
Koloireng masih terpekur di tempat nya, menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Cck, jagat raya makin membingungkan, semua makin terasa aneh." dia bergumam sendiri merasakan dunia yang sudah banyak mengalami perubahan.
"Siapa bocah tadi?, kekuatan yang luar biasa, bahkan aku terpental saat beradu pukulan, meski aku belum mengerahkan seluruh tenaga ku, tapi anak itu pasti juga belum mengeluarkan seluruh kekuatan nya."
Koloireng hanya menggeleng gelengkan kepalanya, merasa apa yang di alaminya sangat membingungkan.
Niatnya untuk beristirahat akhirnya diurungkan, dirinya makin penasaran dengan apa yang terjadi di alam ini.
Sosok tua itu melesat meninggalkan tempat tersebut, mengejar kearah dimana Jaya menghilang.
"Aku makin penasaran melihat perkembangan alam ini sekarang."
**
Jaya melesat kembali terbang ke udara setelah dirasa cukup jauh menghindar dari Koloireng, dari ketinggian tersebut lapangan pandangnya makin terasa luas, bahkan dari jarak tersebut dia bisa melihat lokasi Ngarsopuro, juga kediaman Jambumangli ayah Kumala.
Di sisi timur bisa terlihat lokasi istana Karang Doplang meski semua tak tampak terlalu jelas.
Walaupun demikian Jaya juga berhati hati tak ingin menjadi pusat perhatian, dia selalu bersembunyi di balik awan, atau mengerahkan kabut dari Gelombang Awan Menerjang untuk menyelimuti dirinya.
Berputar putar makin jauh seakan melakukan patroli hingga akhirnya Jaya melihat sebuah tempat yang lumayan tersembunyi.
Dengan cepat namun tanpa suara, Jaya melesat turun lalu hinggap di dahan tertinggi sebuah pohon, namun jaraknya masih jauh, sengaja dia melakukan itu tak ingin dikatakan tak sopan menerobos wilayah orang.
"Hmm, markas kelompok apa ini? tempat nya sangat tertutup, bahkan aku tak akan menyangka jika ini markas sebuah kelompok jika tak sungguh sungguh memperhatikannya." gumam Jaya pelan.
Meski terlihat tertutupi sesuatu yang menghalangi kondisi markas tersebut, namun jika dilihat dari bawah dan dekat, seperti jarak dimana Jaya berada tempat tersebut terlihat sangat besar, belum lagi lorong lorong yang masuk ke dalam sebuah celah diantara dua bukit.
"Sebuah tempat yang sangat besar."
Jaya melihat beberapa orang hilir mudik keluar dari beberapa bangunan disana.
Dengan pelan Jaya turun dari satu dahan ke dahan yang lain, hingga akhirnya dia turun dari pohon tersebut, mencoba berjalan lebih dekat lagi.
"Heii...!!," sebuah teriakan menghentikan langkah Jaya yang terlihat mengendap endap.
Terlihat lima orang menghampiri Jaya yang berdiri kikuk di tempatnya.
"Siapa kau? mau apa mengendap endap seperti pencuri?." bentak salah satu orang tersebut.
"Maaf Kisanak, aku tersesat." sahut Jaya dengan pura pura.
Lima orang itu menatap Jaya tajam, menelisik dan terlihat mencurigai sesuatu.
"Tersesat..??, kenapa kau ingin masuk ke arah sana jika tersesat..?!," bentak yang lainnya, sambil mengarahkan tangannya kearah markas berada.
"Aku ingin bertanya dan minta petunjuk arah," balas Jaya menunduk, pura pura ketakutan. "Maaf..., memangnya itu tempat apa tuan?." sambil menunjuk markas besar tersebut.
"Banyak bacot..!, itu markas Jiwa Abadi, kau mau mati berani masuk ke sana..?!." masih dengan nada tinggi orang orang itu berkata.
Jaya mengangguk angguk kan kepalanya.
__ADS_1
"Kalau begitu aku permisi tuan, mau melanjutkan perjalanan," kata Jaya berniat meninggalkan tempat tersebut.
"Hei..tak semudah itu kau bisa pergi ..!"
"Maksud nya tuan?."
"Karena kau sudah melihat markas ini maka kau harus mati..!.''
"Mati..??!.''
"Ya.. markas ini tak boleh sembarang orang mengetahui nya, karena kau sudah melihat nya ...maka hukuman untuk mu adalah mati..!," seru salah satu orang tersebut sambil menyeringai.
Jaya hanya menatap orang orang itu dengan tak percaya, rupanya kelompok Jiwa Abadi memang harus di musnahkan nantinya.
"Tangkap cecurut ini..!." teriak orang itu lagi, sambil mengangkat tangannya memberi isyarat kepada orang orang nya memerintahkan penyerangan.
Lima orang itu lalu mengepung Jaya, berniat menangkap nya.
"Jika bisa kita tangkap hidup hidup..!, siapa tahu bisa di jadikan pasukan tuan Krash Karsh," kata salah satu pengepung itu lagi.
Wuuusss...
Salah satu orang tersebut sudah melesat maju mengulurkan tangannya ingin mencengkeram kerah baju Jaya Sanjaya, dan menyeret nya.
Taaaakk..... taaap..!
Jaya menangkis sambaran tangan itu, bahkan menangkap tangan lawannya itu, lalu memutarnya.
Kraaakk..!!
BOUUUGH...!!
Jeritan melengking itu terhenti saat dada orang yang di patahkan tangannya itu di tendang Jaya, dan ambruk pingsan.
Empat orang lainnya tercekat sekejap, semua kaget, melihat kehebatan lawan nya.
Wuuuutt....
Plakkk..! plaaaakk...!!
Namun sebuah pukulan langsung menghajar wajah orang orang tersebut, tanpa mampu di hindari dan di cegahnya, yang langsung membuat nya bertumbangan, luruh ke bumi, pingsan hanya dalam satu kali pukulan.
Jaya bergegas meninggalkan tempat tersebut, tak ingin membuat kekacauan di tempat orang.
Wuuusss... laaaappp...
**
Jaya kembali ke Awan Putih, saat hari mendekati sore.
"Kakang...!," seru Kumala dan Pelangi begitu mendapati Jaya sudah meloncat, mendarat di beranda dari gedung tingkat tiga tersebut.
"Kemana saja?, kami mencemaskan mu..!," Pelangi berkata sedikit cemberut.
__ADS_1
"Iya dari pagi kakang pergi hingga mendekati sore..!," Kumala juga berkata sambil merajuk.
Kedua gadis itu mendekati Jaya yang masih cengar cengir, salah tingkah.
"Maaf...Kakang keasyikan berkeliling, jadi lupa waktu."
"Kalau begitu besok lagi kami ikut." rengek Pelangi.
"Pokonya kemana pun kakang pergi kami ikut," sahut Kumala menimpali.
Jaya hanya bisa tersenyum melihat dua gadis nya merajuk.
"Iya nanti jika kakang pergi lagi kalian akan aku ajak." hibur Jaya, tak mau membuat dua gadis itu marah.
"Sebenarnya kakang tidak jalan jalan sembarangan, tapi mengawasi situasi, karena ada beberapa hal..jadi terlambat pulang," kata Jaya lagi.
"Apakah itu kakang? kakang tidak apa apa kan?."
Keduanya makin mendekat melihat ke seluruh badan Jaya.
"Tidak apa apa, aku baik baik saja, hanya saja kini Kakang jadi tahu letak markas Jiwa Abadi."
Dua gadis itu membelalakkan matanya, kecemasan jelas terlihat di wajah nya, bagaimana pun saat ini Jiwa Abadi masih lah kelompok yang menakutkan semua orang, dan itu membuat cemas.
**
Mendekati malam hari prabu Wiramerta sudah tiba di istana Karang Doplang.
Selain ke markas Awan Putih, sang Prabu memang berkeliling wilayah kerajaan nya, meski hanya di sebelah barat saja, karena pasti memakan waktu lama jika memutari seluruh wilayah Karang Doplang.
"Aku ingin istirahat malam ini, besok kalian kumpulkan para pamong praja, aku ingin membicarakan banyak hal dengan mereka semua."
"Sendiko dawuh Yang Mulia."
Prabu Wiramerta melangkah kan kakinya dengan lesu, ternyata wilayah nya sudah banyak berubah.
Jika yang menguasai wilayah seperti penguasa Awan Putih di wilayah barat dirinya tak akan resah, namun jika yang menguasai kelompok orang orang jahat seperti di wilayah barat daya, dirinya merasa sedih karena tak mampu melindungi dan mengayomi masyarakat nya.
Rupanya di wilayah barat daya dari kerajaan Karang Doplang kini dikuasai oleh kelompok Ki Branjangan, seorang tokoh sakti yang merupakan saudagar kaya, padahal dahulunya seorang penjahat.
Namun apakah Ki Branjangan benar benar sudah tobat? semua meragukan hal itu.
Selain Ki Branjangan di wilayah itu juga memiliki seorang Adipati yang selalu berselisih paham dengan kebijakan prabu Wiramerta, jadi semua yang di tetapkan di kerajaan Karang Doplang di kabupaten itu malah di balikkan, seperti perjudian yang dilarang di seluruh Karang Doplang, namun di wilayah itu malah di legal kan.
Pemimpin kabupaten itu bernama Adipati Sentono, memerintah wilayah ujung barat daya dari Karang Doplang yang berbatasan dengan kerajaan tetangga.
Masih termenung di istana nya, prabu Wiramerta memikirkan banyak hal tentang istana Karang Doplang.
"Apakah kerajaan ini akan hancur dan runtuh?."
"Atau apakah aku menyerahkan Singgasana ini kepada cucuku?."
Prabu Wiramerta menarik nafasnya, sedih dengan apa yang terjadi, apalagi kini musuh musuhnya makin dirasa berani menampakkan diri seperti sikat Ki Branjangan dan Adipati Sentono.
__ADS_1
_____________
Jangan lupa tinggalkan jejak nya....