Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Pertarungan Ratu dengan Sugioprano


__ADS_3

Ketiganya kini tengah berkuda melanjutkan perjalanan dan meninggalkan wilayah pemukiman penduduk yang telah di bebaskan dari kungkungan Gajah Alas, meskipun pusat kelompok Gajah Alas yang sesungguhnya belum tersentuh.


Kembali menerabas lebatnya hutan untuk mencari jalur yang lebih cepat adalah pilihan nya.


"Kenapa jalurnya makin sempit paman..?," tanya Jaya yang keheranan dengan pilihan jalur yang Baroto dan Narimo pilih.


"Kita melewati perbatasan Nakmas, dan jalur ini adalah batas tiga wilayah kerajaan Agung yang jarang di lewati dan di perhatikan, meskipun jarang di lewati tapi inilah jalur tercepat menuju ke wilayah Sirih Putih."


Narimo menerangkan jalur yang di lalui ketiga orang tersebut.


"Jalur ini juga jalur ter-aman bagi pelintas karena tak melewati wilayah suatu pusat pemerintahan jadi tak ada pemeriksaan ketat."


Jaya mengangguk mendengar penjelasan tersebut, "Baiklah paman, semoga perjalanan kita makin lancar dan cepat."


Narimo dan Baroto mengangguk.


Ketiganya membelah hutan yang di tumbuhi aneka ragam pepohonan, dan makin ke dalam makin lebat hutannya.


**


Di sebuah tempat nampak sebuah rombongan yang bergerak menuju ke arah Utara.


Rombongan yang terdiri dari seratusan orang itu di pimpin oleh Ratu Mata Iblis, berniat menuju ke Utara untuk mencari pusaka yang di kabarkan ada di sana.


"Jalan terus..!, kita istirahat nanti di perkampungan terakhir sebelum masuk hutan..!," teriak kepala pengawal perjalanan tersebut.


Sementara itu sang Ratu masih berada di dalam kereta mewahnya, menikmati duduk nyaman di sana sambil berbincang dengan tangan kanannya yang mendampingi di sana.


"Apa yang akan ratu lakukan jika misi ini berhasil..?," tanya sang tangan kanan Ratu Dewi Mata Iblis yang bernama Sentono Bari.


"Aku bisa menekannya bahkan bisa memaksa nya untuk menyerahkan pucuk pimpinan kepada ku."


"Dan jika itu terjadi aku akan sangat senang sekali," kata Ratu Dewi Mata Iblis dengan pandangan jauh di depan.


Ratu Dewi Mata Iblis memang memiliki orang orang kepercayaan tersendiri, dan meskipun berada dalam satu kelompok di bawah naungan Mata Iblis nampaknya terjadi perang dingin antara Dewi Mata Iblis dengan Pemimpin Agung nya.


"Semoga apa yang Ratu inginkan segera tercapai." kata Sentono Bari


memberikan dukungannya.


"Terima kasih paman, selama ini paman sudah banyak membantuku."


"Sudah kewajiban ku Ratu untuk melayani mu.." sahut Sentono Bari sang tangan kanan yang merupakan salah satu orang kepercayaan nya.


Rombongan itu terus bergerak pelan namun pasti menuju arah tujuannya.


**


Kumala masih melesat, meloncat loncat meninggalkan wilayah hutan menuju ke arah pemukiman.


"Aku harus sampai di perkampungan karena hari makin siang," batin Kumala seorang diri.


Dengan dandanan yang tak mencolok dan di tambah sebuah topeng penutup wajah di wajahnya membuat jati diri Kumala tak mudah di kenali.


Makin lama dia bergerak makin tipis pepohonan yang di lewatinya menandakan bahwa beberapa saat lagi dia akan bertemu dengan pemukiman warga.


"Ah..nampaknya sebentar lagi aku akan melewati pemukiman warga," gumam Kumala sambil meloncat menjejak sebuah dahan untuk loncatan ke dahan berikutnya.


"Aku akan berjalan seperti biasa mulai dari sini," katanya pelan, lalu menghentikan larinya dan mulai berjalan seperti biasa agar tak menarik perhatian.

__ADS_1


Kumala berjalan memasuki sebuah wilayah pemukiman yang lumayan ramai, sebuah pemukiman yang ada di perbatasan antara Kerajaan Agung.


Beberapa bulan tak bertemu dengan keramaian membuat nya sangat menikmati pemandangan itu.


"Aah..bertemu dengan keramaian ternyata membuat hatiku sangat senang."


Kumala memandang sekitarnya banyak para penjual berbagai kebutuhan dan juga makanan di sana.


Para pedagang menawarkan berbagai dagangan kepada nya, namun di tolaknya karena bekal yang di bawa nya tak terlalu banyak, hanya beberapa keping saja yang di berikan oleh Kolo Ireng, namun itu sangat cukup untuk keperluan membeli makanan untuknya selama beberapa hari perjalanan, dan ia harus menghemat untuk itu.


"Baju..! baju.!.dibeli..bajunya nyonya..!."


Teriak seorang pedagang menawarkan dagangan nya sambil menyodorkan sebuah pakaian kepada Kumala.


Disambut oleh Kumala hanya dengan gelengan saja.


"Alas kaki nya nyai...!."


"Jajanan nona...!."


Bahkan ada pedagang senjata yang menawarkan sebilah pedang kepada Kumala karena melihat nya berpakaian layaknya pendekar pengelana, "Pedangnya ndoro pendekar.."


Para pedagang itu menawarkan berbagai dagangannya dengan panggilan yang mereka sukai namun Kumala hanya menggeleng saja.


Sebenarnya sebagai wanita dia sangat menyukai berbelanja, namun karena bekalnya hanya mepet maka tak dia hiraukan semua tawaran itu.


"Aku hanya ingin makan bisa tunjukkan dimana tempat nya..?," kata Kumala kepada penjual terakhir yang menawari tempat minuman dari kantong kulit binatang.


"Oh..tentu saja pendekar, lurus di ujung sebelum belokan ada warung makan lumayan ramai..!."


Kumala langsung bergegas menuju ke arah yang di tunjukkan.


Sebuah warung makan dengan halaman sangat luas sudah terlihat terpampang di depannya.


"Aku menantang kalian bertarung di sini..!." teriak salah seorang dari sebuah kelompok.


"Aku terima tantangan mu...!," seru kelompok yang lain memyambut nya.


Dua kelompok itu sudah saling berhadapan dengan niatan saling serang, entah apa yang menjadi pokok permasalahannya hingga dua kelompok itu bersitegang.


Sekilas Kumala seperti mengenali kelompok kelompok tersebut, nampaknya keduanya adalah kelompok Mata Iblis pimpinan sang Ratu dan kelompok partai Es Abadi.


"Kami yang lebih utama untuk menempati meja itu..!." teriak orang dari partai Es Abadi.


"Memangnya hanya kalian yang mampu membayar tempat mahal itu..?," gertak anak buah Ratu Dewi Mata Iblis tak mau kalah.


"Memangnya kalian siapa..?," seru salah seorang dari kelompok partai Es Abadi meremehkan, merasa mereka adalah kelompok tingkat elit di dunia persilatan.


Partai Es Abadi adalah kelompok tingkat Utama di Serikat Pendekar yang namanya sudah terkenal sebagai kelompok golongan nomor satu bersanding dengan kelompok nomer satu yang lain seperti partai Api Suci, sedangkan kelompok Mata Iblis yang selalu menyembunyikan diri dianggap kelompok tingkat Madya karena keberadaan nya bahkan hanya orang orang tertentu yang tahu.


"Tak perlu berkoar kami kelompok apa..!, yang penting kami tak takut dengan kelompok kalian..!," sebuah teriakan dari dalam kereta dengan suara yang sarat dengan gelombang tenaga dalam tinggi mengagetkan orang orang partai Es Abadi.


Ratu Dewi Mata Iblis keluar dari kereta nya dengan tatapan tajam ke arah orang orang partai Es Abadi.


Melihat kemunculan pemimpin rombongan lawan, meloncat lah kepala rombongan partai Es Abadi.


"Aku Sugioprano tetua lingkaran Ring Enam di partai Es Abadi," sahut seorang pria paruh baya dengan sombong di hadapan Ratu Dewi Mata Iblis.


"Cuih..!, hanya lingkaran Ring enam lagaknya seperti Pemimpin Agung..," sahut sang Ratu sambil mengejek.

__ADS_1


**


Kumala yang memang memiliki dendam dengan sang Ratu sesaat bergejolak darahnya melihat musuhnya ada di depannya, namun semua itu di tahan nya.


"Ish...ternyata rombongan wanita iblis.."


Kumala tak menghiraukan perseteruan dua kelompok itu, dia memasuki warung makan memilih meja dan memesan makanan sambil menghadap keluar, ingin mengetahui sejauh mana perseteruan dua kelompok itu.


"Akan aku lihat seberapa hebat wanita iblis itu.."


Seorang pelayan menghampiri mejanya mengantar pesanan makanannya.


"Ini makanannya ndoro pendekar.." sahut sang pelayan menaruh makanan dan minuman yang di pesan.


"Terima kasih paman." sahut Kumala begitu pelayan menghidangkan makanan dan minuman di meja nya.


Kumala mulai menyantap makanan tersebut dengan pandangan mengarah ke halaman warung makan yang luas, melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.


**


"Aku ingin mencoba seberapa kuat dirimu..!," tantang sang Ratu menatap tajam ke arah Sugioprano.


Merasa di remehkan dan di rendah kan Sugioprano langsung bergerak maju.


"Jangan salahkan aku berlaku kasar kepada perempuan..!," teriak Sugioprano membalas lawannya sebelum menyerang.


"Banyak bacoot..!." teriak Ratu Dewi Mata Iblis yang terkenal temperamen itu sudah melesat memukulkan serangan jarak jauh.


"Hiaaaaa...!!."


Sebuah kibasan tangannya dengan jurus pukulan Cakar Iblis mencabik melesat.


Wuuusss....!


Sebuah gelombang pukulan dengan lima sinar menerjang ke arah Sugioprano dengan dahsyat.


DUAAAAR...!!


Sugioprano menangkis gelombang pukulan itu dengan menyilang kan Tongkat nya di depan dada.


Hawa dingin langsung menyeruak begitu tongkat tersebut di putar putar kan.


"Hiaaaa...!."


Sang Ratu kembali langsung melesat menebaskan pedangnya, menyambar ke arah Sugioprano.


Traaang...!!


Sambaran pedang itu di tangkis dengan tongkat yang mengeluarkan hawa sangat dingin, mencoba membeku kan sang Ratu.


CLAAAAPP..


Ketika hawa dingin itu menjalar mencoba merambat ke arahnya, sang Ratu menghantam dengan jurus Mata Iblis nya.


BLAAARRRR....!!


Sugioprano nampak terkejut dengan sinar yang keluar dari mata lawan nya dan menghantam gelombang hawa dingin ciptaan nya.


"Cuiih..!.kau pikir mainan seperti itu mampu menghentikan ku..!," teriak Ratu Dewi Mata Iblis begitu hawa dingin ciptaan nya buyar begitu saja.

__ADS_1


___________


Jangan lupa tinggalkan jejak nya


__ADS_2