
Sejumlah pasukan nampak bergerak menuju ke Ngarsopuro, kelompok dengan umbul umbul dan bendera bergambar golok dengan di belit seekor naga hitam.
Ya kelompok tersebut adalah kelompok Golok Naga, sebuah kelompok kependekaran yang berada di tingkat Madya dalam Serikat Pendekar.
Bersama ketiga tetua yang menjadi motornya, mereka "Ngeluruk" ke Ngarsopuro bersama sejumlah besar anggota nya, jika di hitung hitung berkisar sekitar lima ratusan orang.
Seratusan kuda dan empat ratusan pejalan kaki, mereka bergerak dengan gagah memamerkan kekuatannya menuju pusat kerajaan Ngarsopuro, tepatnya istana Ngarsopuro.
"Ayo...jangan malas malasan..!," teriak para pemimpin kelompok, menyemangati pasukannya.
"Yeaaaa....yeaaaa...!!," teriakan para anggota Golok Naga menggelora, untuk makin mengobarkan semangat nya, bahkan sepanjang jalan pasukan itu menyanyikan yel-yel kelompok Golok Naga.
Dari arah yang lain nampak juga beberapa rombongan orang yang bergerak ke pusat Kerajaan tersebut, antara lain dari Api Suci yang sejak dulu selalu penasaran mendapatkan benda yang terkena Ndaru Kolocokro, mereka selalu berpikiran jika benda atau sesuatu yang terkena Ndaru tersebut pasti bisa menjadi senjata hebat.
Juga ada dari kelompok partai Es Abadi, yang ingin mendapatkan apa yang selama ini di buru oleh orang orang dunia persilatan tersebut, kelompok partai Es Abadi bahkan membawa jumlah pasukan hingga ratusan orang untuk menggempur dan merebut apa yang diinginkan.
Selain mereka ada juga beberapa kelompok dengan jumlah kecil juga terlihat bergerak menuju ke Ngarsopuro, kelompok yang terdiri dari beberapa orang hingga kurang dari sepuluh orang tersebut bergerak menuju ke istana tujuan.
Mereka semua itu memiliki tujuan yang sama ingin menguasai gadis yang terkena cahaya Ndaru Kolocokro.
**
Pencuri bertopeng tengah bertengger di atas pohon, mengawasi pergerakan orang orang yang akan menuju ke Ngarsopuro.
Banyaknya gelombang manusia yang berduyun duyun ke Ngarsopuro, cukup menarik perhatian pria tiga puluhan tahun tersebut.
"Hmm, aku jadi penasaran dengan kehebatan pusaka kali ini," gumam Mata Elang, mulai bergerak meloncat kearah dahan yang lainnya.
"Memang nya apa yang di perebutkan disini? kok orang orang yang kudengar mengatakan mau merebut pusaka?."
Kembali pencuri bertopeng meloncat mengikuti orang orang yang kini bergerak ke arah Ngarsopuro.
**
Kelompok Layon Pitu masih berada di Jagalan, wilayah dari Kerajaan Agung yang ada di selatan, yang berbatasan dengan Kerajaan Agung Tengah.
Masih mencari jejak keberadaan kelompok yang diburu nya.
"Hmm, keparat....., kelompok ini makin terlambat gara gara ulah prajurit sialan itu." geram Rakumba mengumpat sendirian, karena enam sosok lainnya hanya menatap kedepannya tanpa reaksi apapun.
Kembali Rakumba mencari tanda tanda keberadaan sang buruan dengan bertanya kesana sini, yang akhirnya didapat kan berita jika buruannya menuju ke Utara.
**
Betapa bahagianya sang prabu Danar Kencono, mendapatkan putrinya kembali dalam keadaan sehat sentosa, bahkan kini sudah memiliki ilmu Kanuragan yang dirasa cukup tinggi.
Sang permaisuri pun demikian, rasa rindu yang selama ini membuncah kini terwujud kan, maka dirinya tak pernah lepas dari gandengan putrinya, kemana mana selalu bersama.
Mereka saat ini tengah berkumpul bersama di ruang keluarga Istana tersebut, rasa gelisah dan khawatir yang sempat melanda saat kedatangan sang Putri seakan di tepis kan berganti dengan rasa suka cita.
__ADS_1
Di ruangan tersebut hanya ada Prabu Danar Kencono, sang permaisuri, Jayeng Rono beserta guru Benowo Juga Jaya Sanjaya, Kumala dan tentu saja Pelangi.
Mereka tengah berbincang secara kekeluargaan, mulai membahas hubungan Jaya dan Pelangi juga Kumala, karena siapa pun tahu dari sikap ketiga anak muda tersebut jika ada sesuatu yang berbeda.
Namun belum juga melakukan pembahasan yang lebih dalam, seorang prajurit kerajaan sudah masuk tiba tiba, meminta ijin melaporkan keadaan dan situasi di luar keraton.
"Ampun Yang Mulia, hamba mau melaporkan keadaan yang tengah terjadi."
Dengan perasaan berdebar, Prabu Danar Kencono mendengarkan semua laporan dari prajurit tersebut.
Wajahnya menjadi pucat pasi seketika, begitu mendapatkan kabar berita yang di bawa prajurit nya.
"Panggil para petinggi kerajaan, suruh menghadap di pasewakan agung hari ini juga." perintah sang Prabu Danar Kencono.
**
Disinilah sang Prabu beserta para petinggi kerajaan berada.
Mereka tengah memperbincangkan tentang pergolakan para pendekar yang bergerak menuju ke Ngarsopuro.
Semua tahu apa artinya itu, pasti akan terjadi perang besar, karena orang orang yang menyerbu istana pasti akan meminta sang putri demi kepentingan kelompok nya, dan itu sama saja dengan menginjak harga diri Ngarsopuro.
"Kali ini aku tak akan menghindar atau mundur lagi, anakku akan aku lindungi sampai titik darah penghabisan."
"Tak akan ku ungsikan atau ku sembunyikan seperti dahulu kala, akan aku lawan dengan bantuan kalian para prajurit ku." kata Sang Prabu Danar Kencono.
Semua terlihat mengangguk setuju, bagi mereka Raja dan Ratu adalah poros segala nya, hanya satu orang petinggi kerajaan yang kurang menyetujui hal tersebut, dialah senopati Kudo Sempati.
"Ampun Yang Mulia, apa ini tidak salah? tindakan ini berarti mengorbankan yang lainnya hanya untuk seorang saja..!." potong Kudo Sempati.
"Apa maksud omongan mu?, salah? seseorang yang kau sebut itu adalah putri ku..!, calon ratu kalian..!." bentak Prabu Danar Kencono dengan marah.
Betapa murkanya beliau, ternyata diantara para punggawa nya ada yang berpikiran seperti itu.
"Jika kau memang tak ingin berjuang disini, aku persilahkan kau pergi sekarang juga...!!." usir sang Prabu dengan geram kepada Kudo Sempati.
Bukan hanya Sang Prabu yang terlihat marah, namun juga orang orang yang ada di sana termasuk Jaya Sanjaya.
Setelah mendapat pengusiran Kudo Sempati langsung keluar dari pasewakan agung tersebut, tanpa menoleh lagi, kemarahan juga melingkupi nya.
**
"Siapkan semua pasukan kita akan hadapi perang..!," perintah Prabu Danar Kencono.
Segera para petinggi yang berwenang di keprajuritan mulai menyusun rencana.
Patih Aruno Kerto di dampingi Tumenggung Jodipati serta beberapa senopati yang lain, salah satunya Kidang Semeleh mulai mengatur strategi.
"Kita pecah pasukan menjadi dua bagian yaitu gerbang depan dan gerbang belakang."
__ADS_1
"Kita bawa semua persenjataan di area tersebut, karena mereka pasti akan masuk dari sana."
"Maaf tuan Patih, kira kira menurut panjenengan berdasarkan laporan pengamatan prajurit, dari bagian mana lawan yang terkuat muncul..?," tanya Jaya memecah perhatian semua yang tengah mengatur strategi perang tersebut.
Rata rata tokoh di sana, belum terlalu mengenal Jaya kecuali Kidang Semeleh, guru Benowo dan tentu saja Jayeng Rono.
"Maksud mu apa anak muda?," tanya Tumenggung Jodipati yang baru pertama ini bertemu.
"Kelompok kami akan membantu di wilayah yang lawannya paling berat," sahut Jaya.
"Memang nya Nakmas ini dari kelompok mana?."
"Kami dari kelompok Awan Putih..dari negeri Timur," kali ini Pitu Geni yang berkata.
"Awan Putih?." gumam nya pelan.
"Tuan tak usah memikirkan saya dari kelompok mana, saya hanya ingin membantu dan melindungi Putri Pelangi." sahut Jaya Sanjaya.
Semua mengangguk tak mempermasalahkan hal itu, "Jika dari pengamatan prajurit, yang terkuat adalah musuh yang datang dari Utara, berarti datang dari gerbang depan, karena mereka membawa lima ratus pasukan." sahut Patih Aruno Kerto, yang sedikit banyak tahu kiprah Jaya selama ini.
"Mereka kelompok Golok Naga."
"Hmm, Golok Naga..., berarti kami akan menghadang mereka di gerbang depan." sahut Jaya akhirnya.
Pembahasan kembali di lanjutkan, mengatur strategi menghadapi para penyerang yang entah datang dari mana saja mereka itu.
**
"Kita menunggu saja disini..!," perintah Jaya kepada seluruh anggota Awan Putih, termasuk Pelangi yang tak mau di tinggalkan di istana, selain itu Jaya juga lebih tenang jika Pelangi bersamanya.
Mereka berkerumun di pinggir alun alun Utara, sebuah lapangan besar sebelum memasuki gerbang depan.
Sengaja tak terlalu jauh meninggalkan istana Ngarsopuro, karena jika sewaktu waktu di butuhkan untuk memberikan bantuan bisa cepat terlaksana.
Tak hanya anggota Awan Putih yang menunggu di sana, beberapa prajurit juga memaksa ikut untuk membantu dan bertarung di garis terdepan, salah satunya lurah prajurit yang bernama Sungkono.
"Berapa lama kira kira kelompok Golok Naga tiba di tempat ini paman?."
Sungkono, lurah prajurit yang membawahi sepuluh orang tersebut diam berfikir, "Sore pasti sudah ada disini pendekar."
"Baiklah, kita bisa duduk duduk dulu, melepas penat, sambil menikmati makanan yang paman bawa."
Memang lurah Sungkono membawa beberapa bakul hasil kebun yang di rebus dan air putih, bagaimana pun perang juga butuh asupan makanan.
Mereka masih bisa menikmati makanan sederhana tersebut, seakan tak akan pernah ada perang, dan bertaruh nyawa.
Bahkan Pelangi yang sempat tegang pada awalnya kini sudah tak ada rasa itu, baginya kini seperti akan bertarung seperti biasa di dunia persilatan.
____________
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak nya...