
"Ada urusan apa kau ikut campur masalah ini..!.'' Selo berkata dengan nada keras.
"Bukan ikut campur tapi paman lah yang sudah kelewatan."
"Apa maksudmu?."
"Mengapa menghajar para penjaga keamanan sedemikian rupa?."
"Itu urusan ku..!, mereka sudah berlaku tak sopan..!," kata Selo lagi, berkacak pinggang menunjuk para prajurit penjaga keamanan yang masih bergrlimpangan.
"Bohoong ..!, mereka lah yang tak sopan..!, bertindak semau nya, seakan semua dia yang punya..!.''
"Benaar..!, dasar tukang pembuat onar..!, tak mau mengakui kesalahan..!.''
"Mengganggu orang lain saja..!."
Teriakan teriakan bersahut sahutan dari para pengunjung yang semenjak tadi merasa terganggu, seakan mengungkap apa yang menjadi penyebab permasalahan di sana.
"Manusia keparat..!, kalian sudah bosan hidup rupanya..!!.'' wajah Selo makin merah, mendengar hujatan orang orang yang mengerubungi tempat itu.
**
Sementara Jaya yang tengah berada di istana, di sambut langsung oleh sang Raja MulyaBhumi, prabu Jalilan Tunggaraja bersama sang Patih Sabdo Taruno.
Bukan hanya Jaya seorang yang kali ini hadir di istana, tapi dia membawa dua orang anggotanya, yaitu Pitu Geni dan Baroto, semula hanya seorang saja yang mau di ajak namun akhirnya Jaya memutuskan mengajak keduanya.
Rupanya selain Jaya dan dua anggotanya, di sana juga banyak hadir para utusan dari beberapa tamu undangan lainnya.
Karena menghadiri jamuan pertemuan dengan penguasa maka bisa di pastikan semua tamu undangan tampil dengan pakaian terbaiknya, tak ingin mempermalukan diri sediri dan kelompoknya, seperti itu juga dengan Jaya, dia memakai salah satu pakaian yang indah dengan warna merah, sedikit ada warna kuning dan hitam, membuat ketampanannya makin terpancar.
Selain sang prabu Jalilan Tunggaraja ternyata jamuan itu juga di hadiri permaisuri, selir juga putra putri sang raja.
"Silahkan ikut kami tuan, kami akan mengantar tuan di tempat duduk yang sudah di siapkan untuk tuan," salah satu pelayan yang memang bertugas mengarahkan para tamu, sudah menyambut dan membawa Jaya dan dua anggotanya ke meja yang telah di sediakan.
Melihat ke tampanan Jaya, hampir semua yang ada di sana terlihat memperhatikannya.
"Siapa dia?." tanya seorang pangeran yang juga menjadi tamu, bertanya pada bawahanya.
"Nampaknya anggota sebuah kelompok Pangeran."
"Hmm, cuma anggota kelompok lagaknya kayak Raja." sahutnya ketus, melihat mewahnya pakaian Jaya serta aura yang di pancarkannya terkadang membuat iri yang melihat.
"Pangeran Adiguna juga terlihat tampan, tak kalah dari pemuda itu," bawahan sang pangeran mencoba menghibur dan membesarkan hati nya, agar pangeran Adiguna kembali percaya diri, dan itu terbukti.
__ADS_1
"Hmm, benar aku juga tampan, kaya dan hebat."
Rupanya bukan hanya pangeran Adiguna yang meradang melihat ketampanan Jaya, wakil wakil lainnya pun tak senang dengan kedatangan sang tetua Awan Putih tersebut.
"Eh.., siapa itu?, lagu nya kayak paling tampan sendiri."
"Iya...bisa bisa nanti menggagalkan niatku menjadi menantu Raja jika dia tebar pesona seperti itu.."
"Heeh..!, bukan kamu tapi aku ya..yang nanti bakal di terima menjadi menantu sang raja..!."
Dua pemuda yang duduk berdekatan juga saling berbantahan menyatakan siapa yang pantas menjadi menantu sang Raja.
Rupanya semua undangan sudah mendengar jika di acara tersebut sang Raja tengah mencari calon menantu, nampaknya hanya Jaya saja yang tak menyadari hal itu.
Ketika di rasa sudah lengkap, salah satu pamong praja yang nampaknya bertugas membawa acara maju kedepan. "Kami persilahkan tuan tuan memperkenalkan diri, di mulai dari tuan yang ada di sisi kiri, kami persilahkan."
Begitu mendapat perintah, pemuda yang bersama rombongannya duduk di meja paling kiri berdiri, "Perkenal kan namaku Ranuraga, salah satu pangeran dari kerajaan Sonokerto."
Kerajaan Sonokerto adalah salah satu kerajaan kecil yang ada di negeri Timur di bawah naungan Pati Sruni seperti halnya MulyaBhumi.
Setelah mengenalkan diri pangeran Ranuraga kembali duduk, di barengi tepuk tangan oleh semua yang di ruang tersebut.
"Aku Simo Lodaka, salah satu anak dari Tetua Agung perguruan Harimau Baja, saat ini telah menjadi tetua di usia mudaku."
"Perkenalkan aku Tohpati dari tetua muda perguruan Naga Timur."
Terdengar satu persatu para tamu undangan memperkenalkan diri.
"Aku pangeran Adiguna, putra dari Yang Agung raja Pati Sruni," dengan penuh percaya diri Adiguna memperkenalkan diri.
"Aku Jaya sanjaya dari Awan Putih," kata Jaya singkat, sambil berdiri sebentar lalu duduk kembali.
Meski terkesan memperkenalkan diri dengan singkat, namun sejujurnya semua orang menatap Jaya dengan seksama.
Semua tahu kehebatan Awan Putih dari kiprahnya di padang Selayang Pandang, bahkan saat ini derajat Awan Putih melebihi Kerajaan Agung sekalipun, karena jika mau kelompok ini mampu dengan mudah menghancurkan Kerajaan Besar tersebut, semua Raja tahu akan hal itu, namun tidak dengan orang orang yang awam, termasuk pangeran yang tak berkecimpung langsung dalam pemerintahan, yang bisa nya hanya berpangku tangan dengan semua kemewahan yang menghampirinya.
"Ooh..hanya kelompok Awan Putih." terdengar suara pelan dari salah satu orang yang ada di sana.
Setelah Jaya memperkenalkan diri, berturut turut beberapa undangan yang lain juga mengenalkan diri.
Setelah semua selesai mengenalkan diri, kini tiba giliran prabu Jalilan Tunggaraja memberikan sambutan.
Pertama tama sang raja mengucapkan rasa terimakasih atas kedatangan para undangan yang memang bertahun tahun selalu menghadiri acara tersebut.
__ADS_1
Kemudian sedikit bercerita tentang kemajuan dan kemakmuran negeri tersebut, hingga akhirnya sang prabu menyelipkan sedikit keinginanya untuk mencarikan calon suami untuk salah satu putrinya yang bernama putri Kencana wungu sekarkedaton, atau biasa di panggil putri sekar.
Sang Putri berdiri memperkenalkan diri dengan malu malu, saat di minta oleh Ayahandanya.
**
"Berani ikut campur berarti berani menanggung akibatnya, meski sebenarnya sayang gadis secantik ini harus di hajar..!."
"Memang benar kata orang orang disini, meski kau hebat tapi kelakuanmu sangat buruk, menjijikan..!," sahut Kumala, begitu melihat tatapan cabul dari sosok di depannya.
"Hmm, aku jadi penasaran dengan wanita di sini."
"Lancang mulutmu..!, dasar tak waras..!." Kumala begidik melihat tatapan Selo yang makin tak sopan.
"Dasar laki laki kurang ajar..!," sungut Pelangi yang maju dan berdiri di samping Kumala.
"Akan kubuat kalian berdua bertekuk lutut di hadapanku..!.'' Selo lalu mulai bergerak maju untuk memulai serangan.
Melihat aura kuat dari lawannya, baik Pelangi maupun Kumala langsung mencabut senjatanya.
Pelangi mencabut senjata yang berwarna merah darah, sedangkan Kumala telah mengeluarkan pedang hitam legam.
Dua senjata tingkat Dewa itu kini menyebarkan aura membunuh yang sangat kuat.
"Hmm, kalian benar benar tak memberiku pilihan," Selo berkata sambil maju, sedangkan Sambi dan Wonosego masih mengawasi saja, diam di tempatnya berdiri.
Wuuuss...
Dengan gerakan sangat sangat cepat, Selo sudah melesat mengantam ke arah dua gadis tersebut.
Gelombang kekuatan dahsyat menghantam keduanya, dengan sigap dua gadis itu menggabungkan kekuatan menangkis serangan tersebut.
DUAAAART...!!
Ledakan keras terjadi, Selo hanya terdorong dua langkah kebelakang, sedangkan Kumala dan Pelangi terlempar hingga harus berjumpalitan untuk mendaratkan kaki dengan tepat.
Kekuatan Dewa memang tak sebanding dengan manusia, mereka memang memiliki kelebihan dari fisiknya, di mulai dari susunan tulang yang lebih padat dan kuat, otot, daging dan kulit yang lebih kokoh, belum lagi dengan anugerah Raga Abadi yang di anugerahkan kepada mereka.
"Bagaimana dengan serangan ku..?." ledek Simo, sebelum melesat kembali melakukan serangan.
"HIAAAA...!!."
_____________
__ADS_1
Jejaknya.....