Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Jurang kedungpuru di Bukit Meniran


__ADS_3

"Aku ingin berteman denganmu anak muda..!," kata Raja Pengemis, begitu sudah mendekat dengan Jaya dan Narimo.


"Untuk apa kau berteman dengan ku..?, aku bukan orang penting, aku juga bukan tetua kelompok maupun pejabat istana," sahut Jaya masih marah dengan kelakuan sang Kakek berpakaian camping camping.


"He.he..tak usah sewot begitu.. hidup akan lebih mudah dengan semakin banyaknya teman yang kau punyai bukan.."


"Ya...tapi hidup juga akan lebih susah dengan teman yang di mungkinkan bisa menusuk kita dari belakang," balas Jaya Sanjaya masih dengan sikap acuh tak acuh.


"Aku tak akan seperti itu..," sahut cepat Raja Pengemis tersebut.


"Kita lihat saja nanti, aku tak takut dengan gelar dan kekuasaan yang kau miliki, jika kau berani macam macam aku tak segan menghajar mu..!," kata Jaya Sanjaya menghentikan kudanya, menoleh menatap ke arah sang Kakek tua tersebut.


"He.he..he..!, kau memang luar biasa anak muda, aku yakin dengan sikap mu ini kau akan bisa menjadi pemimpin nantinya," sahut Kakek tersebut malah tertawa, tak tersinggung dengan ancaman Jaya Sanjaya.


"Namaku Respati, lengkap nya Respati Benowo," kata Raja Pengemis itu menyebutkan nama aslinya sambil menaruh tangan kanan di dada sedikit menunduk sebagai salam perkenalan, di dunia persilatan saat itu jika orang sudah memperkenalkan diri dengan nama asli menandakan dia bersungguh sungguh dalam menjalin hubungan persahabatan atau persaudaraan.


Melihat hal itu Jaya Sanjaya mau tak mau juga memperkenalkan diri.


"Aku Jaya Sanjaya hanya pemuda biasa, dan itu paman Narimo penunjuk jalanku."


"Eh..salah Nakmas, aku bukan penunjuk jalan tapi bawahan atau abdi juragan," kata Narimo membenarkan, sebab Narimo sudah berniat akan mengikuti kemanapun Jaya Sanjaya melangkah mengelilingi jagat raya ini.


Jaya hanya terdiam, kala Narimo berkata seperti itu, baginya dia tak pernah memaksa seseorang menjadi teman seperjalanan nya, apalagi bawahannya.


**


Para pemburu pusaka sudah banyak yang berdatangan di bukit Meniran.


Mereka berdatangan dari berbagai arah, menuju bukit tersebut sebelum nanti mengarah ke Jurang Kedungpuru dimana Kitab Pusaka itu berada.


Jurang kedungpuru adalah jurang yang terbentuk akibat jatuhnya benda langit ribuan tahun yang lalu.


Dahulu kala wilayah itu membentuk sebuah danau, namun lama kelamaan entah kenapa airnya surut sehingga orang orang menyebutnya Kedungpuru, hingga sekarang di kenal dengan nama Jurang Kedungpuru.


Di tengah Jurang yang luas itulah terdapat sebuah gundukan yang tinggi dan lebar, di puncaknya gundukan tersebut seakan di ratakan hingga datar, membentuk semacam altar dan konon kitab pusaka tersebut ada di sana.


Di tempat itu bisa terlihat aura keemasan, dengan pancaran tenaga yang menyebar ke segala arah.


Namun tak banyak orang yang tau jika di dinding Jurang tersebut banyak lorong lorong bekas anak sungai yang mengalirkan air baik ke dalam jurang tersebut, maupun ke arah lain.


Dan dari dalam lorong lorong inilah banyak binatang buas dan binatang berbisa tinggal.


Para pencari pusaka yang berdatangan ke tempat itu sudah dalam mode siaga, berselisih sedikit saja pasti bertarung ujung ujungnya.


Bahkan di bukit Meniran tersebut juga masih terlihat sisa sisa pertempuran entah dari kelompok mana, karena banyaknya ceceran darah yang mengering dan bau anyir masih bisa tercium dengan jelas di sana, meskipun mayat mayat sudah tak terlihat.


Kini rombongan orang orang yang memiliki kepentingan yang sama tersebut sudah berada di puncak bukit Meniran, sebuah bukit yang sedikit gersang hanya di tumbuhi sedikit pepohonan.


Dari puncak bukit itulah semua bisa melihat letak Jurang kedungpuru yang berada tepat di puncak bukit Meniran, seakan melubangi puncak seperti kawah di bukit tersebut.

__ADS_1


Jurang yang terlihat terjal dan dalam dari pinggirannya tersebut, dasarnya terlihat jauh di bawah sana, namun anehnya di dasar jurang tersebut banyak di tumbuhi pepohonan yang lebat hingga menutupi dasar tanahnya.


Terlihat dari pinggiran bibir jurang dari arah manapun, jika di tengah tengah jurang terdapat gundukan tanah yang sedikit tinggi dari dasar jurang dan membentuk sebuah dataran yang juga di tumbuhi lebatnya pepohonan dengan pancaran aura kekuningan.


Semua yang ada di sana melihat ke bawah ke arah jurang tersebut, mungkin masih berfikir bagaimana cara untuk turun ke bawah dan bagaimana keluar dari sana jika sudah selesai urusannya.


"Kenapa belum banyak orang yang turun ke bawah..?," tanya Jaya Sanjaya kepada Narimo yang ada di samping nya.


"Menurut orang orang yang aku temui, sudah banyak yang mencoba turun ke bawah, namun tak ada yang tampak kembali terlihat naik ke atas," sahut Narimo sambil menatap tajam ke bawah jurang tersebut, memang semenjak tadi Narimo sibuk bertanya sana sini, kebiasaan naluri sebagai pengintai muncul di sana.


"Jika melihat pepohonan tersebut, menurutku pasti ada yang tak beres," kata Respati Benowo yang ada di sisi kiri Jaya.


"Maksud Kakek..?."


"Mungkin ada semacam racun di dasar jurang ini, karena kulihat hanya tumbuhan jenis tertentu yang bisa tumbuh di sana..!," tunjuk Respati ke arah pepohonan tersebut.


"Dan itu adalah tumbuhan yang tahan dengan racun Uap Naga."


Racun Uap Naga adalah racun yang berupa asap tipis biasanya keluar dari alam, menurut orang orang racun tersebut di ciptakan oleh naga untuk melindungi harta benda miliknya.


"Hmm..aku akan coba turun ke bawah, sebaiknya kalian tak usah ikut," kata Jaya Sanjaya, dengan yakin karena dirinya kebal terhadap racun berkat Raga Abadi yang di miliki nya, makannya saat melawan orang orang Desa Pucung, Jaya Sanjaya tak mati atau pingsan meski terkena senjata mereka.


"Apakah itu tidak berbahaya Nakmas..?, jika benar di bawah ada racun yang mematikan.." kata Narimo dengan wajah khawatir.


"Tak usah Cemas paman, aku punya cara untuk mengatasinya," kata Jaya meyakinkan Narimo.


"Dan sebaiknya paman memutar hingga di sebelah sana, aku akan keluar dari sana nanti nya..," bisik Jaya pelan sambil menunjuk sebuah arah yang sangat jauh, dimana bukitnya lebih landai dari yang lain.


Narimo mengangguk, namun masih penuh kekhawatiran.


"Nakmas benar benar nekat mau masuk ke sana..?," kata Respati Benowo, juga bertanya.


Jaya hanya mengangguk saja, mulai menoleh ke arah kanan dan kirinya, dimana orang orang sudah mulai menggunakan tali untuk turun ke dasar jurang tersebut.


"Aku akan turun sekarang..," kata Jaya juga sudah bersiap akan turun.


"Aku ikut Nakmas..," sahut cepat Respati, membuat Jaya menoleh ke arahnya.


"Kakek jangan mengganggu tujuanku..jika itu terjadi aku benar benar akan menghabisi mu, tak lagi menahan diri," ancam Jaya Sanjaya, karena Jaya benar benar ingin mengembalikan ingatan dengan mempelajari kitab tersebut.


"Lagipula tempat ini penuh racun katamu.. kenapa masih nekat juga..!."


"He.he..he..., Nakmas tenang saja, pantang bagi partai Pengemis mempelajari ilmu lain nya, jadi kitab itu tak berguna bagiku."


"Dan masalah racun itu, aku punya sesuatu untuk menangkalnya."


Sahut Respati Benowo dengan penuh keyakinan, menatap ke arah Jaya untuk memastikan.


"Baiklah terserah kakek saja.." sahut Jaya Sanjaya sudah meloncat turun, setelah melempar kan sebuah tali sekedar untuk sedikit membantu laju turun badannya.

__ADS_1


Tak berapa lama Respati pun mengikuti apa yang di lakukan Jaya Sanjaya, sedangkan Narimo langsung membawa kuda tunggangan serta dua kuda milik Jaya dan Respati yang tali kekang nya diikatkan di pelana kuda miliknya, meninggalkan tempat tersebut memutar ke arah yang di tunjuk Jaya Sanjaya tadi.


**


Taaap....Taaap....!!


Langkah kaki orang orang yang meloncat turun dari dinding Jurang terdengar bersahut sahutan.


kini sudah banyak orang yang berkumpul di bawah jurang tersebut, namun masih jauh dari gundukan tanah yang membentuk altar itu.


Di seberang yang lain nampak sudah terjadi pertempuran entah dari kelompok mana, memperebutkan siapa yang berhak akan masuk duluan menuju ke arah gundukan altar, karena ternyata dasar jurang tersebut juga terdiri dari rawa rawa dan jalur menuju ke gundukan altar hanya ada beberapa jalur saja.


"Cck...ternyata jalurnya menyulitkan," kata Jaya melihat banyaknya rawa yang membentang menuju ke tengah jurang dimana gundukan altar berada.


"He.he..he..jika jalurnya mudah pasti orang orang sudah ada di sana Nakmas," kata Respati Benowo, sambil menunjuk ke arah tengah jurang dimana gundukan altar berada.


"Lihatlah..mulai di depan itu, di pohon yang sana terlihat kabut tipis setinggi orang dewasa, itulah yang bernama Uap Naga, dan itu sangat beracun," kata Respati sambil menunjukkan asap tipis yang makin ke tengah gundukan altar makin pekat.


Jaya Sanjaya mengangguk berniat maju melangkah maju ke tengah.


"Heii..berhenti...!!," sebuah teriakan dari sekelompok orang orang menahan langkah Jaya Sanjaya dan Respati.


Puluhan orang itu maju mengambil alih jalur tersebut.


"Kelompok kami yang berhak lebih dulu..!!," teriak pemimpin rombongan dengan sikap arogan penuh kesombongan.


Jaya Sanjaya ingin membalas ucapan mereka namun di tahan oleh Respati.


"Biarkan Nakmas, kita lihat saja apa yang akan terjadi," kata Respati mencegah Jaya yang akan melawan.


"Hanya dua cecunguk mau minta duluan..," ledek salah satu anggota kelompok tersebut, menatap Jaya dan Respati dengan pandangan merendahkan.


Setelah di kode dan diingatkan Respati, Jaya hanya terdiam membiarkan puluhan orang orang tersebut mengambil jalur tersebut, melangkah terlebih dulu.


Rombongan puluhan orang itu langsung berlari cepat masuk lewat jalur yang ada di depan Jaya dan Respati.


"Aaarcchhh..!."


"Uuggh..."


Bruuk...! bruukkk...!!


Tiba tiba puluhan orang di depannya berteriak tertahan, sambil memegang hidung dan dadanya sebelum akhirnya tumbang berjatuhan bagai daun di musim gugur... rontok satu persatu setelah menghirup racun Uap Naga.


"Nakmas percaya ucapan ku..!." kata Respati dengan bangga, melihat orang orang itu bertumbangan di tanah.


Jaya mengangguk mendengar perkataan Kakek Raja Pengemis itu.


___________

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak nya...


__ADS_2