Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Kota Candi Baru


__ADS_3

Rombongan itu kini sudah memasuki Kotaraja Karang Pandan.


Sebuah kota yang sangat luas dan besar karena merupakan pusat dari Pemerintahan.


Dengan sedikit pemeriksaan dari pasukan penjaga mereka kini sudah berada di dalam kota itu.


Kota Candi Baru, adalah nama dari kota pusat Kerajaan Agung itu.


Bangunan bangunan yang megah dan kokoh nampak menghiasi kota tersebut.


"Kita cari tempat istirahat," seru Jaya kepada Narimo.


Narimo langsung berkuda paling depan, memimpin rombongan tersebut untuk mencari penginapan.


Seperti apa penginapan itu dirinya sudah hafal, pastinya penginapan yang sekalian ada tempat makannya.


"Di depan ada penginapan Melati Senja, sebuah penginapan yang cukup besar, namun sedikit mahal karena biasa menjadi langganan para pelintas dan letaknya strategis Nakmas."


"Aku ikut saja paman." sahut Jaya mengikuti langkah Narimo yang kini sudah turun dari kuda dan menuntunnya.


Meskipun mulai memasuki petang namun kota Candi Baru terlihat makin ramai, membuat para pelintas di sana makin takjub dengan keindahan kota tersebut.


"Itu penginapan nya Nakmas," tunjuk Narimo, mengarahkan tangannya ke sebuah bangunan yang lebih mirip seperti istana kecil.


Bangunan yang terdiri dari beberapa pendopo dan rumah induk itu terlihat ramai dengan lalu lalang orang yang terlihat keluar masuk dari lokasi tersebut.


Rombongan itu masuk ke dalam nya.


Sebagaimana sebuah penginapan modern, ternyata tempat tersebut juga di kelola dengan baik dan pekerja yang profesional di bidang nya.


"Selamat datang pendekar, mari silahkan masuk." sambut para pekerja di tempat itu.


Rombongan Jaya kini sudah memasuki pendopo yang sangat luas dengan banyak para pengunjung di dalamnya.


Mereka nampak sedang menikmati makanan di sana.


"Waah... luar biasa," seru Pelangi yang tak bisa menutupi rasa kekaguman nya atas tempat tersebut.


Kumala yang terbiasa bepergian pun tak bisa menutupi kekagumannya atas tempat tersebut.


"Ya..tempat yang indah." balas Kumala, memandang seputar nya.


Dari tempat tersebut Jaya dan rombongan bisa menangkap jika situasi yang memanas akhir akhir ini sudah mulai di antisipasi oleh pihak pemerintah pusat, salah satu nya yaitu dengan pembentukan pasukan khusus penjaga keamanan.


Pasukan khusus tersebut nantinya akan selalu berpatroli keliling di seluruh wilayah kerajaan Agung.


"Dan nampak nya besok pagi sudah mulai di lakukan perekrutan untuk menjadi pasukan khusus itu," kata seseorang di sebelah rombongan Jaya berkata.


"Oh..pantas saja banyak pendekar yang berada di Kotaraja Candi Baru ini, nampaknya mau pada ikut seleksi pasukan khusus," sahut temannya.


Jaya dan rombongan hanya mendengar semua perkataan dan berita yang mereka sampaikan.

__ADS_1


Malam itu rombongan Jaya memilih beristirahat di penginapan, termasuk Pelangi dan Kumala yang membatalkan acara melihat lihat kota karena sudah malam.


**


Rombongan Srigala Merah sudah tiba di Kotaraja Kerajaan Agung Karang Pandan, atau tepatnya kota Candi Baru.


Sebelum masuk batas kota mereka sudah bersikap seperti semula, karena ajian Asu Panglimunan sudah tak di gunakan lagi.


"Apa keperluan pendekar di kota ini?," tanya penjaga keamanan ketika memeriksa rombongan Karsh.


"Hanya melintas atau mau mendaftar menjadi pasukan khusus kerajaan Agung ini.?." tanya penjaga yang lain.


"Kami mau mencoba mendaftar menjadi pasukan khusus," sahut Karsh setelah maju mendekat.


"Oh..silahkan kalau begitu," sahut penjaga keamanan mempersilahkan rombongan Srigala Merah itu memasuki kota Candi Baru.


Rombongan berjumlah lima puluh orang itu memasuki kota tersebut tepat tengah malam, mereka mulai mengendus keberadaan orang yang di buru nya.


Karsh berjalan paling depan, berdiri sejenak menghirup udara, merasakan aroma dari mangsa nya.


"Hmm, mereka ada disini," kata pelan Karsh dengan suara beratnya.


"Aku juga merasakan itu tetua," sahut anak buah Karsh.


"Apa perlu kita berpencar tetua?," sahut anak buah yang lainnya.


Sejenak Karsh terdiam, kemudian mengangguk, "Ya...kita berpencar, tapi hati hati, jangan bertindak gegabah."


"Setelah kita bersatu baru kita bereskan mereka," kata Karsh memberi pesan kepada anak buahnya.


**


Pagi sudah menjelang, matahari sudah menyingsing menyambut awal dari sebuah hari baru.


Di alun alun tengah kota Candi Baru sudah berkumpul ratusan bahkan mendekati ribuan pendekar yang akan mengikuti seleksi pasukan khusus.


Seleksi yang akan di pimpin langsung oleh jenderal perang dari Kerajaan Agung Karang Pandan bernama Tumenggung Yudoyono.


Seorang tumenggung yang menjadi jendral perang sejak beberapa tahun lamanya.


Seseorang yang awalnya seorang pendekar bergelar Harimau Besi, dari kelompok Macan Gunung, sebuah kelompok yang cukup terkenal dan berada di golongan kelompok Utama dalam Serikat Pendekar.


Tumenggung Yudoyono atau Harimau Besi tampak serius menatap ratusan hingga ribuan orang di depannya, setelah sebelumnya memberikan kata sambutan bagi calon calon prajurit khusus di sana.


"Lakukan penyeleksian dengan sebaik baiknya," kata sang Tumenggung kepada bawahannya, beberapa Senopati yang hadir di sana.


"Sendiko dawuh ndoro Tumenggung." sahut Senopati Unjal Prakoso, salah satu Senopati kepercayaan nya.


"Lakukan pengamanan, jangan ada yang berani mengacau tempat ini."


"Ngestoaken dawuh (Siap laksanakan)...ndoro Tumenggung."

__ADS_1


Ada beberapa tahapan dalam penyeleksian para pasukan khusus tersebut.


Pertama tentang wawasan kenegaraan, termasuk di dalamnya rasa cinta terhadap tanah airnya.


Seseorang yang akan menjadi prajurit akan di uji sejauh mana pengertian tentang kerajaan dan wilayah nya, tentang rasa handarbeni (memiliki serta mencintai dalam rasa kepedulian dan tanggung jawab menjaga terhadap tanah air nya.)


Berikutnya baru kemampuan olah Kanuragan dan ilmu bela diri yang di miliki nya.


Kedua ujian itulah yang kali ini akan di lakukan kepada para calon pasukan khusus tersebut.


Tumenggung Yudoyono menatap ribuan orang yang tengah di wawancara, di gembleng dan di uji dengan olah fisik dari tenda tempat nya mengawasi kegiatan itu.


Sementara di sisi yang lain para warga memanfaatkan pemandangan tersebut sebagi hiburan dan tontonan.


**


"Kakang bolehkan kami berjalan-jalan dan berbelanja sebentar?," kata Pelangi pelan dan di angguki oleh Kumala.


"Iya...Kakang, mumpung kita melintas di kota sebesar ini," rajuk Kumala ikut menimpali Pelangi.


"Kami tak akan meminta uang kakang kok," kembali Kumala berkata dengan tersenyum penuh arti.


"Cck, memang kakang pikun, Dinda kan sudah ada uang dari pemimpin kota Lembah Emas," balas Jaya sambil tersenyum, "pakailah uang itu, jika habis baru kakang akan kasih lagi."


Kedua gadis itu bersorak gembira,"Berarti kita boleh berjalan jalan melihat kota ini Kakang?."


"Ya..tapi ingat hati hati, dan ajaklah paman Narimo dan paman Sugara yang hafal wilayah ini untuk menemani kalian."


Kembali dua gadis itu bersorak dan menghambur memeluk Jaya Sanjaya sambil tertawa gembira.


Setelah mendapat ijin, keduanya meninggalkan Penginapan dengan di pandu oleh Narimo dan Sugara, menuju ke tengah kota yang makin siang makin terlihat sangat ramai.


**


Nampak dua laki laki berjalan beriringan dengan rompi baju bulu sebagai ciri khas nya.


Pandangan yang tajam dan muka yang bengis terlihat menyeramkan.


Keduanya mengendus, merasai setiap jengkal udara dari sudut kota itu, mencari keberadaan mangsa nya.


Keduanya sedikit melotot begitu melihat dan mengendus Kumala dan Pelangi yang mengikuti langkah kaki Narimo dan Sugara sebagi pemandu keduanya.


Sesaat keduanya mengikuti langkah keempat orang yang di buntuti, kembali mengendus nya.


"Gggrrrhhhh...aku menemukan mereka... akhirnya...,"kata salah satu dari dua pria itu.


"Aarrrh...benar, itu mereka, aku juga mengendus bau yang sama," balas teman satunya menimpali. "Apakah kita perlu memanggil yang lainnya..?."


"Hmm, hanya menghadapi mereka kita berdua pasti sanggup, apakah kau tak ingin memperoleh hadiah dari tetua?." kata salah satu orang itu nampak meremehkan.


____________

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak nya...


__ADS_2