
Melihat kedua pria dan wanita tua tertawa seperti meremehkan, maka para anak buah dari Jambumangli sangat geram.
Meskipun Jambumangli sudah menggelengkan kepalanya yang berarti tak usah di tanggapi, namun lima orang anak buah nya sudah terlanjur mendekat ke arah dua pasangan sepuh yang nampak bersahaja itu.
"Hei..orang tua..!!, jaga sikapmu jika tak ingin di hajar..!," hardik salah satu dari kelima anak buah Jambumangli yang sudah mendekat.
"He.he..he.. memang kenapa dengan sikap kami..?," balas wanita tua yang masih nampak gurat gurat sisa kecantikan nya tersebut dengan tenang.
"Sudah Dinda tak perlu di tanggapi ..," kata Pria sepuh itu menenangkan wanita nya, mengusap pelan pundak nya dengan lembut.
"Kalian sudah menatap tak sopan ke arah tetua kami..!." Bentak anak buah Jambumangli masih dengan sikap arogan dan garang.
"Oh..ya..?, emang masalah buat kami..?," nenek itu masih menyahut dengan nada mengejek.
Pria tua di samping nya malah terkekeh melihat sikap istrinya.
"Untung saja kalian sudah tua jika tidak.., sudah aku gampar mulut le'me's mu itu..!," teriak anak buah yang lainnya, dengan makin mendekat.
Bwua.ha..ha..," kali ini kakek tua itu makin terbahak mendengar gertakan anak buah Jambumangli, bahkan sampai memegangi perutnya dan mengusap matanya yang mengeluarkan air mata saking geli nya.
Begitu pun dengan si nenek yang juga tertawa mengikik geli.
Jambumangli dan Kumala sampai menoleh dan menatap tajam kearah kedua nya.
"Setan alaaas keparaat... tua tua sudah gila...mau mati kau...!!," makin berang lah para anak buah Jambumangli, kini sudah memainkan jurus jurus anehnya.
Mata para anak buah Jambumangli sudah berpendar, mereka sudah mencabut juga pedangnya berniat membatai dua orang tersebut.
CLAAAAPP.....!!
Tiba tiba sebuah sinar memancar dari mata sang nenek, membuat sebuah bulatan bola raksasa dengan lapisan bening tipis dengan luas mencakup kedua orang tua dan lima anak buah Jambumangli seakan melingkupi mereka.
Tiba-tiba gerakan anak buah Jambumangli seperti tertahan, mereka bergerak seperti slow motion.
Plakk...! plaaak...!!
Dengan kecepatan luar biasa, dan tak dapat di tangkap para anak buah Jambumangli, mereka terlempar jauh hingga ke bawah kaki Jambumangli karena di tampar sang nenek.
Jambumangli tak bisa menutupi keterkejutannya, matanya membelalak tak percaya dengan apa yang di lihatnya.
"Aaaaa...!." hanya itu yang keluar dari mulutnya.
__ADS_1
"Cuiih...awasi anak buah mu ...masih untung istri ku tak memisahkan kepala anak buah mu..!," teriak Kakek tersebut sebelum keduanya melesat pergi meninggalkan Jambumangli dan rombongan nya.
Kumala hanya terpana menatap semua itu, seumur hidupnya baru kali ini ada jurus seperti itu.
Jambumangli masih menggigil meskipun dua orang tadi sudah melesat tak terlihat lagi.
"M..M-Mata ..D..Dewa..?." gumam Jambumangli pelan dengan bibir bergetar.
Mata Dewa adalah salah satu saingan dari jurus Mata Iblis, kekuatan dari jurus Mata Dewa adalah pengguna nya bisa menghentikan waktu sesaat untuk lawan nya.
Semakin kuat jurus tersebut semakin luas daya jangkau nya, bahkan seorang legenda dari Mata Dewa mampu mempengaruhi hingga diameter ratusan tombak jauhnya.
(Satu tombak panjang nya sekitar tiga meter lebih sedikit, jadi jika ratusan tombak berarti bisa sampai diameter satu kilometer orang terkena imbas jurus tersebut).
Jambumangli yang lebih tau tentang itu menjadi gemetaran.
"Ayo segera pergi dari sini..!," perintah Jambumangli dengan masih bergetar suaranya karena ketakutan.
Para anak buah yang tak menyadari kekuatan lawan hanya bisa menurut pasrah tanpa banyak bertanya.
Kumala yang melihat ayahnya masih pucat hanya bisa terdiam sambil pikirannya memikirkan kedua orang tua tadi.
**
Mereka saudara kembar, dan oleh dewa mereka di ajarkan sebuah ilmu yang sangat dahsyat.
Ilmu tersebut hanya bersumber dari kekuatan mata.
Bernama jurus Mata Dewa dan jurus Mata Iblis.
Jaladara yang lebih bersikap dewasa di ajarkan jurus Mata Dewa dan Jalaladri yang lebih kekanakan di ajarkan jurus Mata Iblis.
Kenapa seperti itu, Karena jurus Mata Dewa lah yang bisa meredam kekuatan Jurus Mata Iblis.
Dewa ingin Jaladara yang lebih bersifat dewasa bisa memimpin dan melindungi adiknya membela kebenaran.
Sebenarnya kedua ilmu tersebut di ajarkan karena saat itu alam benar benar sangat kejam, banyak monster jahat dan buas yang merajai alam ini.
Dengan bantuan ilmu tersebut lah dua saudara kembar itu bisa menolong dan membantu manusia lainnya.
Seiring perkembangan zaman entah kenapa rata rata pengguna aliran jurus Mata Iblis menjadi jahat meski tak semuanya, sedangkan aliran pengguna jurus Mata Dewa condong ke arah golongan putih.
__ADS_1
Mungkin karena daya rusak yang di hasilkan oleh jurus Mata Iblis menjadikan penggunanya menjadi arogan dan cenderung jahat.. entah lah.
Sedangkan jurus Mata Dewa hanya bersifat menghentikan waktu, untuk serangan selanjutnya hanya terserah penggunanya mau di tebas, di hantam atau hanya di gampar pun tak bermasalah.
Mungkin itu yang menjadi sebab berbedanya aliran kedua kekuatan yang berasal dari pancaran mata itu.
**
"Kakang kita istirahat di kota terdekat ya..siapa tau kita ada jodoh menemukan seorang murid disana," kata Nyai Nilam Sari.
"Hmm..,"sahut Kakek yang masih terlihat sisa sisa ketampananya.
Laki laki itu bernama Randu Sembrani.
Kedua kakek nenek ini adalah dedengkot dari kelompok pengguna Mata Dewa yang kini kian jarang anggota nya.
Jika di kumpul kan, mereka hanya ada tak lebih dari dua ratus orang saja.
Kelompok ini memang tak mengumbar kekuatannya, namun mereka juga tak tinggal diam jika ada kejahatan yang mulai meraja lela seperti saat ini, dengan munculnya anggota Mata Iblis.
"Menurut perasaanku aku akan mendapat kan murid di sekitar kerajaan ini Kakang..," kata Nyai Nilam Sari kembali, sambil masih melesat berlari dengan cepat di samping sang suami.
"He..he..he..hanya jangan sampai salah pilih lagi seperti murid murtad kita si Mata Elang," balas Randu Sembrani menimpali perkataan istrinya.
"Ya..kita turun gunung kan juga mau mencari murid kurang ajar itu..!!," cebik sang istri cemberut mengingat murid durhaka nya itu.
Randu Sembari hanya mengangguk dan tersenyum kecil.
Dua orang kakek nenek itu masih melesat berlari dengan kecepatan tinggi menuju ke arah Kotaraja istana Ngarsopuro.
**
"Kita mau kemana kek..?, kenapa harus berpakaian seperti ini..? kayak maling saja, pakai mengendap endap lagi," kata Pelangi dengan mulut ceriwis nya.
"Sudah kamu diam saja, pokoknya nurut sama kakek ya... cah ayu," kata Jayeng Rono membujuk gadis itu dengan sabar.
"Iya..menurut Kakang juga begitu, Dinda diam dulu ya.., karena nanti percuma dong kita mengendap endap dengan pakaian tertutup seperti ini, jika Dinda mengoceh terus kayak burung gelatik," sahut Jaya Sanjaya tersenyum geli, menenangkan gadis cantik yang kini mukanya di tutup semacam topeng kain.
Pelangi hanya diam, jika sudah Jaya yang berkata, maka dia akan menurut.
____________
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak nya....