
Jaya menyambut dua lagi lawannya, dengan gerakan yang makin cepat dan tenaga yang makin di tambah.
Bukan hal mudah menghadapi empat lawan yang merupakan sosok legenda di dunia persilatan, meskipun sudah menjadi mayat...mayat hidup, karena mereka bertarung seperti robot, tanpa lelah dan tanpa merasa apapun sampai mungkin energinya habis... baru berhenti.
Hantaman tongkat membara dari Raja Neraka, dan sambaran pedang Iblis Salju yang kian mengganas dengan mudah di hindari dan di tepis oleh Jaya.
Namun sabetan pedang tombak dari Jendral 9 Nyawa yang sangat cepat, serta tebasan golok dari Singa Surai Emas yang sangat cepat hampir mengenai badan nya.
Jaya harus melempar tubuhnya menghindari serangan itu, meski sebenarnya badannya memiliki Raga Abadi dan kini ada zirah Tameng Jiwo yang membuatnya kebal senjata, namun Jaya tetap menghindar, menghemat energi dari zirah tersebut.
"Dasar...mayat..., bertarung tak pakai otak..!." seru Jaya, menghantamkan tongkat Wesi Kuning kearah Jendral 9 Nyawa dan sukses menghantam dadanya.
BLEGAAAAAART...!!
Sosok Jendral 9 Nyawa terlempar, dadanya melesak jebol kedalam, mencelat menabrak pepohonan.
Singa Surai Emas yang juga datang menyabetkan goloknya terkena tendangan dari Jaya hingga kepalanya terkulai hampir patah.
BRAAAKK...!!
"Setan alaaas..," umpat Jaya meloncat mundur, lalu menyimpan senjata tongkat Wesi Kuning, dan mengganti dengan tombak kyai Seto Ludiro serta perisai Wojo Digdoyo, karena melihat lawannya tak mudah mati.
Jaya memutar mutar tombaknya, memainkan jurus jurus tombak andalannya.
Bagaikan seekor burung yang kembali tumbuh sayapnya, Jaya memainkan jurus jurus tersebut, tampak aura makin kuat di tunjukan oleh sang Jagoan kita, Jaya lalu melesat berkelebat menyerang keempat sosok anggota Layon Pitu dengan senjata andalannya tersebut.
Wuuussss....
Jaya melesat menyongsong ke arah datangnya Jendral 9 Nyawa yang kembali meloncat menyerangnya.
Traaang...!!
Jaya menepis pedang tombak sang jenderal yang di arahkan kepadanya dengan tombaknya, lalu dengan cepat membalas menusukan tombak kyai Seto Ludiro.
Jleeeeeeebb....!!
Tak seperti senjata lainnya yang kesulitan menembus kulit sosok Layon di depan, tombak kyai Seto Ludiro senjata Illahi ini dengan mudah menembus kuatnya kulit lawan.
Jendral 9 Nyawa tertembus dadanya oleh tombak kyai Seto Ludiro, dengan cepat Jaya memutar tombaknya, berusaha merusak organ dalam dari sosok sang Jendral, lalu menarik tombak tersebut setelah melempar badan Jendral 9 Nyawa dengan cara mengibaskan tombaknya.
__ADS_1
Badan sang jendral kembali terlempar cukup jauh menabrak pepohonan di hutan tersebut.
Singa Surai Emas yang menebaskan golok nya tertangkis oleh perisai Wojo Digdoyo.
Hantaman kuat dan keras tersebut terserap oleh pusaka perisai tersebut.
BLAAAANG...!!
Bersamaan dengan tangkisan itu, tombak kyai Seto Ludiro kembali di hujamkan Jaya ke arah wajah Raja Neraka yang mendekat dari sisi kanan Jaya.
Jraaaaakkkk...!!
Sesaat Raja Neraka terhenti terdiam di tempatnya, wajahnya rusak tertancap tombak sakti, energinya musnah seakan kekuatannya menghilang.
Kembali Jaya melempar sosok tersebut dengan mengibaskan tombaknya, membuang sosok itu menjauh.
Iblis Salju yang masih melesat menyerang menebas Jaya, hanya mengenai tempat kosong, saat Jaya meloncat tinggi menghindar dari pedang putih lawannya.
Kemudian dengan cepat Jaya meluncur turun dari udara menusukkan tombak pusaka nya menembus ubun ubun Iblis Salju hingga menuju ke perut, menjadikannya sate.
CRAAAAKKK...
Tombak itu menusuk ubun ubun Iblis Salju lewat leher masuk ke tenggorokan hingga sampai di perut lawannya.
BRAAAKKKK..!!
Dua badan lawannya terpental berbarengan, begitu jaya memukulkan tombak yang ada sate badan Iblis Salju nya, dengan sedikit menyentak mengibaskan nya.
Pusaka Illahi itu memang benar benar memiliki tuah yang hebat, terbukti kini pemulihan para Layon tersebut tak secepat tadi.
Racun Dasalaksa yang terkandung di tombak kyai Seto Ludiro membuat cacing darah Sarma Pala yang sudah di kembangkan mengalami kematian sebagian meski juga tak secepat kelompok Gagak Hitam.
Jendral 9 Nyawa mendekat kembali, dadanya masih terlihat menghitam dengan sisa lubang yang masih ada, pemulihan fisik nya tak seperti semula saat belum terkena tombak kyai Seto Ludiro.
Sedangkan Raja Neraka wajahnya masih rusak akibat tusukan tombak senjata Illahi tersebut.
Iblis Salju juga mendekat dengan terseok seok, sisa tusukan tombak di ubun-ubun yang menebus ke perut masih belum pulih sempurna.
Hanya Singa Surai Emas yang masih memiliki kecepatan seperti semula, karena hanya terhantam badan Iblis Salju yang dijadikan sate oleh Jaya.
__ADS_1
Singa Surai Emas melesat mendekat, namun Jaya sudah makin percaya diri begitu tuah senjata Ilahi miliknya benar benar memberi efek yang berbeda pada serangan nya.
Wuuuss...!!
Jaya menyongsong datang nya Singa Surai Emas, menahan tebasan golok lawan, dengan perisai di tangan kirinya lalu menusuk dada lawan.
Jleeeeeeebb...!!
Craaak...! CRAAAAKKK...!!
Setelah menusuk tubuh lawan Jaya mencabik cabik badan lawannya dengan tombaknya.
Dada dari Singa Surai Emas langsung hancur, tercabik cabik tombak Jaya.
Bukan hanya Singa Surai Emas, Jendral 9 Nyawa, Raja Neraka dan Iblis Salju yang menghampirinya juga di satukan lalu di rusak raga nya oleh Jaya, dengan cara mencabik cabik dan menusuk berkali kali dengan tombak kyai Seto Ludiro.
Rakumba bersama Kiwo serta Tengen yang masih bertarung menghadapi keroyokan anggota Awan Putih, terkesiap begitu menyadari anggota Layon Pitu lainnya dirusak raganya oleh Jaya dengan sangat beringas.
Dirinya yang bertanggung jawab mengendalikan pasukan Layon Pitu langsung pias wajah nya.
"HIAAAA....!!."
Dengan cepat Rakumba langsung melancarkan serangan menekan anggota Awan Putih, serangan itu di makin hebat dengan makin ganasnya serangan Kiwo dan Tengen, yang terlihat makin membabi buta menyerang para anggota Awan Putih.
Kelompok Awan Putih sesaat terkesiap, mereka saling melindungi sesama anggotanya dengan menahan serangan dua sosok aneh yang mampu menumbuhkan dan memulihkan anggota badannya dengan cepat saat ada luka.
Begitu seluruh anggota Awan Putih sangat tertekan oleh serangan Kiwo dan Tengen, secepat itu pula Rakumba melesat menghilang di rerimbunan pepohonan dengan meneriakkan sesuatu.
Teriakan yang mengisyaratkan kepada pasukan mayat itu untuk menyebar melarikan diri.
Sosok sosok Layon tersebut seperti terbangun dengan energi baru, berputar putar cepat, bergerak tak tentu arah sebelum akhirnya langsung melesat berhamburan setelah mendengar sebuah teriakan Rakumba tadi, dan menghilang di rerimbunan.
Mereka bergerak berpencar tak tentu arahnya, seakan memang sudah di rancang untuk membingungkan para pengejarnya.
Anggota Awan Putih yang berniat mengejar para Layon tersebut, di cegah oleh Jaya.
"Jangan di kejar ..!!, biarkan saja..!."
Semua berhenti, tak lagi mengejar mengikuti perintah sang Tetua, karena mengejar juga akan kesulitan dengan arah masing masing Layon yang berbeda.
__ADS_1
____________
Jejaknya.....