
Perundingan yang semula di niatkan oleh Jaya untuk menyadarkan orang orang akan keberadaan Iblis di tengah tengah mereka malah berakhir kacau.
Orang orang dari kelompok lain malah salah sangka menangkap maksud dan tujuan dari apa yang di katakannya.
Kini malah terjadi pertarungan antara Antareja, Tetua Bumi Langit dengan sesepuh Prono Condro.
Dua tokoh ini kini saling berhadapan setelah beradu mulut yang berakhir dengan persengketaan tersebut.
"Ayo...keluarkan pedang senjatamu..!," teriak Prono Condro, menantang laki laki di depannya.
Antareja hanya mendengus, lalu berkata dengan jumawa sambil merentangkan kedua tanganya, " Dua lenganku ini senjataku..!," serunya lalu menangkupkan dua telapak tanganya dengan tiba tiba.
Ploook...!!
Seiring dengan Antareja menangkupkan tangannya, tanah yang di pijak Prono Condro langsung terbelah dan ada kekuatan yang menarik nya, seakan ada tangan yang membetotnya masuk ke dalamnya.
SRAAAKKK...!!
"Mati kau terkubur hidup hidup..!," teriak Antareja.
Prono Condro yang tak siap dengan serangan tersebut sesaat kaget, badanya tertarik ke dalam tanah.
Namun tokoh yang sarat pengalaman itu tak tinggal diam, sesaat dirinya terdiam di dalam tanah yang melingkupinya hingga kekuatan tanah itu melemah karena tak mungkin lawannya mengeluarkan kekuatannya terus menerus mengendalikannya.
BRUAAALL..!!
Sesepuh Gagak Hitam itu meloncat keluar dari kungkungan tanah yang menghimpitnya setelah sekian lama terjebak di dalamnya, dan dianggap mati terkubur hidup hidup.
"HAAH...??."
Antareja kaget lawannya mampu keluar dari sergapannya.
"Cuiih..!, kau kira aku akan mudah kau hentikan hanya dengan mainan remeh mu..!," seru Prono Condro sambil meloncat keluar dari dalam tanah, lalu maju menebaskan pedangnya.
Sriiiing...
Sambaran pedang tersebut melesat kearah badan Antareja yang masih terkesiap dengan lawan yang mampu bertahan di dalam jepitan tanahnya tadi.
Taaaang..!!
Sabetan pedang Prono Condro di tangkis dengan pedang Antareja yang di cabutnya dengan tergesa gesa, karena tadi tak menyangka lawannya bisa lolos dari jebakannya.
Benturan kuat tersebut membuat Antareja oleng dan terdorong kebelakang, sedikit tersudut.
SRAAAAKKK...!
Sebuah gumpalan tanah tiba tiba menyeruak menyerang ke arah sang kakek sesepuh Gagak Hitam itu kembali, begitu Tetua Bumi Langit itu menggerakkan tangannya.
BLAAAARR...!!
__ADS_1
Dengan mengayunkan tangannya, Prono Condro melebur bongkahan tanah yang mengejar dirinya tadi hingga buyar, berantakan.
Keduanya kembali bertarung dengan sengit saling mengeluarkan kekuatan dan kehebatannya, saling serang dan bertukar kekuatan.
**
Suasana kian makin mencekam, berita yang di sampaikan Tetua Awan Putih itu membuat kegundahan dari orang orang dunia persilatan tersebut.
"Aku meyakini, apa yang di katakan orang yang ku jadikan panutan, adalah kebenaran," kata Betorokolo Koloireng sambil menatap tajam orang orang Mata Iblis, niatnya ingin memberitahu dan meyakinkan kelompok tersebut.
Bagaimanapun ada rasa keterikatan dengan kelompok sesama pengguna Mata Iblis
"Kenapa Sesepuh yakin sekali?." Pemimpin Agung yang mengenal Koloireng bertanya dengan rasa tak percaya, namun masih dengan rasa hormat.
"Hmm, aku lebih mempercayainya dari pada orang yang berdiri di depanku..!," kembali Koloireng berkata sarkas, menyindir Pemimpin Agung tersebut, karena memang dahulu sosok di depannya inilah yang telah dengan curang menyingkirkan Koloireng dari Markas Utama Mata Iblis, jika bukan karena kelicikannya bersama perempuan yang kini bergelar Dewi Mata Iblis atau Ratu Mata Iblis, mungkin sosok Koloireng lah yang menjadi Tetua Agung saat ini.
Pemimpin Agung tersebut tersenyum kecut, "Rupanya Sesepuh masih dendam dengan peristiwa itu.."
"Cuiih..!, Jika aku masih dendam mana mungkin aku mau berbasa basi mengabarkan berita ini(keberadaan pasukan iblis)..!."
"Bisa saja karena ingin menjebak kami, membuat kami celaka..!," balas sang Pemimpin Agung masih berusaha mendebat Koloireng.
"Ternyata kau masih saja bodoh seperti dulu..!." hardik Koloireng, berbalik arah mencoba meninggalkan tempat tersebut, "Sia sia aku ngomong dengan kalian."
"Tunggu Koloireng...!!," sebuah suara menghentikan langkah kakek tersebut.
Lindu Braja dan Topan Surya dua legenda Mata Iblis yang setara dengan Koloireng menghentikan langkah sang Betorokolo tersebut.
"Apa kau yakin dengan adanya Iblis ini?." tanya Lindu Braja menatap tajam ke arah Koloireng, menelisik mencari kebenaran.
Koloireng menatap pria setua dirinya itu, melihat kesungguhan dari pertanyaannya itu.
"Aku belum melihatnya, tapi Nakmas Junjungan berkata demikian dan aku percaya apa yang di katakannya."
"Jika kalian ragu bisa kalian datangi perkemahan Jiwa Abadi bukan?, untuk membuktikannya langsung," balas Koloireng dengan santai.
Lindu Braja dan Topan Surya kembali menatap tajam Koloireng, " Kau tak ingin mencelakai kami bukan? menjebak kami agar berseteru dengan Jiwa Abadi?."
Koloireng menarik nafasnya dalam dalam, "Terserah apa kata kalian, aku hanya tak ingin golongan ku di bumi hanguskan karena tak menyiapkan diri nya dan hati hati." kata Koloireng langsung melesat pergi tak menoleh lagi.
**
"Apa yang di katakan anak muda itu benar?." Nambi Tosa sang Dewa Api tengah meminta pertimbangan dari Moncong Putih dan Raja Api dari utara.
"Aku pernah bertarung dengannya, dia seorang ksatria sejati, mengampuni kami tanpa takut kami balas dendam, aku rasa yang di sampaikannya adalah kebenaran meski itu sulit di nalar," kata Moncong Putih.
"Benar apa yang di katakan saudara Moncong Putih, aku juga meyakini apa yang di sampaikan," kali ini Raja Api dari Utara menegaskan pendapatnya.
Nambi Tosa mengurut keningnya, sedikit pusing dengan apa yang dihadapi nya.
__ADS_1
"Apa maksudnya dia mengatakan ini?, apakah ada keuntungan yang di inginkannya?."
Tetua Agung tersebut masih berfikir tentang langkah apa yang harus di lakukannya.
"Kita kembali ke kelompok besar, kita siagakan anak buah jangan sampai terlena..," Moncong Putih mengusulkan.
"Bukankah itu sama saja dengan mengundurkan diri dari calon Pemimpin Agung Serikat Pendekar?, karena meninggalkan tempat tunggu ini?." Nambi Tosa mendebat usulan Moncong Putih.
Moncong Putih dan Raja Api dari Utara pun terdiam, karena memang seperti itu akibatnya jika meninggalkan tempat tunggu untuk babak berikutnya, seperti mengundurkan diri.
**
"Paman kembalilah ke kelompok besar, beritakan apa yang aku katakan kepada seluruh anggota Awan Putih dan yang di naungi nya."
Jaya berkata kepada Pitu Geni, Anuso Birowo, Baroto dan Ruwandaru.
"Tapi Bagaimana dengan pertarungan babak berikutnya?, kita bisa di anggap gugur, jika kami pergi dari tempat ini."
"Kan masih ada aku dan kakek Sumanjaya," kata Jaya menatap Baroto yang terlihat bingung, memang semua sudah di sebar untuk memberi peringatan seperti yang Jaya katakan.
"Lagipula aku tak perduli dengan kedudukan itu (Pemimpin Agung Serikat Pendekar), bagiku keselamatan anggota Awan Putih lebih Utama."
"Aku akan berjaga di sini karena perkemahan Jiwa Abadi di dekat sini, pasti mereka akan menyerang ke sini sebelum ke peserta yang lain." kata Jaya lagi.
Keempat orang itu mengangguk, menunduk hormat sebelum meninggalkan tempat tersebut.
"Hati hati Nakmas Junjungan, kalau begitu."
"Paman juga hati hati, jaga anggota kita."
Jaya menatap kepergian keempat anggotanya tersebut, sebelum berbalik dan menatap perkemahan Jiwa Abadi yang berada di sisi yang lain.
"Apa yang kini kakek rasakan?." tanya Jaya kepada Sumanjaya si Mata Malaikat.
"Pasukan mereka mulai bergerak, nampaknya mereka mulai menyadari dan mencurigai para peserta yang tak juga melakuakan pertarungan babak berikutnya," sahut Sumanjaya yang masih berkonsentrasi dengan pandangan mata batinnya.
"Hmm, semakin cepat semakin baik, agar mata semua orang segera terbuka dengan keadaan yang sesungguhnya."
**
"Mengapa belum juga ada pertarungan babak berikutnya? apakah terjadi sesuatu?," Rakumba sang Mayat bergumam sambil menatap ke arah para peserta calon Pemimin Agung Serikat Pendekar.
Pyong Karund juga menatap tajam ke arah para peserta demikian juga dengan Sumantri si Mata Malaikat.
"Nampaknya telah terjadi sesuatu," kata Sumantri, kepalanya sedikit bergerak gerak mencoba menangkap penerawangan peristiwa yang ada jauh di depannya.
"Hmm, kita tunggu perintah Pemimpin Agung yang masih meditasi di dalam perkemahan," sahut Rakumba menenangkan rekan rekannya.
Memang sebenarnya mereka juga tidak tahu rencana dua Iblis mendatangkan pasukan Iblis ke alam manusia, setahu nya dua Pemimpin Agungnya tengah meditasi menghimpun kekuatan, mereka hanya mengikuti apa yang di perintahkan saja.
__ADS_1
__________
Jejaknya....