Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Kehancuran Alam Dewa


__ADS_3

Pertarungan di alam Hampa tersebut makin terlihat dahsyat. Jaya tak lagi membatasi kekuatan nya. "Makin cepat makin baik". Tak ingin berlarut-larut dengan pertarungan di tempat itu.


CRAAAKKKK...! CRAAAKKKK....!!


Jaya mengayunkan tombaknya, lesatan cahaya menerjang di lintasan serangan itu. aura keinginan jurus tombak yang dahsyat menghambur menerjang apapun yang ada di lintasan serangannya.


Woooong...!


Aryo Baruno yang merasa terancam kembali menghadang kan senjata Gada yang menjadi andalannya, senjata yang juga merupakan tingkat tinggi meski tak setinggi tingkatan senjata tombak Seto Ludiro yang memiliki jiwa.


BAAAAMMM...!


Dua kekuatan itu kembali bertubrukan, Aryo Baruno terpental, lagi lagi dia terlempar dengan badan terbakar karena kini setiap serangan Jaya selalu di dasari oleh kekuatan Badai Matahari.


"Aaaarch....!!."


Jeritan panjang terdengar menyayat, bukan hanya Aryo Baruno yang terkena imbas serangan itu, sesosok Dewa anak buah Aryo Baruno juga terkena luapan serangan jurus Badai Matahari.


"Aaaaa.....!"


Anak buah Aryo Baruno yang juga seorang Dewa itu, terlempar berguling gulingan, badannya terbakar, makin lama api yang membakar makin ganas, karena lapisan Raga Abadi nya sudah menipis dia tak mampu lagi meregenerasi tubuh nya.


"Aaaarch....tolong aku....!." teriaknya ketakutan, dia baru menyadari jika lapisan Raga Abadi nya terkikis oleh panasnya jurus Badai Matahari.


Kini para Dewa penyerang Jaya Sanjaya hanya tinggal beberapa saja, selain Aryo Baruno masih ada Anisong, Singopati serta dua Dewa anak buah Aryo Baruno lainnya.


"Ha...ha...ha... hanya tinggal kalian berlima,, dan kau... kau lapisan Raga Abadi mu tinggal beberapa lembar," kata Jaya Sanjaya sambil menunjuk beberapa dewa yang tersisa tersebut dengan tatapan meremehkan.


Kelima Dewa itu tercekat, mereka sadar dengan apa yang dikatakan lawannya.


Mereka kini terlihat pias wajahnya, dengan kekuatan seperti saat awal saja (puncak kekuatan) tak mampu mengalahkan seorang Jaya, apalagi kini hanya berlima.


"Bagaimana ini Pukulan? apa masih perlu kita teruskan pertarungan ini?," kata Anisong kepada sang pimpinan Aryo Baruno lewat telepati.


"Bersiaplah ..!, kita serang secara bersamaan, setelah itu kita tinggalkan tempat ini," balas Aryo Baruno mengatur siasat sambil memberikan isyarat.


"Seraaang....!."


Semua penyerang yang sudah mengurung dan mengumpulkan kekuatan tersebut mulai bergerak menghantamkan serangan terkuat nya.


Alam seperti terdistorsi, udara terasa makin pekat ketika gelombang kekuatan para penyerang berkumpul dan terpusat, lalu kekuatan yang sudah menggumpal itu di hantamkan ke arah Jaya Sanjaya.


BLEEEGAAAART.......!


Pukulan itu melesat menyatu dalam gelombang tsunami kekuatan yang menerjang Jaya.

__ADS_1


Kekuatan yang maha dahsyat membuat Alam Hampa seperti terbalik, membuat makhluk hidup yang jika ada disana pasti akan mati hanya terkena hempasan gelombang kekuatan.


Hantaman yang luar biasa itu menerjang ke arah Jaya Sanjaya, menghancurkan beberapa lapis Raga Abadi, untung saja baju Zirah pusaka yang dikenakan Jaya bukan benda kaleng kaleng, mampu mengurangi kekuatan hantaman itu hingga 50 persen dan Raga Abadi Jaya hanya rontok beberapa saja.


Begitu mereka berhasil menghantam kan serangannya mereka langsung melesat menjauh dan membuka portal dimensi pemindah.


CLAAAAAPPP....!!


Cincin cahaya langsung tercipta dalam ruang hampa tersebut, kelima sosok tampak melesat secepat kilat meninggalkan Tempat itu.


***


Alam Dewa terlihat kacau balau, gunung gunung berhamburan dengan banyak bukit bukit yang luruh.


Nampak nya tengah terjadi sesuatu yang luar biasa di alam tersebut.


Semua terlihat berantakan dengan sisa sisa pertempuran di sana sini.


Bahkan di beberapa tempat masih terlihat ledakan ledakan hebat yang menandakan pertempuran masih berlangsung.


Sesosok prajurit Dewa terlihat masih bertarung dengan pasukan Iblis, kedua pertarungan itu terlihat mengeluarkan senjata andalan masing masing.


Sosok Dewa itu mengeluarkan senjata kipas yang mampu menerjang bukit hanya dengan sekali lambaian, begitu juga dengan iblis yang bersenjata pedang darah, setiap sabetannya mengeluarkan angin yang mampu meruntuhkan tembok tembok setebal satu meter.


"Ha.ha..ha..... Kalian para Dewa yang merasa paling kuasa hari ini akan kami bantai dan akan kami musnahkan dari peradaban...!." teriak sosok Iblis sambil melakukan tebasan.


"Tebasan Kematian....!." teriak sang Iblis.


Luar biasa, serangan Iblis memang selalu menakutkan, setiap gerakannya mampu memusnahkan kehidupan di Alam Dewa.


"Hempasan Badai Sejati...!."


Sosok Dewa langsung mengayun tangan yang memegang kipas, angin dengan kekuatan mematikan menerjang tekad pedang lawan yang mengerikan tersebut.


SLAAARRAT...


DUAAARR....!


Dua kekuatan kembali bertubrukan, keduanya kembali terlempar kebelakang.


Di sisi lain tampak sosok Iblis tengah memutar tombaknya, angin pekat dengan warna sedikit kehitaman mulai menyebar, semua yang terkena angin tersebut akan mengalami korosi bahkan tembok tembok pun mulai berguguran.


"Penghisap Jiwa ...!."


Kekuatan yang menakutkan itu mulai memangsa apapun yang ada di sekitar nya.

__ADS_1


"Hmm... mainan bocah..kami para Dewa tak takut dengan jurus rendahan seperti itu." ledek seorang Dewa sambil mengerakkan dua pedang di tangannya.


Dua pedang yang kini diputar putar itu seperti menciptakan gelombang pusaran angin, makin lama pusaran itu makin membesar.


Lama lama gelombang tersebut berputar menciptakan kekuatan yang mampu menghisap, makin kuat hawa hisap yang tercipta makin membuat kekuatan aneh ciptaan lawan yang tersedot ke dalam nya.


"Keparaat..!," dengus Iblis begitu serangannya di mentahkan oleh sang lawan.


Pertempuran pertempuran yang terjadi kian dahsyat, menghancurkan apapun yang ada di sekitar itu. makin kuat sosok yang bertarung otomatis makin kuat pula efek yang di timbulkan dan ini tentu saja berimbas terhadap alam lingkungan tersebut.


Alam Dewa yang menjadi ajang pertarungan tentu saja kini sudah rusak hampir lima puluh persen, darat dan lautan sama saja tak ada tempat yang benar benar terhindar dari efek pertempuran.


***


CLAAAAAPPP....!!


Cincin cahaya terlihat muncul di alam tersebut, lima bayangan melesat keluar dari cahaya.


"Haah...???." Aryo Baruno bersama empat anak buah lainnya terbelalak mata nya saat melihat penampakan alam tersebut.


"Apa yang terjadi? siapa yang melakukan ini?."


Mereka terlihat menatap ke segala arah, sejauh mata memandang hanya kehancuran yang di dapatinya.


"Apa apaan ini?."


"Nampaknya tengah terjadi pertempuran di Alam Dewa, Pukulun." kata Anisong pelan sambil matanya masih menyisir tempat itu.


"Memangnya siapa yang berani melakukan ini semua?."


"Benar siapa yang berani mengacak acak Alam Dewa?." Singopati juga berkata dan menggeram.


"Ayo lekas ke istana Kaisar Dewa, jangan jangan tempat itu juga masih diserang." Aryo Baruno berkata sambil melesat terbang secepat kilat menuju arah kekaisaran.


CLAAAAAPPP.....


Sebuah cincin cahaya tercipta kembali begitu kelima dewa melesat ke arah kekaisaran.


Sosok Pemuda tampan kini terlihat keluar dari portal dimensi pemindah itu.


Sosok tersebut adalah Jaya Sanjaya, Dia berdiri mengirup udara alam itu sambil memejamkan matanya, sebuah aura yang dirasa begitu akrab di rasa panca indera nya.


Pun begitu dengan dimensi Alam Dewa, begitu Jaya berada di Alam tersebut, seakan alam itu menyambutnya, Kekuatan langit dan bumi Alam Dewa langsung berkumpul menyelimuti raga Jaya, mengalirkan kekuatan tenaga sejati yang ada di alam itu.


Mengalirkan kekuatan yang tak terhingga ke raga Sang Dewa Perang.

__ADS_1


Tubuh Jaya berpendar, kini mulai dari Mahkota, baju Zirah dan beberapa pusaka Jaya menyala lalu menghisap kekuatan yang ada di sana, dan kini tampilan Jaya menjadi berbeda, di badannya kini terlihat mahkota dan Baju Zirah perang yang sangat agung.


Semua atribut Dewa Perang kini terlihat nyata semua menempel di Raga Jaya Sanjaya alias Dewa Cakra Tirta Sanjaya atau Dewa Tirta Cakra Sanjaya.


__ADS_2