Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Mengail di air Keruh


__ADS_3

Padang yang sangat luas terlihat terbentang dan terhampar di wilayah itu.


Luasnya padang tersebut hingga jarak ribuan tombak, menghampar dari timur ke barat, utara ke selatan, sekilas terlihat seakan tak ada ujungnya dari tiap sudutnya.


Letaknya yang seperti di tengah benua itu menjadikannya sangat cocok di gunakan untuk pertemuan besar, yang di ikuti oleh semua kelompok dari berbagai sudut.


Dua sosok terlihat sedang berada di salah satu bagian dari padang tersebut, mereka nampak tengah melakukan sesuatu.


"Tancapkan pusaka itu di sebelah sana..!," teriak salah satu dari keduanya, tangannya menunjuk satu arah.


"Hmm."


Sosok yang di perintahkan tersebut mengangguk, lalu berjalan ke arah yang di setujui, sosok tersebut terlihat duduk bersila, konsentrasi sejenak lalu menarik nafasnya, mulutnya komat kamit merapalkan sesuatu dengan gerakan tangan melakukan ritual tertentu, lalu terlihat mengambil sesuatu dari balik bajunya.


Sebuah benda yang terlihat berpendar saat di keluarkan dari bungkusnya.


Kain yang menutupi wajah sosok tersebut, tampak berkibar tertiup angin yang cukup kencang berhembus, namun masih kokoh utuh menjaga wajah itu dari paparan matahari siang itu, menjaga wajah tersebut tetap tertutup sehingga siapapun tak tahu penampakan wajah aslinya.


"HIAAAA...!!." Sosok itu melakuan gerakan tertentu, mengeluarkan tenaga dalam yang kuat hingga tubuhnya bergetar hebat.


Setelah berteriak lantang, terlihat sosok itu menancapkan pusaka yang terlihat bersinar di genggamannya tadi.


CLAARRRAAAAPP...!


DUAAAAARRR....!!


Sebuah kilat menyambar menghantam ke tanah seiring masuknya pusaka tersebut ke perut bumi.


Beberapa saat terjadi keheningan setelah pusaka itu amblas ke dasar bumi.


"Hua..ha..ha..!, dengan tertanamnya pusaka ini membuat portal yang kita ciptakan akan stabil dan tahan lama, hingga pasukan Iblis bisa berpindah semua.." nampak sosok tersebut tertawa dan berkata dengan puas.


Sosok yang lainnya mengangguk saja, mungkin di balik penutup kepalanya dia juga tertawa tanpa suara.


Ya, dua sosok itu adalah Iblis Wora dan Iblis Wari, dua iblis yang juga mampu terbang dan berpindah tempat melalui portal lorong pemindah.


**


Paku Jagat, sebuah pusaka tingkat Dewa yang memiliki keistimewaan mampu melindungi wilayah atau benda yang di naunginya, termasuk melindungi makhluk hidup yang memegang atau berada di sekitarnya dari gempuran lawan, tentu saja setelah ada ritual dan mengucapkan mantra tertentu, sehingga khasiat pusaka itu aktif bekerja.


Pusaka yang berujut semacam keris kecil dengan aura tolak balak, atau aura membentengi yang sangat kuat.


Pusaka tersebut sudah lama di miliki dua iblis itu.


Dengan pusaka itu pula, selama ini dua iblis mampu berpindah tempat tanpa kehilangan kekuatannya saat memasuki lorong portal dimensi, padahal semua yang melewati lorong portal pemindah pasti akan tersedot sesaat tenaganya.

__ADS_1


Kini dua iblis itu menggunakan keris Paku Jagat untuk menjaga dan menstabilkan portal dimensi yang nanti akan di ciptakannya saat pertemuan berlangsung, guna menyeberangkan pasukan Iblis yang di kirimkan oleh sang raja Sarma Pala.


Jadi Sebelum semua orang datang ke padang Selayang Pandang, dua iblis tersebut sudah menanamkan pusaka Paku Jagat, untuk membuat portal pemindah dimensi yang stabil dan aman di gunakan nanti nya.


**


"Ayo kita tinggalkan tempat ini, pusaka itu sudah kita tanam di sini tanpa ada yang tahu," kata Iblis Wora.


"Hmm, ayo..!," sahut Iblis Wari, lalu bergegas berdiri bersiap meninggalkan tempat tersebut.


Keduanya menoleh sesaat kearah dimana terbenamnya pusaka Paku Jagat, memastikan kembali agar pusaka itu tak ada yang menemukannya.


Mereka saling pandang, "Aman, Paku Jagat sudah terpendam dengan aman di perut bumi.''


"Hmm, Ya."


Dua iblis itu kemudian meloncat melesat terbang menuju angkasa, selanjutanya terbang ke arah markas Jiwa Abadi, sebelum di sadari oleh yang lainnya.


**


Prono Condro dan tetua Gagak Hitam Lodaya, sudah membawa anak buahnya hingga mendekati markas Awan Putih.


Tampilan Gagak Hitam yang terlihat berbeda cukup menarik perhatian warga dan semua orang selama perjalanan.


Anggota Gagak Hitam memang memiliki tampilan yang unik, badannya penuh rajah atau tatto di seluruh tubuhnya.


"Di depan sudah memasuki alas Lirboyo, sebentar lagi kita sampai," kata Prono Condro.


Lodaya mengangguk penuh hormat terhadap sesepuh itu.


**


Perjalanan yang jauh tanpa istirahat, dengan perbekalan yang seadaanya itu membuat kelompok tersebut kelelahan.


Apalagi mereka kebanyakan berjalan kaki.


"Ayo semangat...!, aku pastikan kalian bisa makan enak dan kecukupan di sana..!," teriak beberapa tetua untuk memacu para anak buah yang terlihat lesu.


Partai Pengemis Tongkat Hijau juga tengah melakukan perjalanan menuju ke markas Awan Putih.


Kelompok dari Raja Pengemis Respati itu akan bergabung dengan Awan Putih sebelum menuju ke padang Selayang Panjang.


**


"Bukankah saat ini kita sudah memasuki wilayah alas Lirboyo Kakang?."

__ADS_1


"Benar Dinda," Randu Sembrani menghentikan kudanya, menatap sekelilingnya.


"Tonggak yang di sana itu adalah perbatasan wilayah dari Ngarsopuro dan Karang Doplang, dan alas Lirboyo ini sudah masuk wilayah timur, masuk wilayah Karang Doplang.


Nyai Nilam Sari mengangguk mendengar penjelasan dari suaminya tersebut.


"Ayo Dinda kita lanjutkan perjalanan, jangan sampai terlambat, dan malah menghambat yang lainnya."


"Iya Kakang."


**


"Inilah saat yang tepat, jika kita mau menggulingkan singgasana Karang Doplang," kata Ki Branjangan kepada Adipati Sentono.


"Saat dunia sibuk dengan urusannya, kita serang istana itu dan kita rebut tahta nya."


"Memangnya kita sudah siap untuk itu, maksudku pasukan kita sudah siap?." sahut Adipati Sentono, menatap tajam ki Branjangan yang sudah menjadi seorang saudagar kaya.


"Ya, kita bisa siapkan itu hanya dalam waktu satu hari."


"Jika adipati memerintahkan sekarang maka aku akan perintahkan orang orang ku bersiap, malam kita bisa bergerak karena pada dasarnya semua sudah di persiapkan.''


"Aku terserah padamu kakang Branjangan, jika memang sudah siap dan malam bisa mulai bergerak aku makin senang." kata sang Adipati.


"Baik, akan aku persiapkan dan malam ini kita mulai perjuangan kita." balas Ki Branjangan, lalu meninggalkan tempat tersebut untuk memerintahkan anak buah bersiap.


Ki Branjangan menuju ke sebuah bangunan di sekitar kadipaten tersebut, di sana sudah berkumpul beberapa orang dan menjadikan tempat tersebut sebagai markas.


Begitu mengetahui kedatangan ki Branjangan, orang orang itu menghambur mendekat dengan takut takut.


"Selamat datang tuan, kami selalu siaga menunggu perintah panjenengan."


"Benarkah..?!."


"Benar tuan." sahut para prajurit tersebut, membuat ki Branjangan sangat senang.


"Baik jika begitu, mulai sekarang kalian bersiap, nanti malam kita mulai pergerakan kita."


"Siap, sendiko dawuh tuan, kami akan bersiap untuk nanti malam."


"Bagus, cepat laksanakan..!!." perintah Ki Branjangan.


Para prajurit itu membubarkan diri, menghubungi dan menyiapkan seluruh pasukan dan apapun yang di butuhkan untuk penyerangan malam nanti.


Ki Branjangan menatap kepergian anak buahnya dengan tersenyum, "Sebentar lagi aku akan menjadi pejabat...istana....ha..ha...ha."

__ADS_1


____________


Jejaknya....


__ADS_2