangguk.


"Meskipun harus aku musnahkan Raga Abadimu..?."


Kembali Wonosego mengangguk, "Tapi mohon kirim kembali hamba ke Alam Dewa."


"Baik..!, aku akan mengembalikan mu ke alam Dewa setelah menghilangkan Raga Abadi mu, sebagai pembelajaran untuk mu..!."


Jaya bergerak cepat menghajar Wonosego secara bertubi tubi, hingga di rasa sudah cukup menyisakan hanya beberapa lapis saja Raga Abadi nya."


Kemudian dengan cepat membuat portal pemindah dan melemparkan Wonosego ke dalam nya.

__ADS_1


____________


Jejaknya....


__ADS_2