
Sang Tumenggung kini sudah berdiri tegak menghunus tombaknya.
Sebuah senjata tombak tingkat Langit dengan aura dingin yang membekukan ada di genggaman nya, mungkin kah dia salah satu dari pengguna element air/es? meski bukan kelompok partai Es Abadi.
"Kenapa..? kau mulai takut kepada ku..?." kata Tumenggung Yudoyono dengan sikap arogan.
Seiring dengan tercabutnya sang tombak dari tempatnya, udara di sekitar menjadi sangat dingin, terimbas oleh aura tombak Es yang membawa hawa dingin.
Jaya menggeleng mendengar perkataan sang Tumenggung itu, "Aku hanya ragu, meski aku memenangkan pertarungan ini apakah akan pergi dengan mudah?" sindir nya.
Tumenggung Yudoyono tertawa dengan menyeringai, "Tak mudah mengalahkan ku, jadi tak usah berfikiran untuk pergi dengan cepat dari sini."
Jaya mendengus mendengar jawaban Yudoyono, "Ingat jika aku mengalahkan mu, dan kalian masih mempersulit ku, maka kalian akan berakhir seperti mereka," sahutnya dengan menunjuk mayat mayat Srigala Merah yang masih berserakan.
Tumenggung Yudoyono tak menanggapi, sudah meloncat lebih dulu maju ke depan.
"Ayo kita mulai...!" teriak Yudoyono, pria paruh baya itu sudah siaga dengan tombak terhunus mengarah ke Jaya Sanjaya.
Jaya pun melangkah maju, menarik pedang Angin Puyuh yang seketika mengeluarkan aura kebiruan.
"Majulah...!." balas nya.
Tumenggung Yudoyono melesat maju, menusukan senjatanya mulai menyerang Jaya.
Siiiing...
Traaaang..!
Satu serangan sang Tumenggung di tangkis dengan mudah oleh Jaya.
Berikutnya sudah terjadi pertarungan seru di sana, sementara tiga Senopati sudah menyingkir menjauh dari arena tersebut.
**
Sumantri sudah membuka seluruh Indra nya menyudahi semedi atau meditasi nya, dengan pernafasan yang menyerap energi alam yang barusan di lakukan sudah cukup memulihkan tenaga dalam nya kembali.
Meskipun dirinya buta namun berkat jurus Mata Malaikat, dirinya bisa mengetahui sekelilingnya sejelas orang kebanyakan.
"Hmm, Karsh.. bangunlah..!." kata Sumantri sambil menggoyang rekannya tersebut menggunakan tongkat senjatanya, mencoba membangunkan Karsh tetua Srigala Merah yang kini sudah tak sepucat tadi.
Karsh masih terlelap, meskipun sudah di bantu dengan tenaga dalam murni oleh Sumantri namun ternyata belum juga membuat rekannya itu terbangun sadar dari pingsan nya, rupanya luka dalamnya cukup parah akibat benturan dengan pukulan Jaya tadi.
"Aargh..nampaknya aku harus benar benar membawa Karsh ke hadapan tetua Agung agar di obati," gumam dari Sumantri, sambil kembali mendukung dan membopong badan Karsh sebelum melesat terbang kembali.
Dengan zirah sayap Garuda yang berhasil di kuasai nya kini pergerakan Sumantri lebih luas lagi.
Dua kini melesat meluncur kearah sebuah tempat yang masih sangat tersembunyi.
**
Yudoyono memutar tombak nya, mencoba memainkan jurus jurus nya untuk menyerang Jaya Sanjaya.
Jaya yang juga pengguna tombak dengan sangat ahli dapat dengan mudah meredam semua serangan dari sang Tumenggung.
__ADS_1
Setiap tusukan, tebasan maupun gebukan tombak tersebut berhasil di mentahkan oleh Jaya.
Pedang Angin Puyuh yang di gunakan nya meliuk menangkis setiap serangan dari Yudoyono, bahkan hawa dingin yang keluar dari sambaran tombak tersebut langsung tersapu oleh angin yang keluar dari sabetan pedang Angin Puyuh menjadi menyebar keluar area.
Meloncat dan berputar di udara dilakukan oleh Jaya ketika menghindari tusukan maupun saat menangkis senjata lawan.
"Jangan hanya menghindar...!, aku jadi tak tega melukai mu..!!," teriak Yudoyono kesal karena serangannya di hindari dan di tepis lawan.
"Baiklah jika itu mau mu..!," teriak Jaya sudah meloncat mundur.
Memainkan senjata pedang Angin Puyuh, sebelum melesat maju menyambar tumenggung Yudoyono yang juga sudah memutar mutar tombaknya.
Gelombang angin menderu mengiringi lesatan Jaya.
"Hiaaaa...!!."
Lesatan tenaga yang di hantamkan Jaya menabrak perisai angin yang berhawa dingin ciptaan dari sang Tumenggung yang memutar tombak nya.
BLAAAAAR....!
Ledakan keras terjadi akibat benturan tersebut.
Tumenggung Yudoyono terdorong beberapa langkah kebelakang, perisai buatannya pecah hancur meledak terhantam pukulan Jaya Sanjaya.
Jaya hanya mundur dua langkah, terdorong oleh pecahnya gelombang tenaga yang bertubrukan.
"Aaarch.." sang Tumenggung sedikit berdesah dengan dada sedikit engap akibat benturan itu.
"Cukup lumayan juga kemampuanmu anak muda," puji tumenggung Yudoyono, sedikit memuji lawannya.
Jaya hanya menghantamkan serangan dengan dilapisi kekuatan Manggar Pecah.
"Tapi aku belum kalah..karena jurus andalan ku belum aku keluarkan tadi," seru Yudhoyono kembali, kini sudah mulai memasang kuda kudanya.
Sedikit menekuk kakinya sebelum meloncat menyerang Jaya dengan tombak yang makin memutih terselimuti kabut Es dan hawa dingin.
"HIAAAAAAA...!!.'
Gelombang udara makin dingin kini menerjang ke arah Jaya bersama dengan sang Tumenggung yang menusukan tombak nya.
Jaya juga meloncat menyambut serangan lawan, dengan menusukan pedang Angin Puyuh yang di mainkan jurus Manggar Pecah dan tenaga Selaksa Ombak Menerjang.
Ujung tajam dua senjata itu bertemu, dan kembali terjadi tabrakan dari dua kekuatan yang saling gempur tersebut.
BLEGAAAAAART....!!!
Ledakan keras terjadi, Jaya masih kokoh berdiri di tempatnya, dengan tatapan tajam ke arah tumenggung Yudoyono yang terlempar bergulingan hingga beberapa tombak.
"Aaaaarrcchh...!!."
Teriakan sang Tumenggung terdengar melengking seiring tubuhnya yang terlempar dan tombaknya lepas dari genggaman nya.
Semua terbelalak melihat kejadian tersebut, pasalnya sang Tumenggung adalah sosok tokoh hebat yang selama ini menjadi panutan di sana.
__ADS_1
Tiga Senopati langsung memburu ke arah Tumenggung Yudoyono yang terlempar tersebut, semetara semua prajurit juga menyingkir dari dekat Jaya ketika menghampiri rombongan nya.
Para prajurit bahkan ketakutan jika tiba tiba di serang rombongan Jaya, meskipun itu tak di lakukan orang orang Awan Putih tersebut.
"Ayo kita kembali ke penginapan," ajak Jaya kepada rombongan nya yang masih terpaku dengan kejadian di sana.
Rombongan itu meninggal kan tempat tersebut diiringi tatapan para prajurit yang masih kebingungan.
**
"Aaarch...!."
Tumenggung Yudoyono merintih mulai tersadar dari pingsannya.
"Aah..syukurlah ndoro Tumenggung sudah siuman," kata Senopati Ra Lewang yang di angguki oleh Senopati Kraeng Nambi dan Senopati Taruno Wardoyo.
Rasa cemas dari ketiga Senopati yang berada di sekitar pembaringan sang Tumenggung mulai sirna dengan tersadar nya sang Tumenggung.
"Aaarch... dimana ini..?" tanya sang Tumenggung pelan dengan mencoba untuk duduk dari rebahannya.
"Ndoro Tumenggung ada di tenda keprajuritan, sempat pingsan karena bertarung dengan anak muda tadi." sahut Kraeng Nambi pelan, sambil membantu Yudoyono untuk duduk.
"Uuggh.., dimana anak itu sekarang?" sang Tumenggung meringis kesakitan meskipun kini berhasil duduk.
"Ampun ndoro Tumenggung, kelompok tersebut meninggalkan tempat tadi tanpa kita tau kemana perginya," sahut Ra Lewang menerangkan.
"Iya Ndoro Tumenggung, tadi kami tak sempat mengawasi mereka saat kita menolong ndoro, dan membawa kesini," Taruno Wardoyo ikut memberikan keterangan.
Tumenggung Yudoyono hanya mengangguk angguk, "Mereka kelompok hebat, Jika kita bisa menahan mereka disini alangkah senang nya kita."
**
"Bagaimana kalian bisa bertemu dengan anak buah Jiwa Abadi?."
Jaya bertanya kepada Pelangi dan Kumala, saat itu kedua gadis itu sudah ada di kamarnya, malah sudah asik dengan membongkar barang belanjaan.
"Kami juga tak tau kakang, kayaknya mereka sudah mengintai gerak gerik kita," sahut Kumala, sambil tertawa menatap baju baju dan menempelkan ke badannya serta badan Pelangi.
Dua gadis itu terlihat senang dengan belanjaan nya kali ini.
"Terus bagaimana kalian bisa bertarung dengannya?."
Pelangi dan Kumala menoleh menatap Jaya, "Kakang bertanya saja kepada paman Narimo apa paman Sugara saja." sahut Kumala.
"Iya lagian kita mau mencoba baju baju baru ini," balas Pelangi sedikit mengerucutkan bibirnya.
Jaya hanya menggeleng saja mendengar perkataan dua gadis tersebut yang seakan tak memperdulikan apapun selain belanjaan nya.
"Sudah...kakang keluar dulu, tanyakan kejadian tadi sama paman Narimo dan paman Sugara, kami mau mencoba baju baru," kata dua gadis itu lalu mendorong Jaya agar keluar dari kamar kedua nya.
Jaya hanya mendengus dan keluar dari kamar tersebut.
___________
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak nya....